Definisi dan Arti Kalijaga

Definisi & Arti Kalijaga –  Suatu hari saya berkesempatan mengajar di suatu sekolahan, madrasah ibtidaiyah tepatnya, setara SD. Kebetulan saya mengajar kelas 6 dengan Kompetensi Dasar “Mengidentifikasi  tokoh-tokoh agama Islam di daerah masing-masing” dengan materi tentang Walisongo.

Muter-muter saya & murid-muridku membahas tentang Walisongo. Sampai suatu waktu saya tertarik untuk menanyakan “Siapa itu sunan Kalijaga? Dan mengapa beliau dinamakan Kalijaga?”  Mereka menjawab sunan Kalijaga nama aslinya adalah Raden Syahid, dan dinamakan kalijaga karena Raden Syahid bertapa dipinggir kali begitu lama sampai lumutan dan tubuhnya dirambati berbagai tumbuhan untuk mencari kesaktian. Lalu saya Tanya lagi “Kok kalian bisa tahu?” mereka menjawab bahwa mereka mengetahui dari film yang diputar di televisi.

Betapa kagetnya saya, inilah akibat dari industri film yang minim referensi dan menambahkan kisah-kisah yang justru merusak tatanan pola pikir  masyarakat. Saya pun  mengatakan “Bukankah Sunan Kalijaga itu utusan Allah? Seorang yang berakhlak baik? Tidak mungkin seorang wali, seorang pemimpin agama, pemimpin masyarakat  hanya berdiam diri di pinggir kali (sungai), tidak melakukan syariat islam, meninggalkan masyarakat dan meninggalkan para santrinya.”

Merekapun serentak mengiyakan penjelasn saya, namun mereka kebingunan dengan penjelasan saya yang kontradiktif dengan pemahaman mereka selama ini.

Kemudian saya menjelaskan tentang makna kalijaga, mulai saya terangkan bahwa kalijaga itu berasal dari kali dan jaga. Kali disebut juga sungai atau aliran, sedangkan jaga sama dengan menjaga, memelihara. Kali disini bukanlah arti sesungguhnya, kali/aliran adalah lubang-lubang yang ada di dalam tubuh manusia. Sehingga disimpulkan bahwa makna kalijaga adalah menjaga terhadap mulut, mata, telinga, hidung, alat kelamin, dubur. Berikut penjelasannya :

1. Menjaga Mulut

Menjaga mulut disini artinya adalah menjaga untuk tidak berbicara yabg menyakiti orang lain, berbicara kotor, tidak berucap yang dapat menimbulkan keonaran, kegelisahan dan keresahan, sebaliknya mulut sebaiknya membicarakan yang dapat menentramkan dan menyejukkan, mulut digunakan untuk menyebut dan mengagungkan Allah.

Mulut juga digunakanuntuk memakan makanan yang halal, tidak mengumbar nafsu makan, sebaliknya makan hanya seperlunya dan seadanya saja.  Dan saat tertentu juga kita diperintahkan untuk berpuasa, yang salah satu hikmahnya adalah supaya mengerti dan merasakan penderitaan orang lain yang kekurangan makanan.

2. Menjaga Mata

Kita diajarkan untuk menjaga penglihatan kita dari hal yang tabu, porno dan tidak pantas secara etika. Mata jangan digunakan untuk melihat keburukan dan merendahkan orang lain. Sebaiknya mata kita gunakan untuk membaca hal-hal yang baik, membaca Al Qur’an, membaca buku, dll.

Mata juga hendaknya jangan kita turuti terhadap nafsu tidur yang berlebihan. Tidur sewajarnya dan seperlunya saja.

3. Menjaga Telinga

Jagalah telinga kita terhadap suara-suara yang mengundang nafsu birahi, hindari dari omongan dan gunjingan terhadap orang, dan telinga juga jangan digunakan untuk mendengarkan fitnah dan yang menjelekkan kita sendiri. Sebaliknya telinga kita gunakan untuk mendengarkan guru saat menjelaskan, mendengarkan nasihat orang tua dan mendengarkan berbagai motivasi dan kritik yang membangun.

4. Menjaga Hidung

Menjaga hidung artinya adalah menjaga untuk tidak menghirup bau-bau yang kurang bermanfaat bagi kesehatan dan mengakibatkan candu misalnya narkotika, rokok dan zat berbahaya lainnya.

5. Menjaga Alat Kelamin

Didalam Al Quranpun kita diajarkan untuk tidak mengumbar syahwat. Kita diwajibkan untuk tidak mendekati bahkan melakukan  zina. Menuruti syahwat akan berdampak sangat besar dan memiliki efek domino. Sekarang banyak sekali kasus prostitusi, kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, bahkan kasus seorang ayah yang tega melakukan hal yang tak senonoh tehadap anak kandungnya sendiri. MasyaAllah… Hendaknya kita selalu menjaga dari nafsu syahwat dengan berpuasa dan mengkonsumsi makanan yang halal.

6. Menjaga Dubur

Dubur hendaknya difunsikan sebagaimana normalnya, tidak untuk penyimpangan seksual dan lain-lain yang mengakibatkan hal-hal yang tidak baik.

Demikian adalah makna dari “Kalijaga”, seorang wali atau orang yang berilmu tinggi biasanya menggunakan kata-kata atau kisah-kisah yang mengandung makna yang dalam. Ada ilmu yang tidak hanya dijelaskan dengan penjelasan dari Orang tersebut. Jadi kita jangan hanya mengartikan secara luarnya saja, tapi yang lebih penting adalah makna yang terkandung di dalamnya. Semoga kita juga bisa menjadi “Kalijaga”.

-RianNova-

2 thoughts on “Definisi dan Arti Kalijaga

  1. tatang m. amirin

    Kali itu bahasa Jawa Kawi yang artinya kerusakan, kekacauan, kehancuran, bendana, peperangan dan sejenisnya (setara dengan kala-betara kala). Kalijaga artinya menjaga (memelihara) jangan sampai terjadi “kali”: Hati-hati, dalam bahasa Sansekerta bisa terjaid hukum D-M bukan hanya M-D seperti bahasa Indonesia, misalnya “sujana” (su = baik, jana = orang).

    Reply
    1. Tohir

      terimakasih atas revisinya…salam

      Reply

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !