Aku, Kamu, dan Kuda Binal Masalaluku Itu

Aku dan Masalauku

Kembali ku pacu kuda binal yang sudah tak lagi perawan. Di awali dengan makan pagi di GOR Purwokerto bersama kawan. Sehabis perut terisi, Ku pacu menuju Baturaden, ku habiskan bersama kawan di Bukit Bintang yang membuat ku belajar banyak hal. Ku sebut dia adek, kami bercerita banyak hal, membahas banyak hal, dan bersepakat tentang banyak hal. Lagu demi waktu “ ungu” manjadi lagu inspirasi dalam perjalanan di awal dan di akhiri dengan lagu Cinta Terpendam milik “The Rain” di akhir.

Tepat pukul 12.13 ku arahkan kuda binal melalui jalan penuh kenangan disetiap jengkalnya, jalan Purwokerto_Ajibarang namanya. Jalan yang sama, suasana yang selalu sama namun perasaan yang samasekali berbeda. Akh ..sudahlah.. 01 januari 2013 semangat baru harus terbentuk menjadi motivasi baru. Biarkan taun lalu menjadi perjalanan penuh makna yang akan selalu saya ingat selama saya hidup, yang akan selalu saya kenang dengan berkunjung dan mengingat tapak tilas di tahun-tahun selanjutnya.

Kini harapan, mimpi, semangat, dan perjuangan kembali ku arahkan ke desa bersejarah. Cikawung namanya..kembali dan kembali ke kisahku, semangat , lalu perjuangan. Waktu kembali menunjukan bakat keajaibannya. Dalam perjalanan, hanya dua hal yang aku pikirkan. Tentang fokus pada keselamatan bersama kuda binal dan tentang apa tujuan ku di awal.

Terimakasih Tuhan,,terimakasih. Ku lirik sepidometer kuda binal, dia mulai mengeluh minta minum, sabar kuda binal, Tunggu sebentar.  Ku hentikan kuda binal di POM Kali bagor, ku lihat antrian panjang kuda-kuda perawan dengan warna-warna menawan. Tenang kuda binal kau yang terbaik buatku. “ Kuda Binal tersenyum ragu”.

Aku dan Masalauku

“Berapa mas”, sapa seorang wanita berseragam merah khas Pertamina. Ku buka dompet, ku keluarkan selembar kertas merah bergambar Sultan Hasanudin, lalu ku jawab” Premium”. Kusodorkan dengan sopan selembar kertas merah itu, kubuka mulut kuda binal yang berkarat, lalu ku ucapkan” selamat minum kuda Binal, puaskan hausmu”.

Langit mulai menghitam di barat dan tujuankupun ke barat. Perut mulai memberontak anarkis, memprovokasi cacing-cacing untuk berdemo dan berteriak Mi Ayam-mi ayam katanya. Ku stater kuda binal namun belum menyala. Tiga kali ku coba, namun masih tetap belum menyala.

“manual Tuan” teriak kuda binal, lalu ku selah seperti menggenjot sepeda. Nder..nder..mesin tangguh kuda binal akhirnya menyala. Ku arahkan ke Barat dengan perasaan carut marut. Mendung di barat berpindah ke utara, menggambarkan hati ku di tahun 13..sudahlah..semangat” teriak kuda binal mengingatkan Tuanya”.

Cilongok mulai diguyur tangisan alam. Ku hentikan kuda binal di seberang kiri jalan, tepat di warung Mi Ayam. Lalu Tuan pengemudi Kuda Binal Makan mi ayam ,tanpa saos pastinya, beliau memenuhi tuntutan lambung dan cacing-cacing anarkis yang sedari tadi berdemo seperti Buruh-Buruh di seluruh kolong Nusantara meminta kenaikan UMR dan UMP taun lalu. 15 menit berlalu dengan cepat. Lambung dan cacing sudah terdiam.

“bergegas tuan !, hujan sudah menyapa” kembali kuda binal berteriak mengingatkan. Kali ini tidak aku stater kuda binal, ku genjot dengan penuh rasa bersalah karena aki GS kuda binal kering dari air aki. Mantel sosial sudah ku kenakan. Kembali ku pacu kuda binal menuju barat Ajibarang. Semakin ke barat alam semakin menangis, tanah semakin basah, aspal semakin licin. Lubang-lubang jalan mulai terisi penuh oleh air. Hati-hati” kembali kuda binal berteriak pada Tuanya. Ajibarang terlewat, Cikawung menampakan wajahnya. Jembatan penghubung Ajibarang Cikawung menjadi penanda perbatasan, perasaan semakin bergolak hebat.

Entahlah,

..hari ini banyak sekali yang mempermainkan. Dari perasaan kecewa, sedih, gila , sampai perasaan grogi pada rumah di barat sana. Rumah yang sudah beberapa kali saya kunjungi, rumah yang berisi motivasi, cinta, perjuangan dan mungkin keangkeran. Entahlah.., kali ini sungguh ku beranikan untuk mengunjunginya kembali. Sekali lagi dan sekali lagi. Dan kali ini sendiri..”Ya Tuhan…siapa saya, dari mana saya, apa yang saya bawa, untuk apa, dan nanti akan bagaimana..? pertanyaan bertumpuk dan berjubel saat kuda binal mulai menemukan gang sempit ke sebelah kiri. Tenang” teriak kuda binal kembali mengingatkan,, lampu sen kuda binal ku isyaratkan ke sebelah kiri. Kuda binal terlihat tersenyum anggun kepada Tuanya, dan berbisik” toch kamu sudah sampai, turunlah, tenanglah, lepaskan mantel dan ucapkan lah salam. Ku turuti semua bisikan Kuda binal, ku buka mantel dengan sangat perlahan, ku amati sekitar.

Air hujan terasa lembut menyentuh kulit saat mantel sosial ku buka. Dengan sekali gerak, ku tinggalkan kuda binal di halaman yang masih hujan. Tanpa protes, kuda binal menyemangati dengan wajah damai dan berbisik” masuklah, tidak apa-apa tuan,, saya disini menunggu. Lalu aku berkata, “tidak papa kamu hujan-hujanan di halaman kawan ?, bisikku..kuda binal menjawab dengan sangat manja ”tidak apa-apa tuan,,masuklah.!”. senyumnya menguatkan ku untuk mengetuk pintu kayu dan mengucap “asalammualaikum”. Ketukan dan salam pertama nihil. Kembali ku coba dengan ragu-ragu, thok-thok-thok, asalammualaikum?..kali ini sosok yang amat saya kenal membukakan Pintu, dan menjawab salamku dengan sangat merdu “ waalaikumsalam”..senyum manisnya mengembang seperti sakura-sakura jepang di musim sakura.

Semua rasa ragu, semua rasa was-was, semua rasa panik, semua rasa kecewa, hilang tak berbekas. Peluru-peluru hujan yang semakin keras menerjang atap teras tak lagi saya hiraukan. Kuda binal yang kehujanan di luar tak lagi saya perdulikan. Kini saya larut dalam pertemuan yang dirindukan. Saya terbang mengenang kejadian-kejadian dalam setiap tarikan senyum yang Ia berikan. Perasaan ku kembali takluk dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Penyakit lama yang terkungkung kini menyebar seperti virus DNA yang menghegemoni dan menguasai setiap proses replikasi, transkripsi dan translasi sel-sel tubuh. Akhirnya saya masuk dan berbincang. Bertanya kabar, lalu bercerita dan bercanda…Dunia menjadi Cinta…dan inilah surga….bersambung……..

“waktu terlalu baik. Dia memberikan semua yang dia punya pada ku, bahagia, sedih, kecewa, lalu bahagia lalu kecewa dan sedih bersama-sama. Ia berikan semua yang ia punya. Seperti pagi ini, waktu kembali memberikan sisa rindu yang dia punya. Menumpahkanya pada altar hatiku yang terluka. Menguburnya dalam kabut pagi yang belum sempat terbuka. Menanamnya dalam cinta yang tak sempat berbunga. Membasahinya dengan wangi air surga yang belum sempat terhirup, membunuh wanginya yang belum sempat hidup.

Terimakasih waktu, terimakasih ku ucapkan padamu..kau kawan sekaligus lawan yang paling kejam. Saat itu Pagi terasa  sepi, namun gelora rindu memberontak melawan kenyataan.

Pagi ini hatiku beku, sepi dan kaku”..02-01-2013.

About Tohir 829 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*