Contoh Makalah Komprehensif GURU SEBAGAI FASILITATOR DALAM STRATEGI ACTIVE LEARNING

GURU SEBAGAI FASILITATOR
DALAM STRATEGI ACTIVE LEARNING

A. Pendahuluan
Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Seorang guru mempunyai beberapa peranan yang sangat penting untuk mendukung proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru tidak dapat digantikan, meskipun di jaman yang modern seperti sekarang ini. Seberapapun canggihnya peralatan yang ada tidak dapat menggantikan posisi guru, karena masih banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran.
Tugas dan peran guru merupakan salah satu dari kewajiban sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya, yaitu dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara. Hal ini penting karena guru merupakan orang tua kedua setelah keluarga yang memiliki beberapa peranan dalam membentuk anak didik yang memiliki kepribadian yang baik dan pengetahuan yang luas sehingga dapat bersaing di dunia pendidikan baik lokal, nasional, maupun internasional.
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, salah satunya adalah guru berperan sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang dapat memberikan kemudahan dalam kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia menyebabkan anak didik malas belajar. Disinilah tugas guru sebagai fasilitator, yaitu bagaimana menyediakan fasilitas untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Strategi active learning merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Karena ketika menerapkan strategi active learning maka siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik mental maupun fisik.

B. Pembahasan
1. Guru Sebagai Fasilitator
Kosa kata guru berasal dari kosa kata yang sama dalam bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dan sengsara”. Dalam tradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai “maharesi guru” yakni para pengajar yang berttugas untuk menggembleng para calon biksu di bhinaya panti (tempat pendidikan bagi para biksu).
Sementara guru dalam bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyaarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Seorang guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri teladan (panutan) bagi semua muridnya.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, guru yang juga disebut tenaga pengajar adalah tenaga pendidik yang khusus dengan tugas mengajar, yang pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan pada jenjang pendidikan tinggi disebut dosen.  Sedangkan dalam Undang-undang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Menurut Warsono dan Hariyanto fasilitator adalah seorang yang membantu peserta didik untuk belajar dan memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam mencapai tujuan pembelajaran .
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Guru sebagai fasilitator adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki keterampilan-keterampilan untuk membantu peserta didik belajar secara mandiri.
2. Strategi Active Learning
a. Pengertian Strategi Active Learning
Dalam KBBI, strategi adalah ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijakan tertentu dalam perang dan damai.
Menurut Pat Hollingsworth dan Gina Lewis, Active learning adalah siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik mental maupun fisik. Pembelajaran aktif itu penuh semangat, hidup, giat, berkesinambungan, kuat, dan efektif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami.
Menurut Melvin L. Silberman,  Active learning atau belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran. Juga terdapat teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain.
Dari penjelasan ini, dapat diambil satu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan strategi active learning adalah suatu cara atau strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisioasi peserta didik seoptimal munngkin sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efisien dalam kehidupan mereka sehari-hari.
b. Latar belakang penerapan active learning
Secara historis, perlunya pembelajaran aktif sudah dirasakan oleh Sophocles (Yunani), 5 (lima) abad SM yang lalu mengatakan: “Seseorang harus belajar dengan cara melakukan sesuatu, karena walaupun Anda berfikir telah mengetahui sesuatu, Anda tidak akan memiliki kepastian tentang hal tersebut sampai Anda mencoba melakukannya sendiri .” Identik dengan pendapat Sophocles, Seorang filosof dari Cina (Konfusius) mengatakan:
What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa)
What I see, I remember (apa yang saya lihat, saya ingat)
What I do, I understand (apa yang saya lakukan, saya paham)
Kata-kata bijak konfusius tersebut dijabarkan oleh Melvin L. Silberman menjadi paham belajar aktif sebagai berikut:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan ketrampilan
Apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai
Oleh karena itu belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Belajar aktif adalah cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan salah satu atau dua indera saja mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama.
Berikut merupakan alasan mengapa active learning sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum menurut Hisyam Zaini, dkk :
1) Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.
2) Realita bahwa peserta didik mempunyai cara belajara yanng berbeda-beda.
3) Dari sisi pengajar/guru, sebagai penyampai materi, strategi active learning akan sangat membantu dalam melaksanakan tugas-tugas keseharian.
c. Prinsip-Prinsip Strategi Active Learning
Dalam penerapan Strategi Active Learning seorang guru harus mampu membuat pelajaran yang diajarkan itu merangsang daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan bagi siswa. Untuk itu, seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam menerapkan Strategi Active Learning. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Semiawan (2002) dan Zuhairini (1993), prinsip-prinsip penerapan Strategi Active Learning sebagai berikut :

1) Prinsip Motivasi
Menurut Richard I. Arends, Motivation is usually defined as the processes that stimulate our behavior or arouse us to take action. It is what makes us act the way we do . Sebagai seorang guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan, bahkan ditingkatkan dalam diri siswa.
Adapun cara memberi motivasi menurut pendapat Abdulloh ‘Uluwan, yaitu:
 ومن هذهالوسائل تشجيع الولد بالهدية في كل أمريحسنه
 ,أودراسة  يتفوّق بها.
2) Prinsip Latar atau Konteks
Para guru perlu menyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilah, sikap, dan pengalaman yang telah dimiliki para siswa. Dengan demikian, para siswa akan lebih mudah menangkap dan memahami bahan pelajaran yang baru.
3) Prinsip Keterarahan pada Titik Pusat atau Fokus Tertentu
Seorang guru diharapkan dapat membuat suatu bentuk atau pola pelajaran agar pelajaran tidak terpecah-pecah dan perhatian murid terhadap pelajaran dapat terpusat pada materi tersebut. Untuk itu, seorang guru harus merumuskan dengan jelas masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab.
4) Prinsip Hubungan Sosial atau Sosialisasi
Dalam belajar, para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak.
5) Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Pada hakikatnya, anak-anak melakukan belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya.
6) Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Menurut Zuhairini dkk (1993), masing-masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Untuk itu para guru diharapkan tidak memperlakuka sama terhadap siswa-siswanya. Seorang guru diharapkan dapat mempelajari perbedaan itu agar kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapat ditumbuhkembangkan dengan seoptimal mungkin.
7) Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa informasi yang telah dimiliki. Jika para siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah menggairahkan.
8) Prinsip Pemecahan Masalah
Guna mencapai tujuan-tujuan, para siswa diharapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah. Para guru hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh taraf kemampuan para siswa.
d. Macam-macam Strategi Active Learning
Melvin L. Silberman, mengklasifikasikan strategi pembelajaran aktif sebagai berikut :
Tabel 1
Strategi Pembelajaran Aktif
No Klasifikasi Strategi
1 Pembentukan Tim 1. Bertukar Tempat
2. Siapa Saja yang Ada di kelas
3. Resume Kelompok
4. Prediksi
5. Iklan Televisi
6 Teman yang Kita Miliki
7. Benar-benar Kian Mengenal
8. Benteng Pertahanan
9. Mengakrabkan Kembali
10. Hembusan Angin Kencang
11. Menyusun Aturan Dasar Kelas
2 Penilaian Sederhana 12. Pertanyaan Penilaian
13. Pertanyaan yang Dimiliki Siswa
14. Penilaian Instan
15. Sempel Perwakilan
16. Persoalan Pelajaran
3
Pelibatan Belajar Langsung
17. Berbagi Pengetahuan secara Aktif
18. Merotasi Pertukaran Pendapat Kelompok Tiga Orang
19. Kembali ke Tempat Semula
20. Menyemarakan Suasana Belajar
21. Bertukar Pendapat
22. Benar Atau Salah
23. Bertanggung Jawab Terhadap Mata
Pelajaran
4 Belajar dalam Satu
Kelas Penuh 24. Pikiran yang Penuh Tanya Selalu Ingin
Mengetahui
25. Tim Pendengar
26. Membuat Catatan dengan Bimbingan
27. Mata Pelajaran ala Permainan Bingo
28. Pengajaran Sinergis
29. Pengajaran Terarah
30. Menemui Pembicara Tamu
31. Mempraktikan Materi yang Diajarkan
32. Yang Manakah Kelompok Saya?
33. Menjadi Kritikus Tayangan Vidio
5 Mestimulasi Diskusi Kelas 34. Debat Aktif
35. Rapat Dewan Kota
36. Keputusan Terbuka Tiga Tahap
37. Memperbanyak Anggota Diskusi Panel
38. Argumen dan Argumen Tandingan
39 Membaca Keras-keras
40. Pengadilan oleh Majelis Hakim
6 Pengajuan Pertanyaan 41. Belajar Berawal dari Pertanyaan
42. Pertanyaan yang Disiapkan
43. Pertanyaan Pembalikan Peran
7 Belajar Bersama 44. Pencarian Informasi
45. Kelompok Belajar
46. Pemilihan Kartu
47. Turnamen Belajar
48 Kekuatan Dua Kepala
49. Quiz Tim
8 Pengajaran Sesama Siswa 50. Pertukaran Kelompok dengan Kelompok
51. Belajar ala Permainan Jigsow
52. Setiap Siswa Bisa Menjadi guru
53. Pemberian Pelajaran Antar Siswa
54. Studi Kasus Bikinan Siswa
55. Pemberitaan
56. Poster
9 Belajar Secara Mandiri 57. Imajinasi
58. Menulis Disini dan Pada Saat Ini
59. Peta Pikiran
60. Belajar Sekaligus Bertindak
61. Jurnal Belajar
62. Kontrak Belajar
10 Belajar Yang Efektif 63. Mengetahui Yang Sebenarnya
64. Pemeringkatan pada Papan
Pengumuman
65. Apa? Lantas Apa? Dan Sekarang
Bagaimana?
66. Penilaian Diri Secara Aktif
67. Peraga Peran
11 Pengembangan Keterampilan 68. Formasi Regu Tembak
69. Pengamatan dan Pemberian Masukan
Secara Aktif
70. Pemeranan Lakon yang Tidak Membuat
Grogi Siswa
71. Pemeranan Lakon oleh Tiga Orang
Siswa
72. Menggilir Peran
73. Memperagakan Caranya
74. PemeragaanTanpa Bicara
7 5. Pasangan dalam Praktik Pengulangan
76. Pemberian Peran
77. Lempar Bola
78. Kelompok Penasehat
12 Peninjauan Kembali 79. Pencocokan Kartu Indeks
80. Peninjauan Ulang Topik
81. Memberikan Pertanyaan dan
Memberikan Jawaban
82. Teka-teki Silang
83. Meninjau Kesulitan pada Materi
Pelajaran
84 Bowling Kampus
85. Ikhtisar Siswa
86. Tinjauan ala Permaianan Bingo
87 Tinjauan ala Permainan “ Hollywood
Squeres”
13 Penilaian Sendiri 88. Mempertimangkan Kebali
89. Keuntunagan dan Investasi
90. Galeri Belajar
91. Penilaian Diri Secara Fisik
92. Mozaik Penilaian
14 Perencanan Masa Depan 93. Tetaplah Bersama
94. Stiker yang Sangat lengket
95. Dengan ini Saya Tetapkan bahwa…
96. Kuesioner Lanjutan
97. Berpegang Erat
15 Ucapan Perpisahan 98. Papan Scrabble Perpisahan
99. Menjalin Hubungan
100. Foto Bersama
101. Ujian Akhir

e. Kelebihan Strategi Active Learning
Menurut Silberman (1996) yang dikutip oleh Agus N. Cahyo, active learning dalam pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1) Peserta didik lebih termotivasi
2) Mempunyai lingkungan yang aman
3) Partisipasi oleh seluruh kelompok belajar
4) Setiap orang bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
5) Kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya
6) Informasi menjadi lebih mudah untuk diterima dan diterapkan
7) Pendapat induktif distimulasi (tidak sebatas diberikan, tetapi juga dieksplorasi)
8) Berpartisipasi mengunngkapkan proses berfikir mereka
9) Memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
10) Memberi kesempatan untuk mengambil resiko

f. Kelemahan Strategi Active Learning
Sedangkan Menurut Silberman (1996) yang dikutip oleh Agus N. Cahyo, kelemahan-kelemahan dalam penerapan strategi Active Learning adalah sebagai berikut :
1) Keterbatasan waktu
2) Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan
3) Ukuran kelas yang besar akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan active learning.
4) Keterbatasan materi, peralatan, dan sumber daya akan menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.
5) Keengganan pendidik untuk mengambil resiko seperti, resiko peserta didik tidak akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau mempelajari isi sampai selesai.

C. Guru Sebagai Fasilitator dalam Penerapan Strategi Active learning
Peran fungsional guru dalam pembelajaran aktif adalah sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator, guru menyediakan fasilitas pedagogis, psikologis, dan akademik bagi pengembangan dan pembangunan struktur kognitif siswa. Dengan kata lain, guru wajib menguasai teori pendidikan dan metode pembelajaran serta mumpuni dalam penguasaan bahan ajar agar pembelajaran aktif bergulir dengan lancar.
Menurut Tylee (2000) yang dikutip oleh Warsono dan Hariyanto, menyatakan tugas pokok seorang fasilitator atau peran guru pada saat tatap muka dikelas terutama adalah sebagai berikut:
1. Menilai para siswa
Tugas menilai siswa sebagai prasyarat awal agar observasi terhadap siswa yang dinilai dapat secermat mungkin, guru harus berupaya akrab dengan siswa. Aspek penting dari siswa yang harus dinilai antara lain kemauan belajar dan kecakapan siswa. Kemauan belajar siswa terkait dengan  nilai-nilai, sedangkan kecakapan siswa dalam belajar mengacu kepada pemahaman belajar dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran.
2. Merencanakan pembelajaran
Rencana pembelajaran dapat disusun lebih baik oleh para guru jika para guru telah memahami apa yang akan dinilai dari para siswanya. Selain itu, rancangan pembelajaran juga harus dibuat sesuai dengan kebutuhan dan minat para siswa.
3. Mengimplementasikan rancangan pembelajaran
Terkait dengan implementasikan rancangan pembelajaran, hal utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana cara mengelola kelas dengan sebaik-baiknya, serta mengimplementasikan strategi pembelajaran yang mengakomodasikan berbagai gaya belajar siswa.
4. Melaksanakan evaluasi proses pembelajaran
Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator harus merevisi hasil asesmen siswa. Maksudnya hasil asesmen kelas harus menjadi bahan perbaikan bagi pembelajaran berikutnya.
Menurut Clarke (2005) yang dikutip oleh Warsono dan Hariyanto, menyatakan bahwa fasilitator yang baik harus memiliki karakteristik pribadi tertentu yang mampu mendorong anggota kelompok untuk berpartisipasi. Karakteristik pribadi itu termasuk sikap rendah hati, murah hati, dan kesabaran, yang digabungkan dengan pemahaman, kesediaan menerima dan menyetujui. Teknik-teknik yang sering dilaksanakan oleh seorang fasilitator yang baik antara lain adalah sebagai berikut :
1. Meminta anggota kelompok untuk saling berbagi informasi melalui paparan yang menggunakan gambar-gambar, diagram, atau bantuan media visual lain, ini akan membantu anggota yang lambat belajar.
2. Membagi para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mendorong keberanian anggota yang pemalu atau bersifat tertutup untuk berpartisipasi.
3. Menggunakan diskusi kelompok dan kegiatan kelompok yang menyediakan kesempatan bagi peserta yang lambat belajar untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
4. Meminta kelompok untuk mnyetujui aturan-aturan dasar permainan seperti tidak melakukan interupsi saat anggota lain sedang bicara, menghargai pendangan yang berbeda, serta menyepakati keputusan yang telah disepakati oleh sebagian besar anggota kelompok.
5. Memberikan tugas khusus bagi peserta yang dominan sehingga ada ruang dan waktu untuk berpartisipasi bagi yang lain sambil menjaga agar setiap siswa terlibat aktif.
6. Menangani konflik dengan cara dan pendekatan yang sensitif, sehingga setiap perbedaan yang ada selalu memiliki nilai yang dihargai.
Menurut Yager (1991) yang dikutip oleh R. Rohandi, ada beberapa petunjuk yang diberikan kepada para guru dalam mengembangkan pembelajaran yang bertujuan untuk membantu anak dalam proses konstruksi pengetahuan yang memberi fasilitas untuk memberdayakan anak, yakni sebagai berikut :
1) Mintalah anak untuk bertanya, serta gunakan pertanyaan dan ide anak untuk memulai pembelajaran.
2) Berilah kesempatan dan doronglah anak untuk mengemukakan ide-idenya secara bebas.
3) Tingkatkan kepemimpinan anak, kerja sama, penelusuran informasi, dan melakukan kegiatan/tindakan sebagai hasil dari proses belajarnya.
4) Pergunakan pemikiran, pengalaman dan minat anak sebagai alternatif pengambangan pembelajaran.
5) Doronglah anak untuk menggunakan sumber informasi lain (selain buku paket yang dianjurkan guru), yang berupa tulisan ilmiah atau bahkan tulisan para pakar di bidang sains.
6) Gunakan pertanyaan open-ended dan doronglah anak untuk mengelaborasi pertanyaan dan respon yang disampaikan.
7) Doronglah anak untuk mencari penyebab suatu kejadian, dan doronglah mereka untuk meramalkan konsekuensiya.
8) Doronglah anak untuk menguji ide mereka.
9) Mintalah pendapat/gagasan anak sebelum anak memaparkan idenya atau sebelum menjelaskan konsep/ide yang bersumber dari buku paket.
10) Doronglah anak untuk mengevaluasi konsep/ide yang dilontarkan oleh temannya.
11) Pergunakanlah belajar kelompok yang memungkinkan terjadinya proses saling menghargai dan bekerja sama.

C. Penutup
1. Kesimpulan
Salah satu peran guru adalah sebagai fasilitator. Yang dimaksud dengan Guru sebagai fasilitator adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki keterampilan-keterampilan untuk membantu peserta didik belajar secara mandiri.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru terkait dengan peranannya sebagai fasilitator adalah dengan menerapkan strategi Active Learning pada proses pembelajaran. Strategi active learning adalah suatu cara atau strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisioasi peserta didik seoptimal munngkin sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efisien dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Tugas pokok seorang fasilitator atau peran guru pada saat tatap muka dikelas adalah menilai para siswa, merencanakan pembelajaran, mengimplementasikan rancangan pembelajaran, dan melaksanakan evaluasi proses pembelajaran.
Teknik-teknik yang sering dilaksanakan oleh seorang fasilitator dalam strategi Active Learning adalah meminta anggota kelompok untuk saling berbagi informasi, membagi para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil, menyediakan kesempatan bagi peserta yang lambat belajar untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, memberikan tugas khusus bagi peserta yang dominan sehingga ada ruang dan waktu untuk berpartisipasi bagi yang lain sambil menjaga agar setiap siswa terlibat aktif, dan menangani konflik dengan cara dan pendekatan yang sensitif

DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. Learning to Teach. New York: Mc Graw Hill, 2007.
Cahyo, Agus N. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar. Jogjakarta: Diva Press, 2013.
Hollingsworth, Pat dan Gina Lewis. Pembelajaran Aktif: Meningkatkan Keasyikan Kegiatan di Kelas. Terj. Jakarta: Indeks, 2008.
Isriani Hardini dan Dewi Puspita Sari, Strategi Pembelajaran Terpadu …, Hlm.11
Rohandi, R. Memberdayakan Anak Melalui Pendidikan Sains. Yogyakarta: Kanisius, 2009.
Roqib, Moh. dan Nurfuadi. Kepribadian Guru Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru yang Sehat di Masa Depan. Purwokerto: STAIN Press, 2011.
Silberman, Melvin M.,  dkk. Active learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Terj). Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009.
Warsono dan Hariyanto. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.
Zaini, Hisyam,  Bermawy Munthe, dan Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.
عبد الله ناصح علوان . ١٤١٨ه  ـ ١٩٩٧ م . تربية الأولاد الإسلام . بيروت: دار السلام.

Tinggalkan komentar