Cara mendeteksi cacing Parasit

Cara mendeteksi cacing parasit – Pada kesempatan ini chyrun akan berbagi informasi tentang cara mendeteksi parasit pada manusia, khususnya di organ pencernaan hati, usus besar dan usus kecial. Perlu kita ketahui bahwa penduduk di daerah tropik, mungkin tidak hanya menderita penyakit parasit melainkan juga menderita salah satu di antara sekian banyak penyakit tropik.

Banyak infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulakan gejala ringan. Oleh sebab itu, diagnosis yang didasarkan hanya gejala klinik saja, kurang dapat dipastikan, sehingga harus dengan bantuan pemeriksaan laboratirium. Contoh pada penderita yang terserang Trypanozoma cruzy yang menyerang pada mammalia dan menghisap darah khususnya untuk daerah amerika memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Infeksi Ascaridia disebabkan oleh Ancylostoma duodenale, Ancylostoma caninum, Ancylostoma brazilliense, dan Ancylostoma ceylanicum. Ancylostoma duodenale berparasit pada itik, ayam, kalkun, burung dara, dan angsa. Ascaridia galli merupakan cacing yang sering ditemukan pada unggas dan menimbulkan kerugian ekonomik yang tinggi karena menimbulkan kerusakan yang parah selama bermigrasi pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva.

Migrasi terjadi dalam lapisan mukosa usus dan menyebabkan pendarahan, apabila lesi yang ditimbulkan parah mak kinerja ayam akan turun drastik. Unggas yang terserang akan mengalami gangguan proses digesti dan penyerapan nutrient sehingga dapat menghambat pertumbuhan.

Pemeriksaan telur cacing parasit sangat penting bagi dunia kesehatan. Seluruh proses pemeriksaan ini harus didukung dengan teori-teori yang berhubungan dengan siklus hidup parasit itu sendiri. Teknik pemeriksaan telur cacing secara kualitatif selain metode natif (direct slide), metode apung (flotation method), ada juga metode harada mori. Harada mori merupakan metode yang digunakan untuk mendeteksi larva atau telur parasit pada feses, yang dibantu dengan proses inkubasi.

Berikut Cara mendeteksi parasite cacing pada manusia :

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu dengan menggunakan tinja ayam, tinja manusia, tinja
sapi dan tinja kambing. Larutan NaCl Fisologis (0,9%) atau eosin 2%, lidi, pipet tetes, object glass, cobver glass, dan mikroskop cahaya.

Alat yang gunakan dalam metode Harada Mori antara lain tabung reaksi, lidi, object glass, cover glass, plastik es, jepitan, gantungan, mikroskop, pipet, gunting, kertas saring dan rak tabung reaksi. Bahan yang digunakan dalam metode ini adalah feses manusia, ayam, sapi dan kambing, serta aquades.

Ada dua metode cara mendeteksi :

Metode Natif

Cara kerja yang digunakan dalam praktikum kali dengan menggunakan pemeriksaan kualitatif secara natif (direct slied) yaitu dengan diteteskan 1-2 tetes NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Kemudian diambil dengan lidi sedikit tinja dan ditaruh pada larutan tersebut. Diratakan kemudian ditutup dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop.

Metode Haradda- Mori

  1. Sejumlah tinja dioleskan pada bagian tengah kertas saring
  2. Ditambahkan air ± 2 cc kedalam kantong plastik
  3. Kertas saring dilipat kemudian dimasukan kedalam kantong plastik dengan bagian yang runcing terlebih dahulu sampai menyentuh air.
  4. Bagian atas kertas dilipat sehingga kertas menggantung didalam kantong plastik
  5. Kantung plastik tersebut dijepit di jemuran.
  6. Feses tersebut diinkubasi selama 7 hari dengan suhu ruangan
  7. Setelah 7 hari ujung plastik di gunting, kemudian air di alirkan ke tabung reaksi
  8. Tabung didiamkan selama 5-10 menit supaya telur mengapung
  9. Air itu di ambil beberapa tetes dengan pipet tetes ke atas object glass
  10. Diamati di mikroskop.

Untuk Metode Natif, dipergunakan untuk pemerikasaan secara cepat dan baik untuk infeksi yang berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaan eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telu-telur cacing dengan kotoran-kotoran disekitarnya. Kelebihan dengan menggunakan metode ini adalah pemeriksaan dengan cara cepat dan baik untuk infeksi berat. Tetapi metode ini memiliki kakurangan yaitu sulit untuk menemukan telur cacing pada infeksi ringan.

Teknik Harada-Mori

merupakan teknik untuk mencari larva cacing parasit pada usus. Proses identifikasi dari cacing tambang dapat dilakukan dengan metode Harada mori. Telur cacing tambang seberat kurang lebih 4 g dari feses segar, di kultur dengan coproculture selama 7-10 hari pada suhu 24-28 0 C, dengan “Harada and Mori Test Tube method”. Kultur larva dapat terpisah dengan kotoran dengan bantuan sentrifugasi dan diwarnai dengan lugols iodin untuk identifikasi selanjutnya. Teknik harada mori merupakan teknik pemeriksaan kualitatif yang sederhana dan murah.

Keuntungan dari teknik ini adalah tidak hanya stadium telur saja yang ditemukan dengan teknik ini namun, diharapkan juga ditemukan stadium larva cacing yang tumbuh dari proses ini. Waktu inkubasi yang lama menyebabkan metode ini kurang efektif apabila data yang dibutuhkan cepat, sehingga bila data kualitatif dibutuhkan cepat lebih baik menggunakan metode natif.

Jenis Nematoda Yang Menyerang Unggas Peliharaan

Banyaknya infeksi parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh karena itu, hewan yang tampak sehat belum tentu tidak terinfeksi penyakit. Kebiasaan makan, berenang, kondisi kandang dan gigitan serangga adalah hal yang dapat membantu apakah suatu penyakit adalah infeksi dengan parasit atau tidak. Pemeriksaan tinja secara rutin akan menemukan sejumlah besar infeksi yang tidak terduga.

Di lapangan, ada dua jenis parasit cacing internal yang sering dijumpai pada unggas seperti Nematoda atau cacing gilig dari jenis Nemathelminthes dan Cestoda atau cacing pipih dari jenis Platyhelminthes. Pengendaliannya terhadap cacing ini membutuhkan identifikasi spesies yang tepat dan pengetahuan tentang siklus hidup kedua cacing tersebut. Nematoda merupakan kelompok parasit cacing yang terpenting pada unggas, hal ini terkait dengan jumlah spesiesnya dan kerusakan yang disebabkan cacing tersebut. Kelompok Nematoda mempunyai siklus hidup langsung dan tidak langsung. Siklus hidup langsung yaitu Nematoda tidak membutuhkan inang perantara untuk menginfestasi itik atau unggas lainnya, sedang pada siklus hidup tidak langsung, Nematoda membutuhkan inang perantara untuk kelangsungan hidupnya. Ada banyak jenis Nematoda yang dapat menyerang unggas
peliharaan
seperti:

(1) Nematoda yang dijumpai pada saluran pernafasan adalah Syngamus yang dikenal juga dengan istilah cacing merah karena warna cacing ini merah atau cacing garpu karena cacing jantan dan betina dalam kopulasi selalu terlihat seperti huruf  ”Y”.

(2) Nematoda yang dapat dijumpai pada mata adalah Oxyspirura. Infeksi Oxyspirura pada ayam liar seperti ayam kampung sering dijumpai. Cacing ini dijumpai di bawah selaput niktitan, kantong konjungtiva dan saluran nasolakrimalis mata.

(3) Nematoda yang menyerang saluran pencernaan adalah Capilaria, Gongylonema, Dyspharynx, Tetrameres, Ascaridia, Heterakis, Strongyloides dan Trichostrongylus. Pada bagian ini, yang perlu diwaspadai peternak adalah Capilaria, Ascaridia dan Trichostrongylus yang sering menyerang ayam yang dipelihara dengan sistem ekstensif.

Infeksi Ascaridia dapat disebabkan oleh Ascaridia galli, Ascaridia dissmilis, Ascaridia numidae, Ascaridia columbae, Ascaridia compar, dan Ascaridia bonase. Hasil yang didapat pada praktikum kali ini tidak ditemukan infeksi cacing  yang kami ambil tinjanya.

Hasil negatif yang dilaksanakan dapat disebabkan antara lain:

  1. Sampel atau feces diperoleh dari orang yang dehat (tidak terinfeksi cacing parasit usus).
  2. Kurang ketelitian dan kecerobohan praktikan dalam melakukan praktikum.
  3. Pada metode apung, pada saat larutan feces didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.
  4. Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur cacing parasit maupun larvanya.
  5. Praktikan kurang paham tentang urutan kerja pada masing-masing metode.
  6. Pada saat diambil fecesnya, cacing belum bertelur sehingga tidak ditemukkan telur pada feces.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !