Contoh Proposal Skripsi PTK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA JAWA
POKOK BAHASAN AKSARA JAWA
MELALUI PENGGUNAAN MULTIMEDIA 
PADA SISWA KELAS IV SEMESTER II 
DI MI MA’ARIF NU 01 CILONGOK 
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
A. Latar Belakang Masalah
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis, untuk mendorong, membantu, serta membimbing seseorang dalam mengembangkan segala potensinya, dari kualitas yang satu ke kualitas yang lebih tinggi.   
Untuk dapat mendorong, membantu, serta membimbing dalam mengembangkan segala potensinya perlu adanya proses belajar mengajar. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru/dosen dan siswa/mahasiswanya bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa, kurangnya minat dan gairah dan sebagainya. 
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media pembelajaran secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar, karena media pembelajaran digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah dan membantu tugas guru dalam menyampaikan berbagai bahan dan materi pelajaran, serta mengefektifkan dan mengefisienkan anak didik dalam memahami materi dan bahan pelajaran.  Termasuk dalam mata pelajaran Bahasa Jawa.
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki status dan kedudukan yang amat penting. Oleh karena itu Bahasa Jawa mempunyai hak sepenuhnya untuk dihormati dan dipelihara oleh negara. Dalam realisasinya, bentuk penghormatan dan pemeliharaan terhadap bahasa itu salah satunya ialah dengan memasukkan Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran di sekolah formal yang wilayahnya termasuk penutur Bahasa Jawa. 
Di wilayah Jawa Tengah, materi pelajaran Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran muatan lokal wajib untuk seluruh sekolah. Dalam mata pelajaran ini terdapat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa SD/MI kelas IV. Salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa adalah membaca dan menulis dengan menggunakan Aksara Jawa.
Aksara Jawa telah diakui dalam standart Unicode pada tanggal 1 Oktober 2009. Hal ini karena jirih payah Ki Hadiwaratama (Bandung), Ki Sudarto (Jakarta), dan Ki Bagiono Sumbogo (Jakarta), yang bekerja keras selama kurang lebih 3 tahun. Dan mulai tanggal itulah Aksara Jawa (hanacaraka) telah sama kedudukannya seperti aksara-aksara tradisional di dunia lainnya seperti Aksara Arab, Aksara Hiragama, Aksara Kanji, Aksara Devanagari  dan lainnya yang telah dahulu diakui. Dalam aksara-aksara Nusantara, Aksara Jawa merupakan aksara ke-5 yang diakui Unicode setelah Aksara Bugis, Aksara Bali, Aksara Rejang, dan Aksara Sunda.
Dalam dunia pendidikan, Aksara Jawa merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi generasi muda yang mempelajari Bahasa Jawa. Bayangan sulitnya menghafal bentuk-bentuk huruf yang rumit juga banyaknya huruf yang dihafal serta adanya aturan menulis Aksara Jawa yang baku membuat pelajar enggan untuk mempelajari apalagi memperdalam penguasaan baca tulis Aksara Jawa.
Dari hasil studi pada hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2013 dan pada hari Senin, 11 November 2013 yang dilakukan oleh penulis berupa observasi langsung serta wawancara kepada kepala MI Ma’arif NU 01 Cilongok dan guru bidang studi menemukan beberapa fenomena, antara lain : (1) Siswa kesulitan dalam membaca dan menulis Aksara Jawa, (2) Siswa sering lupa ketika guru mereview materi pembelajaran sebelumnya, (3) Siswa cenderung tidak termotivasi saat pembelajaran Bahasa Jawa di kelas dengan menunjukkan sikap acuh pada penjelasan guru, bermalas-malasan, dan tidak tertib, (4) Pembelajaran Bahasa daerah yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode klasikal yakni ceramah dan tugas dengan hanya menggunakan media berupa papan tulis dan buku pelajaran sehingga proses belajar mengajar dikelas tidak bervariasi atau monoton. 
Dari fenomena-fenomena di atas membawa dampak, antara lain: (1) Guru harus mengulang-ulang materi yang diajarkan, hal ini karena siswa tidak belajar mandiri di luar sekolah dan (2) Siswa tidak dapat mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan indicator, nilai ulangan siswa pada pokok Bahasan Aksara Jawa dibawah standar minimum.
Hasil dari pretest yang dilakukan oleh penulis pada hari Senin, 06 Januari 2014 terhadap kelas IV MI MA’arif NU 01 Cilongok hanya 4 dari 34 siswa yang nilainya mencapai KKM, dengan perincian sebagai berikut :
No Nama Nilai
1 Nofita Dwi Saputri 32,5
2 Oki Yoga Saputra 32,5
3 Oki Ahsani 32,5
4 Dwi Yuliani 82,5
5 Puput Reza Heriyanto 47,5
6 Salman Bayu Asyrofi 72,5
7 Ahda Fatha Nafi 57,5
8 Anis Muzayanah 52,5
9 Arif Budiyansyah 50
10 Aris Sugiyatno 32,5
11 Dhiyo Nur Auzaie 57,5
12 Faiz 32,5
13 Ifan Maulana 45
14 Izza Muhammad Farid 75
15 Lutfi Hilmi Pristiadi 22,5
16 Mesna Amelia Amanah 32,5
17 Miftahul Mas’na 32,5
18 Nangimatus Zahro 32,5
19 Ngismatul Khoeriyah 32,5
20 Nurul Afiani 35
21 Nurul Mukaromah 50
22 Rina Anggraeni 45,5
23 Rudi Setiawan 32,5
24 Safira Tania 32,5
25 Sefi Dwiyanti 52,5
26 Triyana Wahyuni 35
27 Uswatun Khasanah 77,5
28 Wahyu Eko Prasetyo 32,5
29 Nela Azizah 32,5
30 Neli Mafufah 45,5
31 Feri 42,5
32 Isna Fazri M.N. 32,5
33 Rizki Maulana 12,5
34 Arsi Amalia Saputri 52,5
Dari fenomena-fenomena diatas, dapat disimpulkan bahwa banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh Bapak Risun, S.Pd.I. selaku guru bidang  studi mata pelajaran Bahasa Jawa kelas IV di MI Ma’arif NU 01 Cilongok dalam kegiatan pembelajaran. Permasalahan tersebut diantaranya adalah: pertama, kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, karena guru cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran dan hampir tidak ada interaksi antar siswa. Hanya beberapa siswa yang mengajukan pertanyaan pada guru dan terbatas pada penjelasan guru yang kurang dimengerti oleh siswa. Kedua, rendahnya kemampuan siswa untuk memahami materi Aksara Jawa pada mata pelajaran Bahasa Jawa, yang dibuktikan dengan rendahnya jumlah siswa yang mencapai KKM. Ketiga, kurangnya alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa. Jam pelajaran yang tersedia untuk mata pelajaran Bahasa Jawa hanya dua jam pelajaran dalam satu minggu, padahal materi yang termuat sangat padat.
Dari beberapa permasalahan diatas, maka permasalahan mengenai  rendahnya kemampuan siswa untuk memahami materi Aksara Jawa pada mata pelajaran Bahasa Jawa perlu segera diatasi. Karena jika tidak segera dicarikan solusinya maka hasil belajar siswa setiap tahunnya selalu rendah dan tidak ada peningkatan. Tentunya itu akan mempengaruhi citra MI Ma’arif NU 01 Cilongok yang sudah baik dimata masyarakat terutama dibidang studi Bahasa Jawa, karena MI Ma’arif NU 01 Cilongok pernah menjadi juara II pidato Bahasa Jawa tingkat Provinsi, juara harapan III Geguritan tingkat Kabupaten, juara I Geguritan Putra serta juara I Geguritan Putri tingkat Kecamatan.
Belajar Bahasa Jawa memerlukan suatu strategi atau metode dan media yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan, agar anak yang masih dalam usia bermain dapat belajar dengan baik tanpa merasa dipaksakan atau dirampas hak bermainnya. Siswa juga memiliki ketertarikan dan minat belajar yang tinggi pada pembelajaran Bahasa Jawa, serta hasil yang diperoleh pun dapat mencapai KKM  yang telah ditentukan atau bahkan diatasnya.
Secara teoritik, permasalahan rendahnya kemampuan siswa untuk memahami Aksara Jawa pada mata pelajaran Bahasa Jawa disebabkan oleh faktor strategi atau media yang digunakan selalu monoton. Maka solusi yang memungkinkan untuk mengatasi masalah tersebut dengan penggunaan Multimedia.
Multimedia merupakan penyajian materi yang menggunakan kata-kata dan gambar-gambar. Teori kognitif multimedia learning memprediksi bahwa murid akan bisa belajar lebih mendalam dari pesan multimedia dari pada dari presentasi dalam satu format (seperti menyajikan hanya dalam format kata-kata atau hanya gambar). 
Menurut pengamatan terhadap kemampuan siswa yang dilakukan oleh CTR (ComputerTechnology Research), manusia akan mengingat hingga 70% dari yang didengar, dilihat, dan dipraktekkannya. Hal ini tentu sangat signifikan jika dibandingkan dengan guru yang menyampaikan materi pembelajaran hanya bercerita dan menerangkan, sebab siswa hanya akan mampu mengingat hingga 30%. 
Dari beberapa uraian diatas, sudah seharusnya permasalahan rendahnya kemampuan siswa untuk memahami Aksara Jawa pada mata pelajaran Bahasa Jawa perlu segera diselesaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan multimedia. 
B. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman judul diatas maka perlu dipertegas istilah-istilah yang digunakan. Adapaun istilah-istilah yang digunakan yaitu :
1. Peningkatan Hasil Belajar
Peningkatan merupakan proses, perbuatan, cara meningkatkan (usaha, kegiatan, dsb.).  Peningkatan juga dapat diartikan sebagai suatu proses menuju arah yang lebih baik.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009: 166), secara etimologis hasil adalah sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan dan sebagainya oleh usaha, pikiran, tanaman-tanaman, tanah sawah, ladang hutan, dsb. 
Menurut Hilgrad dan Bower, belajar (to learn) memiliki arti : 1) To gain knowladge comprehension, or mastery of trough experience or study; 2) To fix in the mind or memory, memorize; 3) To acquire though experience; 4) To become informe of to find out.  Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. 
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa peningkatan hasil belajar adalah usaha atau cara menaikkan atau meningkatkan penguasaan suatu ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran agar menjadi lebih baik. Yang diarahkan untuk menjadi lebih baik disini adalah hasil belajar siswa kelas IV MI Ma’arif NU 01 Cilongok pada mata pelajaran Bahasa Jawa materi pokok Aksara Jawa.
2. Bahasa Jawa
Pelajaran Bahasa Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib di wilayah provinsi Jawa Tengah. Salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa dalam kurikulum muatan lokal adalah meningkatkan kemampuan menggunakan Bahasa Jawa untuk meningkatkan kemampuan intelektual.
Sedangkan yang dimaksud Bahasa Jawa dalam penelitian ini adalah materi pelajaran Bahasa Jawa yang harus diberikan kepada siswa kelas IV  MI Ma’arif NU 01 Cilongok dan pada penelitian ini memfokuskan pada pokok bahasan Aksara Jawa.
3. Aksara Jawa
Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka dan Carakan, adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis Bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali. Setiap huruf pada Aksara Jawa melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat dimodifikasi dengan sejumlah tanda baca vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), konsonan akhir, dan ejaan asing. Huruf memiliki bentuk subskrip yang berguna untuk menulis tumpukan konsonan di tengah kalimat, dan beberapa diantaranya memiliki bentuk “kapital” yang digunakan untuk menulis nama. Terdapat pula tanda-tanda yang setara dengan koma, titik, titik dua, serta kutip, dan terdapat pula tanda yang menunjukkan angka, membuka puisi/tembang, mengawali surat, dll. Aksara Jawa ditulis tanpa spasi (scriptio continua), dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata. 
4. Multimedia
Menurut Hofstter (2001) yang dikutip oleh Suyanto (2005: 21), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi. 
Dalam devinisi ini terkandung empat komponen penting multimedia. Pertama, harus ada komputer yang mengkoorninasikan apa yang dilihat dan didengar, yang berinteraksi dengan kita. Kedua, harus ada link yang menghubungkan kita dengan informasi. Ketiga, harus ada alat navigasi yang memandu kita, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung. Keempat, multimedia menyediakan tempat kepada kita untuk mengumpulkan, memproses dan mengkominikasikan informasi dan ide kita sendiri.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan aplikasi macromedia flash. Macromedia flash merupakan perangkat lunak untuk merancang grafis dan animasi pada web. 
5. MI Ma’arif NU 01 Cilongok
MI Ma’arif NU 01 Cilongok merupakan sebuah lembaga pendidikan setaraf SD bercirikan Islam, bernaung di bawah lembaga Pendidikan Ma’arif NU yang terletak di Jalan H. Toyyib RT 05 RW V Desa Cilongok Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.
Jadi yang dimaksud dengan peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa melalui penggunaan Multimedia bagi siswa kelas IV Semester II Di MI Ma’arif NU 01 Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2013/2014 adalah penggunaan aplikasi multimedia yang dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa yang di dalamnya terdapat unsur-unsur teks, gambar, animasi, dan video yang dipadukan secara interaktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengambil rumusan masalah : “ Apakah ada peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa melalui penggunaan Multimedia bagi siswa kelas IV Semester II Di MI Ma’arif NU 01 Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2013/2014?”
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa melalui penggunaan Multimedia bagi siswa kelas IV Semester II Di MI Ma’arif NU 01 Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2013/2014.
Disamping itu penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi penulis, peserta didik, sekolah, dan penulis, yaitu sebagai berikut :
1. Siswa
Dapat mempermudah siswa kelas IV Semester II Di MI Ma’arif NU 01 Cilongok dalam memahami mata pelajaran Bahasa Jawa dan juga dapat meningkatkan hasil belajar khususnya pada pokok bahasan Aksara Jawa.
2. Guru
a. Menumbuhkembangkan kreatifitas guru Bahasa Jawa dalam bervariasi menggunakan media yang lebih baik dan menarik.
b. Dapat dijadikan pertimbangan dalam peningkatan pembelajaran di kelas, khususnya mata pelajaran Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa.
3. Sekolah
a. Dapat memberikan masukan kepada seluruh warga sekolah untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran.
b. Dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Jawa yang akan meningkatkan citra sekolah dimata masyarakat umum.
4. Peneliti
Dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan multimedia agar pembelajaran lebih menarik perhatian siswa dan siswa menjadi lebih aktif.
E. Kajian Pustaka 
Penelitian tentang peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa sejauh ini belum banyak dilakukan oleh mahasiswa STAIN Purwokerto. Tetapi mahasiswa dari Universitas lain banyak yang melakukan penelitian tentang peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa.
Dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh penulis, ada beberapa skripsi model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang membahas tentang peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa, yaitu :
a. Skripsi Lia Indriyani (082335013) mahasiswi STAIN Purwokerto, dengan judul “ Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Jawa Materi Pokok Huruf Jawa Menggunakan Media Kartu Huruf pada Siswa Kelas III MI Muhammadiyah Kutasari Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2012/2013”. Pada pra siklus presentasenya yaitu 28,57%, kemudian meningkat pada siklus I menjadi 71,42%, selanjutnya pada siklus II juga meningkat menjadi 92,85%.
b. Skripsi Annisa Alfiatun Nurrohmah, yang merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan judul “Peningkatan Keterampilan Membaca Aksara Jawa Melalui Media Flash Cards  pada siswa kelas III SDN Kliwonan 3 Tahun Ajaran 2012/2013”. Berdasarkan data hasil pre-test Keterampilan membaca Aksara Jawa rata-rata kelas hanya mencapai 54 dengan ketuntasan klasikal 23%, jadi siswa yang masih mendapatkan nilai di bawah KKM adalah 77%. Setelah dilaksanakan siklus I terjadi peningkatan, yaitu siswa yang mencapai  KKM adalah 69%.  Kemudian pada siklus II meningkat lagi menjadi 92%.
c. Skripsi Aglis Firmandini, yang merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam upaya meningkatkan ketrampilan menulis Aksara Jawa siswa kelas V SD Negeri 02 Jaten Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012”. Berdasarkan tes prasiklus ketuntasan klasikal sebesar 40,90%, setelah dilaksanakan siklus I terjadi peningkatan, yaitu siswa yang mencapai KKM adalah 61,36%.  Kemudian pada siklus II meningkat lagi menjadi 77,27%.
Secara umum penelitian-penelitian yang digambarkan di atas adalah penelitian tindakan kelas yang ada kesamaan dengan penelitian ini, yaitu mata pelajaran Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa. Namun perbedaannya dengan penelitian ini adalah pada skripsi Lia Indiyani menggunakan media kartu huruf dalam upaya meningkatkan hasil belajar aksara Jawa. Selanjutnya dalam penelitian Annisa Alfiatun Nurrohmah melalui media Flash Cards dalam upaya meningkatkan ketrampilan membaca aksara Jawa, dan penelitian yang dilakukan oleh Agli Firmandini menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam upaya meningkatkan ketrampilan menulis aksara Jawa, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan multimedia untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa.
Tempat dan subjek yang diteliti juga berbeda, penulis melakukan penelitian pada siswa kelas IV di MI Ma’arif NU 01 Cilongok.
F. Hipotesis
Hipotesis tindakan dari penelitian tindakan kelas ini adalah “Jika menggunakan multimedia, maka akan terjadi peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa pokok bahasan Aksara Jawa bagi siswa kelas IV Semester II Di MI Ma’arif NU 01 Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2013/2014”.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Suyanto (1997) yang dikutip oleh Masnur Muslich (2009: 9), penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek di kelas secara profesional.  Penelitian tindakan kelas ini bersifat kolaboratif, karena peneliti belum mempunyai kelas untuk mengajar sehingga harus bekerjasama dengan guru pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa kelas IV yaitu dengan menentukan tindakan dan melakukan pengamatan terhadap proses belajar mengajar dan guru hanya melakukan tindakan. 
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Jawa pada pokok bahasan Aksara Jawa  bagi siswa  kelas IV MI Ma’arif NU 1 Cilongok.
2. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di kelas IV MI Ma’arif NU 1 Cilongok dengan jumlah siswa sebanyak 34 anak. Jumlah perempuan 22 anak dan laki-laki 12 anak. MI Ma’arif NU 1 Cilongok merupakan sebuah lembaga pendidikan setaraf SD bercirikan Islam, bernaung di bawah lembaga Pendidikan Ma’arif NU yang terletak di Jalan H. Toyyib RT 05 RW V Desa Cilongok Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.
MIN Purwokerto memiliki fasilitas yang cukup lengkap termasuk multimedia sehingga mempermudah peneliti dalam melaksanakan penelitan.
3. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian
a. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV MI Ma’arif NU 1 Cilongok yang berjumlah 34 anak. Jumlah perempuan 22 anak dan laki-laki 12 anak, serta guru pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa.
b. Objek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1) Peningkatan hasil belajar siswa melalui multimedia kelas IV MI Ma’arif NU 1 Cilongok yang meliputi tiga ranah tujuan pendidikan, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
2) Proses belajar mengajar.
4. Teknik Pengumpulan Data 
a. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas fenomena yang diteliti baik langsung maupun tidak langsung. 
Observasi dalam penelitian ini menggunakan teknik langsung (bertatap muka), yaitu peneliti melihat secara langsung subjek dan objek penelitian. Observasi jenis ini peneliti gunakan agar data yang diperoleh lebih valid karena dapat melihat secara langsung objek dan subjek di lapangan.
Observasi digunakan untuk mengamati dan mencatat proses pembelajaran dari persiapan guru mengajar, penggunaan multimedia, motivasi dan respon siswa terhadap pelajaran.
b. Tes 
Tes adalah sehimpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dipilih, ditanggapi atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang dites (testee) dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek (perilaku/atribut) tertentu dari orang yang dites tersebut. Tes pada umumnya dimaksudkan untuk mengukur aspek-aspek perilaku manusia, seperti aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun aspek keterampilan (psikomotorik). Hal yang hendak diukur adalah tingkat penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarakan. 
Tes digunakan untuk memperoleh data kuantitatif penguasaan materi yang diberikan sesudah tindakan berakhir. Tes akan dilakukan tiga kali yaitu satu kali pretes dan dua kali setiap akhir pembelajaran. Jumlah soal yang diberikan ada 15 butir, 10 butir soal pilihan ganda dan 5 butir soal uraian singkat. Peneliti menampilkan soal melalui slide multimedia  akan tetapi siswa tetap mendapatkan lembar soal untuk dikerjakan. Setelah siswa selesai mengerjakan soal guru mencocokan jawaban melalui multimedia  kemudian baru dilakukan penilaian.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.  
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang gambaran umum sekolah seperti letak geografis, visi dan misi sekolah, kurikulum, silabus dan proses kegiatan belajar mengajar di MI Ma’arif NU 1 Cilongok. 
d. Wawancara 
Menurut Denzin dalam Goetz dan Le Compte yang dikutip oleh Wiriaatmandja (2010: 117), Wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi/penjelasan hal-hal yang dipandang perlu. 
Wawancara dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur, yaitu peneliti terlebih dahulu membuat panduan wawancara. Sebelum melakukan wawancara peneliti terlebih dahulu membuat kesepakatan terkait dengan waktu dan tempat dilaksanakannya wawancara.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang proses pembelajaran, strategi pembelajaran bahasa jawa pokok bahasan aksara Jawa pada siswa MI Ma’arif NU 01 Cilongok, faktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran, dan respon siswa terhadap media yang digunakan. Wawancara ini ditunjukan kepada Bapak Nislam, S.Pd.I selaku kepala Madrasah, Bapak Risun. S.Pd.I selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa serta siswa kelas IV MI Ma’arif NU 1 Cilongok.
5. Rencana Penelitian Tindakan Kelas
Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dalam 1 siklus, yaitu pembelajaran dilakukan dalam satu kali pertemuan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Perencanaan
1) Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran yang meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, indikator, kegiatan belajar mengajar, sumber /bahan, alat, media dan penilaian.
2) Membuat media yang digunakan dalam proses belajar mengajar yaitu dengan multimedia.
3) Membuat lembar observasi siswa.
4) Membuat lembar kerja siswa.
b. Pelaksanaan
Rencana pembelajaran yang telah dirancang pada tahap perencanaan dilaksanakan sepenuhnya pada tahap pelaksanaan ini. Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut :
1) Membuka pelajaran, meliputi : apersepsi, motivasi yang diberikan kepada siswa.
2) Kegiatan inti, meliputi : kegiatan pembelajaran yaitu menyampaikan materi pokok bahasan Aksara Jawa dengan menggunakan multimedia.
3) Kegiatan penutup, meliputi : kegiatan menyimpulkan pelajaran dan memberikan post tes.
c. Observasi
Observasi dilakukan untuk melihat pelaksanaan pembelajaran, apakah semua rencana yang telah dibuat dengan baik tidak ada hambatan-hambatan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal. Observasi dilakukan dari awal sampai akhir pembelajaran termasuk hasil belajarnya. Kemudian dari hasil pembelajaran tersebut, akan dianalisis.
d. Refleksi
Pada tahap ini, guru dan penulis menganalisis pelaksanaan PTK setelah kegiatan belajar mengajar berakhir sebagai bahan refleksi. Disamping mencatat kekurangan dan kendala maka akan dicari solusi untuk mengatasinya pada siklus berikutnya. Sedangkan apabila hasil belajar siswa sudah mencapai sasaran sesuai dengan indikator, maka pelaksanaan siklus berhenti pada siklus I.
6. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis Deskriptif. Teknik statistik deskriptif adalah suatu analisis terhadap kumpulan bahan yang berwujud angka dengan cara prosentase terhadap hasil responden. 
Rumus yang digunakan untuk menganalisis data kuantitatif adalah sebagai berikut : 
Keterangan :
P : Angka prosentase ketuntasan belajar siswa
F : Jumlah anak yang nilainya melawati KKM
N : Jumlah siswa dalam satu kelas
Dari rumus tersebut dapat diketahui frekuensi atau prosentase penggunaan multimedia terhadap kualaitas pembelajaran Bahasa Jawa. Selanjutnya hasil dari masing-masing tes dibandingkan sehingga dapat diketahui peningkatan hasil pembelajan Bahasa Jawa dengan multimedia.
7. Indikator Keberhasilan
Tolak ukur keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila setiap siswa mampu memperoleh nilai > 75 pada setiap akhir siklus dan minimal 75% siswa telah mencapai KKM sebesar 73.
H. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini perlu disusun secara sistimatis. Dalam hal ini penulis membagi menjadi tiga bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.
Dalam bagian awal: Halaman Judul, halaman identitas dan pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar lampiran. Pada bagian utama atau tengah penulis membagi menjadi 5 bab yang meliputi :
Bab I Pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka , dan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori yang meliputi pengertian pembelajaran, hasil belajar, media pembelajaran, multimedia, macromedia flash sebagai media pembelajaran bahasa jawa, pembelajaran bahasa jawa ditingkat SD/MI, dan hipotesis tindakan.
Bab III Metode Penelitian yang meliputi : jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, subjek dan waktu penelitian, prosedur penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, validitas data, realitibitas data, dan indikator keberhasilan tindakan.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan yang meliputi : Deskripsi kondisi awal, deskripsi hasil siklus I, deskripsi hasil siklus II (jika ada), pembahasan tiap siklus dan antar siklus (jika ada), dan kesimpulan dari hasil penelitian.
Bab V Penutup yang meliputi : Simpulan, saran dan kata penutup. 
Pada bagian akhir skripsi ini berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
DAFTAR PUSTAKA
A. Tafsir, dkk. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Mimbar Pustaka, 2004.
Baharuddin & Wahyuni, Eva Nur. Teori Belajar dan Pembelajarannya. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media Group, 2007.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset, 2004.
Indriana, Dina. Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: Diva Press, 2011
Muslich, Masnur. Melaksanakan PTK Itu Mudah (Classroom Action Research) Pedoman Praktis Bagi Guru Profesional. Jakarta : Bumi Aksara, 2009.
Richard, M.E. (Eds.). Multimedia Learnig. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suharso & Retnoningsih, Ana. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: CV Widya Karya, 2009.
Surapranata, S. Panduan Penulisan Tes Tertulis Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Suyanto, M. Multimedia Alat Untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing. Yogyakarta : Andi Offset, 2005.
Suyono & Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012.
Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas; diakses pada 12 November 2013 pukul 14.15.
Wiriaatmadja, R. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Suharso dan Retnoningsih, Ana. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: CV Widya Karya, 2009.
RENCANA KERANGKA SKRIPSI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN MOTTO
HALAMAN PERSEMBAHAN 
KATA PENGANTAR
DAFTAR LAMPIRAN 
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
B. Definisi Operasional
C. Rumusan Masalah 
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
E. Tinjauan Pustaka 
F. Sistematika Penulisan
BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS
A. Pengertian Pembelajaran
B. Hasil Belajar
C. Media Pembelajaran
D. Multimedia
E. Macromedia Flash sebagai media pembelajaran Bahasa Jawa
F. Pembelajaran Bahasa Jawa ditingkat SD/MI
G. Hipotesis Tindakan.
BAB  III METODE PENELITIAN 
A. Jenis Penelitian 
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 
C. Subjek dan Waktu Penelitian
D. Prosedur Penelitian
E. Metode Pengumpulan Data
F. Instrumen Penelitian 
G. Teknik Analisis Data
H. Validitas Data
I. Realitibitas Data
J. Indikator Keberhasilan Tindakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
B. Deskripsi hasil siklus I
C. Deskripsi hasil siklus II (jika ada)
D. Pembahasan tiap siklus dan antar siklus (jika ada)
E. Kesimpulan dari hasil penelitian
BAB V PENUTUP 
A. Simpulan 
B. Saran 
C. Kata penutup 
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Loading...
About Tohir 849 Articles
Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*