Belajar Bahagia dari Keluarga Bu Sairah

By Tochirun…Memaknai ramadhan dengan menulis sisi religi seorang pedagang ketoprak. Artikel pembuka dengan beberapa artikel penyambung yang akan disusun mengikuti irama hati penulis. Semoga berkah.

Ibu Sairah, ibu setengah baya dengan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Bapak yang hanya buruh serabutan kadang bekerja dan lebih sering menganggur.

Anak laki-laki tertua mengejar ilmu sampai sarjana, bekerja sebentar dan kini kembali meretas asa melanjutkan sekolah sampai ketingkat ‘S’teler’. 

Anak bungsu, kemarin menerima rapot, dengan nilai yang lumayan meskipun belum sepesial.

“Kebahagiaan itu apa? “

Pertanyaan ini selalu menjadi unek-unek saya sebagai anak laki-laki sulung. Apakah mempunyai harta yang banyak maka kita disebut bahagia?. Bisa membeli rumah dan mobil, jalan-jalan serta mampu membeli makanan-makanan enak. Sepertinya menyenangkan sekali.

Belajar Bahagia dari Keluarga Bu Sairah

Menjual ketoprak tidak menyurutkan semangat ibu ini untuk mencapai kebahagiaan yang beliau idamkan. Kebahagiaan seperti apa yang beliau idam-idamkan. Sederhana katanya, saya ingin melihat kedua anaknya sukses dalam segala hal.

Nyatanya memang kebahagiaan adalah hal yang misterius. Rasa bahagia bisa di fasilitasi oleh uang, ternyata tidak serta merta menjamin kita akan bahagia. Menurut para ahli tasawuf, kebahagiaan karena uang merupakan tingkatan kebahagiaan paling rendah.  Dan untuk pandangan saya dengan mencermati hal tersebut, maka saya berkesimpulan bahwa tolak ukur kebahagiaan adalah relatif bagi setiap orang.

Begitupun ibu sairah, mengartikan bahagia dengan sederhana. Cukup dengan sebatas melihat kedua anaknya makan dan menjadi anak yang baik. Menjual ketoprak dengan niat dan ketulusan.

Beliau tidak pernah mengerti anaknya di sekolah mengambil jurusan apa? Yang paling membanggakan bagi beliau adalah anak-anaknya menjadi manusia yang baik.

Hal ini yang menjadi perbedaan. Kita diminta masuk sekolah A dengan jurusan A, setelah itu orang tua meminta atau menempatkan kita bekerja di bidang pekerjaan A. Terlalu tinggi harapan yang disematkan kebanyakan orang tua. Mereka lupa untuk bersikap seperti ibu sairah.

Semakin tinggi pendidikan, semakin kaya seseorang maka akan semakin susah dalam mendefinisikan kebahagiaan. Semakin banyak kriteria dalam mengukur kebahagiaan. Dan kebanyakan terjebak oleh pusaran kriteria-kriteria sampai lupa tujuan utama kebahagiaan. Pendidikan dan kekayaan lebih sering menutupi hakikat bahagia yang sebenarnya sederhana. Seperti ibu sairah yang menjual ketoprak.

Saya bertanya, apakah bahagia itu?. Pertanyaan ini saya ajukan kepada beberapa golongan yang berbeda. Golongan orang kaya menjawab berbeda dengan golongan pelajar dan mahasiswa. Sementara golongan miskinpun menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan si kaya.

Sampai akhirnya saya menemukan jawaban. Jawaban yang saya dapat dari ibu saya sendiri, ibu sairah. Kurang lebih seperti ini kesimpulan jawaban yang saya dalami dan improvisasi maksudnya..

 Kebahagian ya sesuai porsinya, relatif berdasarkan pengalaman hidup yang dilalui. Kebahagiaan paling rendah adalah tentang keinginan yang terealisasi. lalu naik menjadi kebahagian karena rasa memiliki, dan kebahagian tertinggi adalah tentang keikhlasan

Seperti kenapa kita berpuasa, kenapa kita sholat, kenapa kita haji. Hal-hal tersebut menitikberatkan pada unsur keikhlasan. Jika terpaksa, karena iming-iming, maka makna bahagia belum sampai ketingkat tertinggi. Bahkan ketika iming-iming mendapatkan surga dan takut neraka. Itu hanya cara Tuhan saja, tapi intinya tentang rasa ikhlas.

Keikhlasan tidak bisa dipisahkan dengan niat dan niat mendasari apa saja yang dilakukan.

Pada akhirnya bahagia hanya anda yang mengerti. Seperti orang fakir miskin tersenyum bahagia karena hari ini bisa makan. Atau seorang lumpuh yang tertawa karena mendapatkan kursi roda. Itulah kebahagiaan.

Maka, wallohu ‘alam bishowab…

Baca juga : Belajar sederhana dari Wage Tegoeh Wijono

Simpan

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !