Cara Budidaya Tanaman Pala Sesuai Standar Operasional Prosedur

Hasil panen Buah Kuningan Pala

Budidaya tanaman pala berdasarkan SOP (standar operasional prosedur). Teknik budidaya yang dilakukan pada saat praktek kerja lapang dibalai penelitian tanaman rempah dan obat bogor adalah sesuai SOP (standar operasional prosedur). Standar operasional prosedur budidaya pala merupakan suatu tahapan budidaya tanaman pala yang baik dan benar. Adapun tahapan dalam proses budidaya tanaman pala yang telah dilakukan antara lain:

1. Perbanyakan generatif

Perbanyakan generatif merupakan perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji yang dikecambahkan. Perbanyakan generatif melalui beberapa tahapan antara lain:

1. Pemilihan Biji

Pemilihan biji merupakan suatu kegiatan untuk mensortir biji pala yang baik digunakan untuk bibit. Biji yang digunakan dalam pemilihan ini berasal dari biji sapuan dan biji terpilih. Biji sapuan adalah biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya sedangkan biji terpilih adalah biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal pemilihan biji terpilih ada 3 macam , yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih.

Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya baik.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor: KB. 010/42/SK/ DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu: Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan Maluku. Biji-biji dari pohon induk terpilih yang akan digunakan sebagai benih harus diseleksi, yaitu dipilih biji-biji yang ukurannya besar dengan bobot minimum 50 gram/biji, berbentuk agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, tidak terserang oleh hama dan penyakit seperti pada (Gambar 2).

Buah Pala

Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera diambil bijinya, paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah disemaikan. Hal ini disebabkan oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya dapat cepat menurun.

2. Penyemaian

Media tanam yang akan dipakai untuk penyemaian yaitu  dipilih dari tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 m dan panjangnya 5-10 m, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.

Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh dan menjaga tetap lembab.

Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).

Apabila dalam sekala kecil bisa dengan media penyemaian kokopit dalam wadah secukupnya. Setelah itu dirawat dengan adanya penyiraman secukupnya sampai kokopit tersebut basah seperti (Gambar 3).

Media kokopit budidaya pala

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak. Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami seperti (Gambar 4). Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.

Hasil penyemaian benih pala

Bibit-bibit tersebut sudah dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

2. Pengolahan Media Tanam di kebun

Kebun untuk tanaman pala perlu disiapkan sebaik-baiknya, apabila di atas lahan masih terdapat semak belukar harus dihilangkan. Kemudian tanah diolah agar menjadi gembur sehingga aerasi (peredaran udara dalam tanah) berjalan dengan baik.

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau supaya proses penggemburan tanah itu dapat lebih efektif. Pengolahan tanah pada kondisi lahan yang miring harus dilakukan menurut arah garis kontur lereng. Pengolahan tanah dengan cara ini akan membentuk alur yang dapat mencegah aliran permukaan tanah/menghindari erosi. Pada tanah yang kemiringan 20% perlu dibuat teras-teras dengan ukuran lebar sekitar 2 m, dapat pula dibuat teras tersusun dengan penanaman sistem kountur, yaitu dapat membentuk teras guludan, teras kredit/teras bangku.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan setelah bibit dan lahan sudah siap untuk ditanami. Tetapi, sebelum penanaman harus diketahui jumlah bibit yang diperlukan untuk penanaman pada kebun yang sudah siap di tanam dengan cara meghitung:

Jumlah bibit yang dibutuhkan = Luas lahan (m²) : Jarak tanam x 1 batang bibit.

Dari kebun pala rakyat dipurwkarta terdapat sekitar 5 hektar lahan  dengan jarak tanam 9 m x 9 m dan lahan yang efektif ditanami 90%, dibutuhkan bibit tanaman pala sebanyak kurang lebih 617 batang bibit tanaman pala. Sebulan sebelum tanam sebaiknya bibit diadaptasikan dulu di lokasi dekat kebun.

Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar bibit tanaman tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3–5 batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat baik.

Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah: pada lahan datar adalah 9×10 m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9×9 m dan dengan perbandingan kelamin satu baris tanaman 2 : 8 untuk jantan : betina. Hal tersebut berguna untuk penyerbukan bunga pada pohon betina karena bunga pala betina tidak bisa menyerbuk sendiri. Perbandingan jantan lebih sedikit karena pohon jantan tidak dapat berbuah seperti pohon betina. Apabila perbandingan pohon jantan akan lebih banyak maka buah yang dihasilkan lebih sedikit.

Penanaman dilakukan dengan melepaskan polybag (kantong pelastik) terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah permukaan lahan kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang tanam tersebut disiram dengan air supaya media tumbuh dalam lubang menjadi basah.

4. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman pala dilakukan untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu diusahakan untuk menjaga tanaman pala tetap tumbuh dan berkembang dengan baik. Berikut kegiatan pemeliharaan yang dilakukan:

1. Tanaman pelindung

Tanaman pelindung ini bermanfaat untuk melindungi dari sinar matahari karena umumnya tanaman muda kurang tahan. Tanaman pelindung yang digunakan di perkebunan BALITTRO yaitu tanaman akasia. Tanaman pelindung yang telah digunakan sudah sesuai syarat yaitu tumbuhnya cepat dan daunnya tidak terlalu rindang.

2. Penyulaman

Penyulaman merupakan upaya untuk mengganti jika bibit tanaman pala itu mati/pertumbuhannya kurang baik agar pertumbuhan dan perkembangannya seragam. Penyulaman dilakukan jika ada tanaman pala setelah penanaman dilahan mati atau tumbuhnya lama yang kemudian diganti dengan bibit pala yang seumuran dengan yang diganti. Penyulaman ini berguna agar memudahkan dalam perawatan lainnya seperti pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan pengontrolan karena tanaman pala seragam.

3. Pemupukan

Pemupukan dilakukan pada waktu tanaman masih muda, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik ( pupuk kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman sudah dewasa/sudah tua, pemupukan yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.

Pemupukan dilakukan sesuai dosis biasanya yaitu sebagai berikut: (1) Umur tanaman 1 tahun: 20 kg N/ha/th,20 kg P2O5/ha/th dan 30 kg K2O /ha/th. (2) Umur 2-3 tahun 40 kg N/ha/th, 40 kg P2O5/ha/th, dan 50 kg K2O/ha/th. (3) Umur 4-6 tahun: 80 kg N/ha/th, 80 kg P2O5/ha/th, 100 kg K2O/ha/th. (4) Umur 7-15 tahun: 100 kg N/ha/th, 100 kg P2O5/ha/th, dan 150 kg K2O/ha/th. (5) Umur ±15 tahun : 120 kg N/ha/th, 100 kg P2O5/ha/th dan 150 kg K2O/ha/th.

Sebelum pemupukan dilakukan, dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk pohon), kemudian pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara merata dan segera ditimbun tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan pada awal musim hujan, setelah dilakuakan pada akhir musim hujan, maka untuk membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan penyiraman, tetapi jika kondisinya masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.

4. Pengendalian Organisme Penggangu tanaman

Pengendalian organisme pengganggu tanaman pala harus dilakukan karena akan merugikan. Organisme pengganggu tanaman pala yang sering ditemukan di perkebunan BALITTRO adalah gulma, penggerek batang dan rayap. Adapun pengendalian yang telah dilakukan pada setiap pengganggu tanaman.

1) Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dilakukan dengan cara pengendalian mekanik yaitu dengan mesin pemotong rumput dan seluas kanopi pohon pala tanah digemburkan. Pengendalian ini diberlakukan setiap gulma sudah setinggi sekitar 10-20 cm.

2) Penggerek batang (Batocera sp)

Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian terlebih pada tanaman yang masih muda. Gejala: terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5– 1 cm, di mana didapat serbuk kayu. Pengendalian: menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya.

Memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.

3) Anai-Anai / Rayap

Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal batang dan akhirnya sampai ke dalam batang. Gejala: terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.

Pengendalian hama yang optimum harus memiliki perhitungan indikator keberhasilan pengendalian hama sehingga pestisida tidak terbuang sia-sia. Berikut indikator yang digunakan untuk menghitung:

P= ( α/ (α+ b)  ) X 100%             

Keterangan :

P= Persentase serangan

a= Jumlah pohon sampel yang terserang

b= Jumlah pohon sampel yang tidak terserang

Tahan: intensitas serangan 0-10%

Agak tahan: intensitas serangan 11-40%

Agak rentan: intensitas serangan 41-60%

Rentan: intensitas serangan > 60%

5. Panen Buah Pala

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun. Buah pala dapat dipetik (dipanen) setelah cukup masak (tua), yakni yaitu sekitar 6–7 bulan sejak mulai bunga dengan tanda-tanda buah pala yang sudah masak berwarna kuning seperti (Gambar 5). Jika sebagian dari buah tersebut tersebut murai merekah (membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna merah seperti (Gambar 6). Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3 hari, maka pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya akan jatuh di tanah.

Berikut tampilan gambar buah pala yang siap panen:

Hasil panen Buah Kuningan Pala

Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya diberi/dibentuk keranjang (jawa: sosok). Selain itu dapat pula dilakukan dengan memanjat dan memilih serta memetik buah-buah pala yang sudah masak benar.

Loading...
About Tohir 839 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*