Bekerja Tanpa Passion, Tersiksanya

Bekerja Tanpa Passion, Tersiksanya – Kerja! Kerja! Kerja! Begitulah ucapan Presiden Joko Widodo dalam suatu wawancara di sebuah acara salah satu stasiun tv yang saya saksikan. Beliau dengan jargon itu berusaha memotivasi bawahannya serta perjabat struktural yang ia pimpin. Jargon itupun seharusnya kita tanamkan kepada diri kita sendiri, lebih banyak melakukan dan kurangi bicara dalam pekerjaan.

Bicara masalah pekerjaan, ada banyak permasalahan yang terjadi di negeri ini. Mulai dari banyaknya orang yang tidak mempunyai pekerjaan, orang yang mempunyai pekerjaan tapi sewaktu-waktu bisa di PHK, hingga banyaknya orang yang tidak sesuai dengan bidangnya.
Dalam tulisan ini saya akan fokus terhadap permasalah terakhir, dimana banyak pekerja yang melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidangnya, berlainan dengan bakat dan minat yang dimiliki.

Ada banyak faktor yang menyebabkan ini bisa terjadi. Diantaranya yaitu Pertama, Ketersediaan lapangan pekerjaan dengan calon pekerja yang tidak seimbang. Ketidak seimbangan ini menimbulkan keyakinan bahwa “yang penting kerja”, tidak mempedulikan pekerjaan itu sesuai jurusan dan minatnya atau tidak.

Faktor yang kedua adalah sistem pendidikan Indonesia yang tidak mengarahkan bakat dan minat siswa sejak dini, ini menyebabkan tidak terarahnya individu dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan berlanjut juga hingga bekerja. Akibatnya banyak orang yang baru menyadari bahwa dia bekerja berlawanan dengan bakat dalam dirinya.

Bekerja Tanpa Passion, Tersiksanya
tanpa passion

Yah, kebanyakan dari mereka bekerja tidak sesuai dengan passion-nya. Ini berakibat pada minimnya kontribusi pada perusahaan, terdapat banyak keluhan, dan pencapaian hidup yang nyatanya biasa saja.

Minimnya konstribusi pada pekerjaan diakibatkan karena sedari awal motivasinya dalam bekerja adalah karena uang, akan merasa aman karena setiap bulan akan mendapatkan gaji, jadi merekapun bisa mencicil rumah, mobil, motor dan barang-barang yang lain. Motivasi itulah yang menyebabkan mereka menepiskan gejolak rasa yang ada dalam dirinya. Akibatnya kebanyakan mereka malas untuk bangun pagi (terutama ketika hari senin), tidak bergairah ketika berangkat kerja dan menganggap pekerjaan adalah sebuah beban, bekerja menjadi sebuah paksaan yang memberatkan. Kondisi demikian jelas akan mempengaruhi kondisi fisik maupun psikis karena ketidaktenangan jiwa.

Untuk karyawan yang sudah tua dan lama mungkin mau tidak mau dia akan menyelesaikan sampai tua bekerja dalam “penjaranya” itu. Tapi bagi yang masih muda, ketika pertarungan antara gejolak keinginan dan realita dalam jiwanya yang mulai memuncak, timbul keinginannya untuk keluar dari pekerjaannya, keluar dari zona nyamannya selama ini.

Tapi pertarungan baru segera menghadangnya, petanyaan yang akan muncul adalah “apakah dengan keluar aku akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passionku?” atau “jikapun aku mendapatka pekerjaan, itu akan membuatku lebih baik?”   Keluar dari zona kenyamanan (Karyawan) menuju zona kebebasan (Wirausaha) adalah hal yang membutuhkan keberanian dan mental yang kuat.

Beranikah Anda Resign Kerja Demi Bisnis ?

Membayangkan itu sungguh sangat berat, bagaimana tidak rata-rata mereka menghabiskan 5 hari dalam seminggu, sehari rata-rata antara 8-12 jam mereka terjajah dengan harus menyelesaikan target-target yang sudah ditentukan atasan atau bosnya.

Bagi yang kurang berani menanggung resiko, dia akan tetap menjalani pekerjaan itu sambil mencari pembelaan-pembelaan yang bisa mematahkan hasrat rasa berontak dalam dirinya.

Dia akan mencari apa saja hal yang akan dan bisa membuatnya kerasan. Dia akan mencoba hal-hal baru supaya daya dedikasinya untuk perusahaan bisa meningkat. Dan biasanya faktor keluarga yang harus dipertanggung jawabi adalah hal yang mengharuskan dia tetap bertahan.

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !