Sebuah Catatan Tentang Scrub Typhus dan Vektornya

Scrub typhus atau biasa disebut sebagai demam semak merupakan penyakit yang jarang dikenal masyarakat dibandingkan dengan DBD atau penyakit-penyakit lain. Scrub typhus diakibatkan oleh bakteri Ricketsia tsutsugamushi melalui gigitan tungau Leptotrombidium sp. Bakteri R. tsutsugamushi mempunyai ciri-ciri tidak berflagel dan parasit obligat. Timbulnya scrub typhus ditandai dengan gejala klinis seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), batuk, dan gejala gastrointestinal. Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi, tergantung pada kerentanan tubuh, virulensi dari strain bakteri atau keduanya.

Scrub typhus endemis di beberapa negara seperti China, Jepang, India, Korea, Afghanistan, Rusia, Australia. Negara-negara di Asia Tenggara dan Indonesia juga termasuk endemis. Lebih dari setengah (55 %) populasi penduduk dunia hidup pada kawasan endemis scrub typhus. Terutama di China yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari 1 Milyar yang beresiko terserang scrub typhus.

Endemisitas scrub typhus yang tersebar luas berhubungan dengan vektor yang berperan dalam menularkan R. tsutsugamushi. Larva Leptotrombidium sp. mempunyai habitat yang spesifik dan ditemukan dengan kelimpahan yang tinggi pada hutan yang mempunyai semak belukar dan tanaman rumput yang panjang. Kelimpahan larva Leptotrombidium sp. lebih tinggi ketika dilakukan dalam kondisi ekologi yang banyak terdapat semak belukar dan rerumputan di Himachal Pradesh selama wabah scrub typhus pada tahun 2003. Tungau Leptotrombidium deliense dan L. fletcheri diketahui merupakan vektor scrub typhus yang terdapat di Indonesia dari tujuh spesies Leptotrombidium sp. yang telah teridentifikasi. Adapun L. deliense dan L. akamushi adalah spesies yang sensitif terhadap suhu panas, kelembapan tinggi, dan proses reproduksi berlangsung optimal ketika berada di dataran rendah daripada di dataran tinggi.

Scrub typhus pernah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Papua, Sumatera, Jawa, Kalimantan. Laporan pertama kali kejadian scrub typhus di Indonesia yaitu di Sumatera pada tahun 1923. Scrub typhus banyak terjadi di daerah transmigrasi dan daerah baru bekas hutan. Sifat ini berhubungan dengan keberadaan tikus yang menjadi inang sementara tungau Leptotrobidium sp. Tungau ini hidup pada permukaan tubuh tikus yang banyak terdapat di sekitar rumah, semak belukar, bekas hutan dan tanah lapang.

Tungau Leptotrombidium sp. ditemukan pada kelompok Rodentia (tikus) Rattus exulans, R. r. diardii, R. tiomanicus, Sundamys muelleri pada lahan hutan karet, lahan bekas hutan dan semak alang-alang di Jambi. Habitat yang terkait dengan scrub typhus termasuk hutan yang telah terganggu oleh aktivitas manusia, tepian dari hutan lebat, bekas alih fungsi hutan, daerah pinggiran sungai, lahan yang sebelumnya dijadikan area pertanian dan perkebunan.

Siklus hidup tungau Leptotrombidium sp. dimulai dari telur, larva, nimfa, dan dewasa (metamorphosis sederhana). Bentuk larva Leptotrobidium sp. disebut chiggers. Larva Leptotrobidium sp. mempunyai warna tubuh kuning dan merah. Makanan dari larva ini berupa jaringan kulit yang cair, bukan darah. Hal ini disebabkan karena chelicerae (organ termodifikasi pada tungau yang berfungsi sebagai alat makan) terlalu pendek untuk mencapai pembuluh darah. Setelah makan, larva akan menuju ke tanah dan menjadi nimfa. Nimfa Leptotrobidium sp. berwarna merah dan tidak berbahaya bagi manusia. Tahap pasca larva, Leptotrobidium sp. tidak menjadi parasit lagi. Nimfa dan dewasa akan berganti menjadi memakan jaringan tanaman.

Demikian sedikit tulisan dari saya. Semoga bermanfaat. Salam !

Bacaan lebih lanjut

Kelly, D.J., P.A. Fuerst, WM. Ching, and A.L. Richards. 2009. Scrub Typhus: The Geographic Distribution of Phenotypic and Genotypic Variants of Orientia tsutsugamushi. Antigenic and Genetic Diversity of Orientia, CID: 48 (Suppl3).

Liat, L.B., S. Sigit dan T.R. Hadi. 1986. Status of Commensal Rodent-Borne Diseases Research in Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 14 No.3, 1-34.

Liat, L.B. T.R. Hadi,   Sustriayu, and S. Gandahusad. 1978. Prelimanary Survey Of Rodents in Two Transmigrations Schemes in South Sumatra, Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol.6 No.1.

Li, T., Z. Yang, Z. Dong, and M. Wang. 2014. Meteorological Factors and risk of scrub typhus in Guangzhou, southern China, 2006–2012. BMC Infectious Diseases 14:139.

Nurisa, I dan Ristiyanto. 2005. Penyakit Bersumber Rodensia (Tikus dan Mencit) Di Indonesia. Jurnal Kesehatan Ekologi, Vol. 4 No. 3, 308-319.

Nurisa, I., T.R. Hadi dan N. Nurindriani. 1988. Bionomik Tungau Vektor Scrub Typhus dan Hospesnya di Daerah Transmigrasi Kumpeh, Jambi. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol.16 No.2. 35-48.

Sharma, A.K. 2013. Entomological surveillance for rodent and their ectoparasites in Scrub Typhus affected areas of Meghalaya, (India). Journal of Entomology and Zoology Studies; 6: 27-29.

Sharma, P., R. Kakkar., S.N. Kaore.,V.K., Yadav., R. Sharma. 2010. Geographical Distribution, Effect of Season and Life Cycle of Scrub Typhus. Jk Science, Vol. 12 No. 2, 63-64.

Saxena, V.K. 1989. Chigger mite infestation of small mammals in feral biotopes of public park area of South Delhi. Journal Com Dis, 21(4):360-364.

Takahashi, N., K. Machida, M. Murata, H. Misumi, E. Hori, A. Kawamura, and H. Tanaka. Seasonal Development of Leptotrombidium pallidum (Acari: Trombiculidae) Observed by Experimental Rearing in the Natural Environment. J. Med. Entomol. 30 (2): 320-325.

Takahashi, M., H. Misumi and S. Noda. 2014. Leptotrombidium suzukii (Acari, Trombiculidae): A New Species of Chigger Mite Found on Apodemus speciosus (Rodentia, Muridae) on Nakanoshima Island in the Tokara Islands, Kagoshima Prefecture, Japan. Bull. Natl. Mus. Nat. Sci., Ser. A, Vol 40 (4), pp. 191–199.

Traub, R., and C. L. Wisseman, Jr. 1974. The ecology of chigger-borne rickettsiosis (scrub typhus). J. Med Entomol. 11: 237-303.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !