Mengenal Pandangan Definisi Dan Dimensi Apa Itu Pariwisata

Mengenal Pandangan Definisi Dan Dimensi Apa Itu Pariwisata – Definisi pariwisata yang berkembang di dunia sangat beragam, multidimensi, dan sangat terkait dengan latar belakang keilmuan pencetusnya. Pada dasarnya, definisi – definisi tersebut dapat dikelompokan ke dalam empat kategori, yaitu yang melihat pariwisata dari sisi demand, sisi supply, dan menggabungkan sisi demand dan supply. Dengan melihat dari sisi demand dan supply maka definisi pariwisata dikategorikan menjadi empat.

Kategori pertama merupakan definisi pariwisata dari sisi wisatawan, sangat kental dengan dimensi spasial (tempat dan jarak). Kategori kedua merupakan definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi industri/bisnis. Kategori ketiga, memandang pariwisata dari dimensi akademis, dan kategori keempat dipandang dari dimensi sosial budaya.

Dimensi Spasial

Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi spasial merupakan definisi yang berkembang lebih awal dibandingkan definisi – definisi lainnya. Dimensi ini menekankan pariwisata sebagai perjalanan singkat seseorang ke beberapa tempat di luar kebiasaan hidup, bekerja, dan beraktivitas. Selain pergerakan ke tempat yang jauh dari lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja, Airey menambahkan definisi pariwisata sebagai kegiatan wisatawan selama berada di destinasi pariwisata.

Definisi pariwisata yang dikemukakan oleh World Tourism Organization (WTO) pun memfokuskan pada sisi demand dan dimensi spasial dengan menetapkan dimensi waktu untuk perjalanan yang dilakukan wisatawan, yaitu  tidak lebih dari satu tahun berturut-turut. Definisi pariwisata juga menekankan pada tujuan perjalanan yang dilakukan, yaitu untuk leisure dan tujuan lain yang tidak terkait dengan kegiatan mencari uang di tempat yang dikunjunginya.

Beberapa definisi lain juga menetapkan nilai-nilai tertentu untuk jarak tempuh dan lama perjalanan, yang biasanya dikembangkan untuk memudahkan perhitungan statistik pariwisata.

Definisi tersebut diantaranya ialah :

  1. Committee of statistical experts of the League Nation menetapkan waktu paling sedikit 24 jam bagi perjalanan yang dikategorikan perjalanan wisata. (Gartner, 1996:5).
  2. The United States National Tourism Resources Review Commission (1973) menetapkan jarak paling sedikit 50 mil untuk perjalanan wisata.
  3. The United States Census Bureau (1989) menetapkan angka 100 mil untuk perjalanan yang dikategorikan sebagai perjalanan wisata.
  4. Canada mensyaratkan jarak 25 mil untuk mengategorikan perjalanan wisata.
  5. Biro Pusat Statistik Indonesia menetapkan angka lama perjalanan tidak lebih dari 6 bulan dan jarak tempuh paling sedikit 100 km untuk perjalanan wisata. (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003:1-6).

Definisi pariwisata dari dimensi spasial ini di Indonesia didefinisikan sebagai kegiatan wisata, seperti yang tercantum dalam undang-undang kepariwisataan No. 10 Tahun 2009 pasal 1, yaitu kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Dimensi Industri/ Bisnis

Dari sisi supply, pariwisata lebih banyak dilihat sebagai industri/ bisnis. Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi industri/bisnis memfokuskan pada keterkaitan antara barang dan jasa untuk memfasilitasi perjalanan wisata. Smith dalam Seaton and Bennett (1996:4) mendefinisikan pariwisata sebagai kumpulan usaha yang menyediakan barang dan jasa untuk memfasilitasi kegiatan bisnis, bersenang-senang,dan memanfaatkan waktu luang yang dilakukan jauh dari tempat tinggalnya.

Sementara itu, Craig-Smith and French (1994:2) mendefinisikan pariwisata sebagai keterkaitan antara barang dan jasa yang dikombinasikan untuk menghasilkan pengalaman berwisata. Definisi pariwisata sebagai industri/bisnis inilah yang di dalam UU No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan didefinisikan sebagai pariwisata, yaitu berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,pengusaha,pemerintah, dan pemerintah daerah.

Dimensi Akademis

Dimensi akademis mendefinisikan pariwisata secara lebih luas, tidak hanya melihat salah satu sisi (supply atau demand), tetapi melihat keduanya sebagai dua aspek yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Pariwisata dari dimensi ini didefinisikan sebagai studi yang mempelajari perjalanan manusia ke luar lingkungannya, juga termasuk industri yang merespon kebutuhan manusia yang melakukan perjalanan.

Lebih jauh lagi, dampak yang ditimbulkan oleh pelaku perjalanan maupun industri terhadap lingkungan sosial budaya,ekonomi,maupun lingkungan fisik setempat. Definisi ini mengeliminasi dimensi spasial sebagai faktor pembatas perjalanan wisata. Definisi tersebut menyatakan bahwa begitu seseorang melakukan perjalanan meninggalkan lingkungannya (tempat tinggal,tempat kerja), dia sudah dinyatakan melakukan perjalanan wisata.

Dimensi Sosial-Budaya

Definisi pariwisata dari dimensi sosial budaya menitikberatkan perhatian pada upaya memenuhi kebutuhan wisatawan dengan berbagai karakteristiknya, seperti definisi yang dikemukakan oleh Mathiseon and Wall dalam Gunn (2002:9). Definisi lainnya juga dikemukakan oleh Chadwick yaitu interaksi antara elemen lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial budaya.

Seperti definisi yang dikemukakan oleh Leiper dalam Gatner (1996:6) yaitu suatu sistem pembuka dari kelima elemen yang mempengaruhi lingkungan luas, manusia, kepariwisataan, geografis, dan ekonomi. Kelima elemen tersebut disusun berdasarkan fungsi dan keterkaitan luas yang mempengaruhi faktor fisik, teknologi, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Definisi lain yang lebih sederhana dikemukakan oleh Hunziker dalam French,Craig-Smith,Collier (1995:3) yaitu beberapa fenomena yang berhubungan dengan perjalanan untuk singgah sementara waktu  untuk tidak menjadi penduduk tetap dan melakukan aktivitas yang tidak mendapatkan upah.

Seperti yang dikemukakan oleh Mac Cannel dalam Herbert (1995:1) yaitu pariwisata tidak hanya sekumpulan kegiatan komersial, tetapi juga suatu rangkaian ideologi dari sebuah sejarah,alam,dan tradisi yang memiliki potensi untuk menjadikan budaya dan alam sebagai kebutuhan.

Definisi pariwisata dari dimensi akademis dan dimensi sosial budaya yang memandang pariwisata secara lebih luas, di Indonesia dikenal dengan istilah ‘kepariwisataan’ (UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan), yaitu keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha.

Baca juga :

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !