Cara Bioremidiasi Pencemaran Minyak yang Mengandung BTEX

Cara Bioremidiasi Pencemaran Minyak yang Mengandung BTEX – Ekosistem mangrove merupakan daerah peralihan antara darat dan laut yang terdapat di sepanjang pantai yang terlindung dan muara sungai. Mangrove mempunyai fungsi ekologi dan ekonomi yang mana kedunya sangat penting dan tidak dapat dipisahkan.

Mangrove memiliki fungsi ekologi yang tidak kalah penting, antara lain untuk sekuestrasi karbon, menyaring dan menangkap bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari erosi, intrusi air laut, dan tekanan badai, membentuk daratan baru, menjaga kealamian habitat, menjadi tempat bersarang, memijah dan membesarkan anak berbagai jenis ikan, udang, kerang, burung, dan fauna lain, serta memiliki fungsi sosial sebagai area konservasi, pendidikan, ekoturisme, dan identitas budaya, namun nilai penting ekologi masih sering diabaikan.

Industri pengeboran minyak bumi serta industri hilirnya sangat potensial menyebabkan air, tanah, dan udara tercemar. Berbagai usaha untuk mengatasi pencemaran telah dilakukan antara lain dengan melakukan perbaikan path sistem eksplorasi, eksploatasi, pengolahan dan penyaluran minyak bumi, serta pengelolaan limbah.

Aktivitas industri perminyakan (pengeboran, pengilangan, proses produksi dan transportasi) umumnya menghasilkan limbah minyak dan terjadi tumpahan baik di tanah maupun perairan. Limbah dan tumpahan tersebut akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas industri perminyakan di lapangan.

Pasuruan, Jawa Timur terdapat kawasan mangrove yang terus mengalami penyempitan luasnya menjadi seluas 554,8 ha. Penyempitan kawasan mangrove ini juga terjadi akibat pencemaran minyak dari industri yang berada di sekitar daerah Pasuruan, Jawa Timur .

Tingkat pencemaran minyak  dapat mengakibatkan tanaman menjadi mati dalam waktu 3 (tiga) hari atau 48–72 jam, sementara pencemaran secara kronik dapat menyebabkan tanaman mangrove stress dan mengurangi laju kecepatan tumbuh. Kehadiran polutan hidrokarbon baik pada saat menggenangi maupun setelah masuk ke dalam tanah, mengakibatkan kematian banyak pohon mangrove.

Hal ini disebabkan karena bahan bersifat sebagai penghambat metabolisme perakaran dan racun bagi tumbuhan. Perubahan luas lahan hutan mangrove dapat terjadi akibat tekanan lingkungan fisik, kimia dan biologis serta pengaruh dari pencemaran dalam kategori akut maupun kronik yang berasal dari sedimentasi, limbah cair maupun limbah minyak. Dapat digambarkan bahwa tumpahan minyak di laut akan terbawa arus ke arah pantai dan akhirnya mencemari hutan mangrove. Hal ini dapat mengakibatkan sistem perakaran menjadi terganggu karena minyak menempel di permukaan tanaman .

Berdasarkan penelitian, bahwa kawasan Pasuruan, Jamur mengandung zat BTEX (benzen, toluen, etilbenzen, xilen). BTEX (Benzene, Toluene, Ethyl Benzene, Xylene), merupakan komponen senyawa hidrokarbon aromatik yang terkandung dalam minyak bumi. BTEX bersifat rekalsitran dan mutagenik.

Berikut merupakan data pencemaran zat BTEX yang diteliti dari beberapa aliran sungai di sekitar kawasan mangrove yaitu sungai, sungai porangan,sungai gombal, sungai kacar , sungai krondo.

Pencemaran BTEX menyebabkan populasi mangrove semakin menipis. Berikut data populasi mangrove berdasarkan penelitian di beberapa sungai sekitar Pasuruan, Jawa Timur.

Berdasar data di atas maka, dapat dilihat tingkat pencemaran dari masing-masing daerah sungai yang berada di kawasan mangrove Pasuruan. Semua kawasan tercemar Benzene berat dengan kondisi sungai Andil yang paling memprihatinkan.

Loading...

Pencemaran tersebut sangat berefek terhadap organisme yang hidup di dalamya, terutama tumbuhan mangrovenya. Persebaran mangrove menjadi tidak merata dan banyak spesies yang sudah tidak dijumpai di beberapa kawasan akibat pengaruh dari pencemaran tersebut.

Masalah pencemaran minyak bumi di kawasan mangrove dapat dilakukan dengan penanganan fisik, biologi dan kimiawi. Teknik biologi biasanya dilakukan dengan melibatkan mikroorganisme. Teknik bioremediasi merupakan salah satu bentuk teknik pengolahan limbah secara biologi yang memanfaatkan bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri tersebut mampu menggunakan PAH (policyclic aromatic hydrocarbon) sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi selama proses bioremediasi tanah tercemar minyak bumi dan mendegradasinya secara lengkap hingga terbentuk senyawa akhir yang stabil dan tidak beracun serta karbondioksida dan air .

Kehadiran mikroorganisme pendegradasi cemaran hidrokarbon path habitatnya akan mampu melakukan remediasi atau pemulihan, tetapi dengan jumlah populasinya yang rendah dan suplemen nutrien tertentu menyebabkan kemampuan remediasinya rendah. Keefektifan bioremediasi sangat ditentu kan oleh konsentrasi mikrob pendegradasi cemaran, konsentrasi cemaran, faktor fisik seperti suhu dan pH optimum, dan faktor kimia seperti ketersediaan oksigen dan nutrient.

Kelompok bakteri yang digunakan sebagai agen  bioremediasi yang banyak digunakan terutama karena bakteri memiliki kecepatan reproduksi yang tinggi dan bakteri merupakan kelompok mirkoba yang mudah beradaptasi dengan lingkungan, sehingga memungkinkan dapat menggunakan residu minyak bumi sebagai sumber karbon dan energi.

Mikroba pendegradasi hidrokarbon secara alami terdapat dimana-mana dan relatif lebih tinggi jumlahnya pada tanah tercemar minyak bumi dibandingkan pada tanah tidak tercemar. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme pendegradasi minyak tersebar luas di alam. Hingga saat lebih dan 108 spesies bakteri marnpu mendegradasi hidrokarbon, di antaranya yaitu: Akali genes, Bacillus, Flavobacterium, Nocardia, Pseudomonas, dan Vibrio.

Di antara bakteri yang dikenal mampu mendegradasi hidrokarbon yaitu Bacillus. Bacillus merupakan bakteri pembentuk spora yang bersifat kosmopolit dan memerlukan syarat hidup yang sederhana, aerob dan fakultatif anaerob, selnya berbentuk batang, memproduksi katalase, dan bersifat gram positif. Beberapa isolat Bacillus yang mampu mendegradasi hidrokarbon alifatik, sildik, dan aromatik. Pendegradasi senyawa aromatik antara lain Bacillus thermoleovorans, B. gordonae, B. benzoevorans dan B. cereus.

Metode pendegradasian dapat dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya tahap isolasi isolat bakteri yang berada pada daerah perakaran mangrove yang ditumbuhkan pada media selektif. Kemudian dipilih isolat bakteri terbaik dengan berbagai uji potensi pada media yang mempunyai kandungan hidrokarbon berbeda.

Setelah didapatkan isolat terbaik, barulah diaplikasikan secara massal pada kawasan mangrove yang tercemari tersebut. Selain karena ramah lingkungan, penggunaan bakteri sebagai agen bioremediasi, juga karena bakteri tersedia dalam di alam terutama kawasan mangrove yang tercemar tersebut dan mudah diperbanyak. Bakteri juga dapat bersimbiosis dengan tumbuhan yang ada di kawasan mangrove sehingga ramah lingkungan.

Aktivitas mikroba dalam mendegradasi tanah yang terkontaminasi minyak bumi dilakukan dengan memotong-motong komponen hidrokarbon yang ada menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak berbahaya terhadap lingkungan, sehingga tanah yang tercemar minyak bumi tersebut akan memperlihatkan perubahan komposisi fraksi hidrokarbon penyusunnya. Berdasarkan penelitian terjadi penurunan kadar BTEX pada proses bioremediasi tanah dengan isolate Bacillus cereus yang tercemar minyak dengan masing-masing penurunannya, yaitu: Benzene 97.9%, toluene 79.3%, ethyl benzene 75.0% dan xylene 59.3%.

Penanganan pencemaran BTEX di kawasan mangrove Pasuruan, Jawa Timur dapat dilakukan dengan proses bioremediasi dengan menggunakan isolate unggul mikroorganisme dari tanah di sekitar perakaran mangrove. Proses ini diharapkan dapat memberikan pemulihan pada kawasan mangrovenya. Sehingga ekosistem yang ada di kawasan mangrove ini habitatnya dan biodiversitas mangrovenya semakin akan terus terjaga karena mengigat pentingnya nilai ekologi dan ekonomi hutan mangrove.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.