Akidah Akhlak “TUNTUTAN DAN GANJARAN”

TUNTUTAN DAN GANJARAN
Akhlak Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah Rasulullah SAW antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima/ baik, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Manakala menurut istilah Islam, akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini berarti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan manusia sama ada berbentuk lahiriah maupun batiniah yang merangkumi aspek amal ibadah, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang dan sebagainya. 
Ajaran islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju. Suatu kenyataan bahwa manusia mesti terikat erat dengan khalik sang pencipta. Oleh karena itu melaksanakan agama sama artinya dengan berakhlak sesuai dengan tuntutan atau tuntunan agama islam. Jika berakhlak sesuai dengan tuntutan/kewajiban atau sesuai dengan yang dituntut oleh ajaran islam maka sesungguhnya akan mendapatkan ganjaran/imbalan ataupun hadiah dari allah swt yaitu berupa syurga kelak di akherat ataupun pahala. Sebaliknya jika berakhlak atau bertingkah laku tidak sesuai dengan tuntutan  agama islam  maka akan mendapatkan ganjaran ataupun imbalan dari allah swt yaitu berupa neraka ataupun siksaan dan tidak mendapatkan pahala.
Oleh karena itu, disini pemakalah akan membahas tentang Tuntutan/kewajiban dan ganjaran  akhlak dalam islam yang sekiranya penting untuk di bahas, karena dengan mengetahui tuntutan dan ganjaran akhlak dalam islam, maka akan menambah wawasan atau pengetahuan ataupun bisa sebagai dasar /pedoman kita agar berhati-hati dalam berakhlak atau bertingkah laku.
A. Pengertian Tuntutan dan Ganjaran
Tuntutan secara umum yaitu Hasil menuntut, sesuatu yang dituntut, (seperti permintaan keras) gugatan, dakwaan. Tuntutan disebut juga dengan Kewajiban. Hak itu merupakan wewenang dan bukan kekuatan, maka ia merupakan tuntutan, dan terhadap orang lain hak itu menimbulkan kewajiban, yaitu kewajiban menghormati terlaksananya  hak-hak orang lain. Dengan cara  demikian orang lain pun berbuat yang sama pada dirinya, dan dengan demikian akan terpiliharalah pelaksanaan hak asasi manusia itu.
Dengan demikian masalah tuntutan atau kewajiban memegang peranan penting dalam pelaksanaan hak. Namun perlu ditegaskan di sini bahwa kewajiban atau tuntutan di sinipun bukan merupakan keharusan fisik, tetapi tetap berwajib, yaitu wajib yang berdasarkan kemanusiaan, karena hak yang merupakan sebab timbulnya kewajiban itu juga berdasarkan kemanusiaan. Dengan demikian orang yang tidak memenuhi kewajibannya berarti telah memperkosa kemanusiaannya. Sebaliknya orang yang melaksanakan kewajiban berarti telah melaksanakan  sikap kemanusiaanya. 
Di dalam ajaran islam, Kewajiban atau tuntutan ditempatkan sebagai salah satu hukum syara’, yaitu suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapat siksa.  Dengan kata lain bahwa tuntutan atau kewajiban dalam agama berkaitan dengan  pelaksanaan hak yang diwajibkan oleh Allah. Melaksanakan shalat lima waktu, membayar zakat bagi orang yang memiliki harta tertentu dan sampai batas nisab, dan berpuasa dibulan ramadhan misalnya adalah merupakan kewajiban atau tuntutan.
Manusia sebagai makhluk cipataan Allah juga mempunyai kewajiban/tuntutan terhadapNya, kewajiban manusia hanyalah beribadah kepada Allah. Prinsip dasar beribadah inilah menjadi kewajiban/tuntutan bagi manusia sebagai makhluk Allah, penyembahan yang dilakukan oleh manusia, bukan semata-mata untuk kepentingan Allah, namun sebaliknya justru untuk keselamatan dirinya sendiri. Bagi Allah tidak ada masalah apabila manusia tidak mau melaksanakan kewajiban terhadapnya konsekuensinya sebenarnya terletak pada manusia sebagai mahluk Allah, sebagaimanapun alasannya, tetap apabila manusia ingin mencari keselamatan, harus mau melaksanakan kewajiban/tuntutan tersebut.   
Ganjaran dalam kamus besar bahasa indonesia disebutkan bahwa ganjaran  adalah hadiah (sebagai pembalas jasa). Dari definisi ini dapat dipahami bahwa ganjaran dalam bahasa indonesia bisa dipakai untuk balasan yang baik dan balasan yang  buruk. Sementara itu dalam bahasa arab, ganjaran diistilahkan dengan tsawab.  Kata tsawab bisa juga berarti pahala upah dan balasan. Kata tsawab banyak ditemukan dalam al-Quran , khususnya ketika kitab suci ini membicarakan tentang apa yang akan diterima oleh seseorang, baik di dunia maupun di akhirat dari amal perbuatannya. 
Dalam pembahasannya yang lebih luas, pengertian istilah ganjaran dapat dilihat sebagai berikut:
  1. Ganjaran adalah alat pendidikan preventif dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motivator belajar bagi murid.
  2. Ganjaran adalah hadiah terhadap perilaku baik dari anak didik dalam proses pendidikan. Muhammad bin Jamil Zaim menyatakan bahwa ganjaran merupakan asal dan selamanya harus didahulukan, karena terkadang ganjaran tersebut lebih baik pengaruhnya dalam usaha perbaikan daripada celaan atau sesuatu yang menyakitkan hati.

Sedikit berbeda dengan metode targhib, tsawab lebih bersifat materi, sementara targhib adalah harapan serta janji yang menyenangkan yang diberikan terhadap anak didik dan merupakan kenikmatan karena mendapat penghargaan. 
B. Contoh Tuntutan dan Ganjaran
Contoh  Tuntutan
1. Berpakaian: 
Pakaian sebagai kebutuhan dasar bagi setiap orang dalam berbagai zaman dan keadaan. Islam sebagai ajaran yang sempurna, telah mengajarkan kepada pemeluknya tentang bagaimana tata cara berpakaian. Berpakaian menurut Islam tidak hanya sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap orang, tetapi berpakaian sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha Allah. 
Oleh karena itu setiap orang muslim wajib/dituntut berpakaian sesuai dengan ketentuan yang ditetap Allah. Agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar berpakaian yang baik, indah dan bagus, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam pengertian bahwa pakaian tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berpakaian, yaitu menutupi aurat dan keindahan. Sehingga bila hendak menjalankan shalat dan seyogyanya pakaian yang kita pakai itu adalah pakaian yang baik dan bersih (bukan berarti mewah). 
Hal ini sesuai fiman Allah dalam Surat al-A’raf/7 : 31.
Artinya : “Hak anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid makan, minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan( Q.S Al-A’raf/7 : 31). Islam mengajak manusia untuk hidup secaa wajar, berpakaian secara wajar, makan minum juga jangan kurang dan jangan berlebihan.
2. Perilaku terhadap kedua orang tua:
a. Berbuat Baik kepada Ibu dan Ayah, Walaupun keduanya Lalim
Seorang anak menurut ajaran islam diwajibkan/dituntut berbuat baik kepada ibu dan ayahnya, dalam keadaan bagaimanapun. Artinya jangan sampai seorang anak sampai menyinggung perasaan orang tuanya, walaupun seandainya orang tuanya berbuat lalim kepada anaknya, dengan melakukan yang tidak semestinya, maka jangan sekali-kali si anak berbuat tidak baik, atau membalas atau mengimbangi ketidakbaikan orang tua kepada anaknya. Allah tidak meridhoinya sehingga orang tua itu meridhoinya.
b.  Berkata Halus dan mulia kepada Ibu dan Ayah
Kewajiban anak kepada orang tuanya berbicara menurut ajaran islam harus berbicara sopan, lemah lembut dan mempergunakan kata-kata mulia hal ini dituturkan dalam Firman Allah:
Artinya:
“Dan Tuhan telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain kepada-Nya dan hendaknya kamu berbuat baik kepada ibu bapak kamu dengan seabaik-baiknya. Jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan kamu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kesayangan dan ucapakan doa:”Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka kedua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (QS.Al-Isra: 23-24)
Dari ayat-ayat tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa sewajarnya seorang anak untuk berbuat baik kepada orang tua baik berbicara dan yang lain- lain. Dengan cara tidak menyinggung perasaan orang tua dan tidak berkata kasar kepada mereka. 
Contoh Ganjaran
1. Berbuat baik kepada ibu dan Ayah
Seorang anak berkewajiban menghormati orang tuanya,  berkata halus pada orang tuanya, berbuat baik kepada ayah dan ibu yang sudah meninggal yaitu dengan cara mendoakan  ayah dan ibu yang telah tiada dan meminta ampunan dari Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukan oleh ibu dan ayah semasa hidup di dunia. Perbuatan seperti itu merupakan perbuatan yang terpuji yang nantinya akan mendapat Ganjaran/ imbalan dari Allah swt yaitu Berupa pahala dan syurga kelak di akherat.
2. Menjalankan  ibadah
Sebagai seorang umat muslim kita  diwajibkan  untuk  Sholat, berpuasa , zakat bagi yang mampu dll, maka jika kita dapat melaksanakan itu semua  sesuai dengan ajaran agama islam dengan baik, maka Allah swt akan memberikan ganjaran /reward/imbalan berupa pahala dan syurga kelak di akherat nanti.
Ganjaran  itu terbagi menjadi dua  ada Ganjaran yang baik dan ada Ganjaran yang buruk. Contoh ganjaran/imbalan/reward yang baik yaitu Semisal anak didik di dalam sekolah  itu selalu berprestasi dan dilingkungan sekolah juga selalu bersikap baik, maka anak didik tersebut akan mendapatkan ganjaran/ reward dari gurunya berupa pujian, nilai/poin yang baik juga atau bahkan bisa mendapat imbalan /hadiah berupa beasiswa. Sedangkan jika ada anak didik yang selalu berbuat nakal, membuang sampah tidak pada tempatnya, suka membolos sekolah, maka anak didik tersebut akan mendapat ganjaran yang buruk  yaitu bisa berupa hukuman dari guru ataupun celaan dari teman-temannya.
C. Cara Mengaplikasikan Ganjaran
Berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam memberikan ganjaran antara lain:
a. Ekspresi Verbal/Pujian yang Indah
Pujian ini diberikan agar anak lebih bersemangat belajar. Penggunaan teknik ini dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika memuji cucunya, al-Hasan dan al-Husein yang menunggangi punggungnya seraya beliau berkata, “Sebaik-baik unta adalah unta kalian, dan sebaik-baik penunggang adalah kalian.” (H.R. Ath-Thabrani dari Jabir ra). Oleh karenanya guru diharapkan mengikuti makna-makna dalam rangka memberi ganjaran atau pujian yang akan bermanfaat dan lebih menarik perhatian. Ganjaran-ganjaran yang diberikan dengan mudah terhadap suatu perbuatan akan menghilangkan akibat-akibat yang tidak baik.
b. Imbalan Materi/Hadiah
Tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian hadiah. Cara ini bukan hanya menunjukkan perasaan cinta, tetapi juga dapat menarik cinta dari si anak, terutama apabila hal itu tidak diduga. Rasulullah telah mengajarkan hal tersebut dengan mengatakan, “Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian saling mencintai.” Beliau tidak mengatkan, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” Tidak dengan kata akan. Jadi hasilnya muncul secara cepat dalam menarik perasaan cinta. Setiap orang tua mengetahui apa yang disukai dan diharapkan oleh anaknya, sehingga hadiah yang diberikan dapat berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaan anaknya. Muhaimin dan Abd. Majid menyebutkan bahwa ganjaran dapat diberikan kepada anak didik dengan syarat dalam benda yang diberikan terdapat relevansi dengan kebutuhan pendidikan, misalnya untuk anak didik yang ranking pertama diberikan hadiah bebas SPP, dsb. 
c. Menyayanginya
Di antara perasaan-perasaan mulia yang Allah titipkan pada hati kedua orangtua adalah perasaan sayang, ramah, dan lemah lembut terhadapnya. la merupakan perasaan yang mulia yang memiliki dampak yang paling utama dan pengaruh yang sangat  besar dalam mendidik, menyiapkan, dan membentuk anak. Hati yang tidak memiliki kasih sayang akan memiliki kekerasan dan kekasaran yang tercela. Diketahui bahwa sifat-sifat yang buruk ini akan menimbulkan reaksi pada anak-anak berupa kebencian mereka terhadap ayah dan ibunya. Karena itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi dan Amr bin Syu’aib, Rasulullah saw mengatakan, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil.” Jadi, kasih sayang itu harus diberikan kepada anak-anak. Anak tidak boleh dihukum ketika melakukan kesalahan seperti tindakan terhadap orang dewasa. Karena, orang dewasa dapat mcmbedakan antara yang benar dengan yang salah. Sedangkan anak tidak demikian. Jadi, yang menjadi prinsip ketika berinteraksi dengan anak. adalah kelembutan, kasih sayang, dan keramahan.
d. Memandang dan Tersenyum Kepadanya
Hal ini terkadang dianggap sepele, padahal ia menunjukkan cinta dan kasih sayang, sebagaimana juga dapat menunjukkan hukuman apabila pandangan yang diberikan adalah pandangan yang tajam disertai muka yang masam. Karena itu, pandangan yang lembut disertai dengan senyuman dapat menambah kecintaan anak terhadap orang tua atau guru. Pandangan sering pula menjadi sebab kebencian anak terhadap orangtuanya apabila mereka bermuka masam terhadapnya tanpa sebab yang jelas dan menyangkanya sebagai kewibawaan. 
Senyuman merupakan sedekah sebagaimana dikatakan oleh Nabi SAW, “Tersenyumnya engkau terhadap saudaramu adalah sedekah.” Senyuman sama sekali bukan suatu beban vang memberatkannya, tetapi ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat, Ketika berbicara dengan anak-anak maupun dengan murid-murid hendaknya seorang ayah atau seorang guru mcmbagi pandangannya secara merata kepada mereka semua, sehingga mereka mendengarkannya dengan perasaan cinta dan kasih sayang serta tidak membenci pembicaraannya. Dan masih banyak lagi cara-cara lain yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti menyambutnya dengan hangat, memberikan dorongan ketika bertanya dan menjawab, menerima pendapat-pendapat dan saran-sarannya, bersifat adil dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Zaim, Muhammad bin Jamil, Petunjuk praktis Bagi Pendidik Muslim, Jakarta: Pustaka Istiqamah, 1997.
 Kafie, Jamaluddin, ”Psikologi Dakwah”, Surabaya: Indah, 1993.
Shaleh, Abdullah Abdurrahman, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-qur’an. (Terj. H.M.Arifin dan Zainuddin). Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1994.
Nata,  Abuddin. Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,  2009.
Khalaf, Abdul Wahhab. Ilmu Usul al-Fiqh, Mesir:Dar al-Ma’arif. 1985.
http://lihtarwiah.blogspot.com/2012/05/hubungan-hak-kewajiban-dan-keadilan.html (08 April 2013).

Tinggalkan komentar