CACING PARASIT PADA AYAM

Industri
peternakan ayam merupakan penghasil protein hewani paling efisien dibanding kan
dengan jenis ternak lainnya. Penyakit unggas disebabkan oleh parasit merupakan
ancaman serius yang meskipun jarang menyebabkan kematian tetapi menimbulkan
kerugian besar dalam bentuk pertumbuhan terhenti, penurunan berat badan pada
ayam pedaging dan produksi telur pada ayam petelur. 

Infeksi
oleh cacing pita (cestodosis) bamyak ditemukan pada ternak ayam terutama ayam
buras yang dipelihara secara tradisional. Hal ini disebabkan karena ternak
memiliki kontak langsung dengan lingkungan dan serangga yang cocok sebagai
inang anataranya. Cacing pita umumnya menyerang ayam petelur dan ayam buras
(ayam kampung) sedangkan ayam pedaging dengan umur panen yang pendek memiliki
kemungkinan kecil terhadap infeksi cacing pita( Sarwono 1990 ).
Penyakit
cacing parasit pada ayam biasanya dari jenis Ascarida sp. Banyak spesies Ascarida sp yang di ketahui menyerang
usus halus unggas muda. Unggas yang diserang anatara lain : ayam , kalkun,
merpati, puyuh. Siklus hidup cacing ini  bersifat langsung, meskipun bisa juga melalui
cacing tanah. Salah satu contoh species yang sering meyerang ayam adalah Ascarida galli. Anak ayam lebih peka
terhadap cacing Ascarida galli daripada ayam dewasa. White leghorn lebih peka
dari pada ayam ras yang lain. Lewat umur 3 tahun ayam akan lebih tahan, hal ini
berkaitan dengan meningkatnta sel sel goblet dalam usus . Cacing muda lebih
banyak menimbulkan kerusakan pada mukosa usus, karena larva cacing cenderung
membenamkan diri pada mukosa sehingga sering menyebabkan pendarahan dan
enteritis. Cacing Ascarida galli dapat menyebabkan peradangan pada mukosa
saluran pencernaan, penyerapan dan sekresi zat-zat yang berperan dalam proses
pencernaan makanan (Castro dalam Zalizar,2005).
Gejala
khinis yang terjadi pada infeksi cacing A. Galli tergantung pada tingkat infeksi.
Pada infeksi berat akan terjadi mencret berlendir, selaput lendir oucat,
pertumbuhan terhambat, kekurusan, kelemahan umum dan penurunan produksi telur.
Penyakit cacing oleh Ascarida galli menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup
besar bagi peternak. Cacing dewasa hidup di saluran pencernaan, apabila dalam
jumlah besar maka dapat meneyebabkan sumbatan dalam usus.  Penjelasa selanjutnya menyebutan bahwa
kerugian di sebabakan oleh karena cacing mengehisap sari makanan dalam usus
ayam di tumpangi sehingga ayam akan menderita.
Ascarida
galli mempunyai ciri-ciri berwarna putih, bentuk bulat, tidak bersegmen dan
panjang 6-13 cm Ascarida galli umumnya yang jantan berukukuran lebih besar dari
pada betina. Pada cacing jantan diameter berukuran 30-80 mm, sedangkan pada
betina berdiameter 0,5-1,2mm. Siklus hidup Ascarida galli pada ayam berlangsung
35 hari. Telur cacing akan keluar lewat tinja ayam dan menjadi infektif dalam
waktu 5 hari pada suhu optimum, yaitu 32 – 34C. Sewaktu ayam sedang makan, telur
infektif tertelan yang kemudian menetas di lumen usus. Larva cacing melewati
usus pindah ke selaput lendir. Periode perpindahan terjadi anatara 10- 17 hari
dalam masa perkembangan. Dalam waktu 35 hari cacing menjadi dewasa dan mulai
bertelur. Sesudah cacing menjadi dewasa akan meninggalkan selaput lendir dan
tinggal di dalam lumen usus. Ayam yang masih muda paling peka terhadap
kerusakan yang disebabkan oleh cacing ini. Apabila cacing genus Ascaris yang di
temukan dalam usus halus terlalu banyak, ayam akan menjadi kurus. Hal ini
terjadi karena cacing mengeluarkan zat anti enzim yang menulitkan pencernaan
makan.
Penyebaran
cacing Cestoda pada ayam sangat di pengaruhi oleh adanya inang anatara, telur
cacing Cestoda yang termakan oleh inang anatara akan menetas didalam saluran
pencernaannya. Telur yang menetas berkembang menjadi onkosfir yaitu telur yang
telah berkembang menjadi embrio banyak sel di lengkapi 6 buat ait. Onkosfir
selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam waktu 3 mingu setelah telur
termakan oleh inang antara, sistiserkoid tetap tinggal di dalam tubuh inang
anatar sampai dengan inang antara yang tersebut dimakan oleh inang definitif
yaitu ayam. Setelah ayam memakan inang anatara yang mengandung sisterkoid, maka
sisterkoid terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim pencernaan. Segera setelah
sisiterkoid bebas, skoleksnya mengalami evaginasi dan meletakan diri pada
dinding usus. Segmen muda terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi
segmen yang matang dalam waktu 3 minggu. Pada saat segmen atau strobila
berpoloferansi di dinding leher, dinding sistiserkoid akan mengalami degenarasi
dan menghilang. Selanjutnya sistiseroid berkembang menjadi cacing dewasa di
dalam usus ayam dalam waktu 20 hari (Soetiyono, 2001).
Cacing
Cestoda dalam jumlah besar akan banyak mengambil sari makanan dari tubuh inang
sehingga tidak jarang menyebabkan hypoproteinemia. R. Cesticillus menyebabkan
degenerasi dan inflamasi villi selaput lendir usus di tempat menenmpel ujung
kait rostellum dan dalam keadaan infeksi berat dapat menyebakan kekerdilan.
Cacing Cestoda ini paling umum di dapati pada ayam dengan kerusakan berupa
entiritis haemorrhagia. Cacing ini menuebabkan degenerasi dan peradangan pada
vili-vili selaput lendir usus.  Rillitina
echinobothrida menyebabkan diare berlendir tahap dini. Raillietina echinobothrida
menyebabkan diarre berlendir tahap dini. Railletina echinobothrida dan
Raillietina tetragona menyebabkan pembentukan nodul-nodul pada dinding saluran
pencernaan. Diantara kedua jenis cacing Cestoda tersebut, yang paling banyak
menimbulkan kerusakan adalah Raillietina echinobothrida. Raiillietina tetragona
dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan produksi telur pada ras-ras ayam
tertentu (Hewintari,2001).
Secara umum faktor yang
berpengaruh besar terhadap peluang terjadinya cestodosis adalah umur inang
yaitu ayam yang berumur di atas 50 minggu berisiko infeksi dibandingkan dengan
yang berumur dibawah 20 minggu. Keberadaan dan jumlah sistersekoid dalam tubuh
inang anatar menggambarkan tingkat kejadian cestodosis pada ayam di tempat dan
waktu tertentu (Mond et al., 2001). Pemilihan sistem kandang yang digunakan
harus diimbangi dengan memperhatikan faktor resiko yang lain karena secara
alami faktor-faktor resiko tersebut tidak berdiri sendiri. Faktor agroekologi
seperti faktor perbedaan kalimat juga mempengaruhi infeksi cestoda (Retnani et
al., 2001) Di daerah dataran tinggi dengan suhu lebih rendah (Eshetu et al.,
2001) mungkin disebabkan tehambatnya perkembangan stadium awal larva infektif.
Kepadatan populasi inang seerta sumber infeksi antar peternakan pasti berbeda,
maka secara umum dapat dikatakan bahwa faktor-faktor biotik maupun abiotik yang
meliputi inang, parasit, lingkungan, serta apa pun yang mendukung terjadinya
transmisi sangat berpengaruh terhadap prevalensi.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !