ANATOMI BURUNG MERPATI

ANATOMI BURUNG MERPATI
Klasifikasi Columba domestica menurut Jassin (1989) adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Colombiformes
Familia : Colombidae
Genus : Columba
Spesies : Columba domestica
Pengamatan anatomi Columba domestica didapatkan hasil bahwa tubuh burung merpati (Columba domestica) terdiri dari caput, cervix, truncus, cauda dan extrimitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Storer dan Usinger (1957), bahwa unggas memiliki habitus berupa kepala, leher yang fleksibel dan bentuk badan berupa gelondong yang kokoh. Dua buah sayap yang membentang tinggi ke belakang dan sepanjang sayap terdapat bulu terbang (remiges). Sayap berbentuk huruf Z pada saat burung hinggap dan memanjang ketika terbang. Tiap-tiap kaki belakang terdapat dua segmen otot disebelah atas, padahal kakinya pendek dan ramping atau disebut dengan tulang kering, terdiri dari tendon dan sedikit otot serta ditutupi oleh kulit yang mengalami kornifikasi, dengan empat digiti yang berakhir dengan cakar yang menanduk. Ekor yang pendek menyerupai sekelompok kipas dengan bulu ekor (rectrises).
Caput Columba domestica terdiri dari mata, membran nictitans, lumbang telinga luar, nares externa, dan paru. Menurut Storer dan Usinger (1957) mata aves berukuran besar dan terletak lateral. Tiap-tiap mata pada bagian atas dan bawah terdapat kelopak mata yang di bawahnya terdapat membran nictitans di sebelah luar dan bergerak secara bebas. Bagian bawah dan belakang tiap-tiap mata terdapat pembuka mata, tersembunyi di bawah bulu khusus. Selain itu, mata avaes juga memiliki pekten. Menurut Moment (1967) pekten memiliki struktur yang rumit, berukuran besar, dan penuh dengan pigmen, vascular dan mirip sikat meluassampai humor vitreus dari retina pada suatu titik dimana saraf optic meninggalkannya. Fungsi dari pekten adalah untuk mendeteksi pergerakan yang cepat dan tiba-tiba dengan pandangan yang luas. Menurut Browidjoyo (1993) mata aves memiliki kelenjar air mata. Penglihatan terhadap warna sangat tajam dan cepat berakomodasi atau berfokus pada berbagai jarak. Lubang telinga dari luar, dengan meatus auditori external berlanjut ke membran tympani (gendang telinga). Telinga tengah dengan saluran-saluran semi sirkular sampai ke koklea. Pendengaran burung merpati berkembang baik. Teinga tengah memiliki saluran eustachius menuju ke faring dan bermuara pada langit-langi bagian belakang. Hidung sebagai organ pembau dimulai dengan dua buah hidung yang berupa celah pada bagian dorsal paruh. Indera penciuman pada burung kurang berkembang dengan baik. Menurut Stonger dan Usinger (1957) paruh adalah gabungan antara mulut dan tangan untuk mengambil dan memasukan makanan, membersihkan bulu, untuk mengumpulkan dan menysun material pembangun sarang dan untuk tujuan lain termasuk pertahahan diri. Bentk paruh menunjukkan jenis makannya.
Bulu merupakan “pakaian” burung, lapisan pengikat udara yang melewati tubuhnya, menghangatkan tubuh dan menjaga suhu tubuh tetap di atas suhu lingkungan, juga sebagai pelampung tubuh burung (Walter dan Sayles, 1959). Bulu adalah struktur epidermal khusus yang bersifat ringan, fleksibel tetapi juga merupakan penutup tubuhyang dilewati udara-udara seperti sebuah sekat, bulu-bulu ini melindungi kulit dari kotoran dan penipisan. Sayap berbentuk pipih dan semua bulu sayap serta ekor di permukaan tubuh berguna untuk menyongkong tubuh burung saat terbang (Storer dan Usinger, 1957).
Pengamatan anatomi Columba domestica didapatkan hasil bahwa bulu burung merpati, berdasarkan kelengkapannya dibagi menjadi 3 macam. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Djuhanda (1982) bahwa berdasarkan struturnya, dapat dikenal tiga macam bulu burung yaitu plumae, plumulae dan filoplumae. plumae atau bulu kasar, merupakan bulu-bulu penutup tubuh yang kasar, dinamakan tectrises; sedangkan terdapat di permukaan posterior dari sayap, dinamakan remiges, berguna untuk terbang. Bulu-bulu kasar yang terdapat di sebelah posterior dari tunggit disebut rectrises (romer). Bulu-bulu ini pada pankalnya berhubungan dengan serabut-serabut otot dan mempunyai peranan dalam gerakan terbang dan berlaku juga sebagai kemudi. Bagian-bagian dari plumae yaitu calamus yang berongga dengan lubang di bagian bawah yang disebut umbilicus inferior, dan lubang di bagian bawah yang disebut umbilicus superior. 
Lubang-lubang tersebut merupakan bekas lalunya pembuluh darah yang memberikan awalan makanan pada waktu bulu tersebut tumbuh. Segera setelah pertumbuhan bulu itu berhenti, pembuluh-pembuluh darah itu mongering dan hilang. Lanjutan dari calamus, disebut rachis (batang bulu) berupa batang yang pasif dan beralur-alur di tengah-tengahnya, bekas lalunya pembuluh darah pada waktu pertumbuhan bulu. Batang bulu ini memepercabangkan cabang-cabang bulu (rami), yang mempercabangkan jari-jari (radii). Kait-kait bulu (radioli) merupakan cabang-cabang dari jari-jari bulu, cabang proksimal berkaitan dengan cabang dari radii yang distal, sehingga keseluruhannya yaitu rami, radii, dan radioli membentuk bendera bulu atau vexillum. 
Beberapa burung pada pertemuan calamus dan rachis terdapat bulu lain yang disebut hyporachis, yang juga mempunyai rachis dan radii, tetapi tidak mempunyai radioli. Beberapa macam burung seperi emu dan kasuari, hyporachis ini sama panjangnya dengan bulu-bulu kasarnya, sehingga kelihatannya seperti dua bulu. Plumulae atau bulu lahus merupakan bulu-bulu yang halus, terletak di bawah plumae. Peranan utama dari bulu ini adalah sebagai isolasi menjaga panas tubuh. Selain itu berfungsi untuk melindungi badan terhadap cuaca yang tidak cocok dan berfungsi juga untuk terbang. Oleh karena itu bulu pada aves mempunyai bentuk tersendiri dibandingkan dengan bulu-bulu vertebrata lainnya. Menurut umurnya, bulu burung dibagi ke dalam neoptyle dan teleoptyle. Filoplumae atau bulu-bulu rambut merupakan bulu yang sangat halus sekali, bentuknya seperti rambut-rambut yang kecul. Tangkainya panjang mempercabangkan beberapa rami pada ujungnya. Bulu-bulu ranbut pada umumnya di selruh permukaan kulit.
Columba domestica juga dilengkapidengan cakar. Menurut Djuhanda (1982), cakar dibangun oleh keeping cakar atau unguis yang konveks, terketak di bagian dorsal dan runcing pada ujungnya. Begian ventral dari padanya terdapat sol cakar atau subunguis bentuk konkaf dan tak sekeras unguis. Kedua struktur ini meliputi kedua ruas tulang jariyang terujung (distal phalanx). Bagian basal dari cakar dibatasi oleh lipatan kulit berbentuk cincin, dengan demikian bagian basal yang lemah ini menjadi terlindung.
Burung bernafas dengan paru-paru. Selain itu, pernafasan burung juga dibantu oleh saccus pneumaticus. Menurut Radiopoetro (1977), pada burung trdapat kantung-kantung udara yang terdiri atas selaput yang tipis. Kantung-katung udara digunakan pada saat burung terbang. Daerah dada tempat melekatnya otot harus stabil, rongga dada tidak dapat berkembang kempis, maka dengan bantuan otot-otot kantung tadi dapat berkembang kempis sehingga dapat bekerja seperti pompa yang memompakan udara. System respiratorium pada aves menurut Brotowidjiyo (1971) terdiri atas nares anterior, nares posterior, glottis, pharynx, trachea, annulus trachealis, bronkus, brifurcation tracheae,bronkilis, pulmo, syrinx. Pulmo mempunyai hubungan dengan saccus pneumaticus (kantung-kantung udara) yang berfungsi membantu pernafasan terutama pada waktu terbang, membantu memperkeras suara. Menurut Moment (1967) kantung udara ini terletak disebelah abdominal pada pejantan dan dapat menurunkan temperature gonad.
System pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan yaitu paruh berfungsi sebagai mulut, tembolok untuk menyimpan makanan sementara, lambung kelenjar mengandung banyak kelenjar, lambung urat daging unuk menyerap makanan secara mekanik, usus halus, usus besar dan kloaka. Kelenjar penernaan terdiri dari hati dan pankreas. Aves tidak memiliki vesica felea sehingga bersifat homoioterm, dan fertilisasi terjadi secara internal (Jassin, 1989). Menurut Walter dan Sayles (1959) usus aves berukuran besar, kemudian rectum dimana feses dibawa, ukuran panjang mengalami reduksi. Ketika terbang burung dapat mengurangi berat ubuhnya dengan membuang kotoran. Burung tidak memiliki tempat penampungan sementara untuk kotoran, melainkan langsung membuangnya. 
System genetalia betina pada burung merpati (Columba domestica) disusun oleh sepasang oviduct yang terletak di kiri dan di kanan. Hewan muda oviduct lurus sedangkan pada hewan dewasa oviduct berkelok-kelok. Ovarium hanya terdapat di sebelah kiri saja (Storer dan Usinger, 1961). Sistem urogenitalia jantan terdiri atas testis berbentuk oval, sepasang epididimis kecil yang terletak pada sisi dorsal testis, sepasang duktus deferen, mosorchium berjumlah sepasang.
SUMBER
Brotowidjoyo, M. D. 1971. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Brotowidjoyo, M. D. 1993. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I. Armico, Bandung.
Jassin, M. 1989. Sistematika Hewan (Avertebrata dan Vetebrata). Sinar Wijaya, Surabaya.
Moment, G. B. 1967. General Zoology Second Edition . Houghton Miffin Company, Boston.Radiopoetro, 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Storer, T. I, Robert, L. Usinger. 1957. General Zoology. McGraw-Hill Book Company, Inc, New York.
Walter, H. E, Leonard, P. Sayles. 1959. Biology of The Vertebrates A Comparative Study of Man and His Animal Allies. The McMillan Company, New York.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !