Penanggulangan Pencemaran Minyak Bumi

Pencemaran lingkungan oleh minyak bumi dapat berasal dari berbagai kegiatan atau kejadian, yaitu :

  1. Rembesan minyak di sumbernya
  2. Tumpahan minyak bumi selama kegiatan pengeboran, produksi, dan tranportasi minyak lepas pantai maupun yang darat
  3. Tumpahan minyak akibat kebocoran atau pecahnya tanker maupun berasal dari limbah pencucian dan pembilasan tanker di laut
  4. Tercecer dan terbuangnya minyak di pelabuhan selama bongkar maut minyak
  5. Limbah kapal, Industri dan domestik yang terbuang ke lingkungan
  6. Minyak bekas pantai dan minyak apkir

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi:

  1. stimulasi aktifitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dan sebagainya.
  2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus.
  3. penerapan immobilized enzymes.
  4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri.

Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dan merupakan alternatif pengolahan limbah minyak bumi dengan cara degradasi mikroorganisme yang menghasilkan senyawa akhir yang stabil dan tidak beracun. Dalam bioremediasi, biodegradasi dilakukan dengan cara memotong rantai hidrokarbon tersebut menjadi lebih pendek dengan melibatkan berbagai enzim yang dihasilkan oleh mikroba.

Pengolahan limbah minyak bumi

Teknik pengolahan limbah jenis B3 dengan bioremediasi khususnya bakteri. Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi ataupun biodegradasi adalah dengan cara : seeding, atau mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi) dan feeding, atau dengan memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).

Penanganan bioremediasi dapat dilakukan secara in situ ataupun ex situ, faktor-faktor penting untuk menjamin kondisi mikroorganisma dapat tumbuh dan berkembangbiak adalah ketersediaan oksigen, kandungan nutrisi, pH dan kelembaban. Kelebihan spesifik dari senyawa hidrokarbon dibanding bahan pencemar lain (ex. Logam berat) adalah penggunaannya sebagai sumber karbon sebagai pembentuk biomassa dan sumber energi untuk melangsungkan metabolisme oleh mikroorganisma. Nitrogen dan Phosphore adalah nutrisi utama bagi organisme dan didalam air laut kedua unsur ini adalah faktor pembatas pertumbuhan mikroorganisma.

Komposisi senyawa hidrokarbon pada minyak bumi tidak sama, bergantung pada sumber penghasil minyak bumi tersebut. Misalnya, minyak bumi Amerika komponen utamanya ialah hidrokarbon jenuh, yang digali di Rusia banyak mengandung hidrokarbon siklik, sedangkan yang terdapat di Indonesia banyak mengandung senyawa aromatik dan kadar belerangnya sangat rendah (Hadi, 2003).

Limbah minyak bumi banyak mengandung unsur hidrokarbon. Limbah hidrokarbon cair bersifat hidrofob dan mempunyai kerapatan lebih rendah dari air. Oleh sebab itu limbah ini selalu terapung diatas air. Pembuangan limbah ke sungai akan menutupi permukaan air yang mengakibatkan oksigen terlarut menurun, dan pada akhirnya tumbuh-tumbuhan air dan hewan air dapat mati. Bioremediasi senyawa hidrokarbon dari minyak bumi ini dapat dilakukan oleh mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri Pseudomonas sp.

Pseudomonas aeruginosa misalnya, merupakan bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Bakteri ini ditemukan di air dan tanah. Bakteri aerob ini mensekresikan beberapa jenis pigmen, di antaranya pyocyanin (hijau-biru), fluorescein (kuning-hijau) dan pyorubin (merah-cokelat). Bakteri ini dapat tumbuh tanpa oksigen jika tersedia NO3 sebagai akseptor elektron. P. aeruginosa juga mampu tumbuh di lingkungan yang mengandung oli dan bahan bakar minyak lainnya.

Sehingga, bakteri ini dapat digunakan untuk mendegradasi polutan hidrokarbon yang ada di lingkungan perairan maupun di tanah. P. aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 μm. Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan terkadang membentuk rantai yang pendek. Suhu optimum untuk pertumbuhan P. aeruginosa adalah 42o C. P. aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya sangat sederhana.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !