Cerita dikala Hujan

Hujan membasahi kampungku sore ini, air dan dentuman suara petir beriringan, menjadikan keduanya seakan begitu mesra

Seolah tak mau kalah, angin bertiup semakin kencang, membawa butir-butir kecil air hujan, sengaja aku keluar rumah dan duduk di teras, sambil mengingat-ngiat masa-masa kecil dulu.

Sembari melontarkan senyum dan ingatan ini kembali memacu masa lalu, sembari pula aku dibuat tersenyum dengan kisah-kisah masa laluku

Dulu ketika hujan sore seperti ini biasanya aku sengaja berhujan-hujanan, berkawan dengan air hujan bersama teman-teman mengajak mereka untuk bermain, berbagai jenis permainan kala itu

Seperti hanya sekedar lari-larian, grobad slodor dan berbagai jenis permainan tradisional yang lain. Ada juga tuh permainan yang agak ekstrim sengaja mengikuti arus di sungai, di kampungku disebut kelen.

ilustrasi via lukisanindo.com

ilustrasi via lukisanindo.com

Di tengah asyiknya lamunan mengingat-ingat masa kecil dulu tiba-tiba teman masa kecilku datang menyapaku, namanya Imam, hay,,, hujan-hujan kwoh kenapa duduk di teras? Hah Imam, agak kaget karena tadi aku sedang melamun, duduk di teras sendiri sambil senyum-senyum, ahh kamu sedang jatuh cinta ya? Sahut Imam, tidak, tidak jawabku, aku hanya sedang mengingat-ingat masa kecil kita dulu.

Imam hanya tertawa. Hahaha. Sudah setua ini kamu masih suka mengingat-ingat masa kecil pantes kamu sulit untuk move-on. Hih, apaan sih, kok jadi move-on, eh ngomong-ngomong asyik kali yah kalau kita hujan-hujanan sore ini.

Besokkan libur, tak salahkan sesekali kembali kemasa lalu, bukankah di pekerjaan ketemuanya hanya soal yang serius-serius saja, malaslah aku sudah mandi, sudah ganteng begini kok malah hujan-hujanan.

Yaelah gaya banget si Imam loh! Memang kalau sudah mandi terus tidak boleh hujan-hujanan gitu? Tanyaku. Tidak juga sih Cuma apa coba kata orang, kita udah gede masa hujan-hujanan.

Halah peduli amat kata orang, toh kita tidak merugikan mereka? Sementara aku terus membujuk Imam, datanglah Munib untuk membeli sabun di warungku, hay bro Munib pulang kapan? Bagaimana kabarnya sehat? Wah teman kita yang satu ini sudah sukses ya diperantauan, lihat tuh perutnya makin buncit saja.Hahaha, kata Imam.

Ahhh namanya hidup diperantaun, tetap masih bahagialah hidup di desa, iya memang Munib bekerja di Jakarta, sementara aku di Purwokerto dan Imam di kampong saja berwirausaha.

Mumpung kita sedang kumpul bersama nih, ayolah kita ngopi-ngopi dulu toh juga di luar hujan masih sangat lebat, wah ide bagus nih, baiklah kalau begitu aku bikin kopi dulu sebentar di dalam.

Sementara aku membuatkan kopi, Imam dan Munib masih asyik ngobrol membuktikan rasa kangen mereka, karena selepas lulus SMK kita memang jarang sekali bertatap muka.

Serius bener, pada lagi ngobrolin apa sih? Pasti perempuanya?Haha candaku kepada mereka, ahhh kamu, yang ada dipikiranmu Cuma perempuan dan kopi saja, ucap Munib padaku.

Sial, nda juga kali, aku kadang-kadang juga memikirkan kapan kita mau menikah. Haha,, udah, udah nda usah ngomong nikah, nikahlah kerja aja masih belum mapan.

Eh ini kopinya di minum, wah pas banget nih hujan-hujan gini memang asyiknya ngopi dan ngobrol-ngobrol kaya gini. Apalagi ketemu dengan temen-temen masa kecil dulu ya. Kaya kita inih.

Iya juga ya Mam, dulu kita kemana-mana bersama, apalagi kalau hujan seperti ini, bakalan seneng banget kita, kejar-kerjaran dan bermain air bersama.

Belum lagi kalau ada Siti bakalan tambah seneng kita ya? Ehh iyang omong-ngomong soal Siti, dia sekarang hidup dimana ya? Emm,,, katanya sih di Pemalang ikut suaminya dan sekarang sudah punya anak dua

Ngapain Tanya-tanya Siti Nib, kamu merasa menyesal apa Siti sudah menjadi milik orang lain, yaelah Tanya saja dibilang gitu, lah namanya juga temen sepermainan kita dulu.

Ingat apa nda dulu kita pernah ngerjain dia pas hujan-hujan seperti ini, sandalnya di lempar ke sungai, seketika Siti menangis dan kita dapat marah dari orang tuanya lalu kita disuruh mengganti sandal itu.

Iya iya iya aku ingat, Wah itu dulu yang lempar Imam tuh aku cuma, bilang lempar, lempar saja, lah kamu yang nyuruh juga Nib. Haha.

Tetapi jaman dulu nda seperti sekarang ya? Kalau jaman dulu bebas laki-laki dan perempuan bermainan bersama.

Kalau sekarang mah ada anak laki-laki dan perempuan bermain bersama dibilang pacaran.

Memang jaman dulu dan sekarang berbeda, makanya bahagialah kita yang lahir di jaman dulu, kita masih asyik bermain di sawah, hutan dan bermain permainan tradisional

Anak sekarang mah paling mainannya game saja, kalupun mau bermain di luar ketemunya sama gedung-gedung jarang sekali lahan terbuka seperti masa-masa kecil kita dulu iyakan?

Bener-bener Munib menambahkan, interaksi social bagi anak sekarang jarang sekali ditemui, mereka hanya asyik bermain Game dan HP mereka

Kalau pun ketemu dengan teman-teman sebayanya paling cuma di sekolah, kalau sudah di rumah ya sudah di rumah saja, kalau tidak meraka dipaksa mengikuti les oleh kedua orang tuanya.

Padahal interaksi sosial ini penting bagi tumbuh kembang anak, salah-satu manfaatnya menjadikan anak menjadi pribadi yang peduli dan tidak kaku dengan lingkungan dan warga sekitar.

Coba bayangkan dengan masa-masa kecil kita dulu, yang sungguh begitu menyenangkan, kita bebas bermain di hutan, sungai, sawah, kita akrab dengan manusia dan tentunya alam.

Sisi sosial anak sekarang memang kalau diperhatikan agak kurang ya? Mereka tumbuh dengan pribadi yang tertutup, pendiam, teman setia mereka ya media sosial.

Kalau dulu kita kalau ada masalah, kita saling cerita antara satu dengan yang lain, tetapi bagi anak-anak sekarang, teman curhat mereka adalah Facebook dan media sosial yang lain.

Untuk hanya sekedar menyapa ke orang yang lebih tua juga enggan, cuek tak peduli orang dan lingkungan sekitar, kayanya mereka hanya peduli jika kuota internet mereka habis, langsung merengngek-rengek pada orang tua minta dibelikan pulsa.

Nampaknya kita memang sedang mengalami pergeseran social ya? Bener juga sih Imam dan Munib membenarkan.

Ahh sudahlah mari lanjut ngopi dan besok yuh kita jalan-jalan ke bukit dibelakang desa, sambil bersepeda kayanya asyik nih.

Boleh boleh, okeh sampai ketemu besok dan ingat bawa kopi ya? Huh kopi, lagi, kopi lagi. Iya iya, besok kita akan bawa kopi yang banyak khusus buat kamu, nah gitu kan bener-bener plen. Huhu

Hujan pun sudah reda Imam dan Munib bergegas pulang, karena waktu sudah magrib dan mereka harus shalat berjamaah di mushola di dekat rumah kami.

Okeh kami pulang dulu ya jangan lupa besok pagi kita bersepeda. Okeh siap kataku sambil merapikan membawa gelas bekas kopi ke dalam rumah.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !