Diabetes Militus Dan Hormon Insulin

Diabetes Militus Dan Hormon Insulin – Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi nilai normal. Hal ini disebabkan oleh pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar sehingga pembakaran dan penggunaan karbohidrat tidak sempurna. Ketiadaan insulin menyebabkan dua keadaan krisis, yaitu :

  1. Terjadinya peningkatan lipolisis di jaringan adiposa yang diikuti dengan berkurangnya hambatan insulin terhadap hormone-sensitive lipase. Peningkatan asam lemak akan menimbulkan sintesis “ ketone bodies” di hati secara berlebihan sehingga melampaui kapasitas buffer di hati yang mengarah ke keadaan ketoasidosis. Kelebihan asam bersifat toksik bagi otak karena dapat menyebabkan koma dan kematian.
  2. Terjadinya pengaktifan glukoneogenesis hepatik meskipun kadar glukosa sangat tinggi. Glukoneogenesis hepatik dapat terjadi karena memanfaatkan asam amino sebagai substrat sedangkan insulin merupakan inhibitor kuat dari glukoneogenesis. Hiperglikemia menyebabkan hilangnya glukosa melalui urin yang selanjutnya diikuti dengan kehilangan cairan dan elektrolit.

Gejala klasik diabetes mellitus mempunyai trias P (3P), yaitu : (1) Poliuria, ditandai dengan intensitas pengeluaran urin yang melebihi keadaan normal. Gejala ini merupakan gejala utama dan hampir dirasakan oleh setiap penderita. (2) Polidipsia, ditandai dengan mengkonsumsi air dalam jumlah banyak.Penjelasan Diabetes Militus Dan Insulin sebagai satu-satunya obat Gejala ini merupakan reaksi tubuh akibat terjadinya poliuria. (3) Polipagia, ditandai dengan banyak mengkonsumsi makanan karena kurangnya cadangan glukosa di dalam tubuh meskipun kadar glukosa darah tinggi. Namun, gejala ini kadang-kadang tidak menonjol.

Klasifikasi dan tipe / golongan dan Jenis diabetes mellitus adalah:

a) Diabetes Mellitus tipe I, dialami oleh sekitar sekitar 10% dari penderita DM. Tubuh penderita DM tipe I tidak memproduksi insulin dan diperlukan penyuntikan insulin secara teratur untuk memelihara gula darah yang normal.

b) Diabetes Mellitus Tipe II, dialami oleh sekitar 85% dari penderita DM. Tubuh mereka memproduksi sejumlah insulin, tetapi jumlahnya tidak mencukupi atau cacat.

c) Diabetes Mellitus tipe lain, diabetes di kalangan kaum muda dengan kekurangan gizi yang parah dan kelaparan disebut sebagai diabetes yang terkait dengan malnutrisi. Insulin diperlukan untuk mengendalikan diabetes yang berkaitan dengan malnutrisi.

d) Diabetes Gestasional yang terjadi selama kehamilan.

Metabolisme glukosa didalam tubuh dipengaruhi oleh hormon insulin. Hormon insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5700 yang terdiri atas 2 rantai polipeptida A dan B yang saling berhubungan melalui dua jembatan disulfida. Insulin disintesis oleh sel-sel B atau β pada pankreas dalam bentuk prekursor yang tidak aktif (yang disebut proinsulin). Zat ini disimpan dalam granula sel-sel β dari jaringan pulau Langerhans sampai datangnya isyarat untuk sekresi, yang kemudian proinsulin diubah menjadi insulin aktif.

Hormon insulin dapat meningkatkan masuknya glukosa ke dalam sel dengan meningkatkan laju transport glukosa melintasi membran sel. Setelah glukosa masuk ke dalam sel, selanjutnya terjadi fosforilasi untuk menjaganya keluar tanpa kontrol. Glukosa dimetabolisasi atau diubah menjadi glikogen untuk disimpan dalam otot, sedangkan insulin meningkatkan penyimpanan energi melalui stimulasi glikogenesis dan lipogenesis di dalam sel hati.

Kadar glikogen yang tinggi dan kadar insulin yang rendah menyebabkan terjadinya penguraian protein otot sehingga dihasilkan asam amino yang digunakan oleh hati untuk glukoneogenesis. Glukoneogenesis memfasilitasi penggunaan asam amino dan sintesis lipid. Hal tersebut mengakibatkan pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa meningkat sehingga meningkatkan kadar asam lemak dalam darah. Asam lemak dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sel otot sehingga terjadi pembongkaran glikogen di dalam hati dan otot (Susilowati, 2006). Defisiensi insulin dapat menyebabkan hiperglikemia yang berbahaya, glikosuria (glukosa keluar bersama urin), mengurangi kemampuan metabolisme karbohidrat atau konveksi karbohidrat menjadi lemak, dan kehilangan protein yang dibongkar untuk energi pengganti glukosa.

Pengobatan untuk penderita diabetes mellitus dapat dilakukan dengan cara terapi farmakologis, non farmakologis, dan pengobatan alternatif. Terapi famakologis dapat dilakukan dengan cara pemberian obat anti diabetes oral dan injeksi insulin. Terapi non farmakologis dilakukan dengan cara mengubah pola hidup dan rajin berolahraga. Terapi farmakologis dipilih apabila pemberian terapi non farmakologis tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah.

Mahalnya terapi farmakologis menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat kematian penderita DM. Saat ini banyak penderita DM yang memilih pengobatan secara alternatif maupun pengobatan tradisional. Pengobatan alternatif dapat dilakukan melalui metode akupuntur sedangkan pengobatan tradisional dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman atau hewan yang berkhasiat sebagai obat penurun kadar glukosa darah. Pengobatan tradisional biasanya lebih murah dan tidak menimbulkan resiko secara medis.

Obat merupakan pelengkap dari diet dalam penanggulangan diabetes. Obat diberikan bila pengaturan diet secara maksimal tidak berkhasiat mengendalikan kadar glukosa darah. Penggunaan obat antidiabetes oral berguna untuk penderita alergi terhadap insulin atau yang tidak menggunakan suntik insulin. Selain itu, perlu adanya pemahaman mengenai kesesuaian dosis dengan indikasinya sehingga tidak menimbulkan hipoglikemia. Sistem pengobatan tradisional saat ini mulai dikembangkan karena dianggap relatif aman untuk penderita diabetes mellitus. Obat antidiabetes oral pada umumnya memberikan efek samping yang tidak diinginkan berupa resiko terjadinya kerusakan organ secara permanen.

Obat antidiabetes oral terdiri dari 2 golongan

1.    Pemicu sekresi insulin, yaitu sulfonilurea dan glinid
2.    Penambah sensitivitas terhadap insulin, yaitu biguanid, penghambat α glukosidase, dan tiazolidindion.

Salah satu tanaman obat yang diduga dapat dikonsumsi oleh penderita DM adalah tanaman pare. Tanaman Pare (Momordica charantia L.) tergolong dalam familia Cucurbitaceae yang hidup di daerah tropis dan dapat tumbuh di daratan rendah sampai ketinggian 500 m diatas permukaan laut. Tanaman pare tersebar di berbagai negara, seperti Cina, India, dan Asia Tenggara. Buah pare berbentuk bulat panjang berwarna hijau dan memiliki rasa pahit. Buah pare secara empiris digunakan oleh masyarakat untuk mengobati DM.

Baca : Kapulaga Obat Diabetes Militus

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !