BERBICARA DAN BAHASA

Bahasa merupakan alat komunikasi utama yang digunakan oleh manusia. Chaer (2004: 11) menjelaskan bahwa, fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki manusia. Penggunaan bahasa untuk berkomunikasi atau berinteraksi oleh manusia pada mulanya dalam bentuk lisan. Kemudian setelah manusia mengenal huruf atau simbol-simbol bunyi, bahasa digunakan dalam bentuk tulisan. 
Pengertian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, secara umum sering dimaknai sebagai bahasa lisan. Hal ini dijelaskan pula oleh Keraf (2004: 13) bahwa, bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis merupakan pencerminan kembali dari bahasa lisan itu dalam bentuk simbol-simbol tertulis. Bahasa lisan artinya bahasa yang digunakan secara lisan, yakni bahasa yang dikeluarkan dari alat ucap manusia dalam bentuk ucapan atau perkataan.
BICARA DAN BAHASA
Para ahli sering mengutarakan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem. Sistem bahasa yang dimaksud sebagaimana dijelaskan oleh Chaer (2004: 12) adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Artinya, lambang-lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Pengertian itu hampir sama dengan istilah parole yang diungkapkan oleh Ferdinand de Saussure dalam Verhaar (1982: 1) yang menjelaskan bahwa, kata Prancis parole (Inggris : speech) berarti ‘logat’, ‘ucapan’, ‘perkataan’.
Pengertian bahasa dalam wujud bahasa lisan, bunyi ujar, ucapan dan perkataan itu, secara awam sering diartikan sebagai bentuk penggunaan bahasa secara lisan. Saddhono (2012: 34) menjelaskan bahwa, bahasa lisan adalah alat komunikasi berupa simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dengan demikian, pengertian bahasa secara wujud nyata adalah bahasa lisan yang pengertiannya dapat disamakan dengan percakapan atau berbicara.
Sebenarnya antara bahasa dan berbicara itu merupakan dua hal yang berbeda. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunankan oleh manusia. Sedangkan berbicara itu proses penggunaan bahasa atau proses berbahasa. Chaer (2009: 148) menjelaskan bahwa, berbahasa adalah proses mengeluarkan pikiran dan perasaan (dari otak) secara lisan dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Sedangkan Tarigan (2008: 16) menjelaskan bahwa, berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. 
Jadi dengan demikian pengertian berbicara itu lebih dekat pada pengertian berbahasa dari pada bahasa. Dengan demikian pengertian berbicara adalah suatu peristiwa berbahasa melalui alat ucap manusia dengan menyuarakan kata-kata dan kalimat-kalimat dengan diksi, artikulasi, intonasi, dan gerak-gerik tertentu, untuk menyatakan dan menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan pada orang lain.
1. Faktor-faktor Berbicara Sebagai Aktivitas Manusia
Berbicara sebagai aktivitas manusia memanfaatkan faktor fisik, psikologis, neuorologis, semantik dan linguistik. Dari kelima aspek tersebut, Saddhono (2012: 35) menjelaskan bahwa, pada saat berbicara seseorang memanfaatkan faktor fisik yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh yang lain seperti kepala, tangan dan roman muka pun dimanfaatkan dalam berbicara. 
Faktor psikologis memberikan andil yang cukup besar terhadap kelancaran berbicara. Stabilitas emosi, misalnya, tidak saja berpengaruh terhadap kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap, tetapi juga berpengaruh terhadap keruntutan bahan pembicaraan. 
Berbicara tidak lepas dari faktor neurologis, yaitu jaringan saraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktifitas berbicara. Demikian pula faktor semantik yang berhubungan dengan makna, dan faktor linguistik yang berkaitan dengan struktur bahasa selalu berperan dalam kegiatan berbicara.
2. Jenis-jenis Berbicara
Jenis-jenis berbicara itu terdapat banyak ragam dan macamnya. Pembagian jenis atau macam berbicara dari para ahli berbeda-beda. Saddhono ( 2012: 38) megemukakan bahwa, berbicara dapat ditinjau sebagai seni dan sebagai ilmu. Berbicara sebagai seni menekankan penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, dan yang menjadi perhatiannya antara lain (1) berbicara di muka umum, (2) diskusi kelompok, dan (3) debat. Berbicara sebagai ilmu menelaah hal-hal yang berkaitan dengan (1) mekanisme berbicara dan mendengar, (2) latihan dasar tentang ujaran dan suara, (3) bunyi-bunyi bahasa, dan (4) patologi ujaran.
Menurut Keraf (2004: 365) dalam uraian maksud umum, khususnya yang terkait dengan penyajian lisan, membedakan jenis berbicara ke dalam tiga macam, yaitu persuasif, instruktif, dan rekreatfif. Berbicara yang bersifat persuasif dimaksudkan untuk mendorong, meyakinkan dan bertindak, agar pendengar dapat bereaksi untuk mendapatkan ilham atau inspirasi, percaya dan yakin, serta mau bertindak atau berbuat sesuatu. 
Berbicara instruktif bertujuan untuk memberitahukan, dengan maksud agar pendengar bereaksi sehingga memiliki pemahaman atau pengertian yang tepat . Dan berbicara rekreatif bertujuan untuk menyenangkan, dengan maksud agar pendengar bereaksi dapat memiliki minat dan kegembiraan. Tarigan (1990: 176) dalam Saddhono (2012: 38) membedakan macam berbicara berdasarkan pada: (1) situasi, (2) tujuan, (3) metode penyampaian, (4) jumlah penyimak, dan (5) peristiwa khusus.
3. Berbicara dalam Kurikulum
Berbicara sebagai materi pembelajaran di sekolah, dimaksudkan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara lisan dengan baik. Materi pembelajaran berbicara dalam kurikulum di sekolah meliputi kegiatan: (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran, (11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13) berkampanye, (14) menyampaikan sambutan, selamat, dan pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi, (17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan, tawaran dan ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20) menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22) membahas, (23) melisankan ( isi drama, cerpen, puisi dan bacaan ), (24) menguraikan cara membuat sesuatu, (25) menawarakan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) memberi petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29) menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32) meperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab.

Baca Juga : Teater Drama Dalam Pengembangan Diri Di Sekolah

Terkait dengan materi berbicara sebagai materi pembelajaran di SMP, Suryaman (2012: 23) menjelaskan bahwa, ragam wacana lisan di kelas VII, VIII, dan IX yang harus dipahami dan didemonstrasikan oleh siswa di dalam kemampuan berbicara meliputi wacana kisahan, pengumuman, biografi, wawancara, bahasan, laporan, diskusi, paparan, daftar acara, dialog, dan pidato/ ceramah/khotbah.
A. Penilaian Berbicara
Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, perlu dilakukan asesmen atau penilaian. Dengan demikian ketercapaian tujuan dan hasilnya pun dapat diketahuinya. Sudjana (2011: 3) menjelaskan bahwa, inti penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment. 
Sukiman (2012: 4) juga mengungkapkan bahwa, penilaian hasil belajar ujungnya adalah pada kegiatan pengambilan keputusan tentang proses dan hasil belajar. Untuk mengambil keputusan secara tepat tentang hasil belajar tersebut perlu didukung oleh data secara akurat dan terpercaya. Data ini dikumpulkan dengan melalui kegiatan pengukuran terhadap hasil belajar baik dengan menggunakan instrumen tes maupun non tes.
Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Secara umum dalam sistem pendidikan nasional diketahui tiga macam hasil belajar, yang merupakan klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin S. Bloom, yang meliputi ranah kognetif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. 
Ranah kognetif berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Ranah afektif berkenaan dengan sikap, dan ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. Oleh karena berbicara merupakan tindakan atau ketrampilan berbahasa, maka objek penilaian hasil belajar berbicara termasuk ke dalam ranah penilaian psikomotoris.
Menilai ketrampilan berbicara peserta didik bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Lee (2009: 133) dalam Saddhono (2012: 59) mengungkapkan bahwa, alat penilaian (tes) harus dapat menilai kemapuan mengkomunikasikan gagasan yang tentu saja mencakup kemampuan menggunakan kata, kalimat dan wacana, yang sekaligus mencakup kemampuan kognetif dan psikomotorik. Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang cukup kompleks, karena tidak hanya mencakup intonasi saja, tetapi juga berbagai unsur berbahasa lainnya.
Berbagai unsur berbahasa atau berbicara, yang oleh Keraf (2004: 13) dikenal dengan istilah percakapan. Ia menjelaskan bahwa, dalam percakapan-percakapan secara lisan jelas terdengar bahwa kata-kata seolah-olah dirangkaikan satu sama lain, serta di sana-sini terdengar perhentian sebentar atau agak lama dengan suara menaik atau menurun. Di samping itu masih terdapat ekspresi-ekspresi air muka, berupa menggerak-gerakan alis mata, menggeleng-gelengkan kepala atau mengangguk-anggukkan kepala, mengangkat bahu, mengacungkan tangan dan sebaganya.
Menyangkut teknik penilaian berbicara, Lee (2009: 140-148) dalam Saddhono (2012: 59) mengemukakan bahwa, beberapa teknik penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur ketrampilan berbicara. Teknik tersebut tersebut diantaranya: (1) tes bercerita, dilakukan dengan cara meminta siswa untuk mengungkapkan sesuatu (pengalaman atau topik tertentu). Bahan cerita akan disesuaikan dengan perkembangan atau keadaan pembicara (siswa). Sasaran utamanya berupa unsur linguistik (penggunaan bahasa dan cara bercerita), serta hal yang diceritakan, ketepatan, kelancaran dan kejelasannya. (2) tes diskusi, dilakukan dengan cara disajikan suatu topik dan pembicara diminta untuk mendiskusikannya. 
Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan pembicara dalam menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat, serta menanggapi ide dan pikiran yang disampaikan oleh peserta yang lain secara kritis. Aspek-aspek yang dinilai dalam tes diskusi dapat berupa ketepatan penggunaan struktur bahasa, ketepatan penggunaan kosakata, kefasihan dan kelancaran menyampaikan gagasan dan mempertahankannya, kekritisan menanggapi pikiran yang disampaikan oleh peserta diskusi lainnya. 
Berbicara merupakan suatu perbuatan atau ketrampilan berbahasa. Maka ranah hasil belajarnya termasuk hasil belajar yang bersifat psikomotoris. Oleh karena itu penilaiannya dilakukan dengan teknik tes perbuatan atau tes unjuk kerja (performance test) atas perbuatan atau ketrampilan berbicara peserta didik. 
Sukiman (2012: 149) mengungkapkan bahwa, penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktik di laboratorium, praktik sholat, praktik olahraga, presentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, dan lain-lain.
Alat penilaian tes penampilan atau perbuatan berupa skala penilaian (rating scale) atau daftar cek (checklist). Keduanya dapat digunakan sebagai lembar penilaian atau lembar observasi. Dalam hal ketrampilan berbicara lebih tepatnya akan digunakan alat penilaian berupa skala penilaian. Sukiman (2012: 150) menjelaskan bahwa, skala penilaian adalah alat penilaian yang menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi. Terstruktur maksudnya disusun dengan aturan-aturan tertentu dan secara sistematis.
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai hal ihwal berbicara, maka kriteria penilaian yang utama meliputi: komponen vokal atau suara, komponen kebahasaan, komponen kelancaran, komponen ekspresi, dan komponen gerakan. Dikatakan kriteria utama oleh karena hampir semua materi pembelajaran berbicara akan menilai aspek tersebut. Dan oleh karena materi pembelajaran berbicara itu banyak ragamnya, maka dalam penilaiannya dapat dimungkinkan adanya aspek atau kriteria tambahan sesuai dengan karakteristik dari materi berbicara yang dinilai. 
Misalnya saja dalam materi pembelajaran berbicara bercerita, berdiskusi dan berpidato. Dalam materi pembelajaran bercerita misalnya, sasaran penilaiannya meliputi komponen: penggunaan bahasa (struktur kata, dan kalimat) vokal (kejelasan, diksi, artikulasi, dan intonasi), gaya bercerita (gesture, movement, ekpsresi dan penghayatan), ketepatan, kelancaran, dan isi cerita. 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !