Artikel

5 Destinasi Wisata Religi di Banyumas

5 Destinasi Wisata Religi di Banyumas – Pada kesempatan sebelumnya kami telah mencoba mebedah 5 destinasi wisata di Banyumas yang masih tersembunyi. Kali ini chyrun akan mencoba menyajikan destinasi wisata religi di wilayah Kabupaten Banyumas.

Di Banyumas sendiri banyak terdapat wisata religi yang bisa kita kunjungi karena memang banyak tokoh-tokoh atau pemuka agama yang berasal dari Banyumas.

Seperti slogan Banyumas sendiri yaitu “Satria” jadi memang banyak satria-satria yang bermunculan dari Kabupaten ini, bahkan ketika kita membaca sejarah, pengaruh tokoh-tokoh Banyumas tidak hanya berpengaruh di daerah saja namun sampai keluar wilayah Banyumas.

Komplek Makam di Desa Dawuhan, Banyumas
Komplek Makam di Desa Dawuhan, Banyumas

Tokoh-tokoh tersebut memang bukan orang sembarangan pada waktu itu, selain mempunyai ilmu pengetahuan di atas rata-rata juga konon ceritanya mereka mempunyai ilmu kanuragan yang luar biasa.

Mereka juga banyak meninggalkan beberapa warisan kebudayaan dan tentunya peninggalan-peninggalan bersejarah seperti Masjid Saka Tunggal di Kecamatan Wangon.

Sekarang baik peninggalan atau makam beliau menjadi tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi oleh masyarakat Banyumas dan sekitarnya.

Berikut 5 Destinasi wisata religi di Banyumas:

1. Makan Syeh Madum Wali

Syeh Madum Wali berasal dari Kerajaan Demak Bintaro yang diutus oleh Raja Demak ketika itu Raden Patah untuk menyebarkan agama Islam.

Beliu merupakan orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Pasir luhur yang sekarang dikenal dengan nama Banyumas.

Makam Syeh Madum wali berada di desa Karanglewas dengan suasana asri di dekat sungai logawa.

Di tempat makam beliau juga terdapat tiga makam. Yakni di sebelah utara terdapat makam Senopati Mangkubumi I, sedangkan dua makan yang terdapat aulanya adalah makam Syeh Madum Wali dan makam Senopati Mangkubumi II.

Kini makam Syeh Madum Wali menjadi wisata religi bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya.

Mereka biasanya berziarah melakukan amalan dan ritual seperti berzikir serta tahlil atau kegiatan ritual yang lain. Biasanya mereka melakukannya pada setiap Kamis Wage atau Malam Jumat Kliwon.

Sedangkan setiap bulan Syaban di temapat ini digelar haul akbar Syeh Madum Wali dan Senopati Mangkubumi.

2. Komplek Pemakaman di Desa Dawuhan

Yang menarik dari Desa Dawuhan adalah disana terdapat makam para leluhur pendiri Banyumas yang terdapat pada satu komplek pemakaman yang sama.

Menjadikan daya tarik tersendiri untuk para masyarakat daerah Banyumas dan sekitarnya untuk berkunjung ke makam tersebut.

Ada yang hanya berwisata sejarah, menelusuri dan melihat bukti-bukti fisik pendiri Kabupaten Banyumas, mereka menggali informasi dari juru kunci yang ada di makam tersebut.

Tak jarang juga para pengunjung berbondong-bondong kesana untuk berziarah, apalagi pada hari jadi Kabupaten Banyumas tempat ini rutin sebagai upacara ritual keagamaan yang diadakan oleh pemerintah daerah.

Ziarah ini menandakan penghargaan kepada para leluhur yang telah berjuang dan mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.

Di makam ini terdapat makam R. Joko Kaiman yang merupakan Bupati Banyumas pertama. Ada beberapa versi mengenai asal usul dari Jaka Kahiman.

Yang paling umum adalah bahwa Jaka Kahiman berasal dari keturunan Majapahit, ayahnya bernama Raden Harya Banyak Sosro, namun sejak kecil dia hidup dengan Kyai Sambarana atau Kyai Mrangi Semu dan kemudian di angkat anak.

Nyai Mrangi merupakan (Raden Ayuh Ngaisah) adalah adik kandung Banyak Sosro. Kekeknya adalah R. Harya Baribin putra dari Prabu Brawijaya IV Majapahit. Dan neneknya bernama Putri Bungsu Prabu Lingawastu dari kerjanaan Pakuan Parahiyangan.

Setidaknya ada sekitar 10 para Bupati Banyumas yang dimakamkan disini, tidak hanya R. Joko Kaiman yang di makamkan disini selain itu juga terdapat tiga makam Bupati Purwokerto dan dua makam Bupati Purbalingga.

Selian makam para leluhur Banyumas di tempat ini juga terdapat musium benda-benda pusaka. Yang pada bulan-bulan tertentu akan diadakan upacara jamasan.

Upacara jamsan ini juga akan menyedot masyarakat umum untuk melihat, biasanya upacara pembersihan Benda pusaka (Jamasan) diadakan pada bulan Mulud.

3. Masjid Nur Sulaiman

Masjid Nur Sulaiman merupakan salah-satu masjid tertua di Banyumas, letaknya berada pusat kota Banyumas, dari alun-alun berjarak sekitar 200 meter ke barat.

Masjid ini meruapakan masjid agung yang pertama di Banyumas sewaktu pusat pemerintahan kadipaten masih di wilayah Banyumas.

Masjid Nur Sulaiman didirikan sekitar tahun 1755 pada waktu pemerintahan dipimpin oleh Raden Tumenggung Reksa Praja.

Masjid ini sangat unik karena tedapat beberapa arsitektur bangunan yang berbeda dari bangunan masjid pada umumnya.

Di masjid ini terdapat Denah Bujur sangkar, Serambi, Batur Tinggi,  pintu utama disebelah timur, Mimbar berbentuk tandu, dan juga terdapat Maksura (tempat salat para penguasa).

Arsitek dari masjid ini adalah Bapak Nur Daiman, demang gumelem I sekaligus sebagai penghulu pertama di wilayah Banyumas.

4. Masjid Saka Tunggal

Masjid Sakat Tunggal terletak sebelah barat daya Banyumas, bertempat di desa Cikakak Kecamatan Wangon.

Menurut Juri Kunci Masjid tersebut, masjid ini merupakan masjid tertua di Nusantara. Meski belum terbukti kebenarannya namun masyarakat disana meyakini akan hal itu.

Bangunan masjid Saka tunggal terbilang unik ini bisa dilihat dari namanya Masjid Saka Tunggal yang kalau diartikan dalam bahasa Banyumasan adalah Masjid Tiang Satu.

Memang di dalam masjid ini hanya ada satu tiang besar yang menopa masjid ini. Tiang itu terletak ditengah-tengah Masjid ini.

Dalam setiap arsitekturnya tedapat simbol-simbol yang bermakna kehidupan yang hanya bisa dijelaskan oleh juru kunci masjid tersebut.

Salah-satu hal yang unik di Masjid ini adalah terdapat sekumpulan kera liar di komplek masjid, kera-kera itu tidak takut dengan pengunjung yang datang bahkan kera-kera tersebut berkumpul dengan aktivitas pengunjung yang ada disana.

Tidak jelas asal muasal kera tersebut datang, namun menurut juru kunci kera tersebut merupakan binatang peliharaa dari pendiri Masjid tersebut.

5. Gua Maria Kaliori

Gua Maria kaliori terdapat di desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Sekitar 20 KM dari pusat kota Purwokerto.

Gua Maria Kaliori banyak diziarahi oleh umat Katolik, mereka memanjatkan doa dan pemujaan bagi Bunda Maria disana.

Dibangun pada tahun 1988, pada awalnya Gua Maria Kaliori wilayahnya bergitu  gersang namun kini sudah dibangun dengan konsep hijau nan sejuk memanjakan mata dan hawa para pengunjung atau peziarah yang datang.

Pembangunan Gua  Maria Kaliori dimulai pada tanggal 15 Agustus 1989 dengan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Uskup Purwokerto Mgr P S Hardjasoemarta MSC.

Gua Maria Kaliori didirikan atas inisiatif tokoh-tokoh awam Katolik yang mengikuti Retret Awal Hidup Baru di Ngadisero, Tumpang, Malang.

Tokoh-tokoh Katolik Banyumas merasa perlu membangun Gua tersebut untuk ikut serta membantu masyarakat umum.

Sejak dibangunya Goa ini kaum Katolik sering menggunakan tempat ini untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial tidak hanya untuk kepentingan beribadah saja.

Fasilitas beribadah pun semakin hari semakin legkap seperti Kapel Ratu Surga, Jalan Salib, Taman Rosario Hidup, Pendopo dan yang terbaru telah dibangun Rumah Retret Maria Immaculata, dengan kapasitas sekitar 150 orang disediakan untuk para peziarah.

Oleh karena itu Gua Maria Kaliori merupakan salah-satu tempat ziarah dan peribadahan terlengkap umat Katolik di Indonesia.

Baca juga :

Sekian semoga bermanfat.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !