Bumi Reformasi

Bumi Reformasi – Tochi, kawan-kawan memanggilku. Panggilan itu diambil dari nama panjangku Tochirun yang kata ema itu berarti suci. nama itu didapat dari mbok Tarwen. seorang dukun bayi kampong sebelah yang berjasa melahirkanku ke bumi reformasi  dan memberi nama legendaris. Yah, saya sebut nama itu legendaris, kelak nama itu akan kubawa mengarungi “Bumi Reformasi” .

Oase 1

Pagi di bulan Juli. kabut belum naik . Burung-burung masih enggan mencari makan. Nampaknya  matahari siang nanti akan sangat terik. Burung-burung prenjak, emprit, dan sikatan sedang sibuk berebut tetes embun di ujung-ujung daun pisang untuk  minum. Mereka tau sebentar lagi air-air embun itu akan menguap. seperti air dari panci yang dimasak emak  pagi ini. Di emper yang masih beralas tanah. ubin-ubin dari batu kali dengan sabar menopang setiap tiang rumah gaya paris ku. Pagi itu saya duduk manis, baju berlapis dengan kaus kaki putih terpasang di kaki berukuran 32. Bagi kami kaum tropis, musim dingin adalah  saat malam  musim kemarau. Yaitu Saat air kencingku begitu cepat menguap dibawa  angin barat daya menuju katulistiwa pada siang hari.

Hari pertama ku bersekolah. Emak sudah dari subuh tadi menyalakan tungku, memasak air untuk mandi, sesekali beliau memilih arang yang masih membara dan mengumpulkanya. Pagi yang tak biasa. Setrika arang yang biasa tersimpan rapi tanpak sedang dibersihkan. Sepatu hitam Ku terlihat mengkilat serasi dengan kaus kaki putih, mereka terlihat menyita pandang di antara tumpukan  sandal-sandal kotor. Sandal-sandal yang seperti cetakan telapak kaki, kusam dan tak pernah menyentuh air bersih. Mereka kontras dengan sepatu kebanggaan disebelahnya. Baju dan celana baru terbuat dari kain nagata yang dijahit oleh penjahit terbaik, sedang Ibu setrika dengan hati-hati. “TOO…” Panggilan Emak menghentikan ku dari bermain. ku letakan mobil fuso dan bergegas mandi.

Matahari mulai tampak di ufuk timur. Perlahan menghapus dingin. menyibak kabut pagi seolah sengaja memberi jalan, dengan sadar menyorot baju merah putih yang ku kenakan. Biru muda khas langit kemarau terlihat mengintai gerak langkahku. Burung di atas pohon serta ayam-ayam kampung di bawahnya sibuk mencari makan . Berkicau, berkokok menarik-narik betinanya. Mereka benar-benar tak perduli perasaan ku. Bunyi benturan alu dengan lumpang mengiringi perjalanan pertama kami menuju sekolan. Yah,  bunyi gaduh itu selalu terdengar setiap pagi saat para ibu  menumbuk gabah pamungkas sisa musim hujan tahun lalu.

SD N 1 Kalitapen kawan. Itulah sekolah bersejarah bagiku. Salah satu dari 7 ruangan dengan pintu berwarna coklat. Gagang  terbuat dari besi putih. Terlihat dalam ruangan meja dan kursi dari kayu angsana. Di ruang inilah pertama kali aku dudukkan mimpi setinggi langit. Merajut cita-cita, menemukan sahabat-sahabat terbaik. Kami bermain,  tertawa dan menghabiskan masa anak-anak dengan baik. Kami belajar membaca dan menulis, membentuk karakter awal , dan di ajar oleh guru-guru berkarakter.

Pagi itu, Sosok asing dengan baju cokelat dan celana  dril. Bolpoin terselip di saku baju sebelah kiri. Bersepatu hitam mengkilat, lebih mengkilat dari sepatu kebanggaanku dan Ibuku. berkacamata bening namun terlihat seperti pecahan gelas, tebal ! Tangan kanannya memegang amplop folio merah, tampak kertas  tertata namun  menyembul berantakan dari baliknya. Terlihat tulisan-tulisan hitam yang tak terbaca, mungkin saat menatanya  malam tadi belum sempurna.

Beliau duduk di meja, meletakan amplop, lalu  menyempurnakan posisi vas bunga di meja yang sudah rapi.

Nada suara berat mengheningkan ruangan, menghentikan anak di sebelah ku menangis.

kemudian terdengar ucapan salam.

“Asalammualaikum wr.wb, selamat pagi…kepada hadirin yang terhormat …… terimakasih ..…………..” dst.

Ruangan dengan cat tembok berwarna putih. Atap tak berplafon. Terlihat genteng  merah dengan sedikit mendangak. Sudut-sudut ruang  terlihat kaku. Terlihat retakan-retakan tembok yang berusaha ditambal dengan adonan semen. Warna putih semen dengan cat pasti kontras saat adonan itu mongering. Papan tulis hitam dengan sisa putih kapur tak terhapus, sungguh serasi dengan lantai tehel kusam yang pecah dibeberapa bagian. Sedikit ku ubah arah ke atas ke sudut 45 drajat , tepat diatasnya, terpampang foto Bapak Pembangunan Nasional. Beliaulah Presiden terlama dalam sejarah bangsa beserta wakilnya sedang tersenyum. 03-12-2012, ku hentikan menulis, meluncur ke kampus bersama kuda binal.

03-12-2012 pagi!

Setiap pagi ku lalui jalan yang sama, suasana yang sama, pemandangan yang sama. Jupiter Z merah hati tanpa scotlet ku pacu seperti kuda binal. Menerjang jalanan Purwojati-Purwokerto. Kuda binal yang 9 hari lagi ilegal karena habis tenggang bayar Pajak. Kuda yang Setia  Melayani pecundang yang kadang pahlawan. Dari jalan yang masih tanah sampai jalan aspal Purwokerto Satria. Kami selalu romantis ,melalui setiap jengkal dengan perlahan, memacu gas menyesuikan kuda binal yang sudah usang dan tak lagi perawan. Terimakasih Kuda Binal ..Nanti di rumah ku cuci dari kotornya Purwokerto.

Sepanjang jalan yang panjang dan belum jenjang, hafal di dalam kepala. Selalu sawah, selalu kebun, selalu rumah, lalu gedung, lalu lapangan, lalu sekolahan, kemudian kantor polisi, lalu pasar, kemudian berakhir di kampus biru dengan kawan-kawan dan lawan-lawan. Menarik, saat kaki bundar kuda  binal memasukai gerbang Purwokero Satria. Pandangan menjadi kabur, lalu fokus pada lalu lalang manusia-manusia angkuh dalam mobil dan motornya. Pakaian modis, kendaraan modis, rambut modis, sepatu modis, sungguh memanjakan pandangan lawan jenis, namun menyakitkan kaum marjinalis. Mengingatkan ku pada kota-kota metropolis dengan manusia metronya. Hidup dalam gelimangan materi dunia, mereka yang katanya terhormat dan terdidik, yang katanya terpuji dan baik, yang katanya terlahir dari trah-trah biru atau dinobatkan menjadi trah satria karena jasa-jasa dan pemikiranya.

Inilah resiko liberalis. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Yang berkuasa selalu punya kuasa menjawab pertanggungjawaban, sementara yang miskin selalu punya alasan untuk menentang. Mereka yang miskin tak punya rumah, yang anaknya tak bisa sekolah, yang kelangsungan hidupnya besok tidak jelas, yang makananya nanti malam tak jelas, yang pakaiannya kering oleh panas matahari lalu basah kembali oleh keringat-keringat kemiskinan. Yang anaknya menyusu pada puting-puting susu kering Ibunya, yang logikanya buntu kreatifitas karena keterbatasan. Mereka hampir tidak percaya lagi penguasa,,baik penguasa Negara Ataupun penguasa Semesta..

Dalam keputusasaan..mereka berteriak dalam setiap doa-doa, disertai usaha-usaha..triakan yang masih selalu belum didengarkan:

…..”Tuhan Belum Adil” Katanya??…Dan Jangan-jangan Memang Benar…..??”Bumi Revormasi”

Oase 2

kembali aku meneruskan menulis.. beserta wakilnya sedang tersenyum..(di oase 1)…

Sejak hari itu setiap pagi kecuali hari minggu langkah kaki ku selalu bersemangat menuju sekolah, melalui jalan yang sama dengan suara yang selalu sama pula. Bunyi alu-alu, bunyi burung-burung. Bunyi ayam-ayam. Yah, Cerita…. Selamanya selalu tentang manusia, dan semua yang berhubungan denganya, tidak heran dari dulu sampai sekarang sudah jutaan kisah yang ditulis, mulai dari penulis legendaris sampai penulis emperan yang tidak bosan-bosanya menulis tentang MANUSIA.

Bumi Reformasi

 

Tentu saja..masih ingat dengan sosok setengah bayakan? Sosok yang dulu mengenakan kaca mata tebal, berbaju krem dan bercelana coklat?, beliau yang selalu bersuara berat. Kini beliau setiap hari terlihat di SD N 1 Kalitapen, Beliau adalah bapak Mulyanto, M.Pd seorang kepala sekolah baik hati dengan rambut sempong kanan, berkumis tipis namun tidak berjenggot. Senyum bijaksana dengan hias lesung pipi sebelah kanan yang indah. Mata sipit dengan kacamata antik yang selalu menarik. Kumis tipisnya, hidung bangirnya, pipi keriput dengan bibir imut-imutnya menghias sekolah setiap pagi, seperti mentari namun bedanya mentari ini tidak pernah tenggelam ke ufuk barat, beliau bersinar sepanjang waktu. Satu hal yang selalu kami ingat kawan. Beliau tidak pernah marah pada muridnya, meski kami nakal sejadi-jadinya, atau jail sejail-jailnya.

Itulah manusia reformasi pertama yang kutemuai. Inilah puisi untuknya:

Beliau mengajari ku tentang tulisan-tulisan,

Mengajari ku tentang berkata-kata,.

Dua puluh tahun yang lalu,

Saat tak ku kenal apa itu merah,apa itu putih,

Saat ukuran tangan dan kaki ku masih sekecil tiang dan atap gubug-gubug sawah,

Mata masih sebening kaca-kaca revleksi,

 kulit yang masih sehalus sutra  belum dipintal.

Beliau menunjuk puncak dari hidup,

Mendorong ke alam yang belum kami kenal,

Mendongeng dengan mimik yang sungguh sangat kami suka,

Berbicara dengan nada yang kami suka,

Bekata-kata dengan kata yang kami suka,

Bergerak dengan gerakan yang kami suka,

Namun kami tak mengerti pak,,tapi kami termotivasi..entahlah..

Kami hanya anak kecil,!

 Tapi ,Kini ,,saat sudah ku mengerti,apa itu merah,apa itu putih,,

Beliau berkata’ ceritakanlah ke anak-anak mu kelak dengan mimik dan gaya  yang mereka  suka

‘lalu biarkan mereka menemukan maknanya ,,sepertimu kelak.

Masa anak-anak “kami” lalui dengan sempurna. Bermain, mengaji, bersekolah dan lainnya. Anak-anak adalah masa paling bahagia bagi ku. Mungkin juga bagi semua orang. Semuanya adalah bermain. Semuanya adalah tentang tertawa, bercanda. Bahkan dalam sedihpun kami tertawa. Anak-anak dengan kepolosanya, dengan spontanitasnya, dengan ide-ide nakalnya, dengan kreatifitasnya. Mereka menjelma menjadi makhluk luar biasa. orang tuapun tidak bisa menolak saat kami menangis dan meminta . kami belum tau apa itu Bumi Reformasi, apa itu persaingan, apa itu keadilan, apa itu kehidupan, apa itu kepentingan dan apa itu cinta. Tapi dari kepolosan-kepolosan merekalah orang dewasa belajar tentang hakekat kebenaran. Kami tidak mengerti apa yang orang dewasa katakan atau perdebatkan. Anak-anak hanya hidup di alamnya. Mengalir dengan arusnya. Seperti kata manusia reformasi pertamaku” Belajarlah dari anak-anak tentang kejujuran, kebaikan dan keikhlasan ”.

Kami punya kawan-kawan yang tanpa kami minta mereka mengajak bermain, mengaji dan belajar. Kami punya kawan-kawan yang tanpa kami minta menjenguk saat kami sakit. Kami punya kawan-kawan yang tanpa kami minta mengejarkan layang-layang ku yang putus saat angin menghembus sangat kuat. Kami punya kawan-kawan yang tanpa kami minta mengambilkan bola saat bola sepakku masuk ke sumur tetangga. Yah..mereka adalah sahabat-sahabat kecilku. Kami semua yang belum mengenal dunia. Kami yang hanya mendapat ilmu dari keluarga dan lingkungan seadanya. Yang Terisolasi karena keadaan. Yang Terabaikan oleh pembangunan, meski dalam kampanye kami selalu dilibatkan, namun dalam pembangunan kami disingkirkan. Kami yang selalu Tertinggal jauh oleh pengetahuan. Kami ciptakan hidup kami sendiri dengan norma-norma kebaikan warisan leluhur. Kami yang diajar oleh guru-guru hebat mental dan moralnya. Kami yang  punya cita-cita tinggi . kami yang selalu bersemangat.  Kami yang ingin menjadi keyai, ingin menjadi  guru, ingin menjadi pilot, ingin menjadi polisi, sampai ingin menjadi lurah, bahkan di antarakami  ada yang bercita-cita menjadi kuli selip padi. Itulah kami anak-anak. Yang belum mengenal munafik. Kami hanya sepontan dan selalu sepontan. Inilah kami yang akan saya ceritakan.

“ Kami” adalah istialah untuk saya, jamilun, Mulyanto dan hanif Faozi, . saya dan hanif bersaudara , sementara mulyanto dan Jamilun adalah tetangga. Hanif adalah seorang sahabat, seorang saudara, seorang pesaing, sekaligus sang motivator dan kreator. Kami punya cerita persahabatan yang panjang lebar dari sebelum lahir ( akan ku ceritakan sendiri nanti).  Saya lahir terlebih dahulu. 9 bulan kemudian Hanif lahir dari rahim Bu lik ku. Dia adalah manusia Revormasi ke2 yang ku temuai kelak kawan.

Masa kecil hingga menjelang remaja dilalui dengan banyak pengalaman. Selepas kami lulus sekolah dasar kami melanjutkan ke SMP. Saya, Mulyanto dan jamilun diterima di SMP favorite di kecamatan. SMP N 1 Purwojati namanya,  Letaknya di jantung kecamatan. Sebuah kecamatan paling tertinggal no 2 setelah kecamatan gumelar di kawasan Banyumas. Sementara itu hanif memilih melanjutkan ke MTS NU 1 Purwojati. Dalam masa menjelang remaja tersebut kami tumbuh dan belajar. Kami menjadi siswa-siswa setandar. Tidak nakal dan juga tidak pintar. Masa-masa SMP adalah masa di mana kami butuh bimbingan. Pada Saat remaja bapak dan ibu ku berada di luar daerah untuk bekerja. Saya hidup dan tinggal di rumah kakek. Hari-hari ku habiskan dengan bersekolah, membantu pekerjaan embah, bermain di waktu senggang lalu mengaji di waktu sore. Dan tertidur saat malam. Sejak saat itu saya, hanif, simul dan jamilun sudah jarang bermain bersama. Letak rumah ku dengan rumah mereka berjauhan. Kami jarang bertemu apalagi bermain bersama atau belajar bersama. Kami menghilang dalam keadaan. Bersahabat dalam kejauhan, namun dekat dalam perasaan.

Persahabatan kami mati suri. Sepulang sekolah selalu dihabiskan dengan rutinitas menjenuhkan. Tidak ada bimbingan tentang akademik yang  didapat. Namun lebih banyak bimbingan-bimbingan moral yang sering saya dapat. Embah selalu mengajariku moral, kebaikan, sopan santun, dan unggah ungguh. Mencari kayu bakar, mencari rumput atau membantu mbah di sawah selalu menjadi kewajiban. Tidak banyak harapkan waktu itu. Masalah akademik, motivasi , cita-cita, semuanya hampir tenggelam dalam rutinitas harian. Motivasi dari para guru, lenyap seketika saat saya pulang kembali ke rumah. Dalam masa peralihan, Tidak ada yang membimbing untuk mencari identitas dan cita-citaku, tidak ada yang mengarahkan ku dalam bidang akademik.  Atau memotifasiku untuk meraih nilai-nilai terbaik. Dibatas inilah saya mulai mencari jalan untuk mendapatkan yang tidak saya dapatkan, yaitu pengetahuan.

Ilmu dan kedudukan

-poin pertama, orang dihormati karena ilmu atau kedudukan

-poin kedua, meneruskan poin pertama..orang yang punya ilmu atau kedudukan itu dibedakan

-poin ketiga, orang yang punya ilmu dan kedudukan pasti punya kelebihan

-Poin keempat, kebanyakan orang awam menganggap kelebihan itu yang tampak

-poin kelima, orang-orang yang dihormati karena kedudukan menganggap dirinya 1 level diatas orang lain, meng exsklusifkan diri dan diexsklusifkan.

-poin keenam, mereka yang seperti itu cocot doang

-poin ke tujuh, namun orang-orang yang dihormati karena Ilmunya, selalu terus belajar

-poin kedelapan, orang-orang yang berilmu selalu adil dalam kehidupan

-poin kesembilan, poin kesimpulan, jadilah manusia yang berilmu..!!

Tiga tahun berlalu dengan rutinitas yang bukan mauku, bukan hidupku, dan bukan pula cita-citaku. Namun dari itu semua saya dapatkan pelajaran tak hingga. Pelajaran tentang hakekat,  moral, tentang sopan santun. Dari sanalah motivasi muncul tanpa dimotivasi.

Tidak banyak yang dapat dikisahkan dari masa SMP. Menjadi remaja yang masih labil seperti remaja-remaja yang lain, dengan kawan-kawan yang beraneka ragam.  Dari kisah cinta monyet konyol yang membuat terbahak bahak sampai kabur loncat dari gerbang setinggi 5 meter, itu semua menghias masa-masa labil. Kelas tiga ku habiskan dengan rutinitas yang hampir monoton. Namun itu sebelum berjumpa Agus Prasetyo,,,yah seorang preman sekolahan yang kerjaanya berkelahi, memalak dan menindas, selalu langganan masuk BK. Dialah aktor kunci kisah cinta monyet konyol ku. Badanya yang kecil, gempal, rambutnya lurus berantakan. kulitnya sawo matang, lebih mirip sawo busuk saya pikir. Namun ditakuti seantero SMP. Wajahnya terlihat menyebalkan bagi sebagian besar siswa. Namun tidak dengan ku kawan….kenapa? akan ku ceritakan di penggalan yang lain. “jederrr saya tersentak, 29-12-2012 sore hari.. kembali ku hentikan menulis”.

Category: Sastra Tag:

About tohir

Ingin Belajar Sampai Dunia Alien, Bahwa berhenti belajar adalah kemunduran pemikiran. Tertarik pada hal baru yang mengundang penasaran.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !