Asyiknya Bulan Ramadhan Di Pedesaan

Bulan ramadhan sebentar lagi, rindu yang sudah menumpuk satu tahun yang lalu akhirnya kini dapat terobati. Bulan ramadhan kembali datang dengan penuh suka cita. Perasaan bahagia menyelimuti umat islam diseluh dunia. Bagaimana dengan anda? Ingat rasanya ketika kecil, bulan puasa suasana hati bahagia. Masa itu adalah masa yang tidak akan terlupakan. Hingga sedewasa ini, masa itu menjadi magnet perasaan yang sulit dilupakan. Rasa bahagia menjajah tanpa meninggalkan celah kesedihan. Bulan ramadhan di pedesaan yang sungguh mempesona.

Ketika kecil, saat hari-hari tanpa beban dan masalah. Bermain, belajar, bersenang-senang dengan sederhana. Momentum yang terjadi seumur hidup, itulah masa kanak-kanak.

Riuh bulan ramadhan kami rasakan sejak malam Nisfu sa’ban, bersama orang tua berduyun-duyun menuju masjid membawa makanan dan minuman. Menikmati rasa syukur kembali depertemukan dengan bulan suci ramadhan.

Terlihat duduk di teras-teras mushola, anak-anak seumuranku. Menunggu dengan penuh antusias, kepolosan, kelucuan. Dengan baju-baju koko dan kopiah hitam. Kami merindukan saat-saat itu. Ketika kini, kepolosan ditenggelamkan oleh kedewasaan yang memuakan. Bekerja memenuhi kebutuhan materi yang seperti tidak ada habisnya. Seolah alasan tersebut hanalah pembelaan dari kolonialisme logika terhadap hati dan perasaan.

Ramadhan sungguh menyenangkan. Udara pagi pedesaan tak menyurutkan kami melangkah memenuhi panggilan “Asholattu khoirum minannaum”. Dengan polosnya, kami mandi setelah menunaikan makan saur. Kami selalu mengguyur badan dengan air hangat, selalu bersemangat mandi meski masih dini hari. Anak-anak datang ke mushola dan masjid. Motivasi bertemu kawan dan menyambut pagi dibulan suci selalu kami nanti di sana dan di sini. Disana, di masjid-masjid dan bilik-bilik mushola.

Asiknya Bulan Ramadhan Di Pedesaan
Ilustrasi

Menahan lapar meski hanya kuat setengah perjalanan. Kami tetap menunggu saat-saat berbuka, meski siang tadi telah minum dan makan. Meniapkan perbekalan, membeli apa saja yang enak dan segar, selalu kami tidak tahan dan memakan meski belum waktunya.

Kami selalu berbahagia tiada tara, meskipun terkadang petasan tersembuni di saku-saku kami. Kabur dari sholat tarawih ketika awal takbiratul ikhrom. Saat orang tua kami telah hanaut dalam kekhusuan sholat. Kami keluar sembuni-sembunyi dan membunikan petasan dari saku-saku kecil kami.

 Jeweran dan cubitan serta nasehat seolah angin lalu. Kami berhenti sejenak, setelah sholat kembali dimulai, kami main lagi. Dimarahi sampai menangispun pernah, tapi malam berikutnya kami melakukanya lagi. Sampai beliau para tetua membiarkan dan bosan.

 Kecil badan kami, sekecil beban kami memandang hidup ini. Seikhlas hati kami menambut  setiap sore dibulan suci ini. Mengingat, menikmati setiap detik kenangan kecil bulan ramadhan sampai sedewasa ini.

Kini tergambar dengan jelas jalan dan masjid sebelum renovasi. Meskipun hanya tersisa mimbat khotbah masalalu, itu cukup mengingatkan masa-masa kecilku dulu.

Sholawat, adzan dan puji-pujian. Suara ang dulu tak kami hiraukan, kini justru menjadi pengingat mustajab. Pengingat asiknya bermain cerita religi. Kabut pagi bulan ramadhan menandakan kebahagiaan pagi dipedesaan.

Artikel ini sebagai pengingat diri, memandang ramadhan bukan cuma sebatas religi. Kami yang kini hampir mati, tergerus zaman. Tapi hati dan jati diri akan selalu kami berikan untukmu ya Robi. Ramadhan oh ramadhan, di desa atau di kota. Di Jawa atau luar Jawa. Kami menantimu, merindumu, meski kini kami kotor oleh debu-debu yang tabu. Kami ingin bertaubat dan kembali seperti dulu. Di masa asyiknya ramadhan di pedesaan.

_Salam Ramadhan_

One thought on “Asyiknya Bulan Ramadhan Di Pedesaan

  1. Pingback: Potensi Pakaian dan Makanan di Bulan Ramadhan - Chyrun.com

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !