Jenis-Jenis Gulma Tanaman Budidaya

Jenis-Jenis Gulma Tanaman Budidaya –  Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang juga memegang peranan penting dalam sistem produksi tanaman, karena dapat memenangi persaingan dengan tanaman pokok untuk mendapatkan kebutuhan unsur hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh, sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan produksi. Disamping itu, beberapa spesies gulma menjadi inang bagi serangga hama maupun patogen (penyebab penyakit) bagi tanaman pokok. Di Indonesia, penggunaan herbisida untuk pengendalian gulma pada tanaman obat maupun aromatik belum dilakukan penelitian sehingga data tentang hal ini belum tersedia (Tjokrowardojo et al., 2010).

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh bukan pada tempatnya, tidak dikehendaki, dan bersifat merugikan (Sukman dan Yakup, 2002). Gulma yang dibiarkan tumbuh pada tanaman budidaya akan bersaing dalam pemanfaatan unsur hara, air, udara, cahaya, dan ruang tumbuh. Selain itu, beberapa gulma dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit. Menurut Bangun (1988), penurunan hasil akibat adanya kompetisi tanaman budidaya dengan gulma berkisar antara 16- 82%. Oleh sebab itu, pengendalian gulma merupakan suatu keharusan pada budidaya tanaman.

Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya. Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Gulma yang selalu tumbuh di sekitar tanaman budidaya mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan serta hasil akhir. Adanya gulma tersebut membahayakan bagi kelangsungan pertumbuhan dan menghalangi tercapainya sasaran produksi tanaman pada umumnya. Usaha manusia dalam mengatasi hal tersebut dapat berupa pemberantasan atau pengendalian, tergantung pada keadaan tanaman, tujuan bertanam, dan biaya tanam (Moenandir, 1988).

Rumput liar dari 32 hasil panen dari 38 negara, sebagian besar di ladang panen, dimana tanaman ini sangat penting karena kemampuannya untuk berkembang lebih cepat pada awal musim tanam dan untuk bersaing dengan tanaman kecil atau timbul. Kemampuannya untuk melengkapi daur hidupnya pada waktu yang pendek dapat membuat tanaman ini melimpah ruah pada perbijian atau tanaman kecil (Fadhly dan Fahdiana, 2008).

Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan gulma?
  2. Apa yang dimaksud dengan gulma Eleusine indica dan bagaimana ciri-ciri morfologinya?
  3. Bagaimana kerugian yang ditimbulkan oleh Eleusine indica dan apakah ada manfaat dari gulma tersebut?
  4. Bagaimana cara pengendalian gulma Eleusine indica?

Pembahasan Masalah

Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang dapat menurunkan hasil tanaman yang dibudidayakan bila tidak dikendalikan secara efektif. Selain itu juga gulma merupakan salah satu faktor biotik yang menyebabkan kehilangan hasil panen. Gulma menyaingi tanaman dalam pengambilan unsur hara, air, ruang dan cahaya. Perilaku gulma yang mengganggu tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya meneyebabkan tanaman gulma dijadikan sebagai musuh petani, karena dengan adanya gulma secara otomatis menurunkan hasil dari produksi pertanian. Persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas (Purba, 2009).

Eleusine indica adalah gulma semusim, berumur pendek, dan berkembang biak dengan biji (dapat tumbuh hingga 200 m dpl). Gulma ini biasanya terdapat di sekitar tanaman kecipir, padi, ubi kayu, dan yang paling dominan terdapat pada tanaman kacang-kacangan. Gulma Lulangan termasuk ke dalam gulma berdaun sempit, mempunyai batang yang selalu berbentuk cekungan, menempel pipih. Pelepah menempel kuat, lidah daun pendek seperti selaput dan tumbuh dalam rumpun, dan batangnya seringkali bercabang. Daun terdiri dari dua baris, tetapi kasar pada tiap ujungnya. Pada pangkal helai daun berambut. Bunga, bulir menjari 3-5, berkumpul pada sisi poros yang bersayap dan bertunas. Anak bulir berseling-seling, tersusun seperti genting. Akar Eleusine indica ini sangat kuat, tumbuh liar biasanya di pinggir jalan atau di lapangan. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 80 cm (Moenandir, 1988). Menurut Nobis et al., (2011), Eleusine indica merupakan rumput tahunan, dengan tinggi dapat mencapai 90 cm. Dasar Eleusine indica bercabang, bentuk batangnya pipih, dengan beberapa rambut. Eleusine indica ini sering tumbuh di sepanjang trotoar, jalan atau di ladang pertanian.

Menurut Breeden (2013), Eleusine indica disebut juga Goosegrass, tumbuh dalam rumpun dari akar, dan memiliki sistem akar berserat. Daunnya halus saat disentuh, dan terdapat sedikit rambut pada daunnya. Goosegrass juga memiliki membrane ligula dengan tepi bergerigi. Goosegrass berbiji pada akhir musim panas, dan berkecambah di akhir musim semi. Perkecambahan biji Goosegrass biasanya terjadi 4-6 minggu.

Gulma Lulangan ini akan cepat tumbuh dan berkembang bila memperoleh cahaya cukup banyak dan pengairan yang berlimpah. Gulma ini sangat peka pada keadaan lingkungannya. Dengan demikian, kondisi yang sedikit saja tidak menguntungkan akan membuat gulma ini cepat mati, misalnya menderita penaungan. Demikian pula pertumbuhan vegetatif sangat teredusir pada musim kemarau atau bila kelembapan tanah sangat rendah (Anderson, 1977).

Kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman oleh Eleusine indica adalah sebagai berikut : padi 10,8 %; kacang 17,8 %; kecipir 13 %; ubi kayu 11,8 %. Selain itu juga gulma ini memiliki sifat mudah tumbuh pada setiap tempat yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Luasnya penyebaran Eleusine indica karena daun dapat dimodifikasikan, demikian pula pada bagian-bagian lain, inilah yang memungkinkan gulma ini unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Disamping itu, Eleusine indica juga dapat membentuk biji dalam jumlah banyak, yang memungkinkan gulma ini dapat berkembang biak dengan cepat. Gulma ini terkadang memberikan bau serta rasa yang kurang sedap, bahkan mengeluarkan zat di sekitar tempat tumbuhnya yang dapat meracuni tumbuhan lain (peristiwa Allelopati). Secara fisik, Eleusine indica bersaing dengan tanaman budidaya untuk ruang, cahaya, dan secara kimiawi untuk air, nutrisi, gas-gas penting, dan dalam peristiwa allelopati (Moenandir, 1988).

Klasifikasi Eleusine indica (Lulangan) menurut Baker (1974) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica

Walaupun Eleusine indica mempunyai beberapa dampak yang mengakibatkan kerugian bagi tanaman di sekitarnya, ternyata gulma ini juga mempunyai beberapa manfaat. Eleusine indica dapat menyembuhkan diare, perut kembung, dan masuk angin. Akar segar 10 g direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih selama 15 menit. Setelah didinginkan dan disaring, lalu diminum. Gulma ini bermanfaat karena mempunyai kandungan kimia yaitu mengandung saponin, tanin, polifenol, protein dan lemak (Heyne, 1987).

Berdasarkan hasil penelitian dalam penilaian bioakumulasi logam berat oleh Eleusine indica dari tempat pembuangan sampah di Kaduna Metropolis , Nigeria, Eleusine indica mengandung logam berat, antara lain: Pb, Cr, Zn, Cd, Mn dan Cu. Kecenderungan bioakumulasi logam dalam E. indica mengikuti urutan : Zn > Cu > Pb > Mn > Cd > Cr (Abdallah et al., 2012). Selain itu, menurut Shuaibu et al. (2012), rumput Eleusine indica dapat digunakan untuk fitoremediasi, terutama fitostabilisasi Cu, Cr dan fitoekstraksi Pb. Teknik-teknik pengurangan pencucian, limpasan dan erosi melalui stabilisasi tanah dan dapat dekontaminasi tanah kontaminasi Pb (Tela et al., 2012).

Gulma Eleusine indica ini dapat dikendalikan dengan beberapa cara. Pengendalian gulma yang tidak begitu luas, dilaksanakan secara manual. Pengendalian gulma secara manual juga sangat disarankan untuk gulma yang tumbuh disekitar tanaman kacang, padi atau umbi. Cara semacam ini sangat praktis, efisien, dan terutama murah jika diterapkan pada suatu area yang tidak luas, seperti di halaman, ladang dan sawah dimana alat besar sulit untuk mencapainya dan di daerah yang cukup banyak tenaga kerja. Penggunaan herbisida dimungkinkan untuk pemberantasannya pada tempat-tempat seperti sepanjang tepi jalan, di tepi saluran air, dan sebagainya. Herbisida: herba = gulma dan sida = membunuh; jadi, herbisida adalah zat kimiawi yang dapat mematikan gulma. Pengendalian dengan cara ini membutuhkan alat penyebar herbisida serta pengetahuan tentang herbisida itu sendiri, agar pengendalian yang dilakukan dapat berhasil. Herbisida yang efektif untuk Eleusine indica biasanya dapat menggunakan 2,4-D, glifosfat, paraquat dan MCPA (Lubis et al., 2012). Pengendalian gulma merupakan tindakan untuk menghentikan keberlanjutan tumbuh gulma. Pengendalian gulma dilakukan karena gulma akan bersaing dengan tanaman yang berada disekitarnya, seperti tanaman budidaya. Pertumbuhan tanaman budidaya akan maksimal jika gangguan dari keberadaan gulma dikurangi, atau bahkan ditiadakan (Moenandir, 2010).

Menurut Lubis et al. (2012), gulma Eleusine indica sudah resisten terhadap glifosfat di kebun kelapa sawit Adolina Sumatra Utara. Resistensi herbisida adalah kemampuan yang diturunkan pada suatu tumbuhan untuk betahan hidup dan bereproduksi yang pada kondisi penggunaan dosis herbisida secara normal mematikan jenis populasi gulma tersebut. Eleusine Indica yang resisten terhadap glifosat baru-baru ini ditemukan di pertanaman kapas USA Mississippi pada tahun 2010. Sebelum penemuan ini, telah ada dua kasus resistensi untuk biotip ini di dua region lainnya yaitu di perkebunan buah-buahan di Malaka dan di Teluk Intan, Perak, Malaysia pada tahun 1997 dimana diketahui bahwa E. indica pada wilayah ini telah mengalami resisten berganda (multiple resistance) serta di perkebunan kopi di Colombia, Caldas pada tahun 2006. Sedangkan E. indica yang resisten parakuat ditemukan di kebun sayuran di Malaysia, Penang pada tahun 1990. Wilayah tempat penemuannya meliputi Pahang, Trengganu, Perak, Johore, Kedah, Selandar, dan Penang. Selain itu juga ditemukan di USA, Florida pada pertanaman tomat pada tahun 1996. Di PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Kebun Sawit Seberang telah terjadi resistensi di salah satu areal pembibitan kelapa sawit dimana populasi E. Indica tidak dapat lagi dikendalikan dengan glifosat.

Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida yang terus menerus dapat mengakibatkan gulma menjadi toleran pada suatu jenis herbisida tertentu dan bahkan dapat menjadi resisten. Populasi resisten terbentuk akibat adanya tekanan seleksi oleh penggunaan herbisida sejenis secara berulang-ulang dalam periode yang lama. Sedangkan gulma toleran herbisida tidak melalui proses tekanan seleksi (Moenandir, 1988). Waktu pengendalian gulma pada tanaman budidaya merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, terutama pengendalian gulma secara manual. Hal ini disebabkan pengendalian gulma pada waktu yang tidak tepat dapat merusak perakaran tanaman budidaya, sehingga mengganggu penyerapan air dan unsur hara oleh akar. Selain itu, periode kritis dapat menentukan saat yang tepat dalam pengendalian gulma. Keberadaan gulma pada periode kritis akan berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil akhir tanaman budidaya yang diakibatkan tanaman kalah bersaing dalam pemanfaatan sarana pertumbuhan, seperti unsur hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh. Frekuensi pengendalian gulma juga sangat penting diperhatikan karena berkaitan dengan biaya serta pertumbuhan dan hasil tanaman budidaya. Tanpa pengendalian gulma dapat menurunkan pertumbuhan dan produksi, sedangkan frekuensi pengendalian gulma yang terlalu sering juga dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya. Oleh sebab itu. pengendalian gulma akan efektif dan efisien jika dilakukan pada waktu dan frekuensi yang tepat.

Menurut Everaarts (1981) dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara seperti, (1) membandingkan gulma tersebut dengan  material yang telah diidentifikasi di herbarium, (2) konsultasi langsung dengan para ahli dibidang yang bersangkutan, (3) mencari sendiri melalui kunci identifikasi, (4) membandingkan dengan, determinasi yang telah ada, dan (5) membandingkan dengan ilustrasi yang tersedia.
Klasifikasi adalah proses pengaturan hewan atau tumbuh-tumbuhan ke dalam takson tertentu berdasarkan persamaan dan perbedaan. Hasil proses pengaturan ini ialah suatu sistim klasifikasi, yang sengaja diciptakan untuk menyatakan hubungan kekerabatan jenis-jenis makhluk hidup satu sama lainnya. Menurut bahwa semua klasifikasi bertujuan agar kita mengingat sedikit mungkin, tetapi dalam ingatan tersebut mengandung informasi sebanyak-banyaknya. Pengelompokkan jenis-jenis tumbuhan dalam suatu takson maka ciri-ciri masing-masing individu akan tercermin dalam deskripsi takson tersebut (Tjitrosoedirjo, 1998).
Cara klasifikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demikian inilah yang merupakan kelemahan utama dari klasifikasi sistem buatan. Klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.
Cara klasifikasi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula, masing-masing kelompok memperlihatkan perbedaan di dalam pengendalian. Berdasarkan morfologi dan botaninya, gulma dapat diklasifikasikan menjadi golongan rumput (grasses) famili (suku) poaceae (Gramineae), golongan teki (sedges) family Cyperaceae, dan golongan daun lebar (Broadleaves/herbaceous).
Pengklasifikasian gulma dapat digunakan untuk membantu manusia mengenal dan mengetahui jenis gulma rumputan, daun lebar dan tekian, melakukan analisis vegetasi gulma, dan dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berdasarkan morfologi dan botaninya, gulma dapat diklasifikasikan menjadi :

1.Golongan rumput (grasses)

Gulma golongan rumput termasuk dalam familia Gramineae/Poaceae, dengan ciri; batang bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga. Daun-daun soliter pada   buku-buku, tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata. Lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun. Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis), masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea. Buah disebut caryopsis atau grain. Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Contohnya yaitu :
a. Cynodon dactylon (L.) Pers. (kakawatan, gigirintingan suket grinting)
b. Eleusine indica (L..) Gaena (rumput kelulang, cerulang jukut jampang)
c. Imperata cylindrica (L.) Beauv (alang-alang carulang, jukut jampang)
d. Echinochloa crus-galli (L.) Cerv( jajagoan)
e. Echinochloa colanum (L.) Cerv (jajagoan leutik)
f. Panicum repens L. (lulampuyangan, jajahean)
g. Paspalum conjugatum Bergrn (jukut japang pait, jukut pait, rumput)

2.  Golongan teki (sedges)

Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae. Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula).Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Kelompok teki-tekian memiliki daya tahan luarbiasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan.
Contohnya adalah :
a. Cyperus bervifolius (jukut pendul)
b. Cyperus rotundus L (teki)
c. Cyperus difformia L. (jukut papayungan)
d. Cyperus halpan L. (papayungan)
e. Cyperus iria L. (jekeng, lingih alit)
f. Cyperus kyllingia Endl. (jukut pendul bodas, teki, teki bodot, teki pendul)
g. Fimbristylis littoralis geidlah (F. miliacea (L) cahl (panon munding, tumbaran)
h. Scirpus grossius L. F (waligi, wlingen, lingi, mensing)

3. Gulma berdaun lebar

Gulma berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledoneae danPteridophyta. Daun lebar dengan tulang daun berbentuk jala. Gulma inibiasanya tumbuh pada akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanamanutama berupa kompetisi cahaya.
Contohnya yaitu :
a. Salvinia molesta D.S Mit het (kimbang, kayambang janji, lukut cai, lukut)
b. Marsilea crenata presl (semangi, samanggen)
c. Azolla pinnata R. Br (kaya apu dadak)
d. Limnocharis flava L. Buch (genjer, centong)
e. Ageratum conyzoides L. (bebadotan, wedusan)
f. Borreria alata (Aubl. DC ) (kabumpang lemah, goletrak, letah hayam, rumput setawar)
g. Stachyarpheta indica (L.) vahl (jarong, gajihan)
h. Amaranthus spinosus L. (bayam duri, bayem eri, senggang cucuk)
i. Synedrella nodiflora (L.) gaentn (babadotan lalakina, jotang, jotang kuda)
Gulma yang didapatkan saat praktikum adalah. Jenis ini didapatkan pada saat praktikum pada tanggal 9 Desember 2012 di Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Daerah ini terletak pada ketinggian 2030 m di atas permukaan laut. Praktikum dilakukan di areal perkebunan Kentang , yang saat itu suhu udara berkisar 210C, pH tanah 7,5 dan kelembaban mencapai 50%.
1.Oxalis latifolia (Daun kupu-kupu)
Oxalis  latifolia memiliki habitus yang kerdil  jarang lebih tinggi dari 6 atau 7 cm. Membentuk roset kecil atau gundukan hingga 20 cm  mempunyai tiga daun  yang hijau gelap dan tidak tampak berbulu. Setiap bola menghasilkan batang bawah tanah tunggal tipis yang menimbulkan ke roset di atas tanah. Setiap bunga memiliki lima kelopak yang suar seperti terompet pada siang hari dan menguncup pada malam hari atau pada hari-hari mendung. Bunga biasanya pinky ungu untuk ungu dan dapat sangat gelap dan sangat berwarna atau sangat pucat.
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Klasifikasi Oxalis latifolia (Daun kupu-kupu) yaitu :
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Geraniales
Family : Oxalidaceae
Genus : Oxalis
Spesies         : Oxalis latifolia
2. Amarantus lividus
Termasuk kedalam jenis gulma berdaun lebar. Gulma jenis ini memilkiki perakaran tunggang. Daun berbentuk segitiga dengan tepi  rata dan meiliki pertulangan daun yang menyirip. Adapun klasifikasi dari tanaman ini adalah :
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Division : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Class : Hamamelidae
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)
Genus : Amaranthus
Species : Amaranthus lividus Cav.
3. Galinsoga parviflora Cav.
Marga Galinsoga termasuk dalam bangsa Asteraceae yang hanya terdiri dari 3 spesies, sebagian besar terdapat di New Zeland, Inggris, Brazil, Asia selatan dan Amerika. Di pakistan, hal ini sangat umum di Baluchistan, Dir, Hunza, Swat, Gilgat, Muree dan Kashmir. Galinsoga parviflora adalah salah satu spesies yang penting dalam marga galinsoga. Bunganya berwarna merah muda, dengan kuntum sinar merah muda atau merah diujungnya dan kuntum disk yang kuning. Buahnya jarang dengan benih yang berbulu. Daunnya beraroma menyenangkan ketika dihancurkan. Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah setengah-teduh atau lembab. Pada akar berguna untuk mengobati jelatang dengan menggosokkannya. Air perasan dari seluruh bagian tanaman ini digunakan untuk mengobati luka. Tumbuhan ini mengandung saponin, flavonoida dan polifenol yang berkhasiat sebagai pelancar air seni. Perkembangan dan perbanyakan dengan cara Buah longkah, anemochorous dan epizochorous. Adapun klasifikasi dari tanaman ini adalah :
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Division : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Class : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Galinsoga
Species : Galinsoga parviflora Cav.
4. Oxalis corniculata Linn
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo : Geraniales
Famili : Oxalidaceae
Genus : Oxalis
Spesies : Oxalis corniculata Linn
5. Galinsoga quadriradiata 
 
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Kingdom : Plantae
Superdivisi : Angiosperms
Divisi : Eudicots
Class : Asterids
Order : Asterales
Family : Asteraceae
Genus : Galinsoga
Species : Galinsoga quadriradiata
6. Poa annua
BIOLOGI GULMA (Eleusine indica ) Dan Jenis-Jenis Gulma Budidaya
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Cyperales
Suku : Poaceae
Marga : Poa
Jenis : Poa annua
Identifikasi gulma berkaitan dengan pengenalan spesies-spesies gulma berdasarkan sifat-sifat morfologi baik vegetatif maupun generatif. Identifikasi ini dapat menjadi salah satu dasar dalam pengelompokan atau klasifikasi gulma.  Salah satu contoh pengelompokan berdasarkan morfologi yang berhubungan dengan pengelolaan gulma adalah berdasarkan jenis daun yaitu berdaun sempit dan berdaun lebar. Gulma berdaun sempit terdiri dari rumput-rumputan dan teki-tekian sedangkan gulma berdaun lebar pada umumnya adalah tumbuhan berkeping dua (dikotil) dan beberapa berkeping satu (monokotil) dengan daun lebar. Ketiga kelompok gulma ini memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya (Anonim, 2011).
PENUTUP

Dari penjelasan mengenai gulma diatas, jelas sekali bahwa tanaman gulma merupakan musuh bagi tanaman sekaligus musuh bagi petani. Musuh bagi tanaman karena tanaman gulma melakukan kompetisi dengan tanaman budidaya sehingga tanaman budidaya akan mengalami kekurangan nutrisi hara, selain itu juga tanaman gulma menjadi musuh bagi petani karena bisa menurunkan pendapatan petani karena hasil dari tanaman budidayanya menurun. Akibat dari adanya gulma ini apabila tidak segera ditangani maka akan berdampak besar terhadap hasil produksi, sehingga hasil dari produksi pertanian akan mengalami penurunan.

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh bukan pada tempatnya, tidak dikehendaki, dan bersifat merugikan. Gulma menyaingi tanaman dalam pengambilan unsur hara, air, ruang dan cahaya. Perilaku gulma yang mengganggu tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya meneyebabkan tanaman gulma dijadikan sebagai musuh petani, karena dengan adanya gulma secara otomatis menurunkan hasil dari produksi pertanian. Persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas.

Gulma Eleusine indica dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kacang-kacangan, kecipir, padi, dan ubi kayu serta dapat menurunkan produksi pada tanaman-tanaman budidaya tersebut. Dalam menghadapi merebaknya gulma di areal pertanian seharusnya kita harus mengetahui atau mengenali apa itu gulma, jenis-jenis gulma, bagimana cara penanganan gulma yang benar, sehingga dalam melakukan pengendalian tidak membuang-buang biaya karena penanganan yang tidak tepat, sehingga walaupun sudah dikendalikan, tetapi gulma tetap saja merajalela, sehingga semua petani perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai gulma.

DAFTAR REFERENSI

Abdallah, S.A., Uzairu, A., Kagbu, J.A., and Okunola. 2012. Assessment of Heavy Metals Bioaccumulation by Eleusine indica from refuse dumpsites in Kaduna Metropolis, Nigeria. Journal of Enviromental Chemistry and Ecotoxicology. Vol. 4 (9) : 153-160.

Anderson, W. D. 1977. Weeds Science : Principle. West Publishing, New York.

Baker, H.G. 1974. The evolution of weeds. Annual Review of Ecology and Systematic.

Breeden, G., Weed Science Extension Assistant James T. Brosnan, Assistant Professor, Turgrass Weed Science Plant Sciences. 2013. Goosegrass (Eleusine indica). Turgrass Science, University of Tennessee.

Fadhly, A.F. dan Fahdiana Tabri. 2008. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Yayasan Sarana Wana Jaga, Jakarta.

Lubis, L.A., Edison Purba., dan Rosita Sipayung. 2012. Respon Dosis Biotip Eleusine indica Resisten-Glifosfat terhadap Glifosfat, Parakuat, dan Glufosinat. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol. 1 (1) :109-123.

Moenandir, J. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Rajawali Pers, Jakarta.

Moenandir, J. 2010. Ilmu Gulma. Universitas Brawijaya Pers, Malang.

Nobis, Marcin., Tomasz, K., Arkadiusz, N. 2011. Eleusine Indica (Poacea): A New Alien Species In The Flora of Tajikistan. Polish Botanical Journal Vol. 56 (1) : 121-123.

Purba, E. 2009. Keanekaragaman Herbisida dalam Pengendalian Gulma Mengatasi Populasi Gulma Resisten dan Toleran Herbisida. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Tela, G.S., Osemeahon, Akuewanbhor Sunday, Maina, Humphrey Manji and Barminas, Jeffry Tsaware. 2012. Ethylenediaminetetraacetate (EDTA)-Assisted phytoremediation of heavy metal contaminated soil by Eleusine indica L. Gearth. Journal of Enviromental Chemistry and Ecotoxicology. Vol. 4 (5) : 103-109.

Tjokrowardojo, A.S., Gusmaini, N., Maslahah. 2010. Pengaruh Herbisida dan Fungi Mikoriza Arbuskula Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Artemisia. Bul. Littro. Vol. 21 (2) : 103 – 116.

2 thoughts on “Jenis-Jenis Gulma Tanaman Budidaya

  1. Pingback: Cara Menguji Kualitas Kemurnian Benih | Chyrun.com

  2. Pingback: Teknik Budidaya Tanaman Stroberi Lengkap Dari A-Z - Chyrun.com

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !