Aku dan Sahabatku Mencintai Orang yang Sama

Aku dan Sahabatku Mencintai Orang yang Sama – Mencintai dan dicintai adalah hak setiap orang. Tapi mencintai perempuan yang juga dicintai sahabat sendiri adalah sesuatu yang nggapleki. Rasanya serba salah, mau mengalah rasanya kok berat, mau diteruskan pasti aku dicap tukang telikung dan pastinya persahabanku retak.
Hujan tak bisa ditahan, tapi aku bisa menunggunya kering. Cinta memang sudah terlanjur kurasakan, tapi demi keadaan dan utuhnya persahabatan, aku akan menjaga menahan perasaan. Biarkan remuk ini aku sendiri yang tahu, biar rasa kecewa dan amarah kutahan.

mencintai orang yang sama

mencintai orang yang sama

Awalnya kita tergabung dalam suatu perkumpulan. Aku, teman perempuan, dan teman laki-lakiku termasuk didalamnya. Aku sebut teman perempuanku A, dan teman laki-lakiku B.

Semakin banyaknya acara, rapat, serta pertemuan membuat aku dan A semakin intens berinteraksi. Witing trisno jalaran soko kulino, berawal dari curi pandang, menanya kabar, menyuruh makan lalu obrolan-obrolan lain yang intinya saling perhatian.

Perhatian yang rutin mulai menumbuhkan rasa, perasaan nyaman lebih tepatnya. Candu yang setiap hari selalu kurang jika belum menerima dan mengirim pesan kepadanya. Siang, malam, pagi, senja seolah-olah hanya ada dia yang ada dalam pikiran dan rasa.

Suatu saat aku dan A bertemu hanya berdua. Hanya saling pandang dan tak keluar satupun kata. Mungkin kita sama-sama memendam rasa, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Yang jelas ada perasaan yang berbeda terhadapnya, bukan sebagai teman.

Semenjak saat itu rindu ini semakin menggebu, rindu yang telah berhasil merusak waktu tidurku. Aku terus membayangkannya, memikirkannya. Aku merasa ini awal sebuah cinta, atau jalan menuju masuk kepadanya. Tapi aku belum yakin apakah dia punya rasa yang sama.

Kemudian hari, aku bertemu dengan B, beserta teman-teman yang lain pula. Seperti biasa, percakapan seru disertai gelak tawa. Namun seperti biasa, selalu diakhiri dengan pembahasan cinta dan wanita.

Bahwa temanku B, selama ini telah menaruh rasa kepada A. Hanya saja temanku B tak berani mengungkapkannya kepada A. Teman-teman yang lainpun mendukung dan mengompori agar B cepat mengatakannya kepada A. Untuk menutupi kenyataan persaanku dan rasa solidaritas, akupun ikut-ikutan mengompori B agar mengungkapkan perasaanya kepada A.

Aku melihat ketulusan B, tak tega rasanya jika aku meneruskan perasaanku ke A. Perasaan yang jika dilanjutkan akan membuat persahabatan menjadi berantakan. Aku mengalah, tak lagi kukirim pesan kata-kata cinta, hanya menanya kabar sekedarnya saja.

Jujur saja aku sedikit kecewa, tapi aku menyadari bahwa konsep mencintai dan tersakiti akan tetap abadi. Semoga Tuhan selalu memberiku kelapangan hati.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !