Contoh Proposal Skripsi “Kualitas Implementasi Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada Pembelajaran Matematika di Beberapa MI”

Kualitas Implementasi Pendekatan 
Realistic Mathematic Education (RME) 
pada Pembelajaran Matematika 
di Beberapa MI Se-Kecamatan Kebasen 
Tahun Pelajaran 2013/2014
A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SD/MI. Pemberian pelajaran matematika di SD/MI merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya.  Oleh karena itu, mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik dimulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama .
Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat penting dan utama untuk dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Karenanya, matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Matematika juga salah satu pelajaran yang memiliki karakteristik berbeda dengan pelajaran lainnya. Siswa harus mempunyai pemahaman, penguasaan yang baik tentang matematika sebagaimana yang dituntut dalam KTSP.
Matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan, alat dalam mencari solusi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari . Konsep yang terdapat dalam matematika selalu berkaitan erat kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari yang dijalani manusia, baik itu yang menyukai matematika maupun mereka yang tidak menyukai matematika. Matematika juga mempunyai peran yang penting dalam penguasaan ilmu dan teknologi.  Hal tersebut memberi arti bahwa sampai batas tertentu, matematika perlu dikuasai oleh semua manusia baik penerapannya maupun pola pikirnya dalam mengadapi kehidupan masa depan.
Dalam hal belajar mengajar matematika perlu diketahui karakteristik matematika. Dengan mengetahui karakteristik matematika, maka seharusnya dapat pula diketahui bagaimana belajar dan mengajar matematika. Karakteristik matematika yang dimaksud adalah obyek matematika bersifat abstrak. Dikarenakan obyek matematika bersifat abstrak, maka belajar matematika memerlukan daya nalar yang tinggi. Demikian pula dalam mengajar matematika guru harus mampu mengabstrasikan obyek-obyek matematika dengan baik sehingga siswa dapat memahami obyek matematika tersebut. Pembelajaran matematika yang sebagian besar siswa kurang menyukai pelajaran tersebut, hendaknya perlu adanya sebuah pendekatan yang tepat dan perlu disertai pemanfaatan alat peraga yang dapat membantu memahamkan siswa dalam belajar matematika.
Erman Suherman, dkk. menyatakan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah mengacu pada fungsi matematika serta pada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Beberapa tujuan umum yang diberikan matematika pada jenjang pendidikan dasar yaitu :
  1. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan didunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak agar dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
  2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Pada saat ini, peningkatan kualitas pembelajaran matematika sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil nilai yang tinggi dalam ujian akhir nasional (UAN). Selain itu, pembelajaran matematika juga penting untuk menjadi dasar dalam hidup bermasyarakat nantinya. 
Namun kenyataan yang terjadi hingga saat ini, pemahaman siswa terhadap materi matematika masih rendah, terutama di jenjang pendidikan dasar. Rendahnya pemahaman siswa akan berdampak pada rendahnya hasil belajar mereka. Rendahnya hasil belajar matematika siswa menurut hasil survey Development of Science And Mathematics Teaching for Primary and Second Education in Indonesia–Japan International Cooperation Agency (IMSTEP-JICA) dikarenakan dalam proses pembelajaran matematika guru umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal . Dalam kegiatan pembelajaran, guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif, memberikan contoh soal, dan memberikan soal-soal latihan. Guru merupakan pusat kegiatan, sedangkan siswa selama kegiatan pembelajaran cenderung pasif. Siswa hanya mendengarkan, mencatat penjelasan, dan mengerjakan soal. Dengan demikian kemampuan penalaran siswa tidak berkembang sebagaimana mestinya. 
Kebermaknaan ilmu pengetahuan merupakan salah satu aspek utama dalam proses belajar, jika ilmu pengetahuan tersebut tidak bermakna bagi siswa, maka pengetahuan tersebut akan sulit diterapkan. Pembelajaran di sekolah akan lebih bermakna jika guru mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman yang ada didalam kehidupan nyata. Kesulitan pada matematika salah satuya disebabkan karena pembelajaran matematika kurang bermakna, sehingga pemahaman siswa tentang konsep matematika masih sangat rendah. Kebanyakan siswa hanya menerima begitu saja apa yang disampaikan oleh guru. Bahkan mungkin mereka tidak tahu untuk apa mereka belajar matematika. 
Dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) maka proses pembelajaran mulai ditingkatkan dengan menggunakan berbagai pendekatan yang lebih menekankan pada kompetensi peserta didik yang mencangkup pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas serta aktivitas peserta didik dalam bertindak . Agar kompetensi yang diharapkan dalam pelajaran matematika dapat dicapai dan ditingkatkan, siswa dilatih dari dini untuk menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan tahu manfaat matematika terutama kaitannya dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Pendidikan matematika pada saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, terutama dikalangan pengambil kebijakan untuk memperbaharui pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja. Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa kearah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat dan menerima gagasan orang lain, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Pendekatan yang akhir-akhir ini mulai diaplikasikan dalam pembelajaran matematika oleh guru-guru khususnya dijenjang pendidikan dasar adalah pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) atau sering disebut juga pendekatan matematika realistik. Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) atau pembelajaran matematika realistik adalah suatu proses membangun pemahaman siswa terhadap materi matematika dengan menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik . Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan paradigma pendidikan sekarang. Tidak dipungkiri kalau pembelajaran matematika selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa matematika adalah alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep/ sifat dan cara menggunakannya. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak bermakna .
Pendidikan matematika realistik sangat dipengaruhi ide Hans Freudenthal (Matematikawan berkebangsaan Jerman-Belanda) yakni matematika sebagai suatu bentuk aktivitas manusia, bukan sekedar obyek yang harus ditransfer dari guru ke siswa . Berdasarkan pandangan Freudenthal tersebut, fokus utama dari pembelajaran matematika bukan pada matematika sebagai suatu sistem yang tertutup, melainkan pada aktivitas yang bertujuan untuk suatu proses matematisasi . Oleh karena itu, pendidikan matematika realistik menghubungkan pengetahuan informal matematika yang diperoleh siswa dari kehidupan sehari-hari dengan konsep formal matematika. Konsep pendekatan matematika realistik sejalan dengan kebutuhan memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar. 
Idealnya, bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan pendekatan (Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika seorang guru mampu menerapkan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)  secara baik dan benar berdasarkan teori yang ada. Namun fakta menyatakan bahwa banyak guru-guru di SD/MI belum mengetahui secara detail implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) berdasarkan teori yang ada sehingga implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) baru sekedar menerapkan beberapa aspek saja. 
Sementara itu, berdasarkan teori yang ada terdapat beberapa indikator yang mencirikan bahwa suatu pembelajaran matematika itu menggunakan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Pembelajaran matematika dikatakan telah menggunakan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) apabila terdapat karakteristik dari pendekatan tersebut yaitu penggunaan konteks/ permasalahan nyata, penggunaan model, pemanfaatan hasil konstruksi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan .
Di Kecamatan Kebasen terdapat 7 Madrasah Ibtidaiyah yaitu MI Ma’arif NU 1 Kaliwedi, MI Ma’arif NU 2 Kaliwedi, MI Ma’arif NU Randegan, MI Muhammadiyah Cindaga, MI Ma’arif NU Bentul, MI Ma’arif NU Kalisalak, dan MI Islamiyah Bangsa Kebasen. Peneliti telah melakukan observasi mengenai implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)  pada ketujuh Madrasah Ibtidaiyah tersebut. 
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada hari Rabu, tanggal 12 Maret 2014, diperoleh informasi bahwa dari 7 Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kecamatan Kebasen ada 4 MI yang telah menerapkan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) dalam pembelajaran matematika. Madrasah tersebut adalah MI Ma’arif NU 01 Kaliwedi,  MI Muhammadiyah Cindaga, MI Ma’arif NU Randegan, dan MI Ma’arif NU Kalisalak.
Dari empat MI yang telah menerapkan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME), peneliti ingin mengetahui apakah pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) yang dilakukan telah sesuai dengan teori pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) yang baik dan benar. Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan observasi mengenai kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) yang diterapkan oleh guru-guru pada empat madrasah tersebut, apakah telah sesuai dengan teori yang ada.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) oleh guru-guru di beberapa Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Kebasen. Sehingga skripsi ini diberi Judul “Kualitas Implementasi Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada Pembelajaran Matematika di Beberapa MI Se-Kecamatan Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika di beberapa Madrasah Ibtidaiyah Se-Kecamatan Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014?”.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika di beberapa MI yang ada di Kecamatan Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini:
  1. Memberikan informasi kepada masyarakat yang ingin mengetahui seberapa baik kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika di beberapa MI di Kecamatan Kebasen.
  2. Sebagai bahan masukan bagi guru MI dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pada pembelajaran matematika.
  3. Dapat membantu sekolah untuk lebih berkembang karena adanya peningkatan pada diri guru dan tercapainya prestasi belajar siswa secara optimal.
  4. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti terkait dengan kualitas implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika di beberapa MI di Kecamatan Kebasen Tahun Pelajaran 2013/2014.
  5. Sebagai sumbang kasih bagi khasanah ilmu pengetahuan di STAIN Purwokerto dalam bidang pendidikan khususnya Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

D. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dan penafsiran yang salah oleh pembaca, maka perlu dijelaskan istilah-istilah yang terkandung dalam judul di atas. Adapun penjelasan istilah-istilah dari judul tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan RME (Realistic Mathematic Education)
Pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek. Sedangkan  pendekatan pembelajaran adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih umum, menginspirasi, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu .
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) atau pendidikan matematika realistik adalah suatu proses membangun pemahaman siswa terhadap materi matematika dengan menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik .
Jadi bisa disimpulkan bahwa pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari-hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep atau dengan kata lain pembelajaran matematika yang berlandaskan pada hal-hal nyata atau riil bagi siswa.
2. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran secara harfiah berarti proses, cara, perbuatan mempelajari, dan perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar . Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran .
Jadi bisa disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui kegiatan yang terencana yang dalam pembelajarannya didukung dengan alat peraga untuk memperjelas suatu proses, sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.
E. Sistematika Penelitian 
Untuk bisa memberikan gambaran yang jelas dari susunan skripsi ini, perlu dikembangkan bab per bab sehingga akan terlihat rangkuman dalam skripsi ini secara sistematis. Sistematika pembahasan dalam skripsi ini meliputi bagian awal memuat halaman judul, pernyataan keaslian, halaman pengesahan, halaman nota dinas pembimbing, motto, halaman persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran. Selanjutnya akan diuraikan secara ringkas lima bab tersebut, yaitu:
Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.
Bab II Landasan Teori pendekatan Realistic Mathematic Education (RME), pembelajaran matematika, kompetensi guru, dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
Bab III Metode Penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel dan indikator penelitian, teknik pengumpulan data penelitian, dan analisis data penelitian.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan yang terdiri dari tiga sub bab. Sub bab pertama berisi tentang deskripsi lokasi penelitian, sub bab kedua berisi tentang penyajian data kuantitatif. Dan sub bab ketiga berisi analisis dari data yang diperoleh peneliti ketika melakukan observasi pada objek/sampel penelitian. 
Pada Bab V Penutup berisi tentang simpulan, saran, dan kata penutup.
Bagian akhir dari skripsi berisi daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan daftar riwayat hidup.
About Tohir 831 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*