Acara TV Indonesia, Kebanyakan Memuakkan

Acara TV Indonesia, Kebanyakan Memuakkan

Rasanya bosan sekali malam itu, malas ngapa-ngapain, belajar, malas membaca, pokoknya malas deh…Iseng-iseng aku ikut gabung mamaku yang lagi menonton tv. Merasa tidak cocok dengan acara yang sedang ditontong, aku pinjam remote tv itu. Aku ganti cari program yang sekiranya pas dengan otakku, atas bawah, bolak balik aku pencet pentil-pentil angka yang ada.
Tiba-tiba aku terkagetkan dengan teriakan yang cetar membahana memecah keheningan alam semesta raya “sedang ngapain sih kamu! TV lagi ditonton malah bolak balik dganti-ganti! Wong tinggal ditonton! Nanti TVnya rusak!” 

Begitulah mamaku marah padaku, aku ya hanya diam tak berani mendebat (aku jelas kalah coy, dimana-mana perempuan itu selalu benar!). Lagian bagi korban-korban sinetron seperti mamaku, logikanya kadang kala suka gak terpakai mirip cerita sinetron-sinetron gitu..lha wong TV diganti program kok bisa membuat TVnya rusak.. Gimana coba cuy? Masuk logika gak? Inilah korban-korban sinetron.
Akupun mengalah dan kembali kekamar dengan 2 kekesalan. Pertama karena stasiun televisi Indonesia yang kebanyakan acaranya tidak bermutu, kedua kesal pada orang-orang seperti mamaku, yang sudah fanatik bahkan keranjingan menonton acara-acara tv tersebut.
Mencermati berbagai acara tv yang tayang, sebenarnya aku sangat merasa muak. Pertama aku muak terhadap pihak stasiun tv (yang akan saya bahas dibawah ini), kedua kepada lembaga sensor, ketiga kepada masyarakat yang segitu mudahnya gandrung dengan acara tersebut.
Muak kepada stasiun tv!
Semua stasiun tv swasta nasional hampir semuanya ada acara yang memuakkanku. Aku mulai dari TV G, setiap aku melihat TV G pasti di running text.nya selalu memberitakan (bahkan yang menurutku tidak penting) & membela si pemilik TV tersebut,  entah itu masalah tentang sengketa ataupun mengenai partai yang dibentuk pemilik tv tersebut. Running text tersebut terus saja diputar sampai berhari-hari sambil berharap (mungkin) masyarakat akan membentuk opini positif terhadap si bos!
Masih dalam naungan yang sama, yaitu TV R, yang paling memuakkan di tv ini adalah dia menamai dirinya tvm (tv movie), padahal seharusnya kan tvs (tv sinetron). Berjubel acara sinetron di tv ini, mulai pagi hingga malam, mulai yang baru sampai yang sudah ribuan episode. Mending kalau masuk akal, ini enggak! Dari sekian banyak sinetron yang memuakkan di tv ini adalah sinetron yang orangnya berubah menjadi harimau. WWWRRRRR!!!!
Masih dalam TV R. TV R ini sering sekali mengadakan ajang pencarian bakat yang judul acaranya ada embel-embel “Indonesia”-nya. Tapi tanda Tanya besarku adalah “seberapa besarkah prosentase yang mencerminkan Indonesia-nya?”. Aku muak! acara ….Indonesia, …Indonesia. Tapi nyanyinya kebanyakan lagu-lagu barat, seolah-olah keren,tapi kebanyakan masyarakat tidak tahu artinya. Lalu jika masih memakai unsur “Indonesia” dimana penghargaan untuk lagu-lagu Indonesia/lagu-lagu tradisional nusantara mana??? INDONESIANYA MANA???
Selanjutnya adalah TV I. TV I ini adalah tv yang paling jadul menurutku. Dengan tidak diputar lagi “sinetron-sinetron laga yang menaiki naga” kirain akan menyembuhkan kemuakkanku. Ternyata TIDAK!
Mereka membuat program pencarian bakat dangdut. Aku muak lagi! Pertama, juri-jurinya kurang mutu, kedua acara ini sangat menguras kantong masyarakat cuy! Bayangkan, jika ingin mendukung masyarakat harus sms dengan biaya Rp 2200! Tidak apa-apa kalau masyarakat kita golongan atas semua, tapi yang masih menengah kebawah bagaimana? MIKIR! Ketiga, seolah tidak ingin kehilangan moment, mereka akan memperpanjang acara itu sepanjang mungkin, bahkan kalau bisa sepanjang tahun dengan membuat konser ini kek,konser itu kek, halah…MUAK!
Selain acara dangdut tersebut mereka mempunyai acara-acara dengan motif yang sama! Yaitu menyedot duit masyarakat dengan membuat program yang mendukungnya dengan cara SMS, acara yang bergenre sekalipun dibuat dengan motif ini! PARAH!
Lanjut ke TV S, rajanya ftv. Hamper setiap hari di tv ini menyiarkan ftv, dan hampir semua judulnya mengandung cinta-cintaan dan terkesan konyol. Misalnya : Pak Lurah pacarku yang ganteng, tukang kebo mencari cinta sejati, penjual es adalah jodohku, dan lain-lain yang membuatku teriak Hueeekkkkk!!! Ftv itu ceritanya juga gitu-gitu lagi, anak kota yang bandel ke desa, lalu dijalan mobilnya tabrakan, lalu konflik, musuhan, lalu jatuh cinta, lalu jadian. Hadeh…pasti tertebak endingnya!
Belum lagi banyak sinetron-sinetron yang tak sesuai realita, yang gak masuk akal, blas.. Geramnya lagi setiap sinetron yang ada pembantunya, pasti pembantunya itu orang jawa dengan logat yang medok “..enggih den…enggih tuan…” sebagai suku jawa sangat tersinggung!
Lalu TV A, tv ini adalah tv paling tidak kreatif menurutku. Program-programnya banyak yang menjiplak program stasiun tv lain. Acara dramanyapun kebanyakan diimpor dari luar negeri.
Yang membuatku muak selanjutnya adalah TV M dan TV O. Kedua tv ini dimiliki oleh tokoh politik yang saling beradu. Katanya tv berita, tapi beritanya kebanyakan memihak kemana arah politik si pemilik, selain itu selalu memberitakan kabar buruk lawan politiknya. Musim pemilu lalu, aroma ini sangat terasa. TV M menurutku mending karena tercover oleh acara lain yang berkualitas, tp TV O menurutku terlalu kentara dan sering mengundang kontroversi.
Dan yang terakhit adalah duo TV T, sebenarnya acaranya bagus-bagus, hanya akhir-akhir ini kedua sinetron ini juga ikut-ikutan menyiarkan sinetron-sinetron yang ….. (tau sendiri lah sinetron itu seperti apa). Ini membuatku juga agak sedikit muak!
Seharusnya pemilik tv ataupun produser-produser tv, selain memikirkan keuntungan materi juga harus memikirkan efek yang ditimbulkan dengan acara-acaranya. Setiap hari orang Indonesia menonton tv, takutnya pola pikir mereka akan mengikuti acara-acara yang tidak masuk akal. Bukankah frekuensi yang digunakan juga milik publik? Jadi public juga berhak mendapatkan tontonan yang berkualitas.
-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !