Artikel, Sastra

Aku (bukan) Menolakmu, Karena Cinta Bukan Hanya Sebatas Itu

Aku (bukan) Menolakmu, Karena Cinta Bukan Hanya Sebatas Itu – Ini adalah bentuk perkataanku satu hari kemarin, ketika kita bertemu, ketika kubaca secarik kertas berisi puisi indah darimu :

Aku tak memelukmu
Disini, aku hanya menumpuk rindu
Hati dan segenap perasaan lebur terinjak pilu
Sejuta laku agungku tetap kau membeku
Aku tak memelukmu..
Itu tentang rasa hati
Itu tentang rasa nurani
Itu rasa terindah yang pernah kuberi
Kau tak lagi mengerti, kau takan mengerti
Untuk sebuah nama penggambaran kita
Ini penegasan
Aku takan mengulang
Aku termanja-manja rasa, dan kini aku mengiba.
Itu adalah puisi terindah yang pernah kubaca. Aku tulis diujung bawah,
“Aku mencintaimu, tapi bukan berarti kita berkekasih, aku masih takut pada Kekasihku, dan kamu tahu siapa Kekasihku” 

Aku (bukan) Menolakmu, Karena Cinta Bukan Hanya Sebatas Itu
aku (bukan) menolakmu..
Jangan sekarang, itu hanya akan membuat hubunganku dan Kekasihku tak mesra, hubunganmu dan Kekasihmu juga kutakutkan tak lagi mesra. Aku mencintaimu, tapi biarkan aku melakukannya dengan cara lain, bukan dengan cara itu, cara yang jamak orang lakukan, cara keumuman. Aku bukan menolakmu, aku ingin hubungan kita mesra yang jauh melebihi mereka. Aku ingin mencintaimu bukan dengan cara itu..
Itu, menurutku hanya akan membatasai kemerdekaan kita sebagai anak kecil yang perlu pengembangan hidup dan kreatifitas pemikiran yang dibangun dari peristiwa-peristiwa yang tak akan terjadi ketika kita mengikat satu sama lain.
Bukannya aku membencimu. Satu hal yang harus kau tahu tentang diriku, berdasarkan pengalaman religiusku, aku diajari untuk tidak membenci, terhadap keburukanpun, terhadap musibahpun, aku diajari untuk tidak membenci. Apalagi kepada manusia, yang didalamnya bersemayam baitullah. Sekali aku membenci baitnya maka seketika itu aku membenci yang mempunyai bait.
Aku bahkan mencintaimu, pahamilah cinta secara lebih luas, mengertilah bahwa makna cinta bukan hanya sebatas itu, sesempit itu. Dia sederhana namun mempunyai arti yang mendalam. Aku maknai ini semua sebagai cinta, mengenai bagaimana perwujudan cinta, aku mohon kamu untuk belajar mengenai cinta. Jika kamu mengerti suatu saat, bahwa semuanya adalah bentuk cinta.
Cinta adalah seperti huruf “ya” dan “sin”, yang tidak semua orang paham tentang maknanya. Ataupun makna “ kaf ha ya ‘ain sod ”  dalam perwujudan kecintaan Gusti kepada Maryam. Cinta kadang dibaca dan diterjemahkan dengan kementahan. Anehnya kadang kita lebih memilih yang mentah itu.
Lalu kamu bicara ikhlas..
Dengan emosimu, dengan kesdihanmu, apa itu adalah “keikhlasan” yang akhir-akhir ini kau gaungkan?. Tidak ada kalimah “ikhlas” satupun di dalam surat al ikhlas. Diakui atau tidak, dalam setiap kepedulianmu, ada harapan yang kau taruh.
Dan bicara ikhlas tentang diriku, karena keayuanmu, kecantikanmu, perhatianmu, dan keseksianmu itulah aku rasa aku belum ikhlas mencintaimu. Aku belum yakin apakah nanti ketika keayuanmu memudar, keseksianmu berkurang aku akan tetap mencintaimu. Ikhlas tak bisa dibuat-buat, apalagi dipaksa, itu datang sendirinya dari sumber terdalam perasaan insani kita.
Tunggulah pada waktu dan suasana yang tepat, tunggulah saat dimana kita sudah bisa saling memelihara ikhlas, kita bisa saling merasakan cinta dengan perwujudan yang sama. Dan aku akan selalu menunggumu, menunggu aku dan kamu menentukan hubungan dengan Kekasih kita. Menunggu kita bertiga saling berkekasih dengan cinta yang mesra. Jika Dia berkehendak.
Ini jawaban untukmu, aku katakanan dengan bahasa lebih sederhana, terima kasih telah kau baca, semoga kita tetap saling mencintai, karena cinta bukan hanya sebatas itu.
-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !