Budaya

Desa Ramah Lingkungan (biovillage)

Melanjutkan postingan sebelumnya berjudul “Biovillage Berbasis Kearifan Lokal”. Kali ini wisata sains akan memposting artikel yang masih ada hubunganya dengan postingan sebelumnya yang berjudul Desa  Ramah Lingkungan (biovillage).

Salah satu konsep alternatif yang mulai banyak dikembangkan oleh sejumlah kota-kota dibeberapa negara maju adalah penerapan konsep Zero Waste. Pada dasarnya Zero Waste yang mengacu pada konsep sistem ekologi ini dapat memungkinkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi karena waste atau limbah yang terjadi dalam setiap mata rantai kegiatan pembangunan atau produksi dapat dikurangi sehingga nilai produktifitas dari setiap kegiatan itu akan lebih tinggi.

Pada akhirnya dengan produktifitas yang meningkat ini maka otomatis pendapatan bersih akan meningkat pula. Akan tetapi konsep ini lebih banyak dikembangkan di kota-kota besar. Selain itu ada juga konsep tentang “Biovillage Model” yang merupakan kombinasi konservasi sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat melalui penghapusan kemiskinan dan pemberdayaan kaum perempuan seperti yang telah diterapkan oleh Swaminathan Research Foundation di Pondicherri pada tahun 1991 merupakan program pembangunan yang bertumpu pada pembangunan manusia.

Biovillage adalah suatu model pedesaan yang memanfaatkan segala aspek sumber daya alam yang ada, dan diaplikasikan ke dalam kehidupan tanpa menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Konsep biovillage sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia, terutama di daerah pedesaan karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal.
Desa ramah lingkungan
Orang di desa biasanya dalam mengatasi sampah dengan cara dibakar. Akan tetapi sebenarnya sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan dengan cara didaur ulang. Ada beberapa cara pengurangan sampah yang lebih baik dari pembakaran yaitu penanggulangan sampah meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah. Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai.
Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman.
Peternakan di pedesaan merupakan mata pencahariaan utama selain bertani. Hewan ternak yang dipelihara biasanya adalah sapi, kerbau, kambing dan ayam. Para peternak di desa banyak yang tidak mengetahui kalau kotoran ternak dapat dijadikan sebagai biogas dan pupuk cair. Selama ini hanya mengetahui sebagai pupuk organik untuk tanaman. Padahal kotoran ternak bisa dijadikan sebagai biogas yang bernilai ekonomi tinggi. Pengelolaan limbah yang dilakukan dengan baik selain dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan juga memberikan nilai tambah terhadap usaha ternak. Apabila limbah tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sembarangan dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (bau), berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya.
Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk kompos dapat menyehatkan dan menyuburkan lahan pertanian. Selain itu kotoran ternak juga dapat digunakan sebagai sumber energi biogas. Sumber energi biogas menjadi sangat penting karena harga bahan bakar fosil yang terus meningkat dan ketersediaan bahan bakar yang tidak konstan dipasaran, menyebabkan semakin terbatasnya akses energi bagi masyarakat termasuk peternak. Kotoran dan air kencing merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dalam pemeliharaan ternak selain limbah yang berupa sisa pakan. Kotoran ternak sapi dapat dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan nitrogen, potassium dan materi serat yang tinggi. Kotoran ternak ini perlu penambahan bahan-bahan seperti serbuk gergaji, abu, kapur dan bahan lain yang mempunyai kandungan serat yang tinggi untuk memberikan suplai nutrisi yang seimbang pada mikroba pengurai sehingga selain proses dekomposisi dapat berjalan lebih cepat juga dapat dihasilkan kompos yang berkualitas tinggi.
Mata pencaharian utama penduduk pedesaan adalah bertani. Hasil pertanian yang dipanen antara lain adalah padi, jagung, ubi jalar, kedelai, dan sebagainya. Pendapatan petani di pedesaan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, maka dari itu perlu adanya penghasil tambahan lainnya untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan hasil pertanian untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi, seperti tempe (fermentasi kedelai), tapai (fermentasi singkong), bioetanol dari ubi jalar, dan lain-lainnya.

Ubi jalar merupakan tanaman berpati yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Beberapa tahun belakangan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) semakin marak. Salah satu biofuel yang sering digunakan adalah bioetanol dari ubi kayu. Bioetanol dapat digunakan sebagai campuran minyak atau bensin. Selain itu, bioetanol juga semakin dilirik konsumen sejak program konversi minyak tanah menjadi LPG digulirkan. B-GEL adalah bioetanol dengan bentuk fisik berupa gel. Produk B-GEL sangat prospektif dikembangkan di Indonesia. Keunggulan dari bioetanol gel dibandingkan frasa cairnya yaitu praktis, relatif murah, dan aman. Praktis karena berbentuk gel sehingga bisa disimpan di dalam botol serta tidak mudah tumpah. Produk ini juga relatif murah ditengah melonjaknya harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak lokal. Bioetanol gel merupakan produk aman karena tidak volatil serta tidak mengeluarkan asap atau gas beracun ketika dibakar.

Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam diatas dalam pengembangan Biovillage berbasis kearifan lokal bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Keterbatasan sumber daya manusia dan pengetahuan masyarakat pedesaan dapat diatasi dengan adanya “Biocenter Biovillage” atau pusat kegiatan dan informasi biovillage. Selain itu juga perlu diadakannya pelatihan-pelatihan kepada masyarakat pedesaan tentang semua potensi sumberdaya alam yang ada di desa tersebut agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga bisa mendapatkan penghasilan dan meningkatkan taraf hidup bagi mereka. Konsep biovillage berbasis kearifan lokal ini memerlukan pihak-pihak tertentu agar bisa dilaksanakan, terutama yang mengetahui tentang ilmu-ilmu biologi dan mikrobiologi khususnya. Selain itu kerja sama dengan stakeholder, pemerintah setempat, dan dinas-dinas terkait sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan konsep biovillage berbasis kearifan lokal tersebut.
Semoga Artikel ini dapat bermanfaat.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !