Antara Skripsi, Ijazah, dan Ilmu

Antara Skripsi, Ijazah, dan Ilmu – Namaku Rian, mahasiswa di salah satu Perguruan Negeri di Purwokerto, semester 11. Yap dengan bangga aku berkata bahwa aku semester 11. Lho kenapa bangga? Bukankah seharusnya malu karena belum wisuda?

Sebenarnya sejak semester 7 semua SKS yang menjadi “beban” belajarku sudah kuselesaikan. Selam tujuh semester pula aku termasuk mahasiswa yang aktif dalam kelas, rajin mengikuti kuliah (seharipun aku tidak pernah tidak berangkat kuliah) menjadi koordinator kelas, serta masuk dalam jajaran mahasiswa yang ber-IP baik. Selain itu aku juga rajin membuatkan makalah bagi teman-temanku (meskipun niatku menolong tapi kuakui itu adalah suatu kesalahan).Lalu mengapa sampai sekarang belum lulus? Sedangkan teman-temanmu yang dulu dibuatkan makalah sudah pada lulus?

Alasan paling realisitis dan sadar diri adalah karena MALAS!Aku akui memang aku malas dan menunda-nunda pekerjaan, fix aku sadari. Namun dibalik kemalasanku itu aku menyimpan kegelisahan dan pertanyaan yang amat mendalam. Contohnya adalah “apakah aku sudah pantas menjadi sarjana?” “Apakah aku sudah pantas mendapat ijazah itu?”

Pola pikirku masih terombang-ambing antara menguasai ilmuku atau hanya sekedar mendapat ijazah. Yang aku tahu ijazah (kertas yang sudah teman-temanku dapat) adalah “hanya” simbol bahwa seseorang telah mendapatkan keilmuan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Nah atas dasar pemahamanku tersebut aku masih merasa malu  (ditambahi sedikit malas) untuk menyandang gelar sarjana.

Antara Skripsi, Ijazah, dan Ilmu

 

Ijazah hanya sebagai penanda formal dari pendidikan yang sudah dilakukan seorang mahasiswa. Namun dari pertanyaan yang aku ajukan kepada teman-temanku : “Pilih mana dapat ilmu tapi tak dapat ijazah atau dapat ijazah atau tak dapat ilmu?”, mereka menjawab ya jelas pilih ijazah.Aku tak menyalahkan mereka. Berarti mereka realistis. Ketika akan melamar pekerjaan atau mendaftar pegawai negeri pasti yang ditanya dan menjadi syarat utama adalah ijazah, bukan keilmuan yang dimiliki. Lihat saja lowongan-lowongan pekerjaan yang dipajang di depnaker ataupun kantor pos, pasti syarat yang ada di nomor satu adalah kata-kata “minimal lulusan…”. Dan seterusnya yang intinya seperti itu.

Realita diatas menjadikan sekolah/pendidikan sebagai sarana untuk mencari ijazah, bukan mencari ilmu. Tak heran beberapa waktu lalu heboh berita mengenai kasus ijazah palsu. Saya yakin paradigma kebanyakan orang tua di Indonesia menyekolahkan anak-anaknya sebagai investasi ekonomi dimasa depan, untuk mencari materi. Bukan murni mencari ilmu untuk meninggikan derajat seperti firman dari Allah.

Dan janji Allah untuk meninggikan derajat bagi orang-orang yang berilmu adalah tak pernah ingkar. Lihat saja orang barat, mungkin sebagian kita menganggap mereka kafir, atheis, dan sesat. Dalam dalam bidang pengetahuan teknologi kita tak bisa mengelak kalau derajat mereka dalam bidang ini memang ditinggikan oleh Allah.

Kenapa bisa orang barat yang (mungkin) tak mengenal Allah mendapat  kedudukan yang tinggi/lebih unggul? Karena mereka benar-benar mengamalkan IQRA. Kata pertama yang Allah firmankan dalam bentuk Al Quran. Kok bisa? Mereka mungkin tak pernah membaca Al Quran tapi mereka benar-benar mengamalkan esensi dari Al Quran tersebut. Mereka gemar berijtihad. Baca tentang seorang Thomas Alfa Edison sang penemu lampu, lampu adalah hasil dari ijtihad beliau. Percobaan demi percobaan terus dilakukan untuk mewujudkan ide jeniusnya, kegagalan demi kegagalan tak membuatnya menyerah. Hingga akhirnya sampai kini kita dapat merasakan benar manfaat dari ijtihad sang penemu.Dan masih banyak lagi penemu-penemu dari barat yang menghasilkan karya-karya besar yang latar belakang mereka bukanlah orang yang berijazah, murni karena ijtihad dan jihad.

Berbeda dengan mereka yang rajin berijtihad, kita disini malah terlalu banyak bermujahadah. Kita pandai merenungkan sesuatu, kita pandai menilai, kita pandai dan indah membaca Al Quran, namun tak mengerti maksud, makna, dan tujuan dari ayat tersebut. Padahal sebenarnya iqra yang Allah maksud bukanlah baca. Namun dengan iqra kita disuruh membedah ilmu yang ada dalam Al Quran. Al Quran adalah sumber ilmu yang paling lengkap, dari ilmu geologi hingga biologi, ilmu ekonomi hingga astronomi, ilmu pemerintahan, ilmu waris, hingga cara memperlakukan semutpun Al Quran ajarkan, semuanya ada.

Jadi pola pikir mana yang lebih baik? Dua-duanya baik tapi dua-duanya buruk juga. Barat yang pandai berijtihad dan menciptakan teknologi tak pernah merenungi dan menyeleksi. Teknologi diciptakan secara bertubi-tubi. Mereka menciptakan bom, pesawat, senjata,  mobil, dst justru menjadi alat untuk mengekspolitasi, berperang dan merusak bumi. Sementara kita yang selalu bermujahadah dan seakan-akan arif bijaksana justru tidak pernah mau dan malas untuk mencoba dan mencipta. Kita selalu sibuk berdebat mengenai bi’ah, apakah itu halal atau haram. Yang bertato boleh sholat atau tidak, berjenggot hukumnya sunah atau makruh, dan halhal kecil lainnya yang jauh dari hal kemanfaatan bagi umat.Singkatnya aku tak ingin bermental gelar formalitas. Bukan  hanya ijazah yang aku cari, tapi juga bukan tidak ingin berijazah. Aku ingin lulus yang benar-benar lulus. Aku ingin berijazah Muhammad Riansyah Novariesta, S.Pd.I dengan ilmu S.Pd.I pula.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !