Alasan Sayuran Dan Buah Disemprot Air Di Super Market

Alasan  Sayuran Dan Buah  Disemprot  Air Di Super Market

Answer :

Sangat penting untuk menghasilkan sayuran dengan kualitas tinggi sampai di tangan konsumen. Idealnya, kualitas sayuran pada saat sampai ke tangan konsumen harus sama dengan kualitas sayuran pada saat dipanen supaya dapat memperoleh harga jual yang tinggi (Williams et al., 1993). Selada merupakan sayuran, dan sayuran itu pada dasarnya adalah sel hidup. Jadi, yang harus dilakukan untuk memperlama sel hidup itu adalah dengan menahan kandungan air di dalam sayuran tersebut, dapat dilakukan dengan cara menyemprot sayuran dengan air agar sayuran tetap segar. Sebanyak 87-90% kandungan yang ada di dalam sayuran adalah air. Selain penyemprotan dengan air, cara kedua yang dapat dilakukan agar produk hortikultura tetap segar adalah dengan menidurkan sel hidup, dengan cara menurunkan suhu simpan dengan menggunakan cold storage (pendingin). Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan zat lilin yang aman bagi manusia. Zat lilin digunakan agar air tidak keluar. Namun, ada beberapa eksportir, petani, ataupun pedagang sayuran yang menyuntikkan cairan formalin atau zat berbahaya lainnya seperti pestisida yang disemprotkan, agar sayuran tetap segar (Nurhayat, 2013).

Alasan Sayuran Dan Buah Disemprot Air Di Super Market

Jika sayuran sudah dipanen atau dipetik dari tanaman induknya, umumnya fotosintesis telah berhenti, tetapi respirasi tetap berjalan untuk tetap mempertahankan proses fisiologis dalam sel-selnya. Secara teoritis, lamanya daya simpan (storage life) sayuran tergantung pada lama waktu cadangan makanan (length of time the storage food) dan air yang diperlukan dalam respirasi dan transpirasi. Oleh karena cadangan makanan dan air berkurang terus-menerus, maka kualitas sayuran menurun sampai sayuran tidak layak lagi untuk dikonsumsi manusia. Dengan menurunnya cadangan makanan, kerentanan sel terhadap serangan mikroorganisme meningkat. Memar (bruishing) dan kerusakan mekanis lainnya dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme dan mempercepat respirasi produk (Williams et al., 1993).

Sayuran pascapanen adalah merupakan produk hidup yang masih aktif melakukan aktifitas metabolismenya. Hal ini dicirikan dengan adanya proses respirasi yang masih berjalan seperti halnya sebelum produk tersebut dipanen. Keragaman akan laju respirasi pascapanennya sering dijadikan sebagai indikator tingkat laju kemunduran dari produk tersebut. Semakin tinggi tingkat laju respirasinya, maka semakin cepat laju kemunduran dan semakin cepat kematian yang terjadi. Disamping itu, keragaman akan kondisi fisik-morfologis sayuran mencirikan pula akan kepekaannya terhadap kerusakan mekanis dan patologis. Kerusakan mekanis meliputi benturan (impact), tekanan (compression) dan getaran (vibration). Kerusakan patolgis adalah diakibatkan oleh serangan mikroorganisme patogenik terutama oleh cendawan dan bakteri. Kondisi fisik-morfologis produk juga berpengaruh terhadap traspirasi atau penguapan air dari produk itu sendiri. Seperti halnya sayuran daun dimana rasio antara volume dan berat yang tinggi cenderung transpirasi berjalan tinggi (Utama, 2006).

KARAKTERISTIK PRODUK SEGAR HORTIKULTURA

Menurut Utama (2006), semua produk pascapanen hortikultura adalah berupa bagian tanaman hidup. Pengertian ”hidup” mencerminkan bahwa produk tersebut masih melakukan proses fisiologi normalnya. Proses fisiologi yang terjadi meliputi fotosintesis, respirasi, transpirasi dan pelayuan.

Fotosintesis

Fotosintesis adalah suatu proses pada tanaman hijau untuk merubah energi matahari, dengan ketersediaan CO2 dan H2O menjadi karbohidrat dan O2. Proses ini hanya bisa terjadi bila ada sinar. Sinar tersebut harus dengan intensitas tinggi untuk bisa terjadinya fotosintesis yang aktif. Pada fase pascapanen, sinar sering ditiadakan atau ada sinar tetapi jauh di bawah intensitas yang dapat digunakan untuk fotosintesis. Sehingga dari pandangan pascapanen, fotosintesis atau produksi karbohidrat berhenti pada saat pemanenan. Ini berarti bahwa proses hidup yang terjadi setelah panen harus menggunakan karbohidrat cadangan yang terbatas jumlahnya dan terus menurun jumlahnya selama periode pascapanen. Karena produk segar yang dimakan adalah memanfaatkan karbohidratnya, sehingga berkurangnya karbohidrat tersebut harus diminimalkan.

Respirasi

Respirasi dijadikan sebagai indikator dari aktivitas metabolisme dalam jaringan. Aktivitas ini memecah karbohidrat yang diproduksi selama proses fotosintesis dengan ketersediaan O2 yang menghasilkan CO2, H2O dan energi. Proses ini tidak memerlukan air, dan terjadi siang-malam. Tujuan dari teknik pascapanen adalah menurunkan laju respirasi yang berarti pula menurunkan perombakan karbohidrat. Respirasi setelah panen haruslah dipandang sebagai berikut:

  1. Karbohidrat tersimpan yang dihasilkan oleh proses fotosintesis tidak lagi dihasilkan (pada kebanyakan produk) setelah panen. Maka penggunaan karbohidrat ini setelah panen akan menurunkan nilai produk sebagai sumber karbohidrat dan beberapa perubahan mutu akan terjadi.
  2. Oksigen (O2) dibutuhkan untuk proses respirasi. Suplai O2 harus dijaga untuk tetap terjadi ke dalam sel produk jika diinginkan produk tersebut masih tetap hidup.
  3. Karbondioksida (CO2) dihasilkan. Gas ini harus dilepaskan, biasanya dengan pengaturan ventilasi yang baik.
  4. Air (H2O) dihasilkan. Air ini berpengaruh terhadap komposisi dan tekstur dari produk.

Respirasi memproduksi panas. Setiap gram berat molekul glukosa yang direspirasikan menghasilkan 673 Joules energi panas. Panas yang dihasilkan ini menyebabkan masalah selama pendistribusian produk hortikultura tersebut. Respirasi sangat tergantung pada suhu. Awal peningkatan respirasi sejalan dengan peningkatan suhu adalah hampir linier dari 0oC. Ini menunjukkan peningkatan laju respirasi yang signifikan sejalan dengan mening-katnya suhu. Hardenburg et al. (1986) mengatakan bahwa setiap peningkatan suhu 10oC, laju respirasi secara kasar meningkat 2-3 kali. Jika suhu meningkat di atas 30oC, grafik menjadi mendatar, memperlihatkan peningkatan laju respirasi yang kecil. Jika produk di ekspos pada suhu sekitar 45oC atau lebih tinggi, produk mulai mati dan respirasi mulai terhenti atau menurun cepat menuju kematian. Hal ini menunjukkan, semakin tinggi suhu produk (tanpa membunuh produk), kecepatan respirasi dipercepat dan kemunduran dipercepat pula. Sebaliknya, semakin rendah suhu produk (tanpa membekukan produk), semakin rendah pula laju respirasi.

Transpirasi

Transpirasi adalah proses fisik dimana uap air lepas dari jaringan tanaman berevaporasi ke lingkungan sekitar. Peranan dari transpirasi adalah melepaskan air keluar struktur tanaman untuk mengatur suhu bahan tetap normal melalui proses pendinginan eveporatif. Proses fisiologis ini menggunakan energi dari respirasi untuk merubah air menjadi uap air. Transpirasi, secara prinsip terjadi pada daun melalui struktur yang dinamakan stomata. Sebagai proses yang tipikal yang terjadi pada jaringan hidup, transpirasi dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis produk.

DAFTAR REFERENSI
Hardenberg, R. E., Watada, A. E. And Wang, C. Y. 1986. The Comercial Storage of Fruits, Vegetables, Florist and Nursery Stocks. USDA Agric. Handbook No. 66. USDAWashington, USA.
Nurhayat, Wiji. 2013. Buah Impor dari China, AS, Bahkan Kanada Kok Bisa Tetap Segar?. https://finance.detik.com: diakses pada 30 Desember 2014 Pukul 02.12 WIB.
Utama, I.M.S. 2006. Peranan Teknologi Pascapanen Untuk Fresh Produce Retaling. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Bandung.
Williams, C.N., J.O. Uzo and W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Category: Ilmiah Tag:

About tohir

Ingin Belajar Sampai Dunia Alien, Bahwa berhenti belajar adalah kemunduran pemikiran. Tertarik pada hal baru yang mengundang penasaran.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !