Ancas Majalah Penjaga Bahasa Banyumasan

Ancas Majalah Penjaga Bahasa Banyumasan – Ditengah perkembangan teknologi yang begitu maju dan akses yang begitu mudah memungkinkan manusia untuk pergi dan berkunjung kemana saja tanpa batas

Nah bahasa memerankan peran yang sangat penting untuk berinteraksi dengan sesama manusia, namun sayangnya bahasa internasional yang disepakati adalah bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah kita masing-masing

Bahasa daerah justru semakin dilupakan dan bahkan ditinggalkan, karena dianggap tidak lagi penting dan dapat menunjang hidup seseorang, toh bahasa yang penting bagi generasi muda sekarang adalah bahasa Inggris dan tentunya bahasa nasional, bahasa Indonesia

Logo Ancas via kaskus.co.id

Logo Ancas via kaskus.co.id

Bila dilihat dengan kebutuhan memang tidak salah namun bila ‘dilihat dari sisi kebudayaan jelas itu salah, lambat laun bahasa daerah semakin sedikit penggunaanya bila mana tidak dilestarikan bukankah bahasa daerah hanya tinggal sejarah saja

ketika kita berbicara soal nilai-nilai, seperti yang kita sudah sedikit paham bahwa adat ketimuran kerap memunculkan nilai-nilai dalam berbagai wujud cerita, kesenian dan juga di dalamnya berkaitan dengan bahasa

Bahasa Banyumasan juga mengandung nilai-nilai tentang kesetaraan, karena di dalam bahasa Banyumasan tidak mengenal istilah strata (kedudukan).

Belum lagi mengenai kulikulum pendidikan sekarang yang tidak banyak memberi ruang untuk bahasa daerah untuk berkembang

Baca juga : Sastrawan Dunia Asli Banyumas (Ahmad Tohari)

Iya bahasa Jawa memang masih ada, tetapi di sekolah jamnya pun tak banyak masih kalah dengan mata pelajaran yang dianggap lebih penting seperti bahasa Inggris dan matematika

Bahasa Jawa juga berbeda dengan bahasa Banyumasan, di dalam bahasa Jawa ada tingkatan yang disebut dengan dengan istilah ngoko, kromo, madyo dan kromo alus. Sedangkan di dalam bahasa Banyumasan tidak ada tingkatan seperti itu.

Bahasa Banyumas tidak memiliki strata bahasa atau egaliter (kesetaraan), menurut Ahmad Tohari bahasa Banyumasan justru merupakan bahasa tertua di bumi Jawa telah ada sejak abad ketujuh.

Bahasa Jawa yang kerap digunakan oleh masyarkat sekarang merupakan hasil politisasi kerajaan Mataram dengan mengubah bahasa kuna yang sifatnya lebih egaliter (kesetaraan) kata penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini.

Menurut beliau banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa bahasa Banyumasan atau Jawa Kuna sebetulnya adalah bahasa asli masyarakat Jawa sebelum munculnya pengaruh Mataram di Bumi Jawa

Bahasa Banyumasan atau yang sekarang dikenal dengan bahasa ngapak memang semakin terpinggirkan, iya memang sekarang banyak jargon-jargon terkait dengan bahasa ngapak seperti “Ora ngapak ora kepenak”., Ora ngapak dupak” dan berbagai macam jargon yang lain. Namun kenyataanya jargon hanya sekedar jargon.

Komunitas-komunitas ngapak ketika berkumpul juga masih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, tidak lebih sebagai komunitas warga Banyumas dan sekitarnya saja

Atau hanya sekedar bisnis, di dalamnya jualan mercendes kaos bertuliskan bahasa-bahasa kedaerahan

Bahasa dengan ciri khas kata “inyong”  ini juga kerap berbenturan dengan norma dan etika yang sudah berlaku hingga sekarang, karena bahasa Banyumasan dianggap bahasa kasar, atau bahasa pinggiran (kaum marjinal)

Karena sifatnya yang egaliter (kesetaraan) dan tidak memiliki strata, bahasa  Banyumasan dianggap kurang sopan ketika harus berbicara dengan pimpinan atau orang tua

Di atas sudah sedikit disinggung berkaitan dengan politisasi kerajaan Mataram sehingga memunculkan kesan bahasa Banyumasan dianggap kurang sopan

Padahal kalau kita amati berkaitan dengan bahasa, bahasa Indonesia misalnya sebagai bahasa Nasional kita, bahasa Indonesia juga tidak memiliki strata, tetapi kenapa bahasa Indonesia tidak dianggap bahasa yang kurang sopan?

Berkomunikasi dengan pimpinan atau bahkan presiden pun menggunakan bahasa Indonesia, tidak ada yang mempermasalahkan bukan? Lalu pertanyaanya kenapa? Karena bahasa Indonesia tidak ada bahasa perbandiangan dengan bahasa lain.

Beda dengan bahasa Banyumasan, bahasa ini kerap dibandingkan dengan bahasa Jawa (kromo) yang katanya lebih halus, saya pikir ini hanya masalah kesepakatan  masyarakat secara umum saja. Kalau tidak ada politisasi kerajaan Mataram maka tidak ada ungkapan bahwa bahasa Banyumasan dianggap kurang baik dari pada bahasa kromo.

Okeh kita tak usah terlalu jauh terjebak diwilayah itu, yang perlu kita lakukan adalah melestarikan bahasa Banyumasan. Bahasa kita bersama, bahasa demokrasi (tanpa mengenal strata), bahasa yang bahkan memberi arti yaitu kesetaraan antar manusia.

Majalah Ancas sudah beperan paling tidak sebulan sekali kami bisa membaca majalah full dengan bahasa Banyumasan, tidak hanya itu di dalamnya juga mengandung materi-materi bacaan kedaerahan yang berguna bagi pengetahuan kita bersama.

Baca juga : 15 Makanan Khas Banyumas, dijamin ngapak

Salam Ngapak, Salam Rahayu, Semoga Bermanfaat, Sukses Selalu !!!

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !