Arti Sebuah Kebahagiaan

Bumi terus berputar, juga berevolusi tanpa sedetikpun berhenti. Inilah realitas waktu. Waktu begitu cepat berlalu, secepat perkembangan tekhnologi manusia. Kecanggihannya semakin waktu semakin menjadi. Kemampuan yang tak sempat kita pikirkan nyatanya sudah tercipta.

Kecanggihan teknologi inilah yang menuntunku menjelajah berita tentang “prostitusi artis online”. Prostitusi kelas atas dengan tarif yang wah!, sampai 200 juta, harga yang fantastis hanya untuk sehari/dua hari “pakai”. Ada fakta yang menarik, artis yang diduga bookingan tersebut ternyata juga bekerja sebagai disc jokey (DJ), pemain sinetron, dan model. Saya rasa uang   penghasilan dari ketiga profesi diatas lebih dari cukup untuk biaya hidup. Jadi apa lagi yang dia cari? Pundi-pundi uang yang banyak untuk mencapai kebahagiaan? Entahlah…  Di sisi lain si “pengguna jasa” yang kaya raya dengan uang yang banyak serta kekayaan berlimpah mengakui rela menggelontorkan uang beratus-ratus juta hanya untuk menghilangkan stress, memperoleh kebahagiaan. Dengan kekayaan yang sudah dimiliki mereka itu harusnya sudah bahagia…lalu bahagia yang bagaimana lagi?

Arti Sebuah Kebahagiaan
Ilustrasi

Realitas diatas mengajarkan kita bahwa bahagia bukan ditentukan oleh banyaknya materi. Lihat juga bagaimana kasus bunuh diri para artis Korea. Uang, mobil, rumah atau bahkan ketenaran membuat mereka merasa depresi, mereka merasa terkungkung dan menjalani hidup seperti bukan menjadi dirinya yang sesungguhnya. Mereka begitu menderita dibalik kebahagiaan dalam kacamata kita. Tapi anehnya kita habis-habisan meniru setiap gerak geriknya, kita implementasikan tampilan “akting’’ mereka terhadap kehidupan nyata kita.

Mulailah menjadi diri sendiri. Kita tahu bahwa hidup glamor dan konsumtif itu tidak baik, tapi jangan hanya tahu, mari kita terapkan dalam setiap aspek hidup kita untuk menjauhi glamor dan konsumtif. Syukur adalah kata kuncinya. Syukur beda dengan pasrah menyerah, ingat! Karena sekali lagi saya katakana bahwa, “mereka” begitu menderita dibalik kebahagiaan dalam kacamata kita

Lihatlah para petani di desa, ataupun pedagang di pasar, lihat senyum mereka, raut wajahnya, perhatikan kesumringahan laku dan tutur katanya, mereka bekerja keras tanpa perlu menonton video motivasi. Coba sesekali perhatikan canda tawanya, mereka terbahak-bahak tanpa perlu lelucon di tv. Tawanya begitu murni, tulus. Mereka sejatinya begitu merasa bahagia dalam derita kacamata kita. Kita diajarkan bahwa bahagia itu tentang kemurnian, tentang rasa yang sejati, yang tak bisa dibuat-buat, dibikin-bikin, dipura-purakan, ataupun dibeli. Tanpa pelu uang banyak, rumah mewah, mobil berjejer, dan ketenaran, hanya perlu makan dengan lauk seadanya bersama keluarga itu sudah cukup membuat bahagia.

Bahagia itu hal yang mahal dengan harga yang murah. Kita tidak perlu menekankan persajian yang rumit, jelimet, dan formalitas sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh kebahagiaan. Belajarlah bahagia dari mereka-mereka itu. Meski mereka dipandang sebagai sandal, paling bawah, terinjak-injak dan kotor, tapi sesungguhnya merekalah yang memuliakan dan melindungi dari “kotoran-kotoran” dan “najis-najis”.  Mereka sejatinya begitu merasa bahagia dalam derita kacamata kita.

Jika kita ingin bahagia, dalam diri kita sebenarnya sudah teranugerah lengkap unsur pembentuk bahagia tersebut. Mulailah, bekerjalah, action, galih potensi, temukan kesejatian diri, dan tentukan hubunganmu dengan Tuhan. Maka bahagia sudah didapatkan. Tak perlu lagi membaca ribuan kata-kata bijak, karena kebijakan akan keluar secara sendirinya. Tak perlu lagi mendengar tontonan motivasi, karena dalam setiap laku hidupnya sudah terbentuk motif. Tak perlu lagi penyemangat dari luar, justru kita adalah magnet semangat itu sendiri.

Baca juga : Hidup itu hanya apalah-apalah

Bahagia bukan teletak di garis finis kehidupan kita, ia terletak pada perjalanannya. Jika kita tak bahagia sekarang, betapa dhalim-nya kita terhadap “kita”. Kenalilah dirimu yang sejati. Temuilah rasa bahagiamu yang sejati.

-RianNova-

One thought on “Arti Sebuah Kebahagiaan

  1. Pingback: Memahami Gejala Stres Dan Emosi - Chyrun.com

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !