DIAGNOSA PENYAKIT MENGGUNAKAN BAKTERI

Diagnosa mengandung arti penentuan atau ketetapan dari pengumpulan data informasi kesehatan. Diagnosa juga merupakan seni dalam mendapatkan penentuan yang tepat dalam bidang kedokteran. Dan proses mendiagnosa ini tidaklah mudah dilakukan, banyak prosedur yang harus dilaksanakan. Prosedur-prosedur yang memang sudah ditetapkan pun belum menjamin mendapatkan diagnosa yang tepat (Anonim, 2007). Berikut beberapa teknik diagnosa penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

1. SEROLOGI

Uji serologi ialah uji yang mendeteksi reaksi pengikatan antibodi dengan antigen. Antibodi ialah zat kebal tubuh yang dilepaskan oleh sel darah putih limfosit B (biasa disebut sel B). Sedangkan antigen ialah zat yang bisa memicu dilepaskannya antibodi. Bibit penyakit seperti virus dan bakteri adalah contoh dari antigen.

A. Rapid Plate Agglutination Test (RPAT)

Prinsip utama RPAT adalah pengikatan antigen standar (yang termodifikasi) dengan sampel serum (antibodi) yang sesuai sehingga terjadi agglutinasi. Uji ini banyak digunakan untuk mendeteksi Mycoplasma gallisepticum, M. synoviae dan Salmonella pullorum. Uji ini sangat sensitif, cepat, mudah, tanpa perlakuan dan peralatan khusus sehingga dapat dilakukan di mana saja. Caranya dengan mencampur satu tetes serum dengan satu tetes antigen di atas plate. Aduk selama 5 detik, 1 menit dan 2 menit lalu dilihat hasilnya. Hasil positif jika terbentuk endapan/butiran-butiran pasir (aglutinasi) dan hasil negatif jika tidak terjadi agglutinasi. Endapan itu adalah ikatan antibodi-antigen. Gambaran uji RPAT dapat dijelaskan dengan gambar berikut.
DIAGNOSA PENYAKIT MENGGUNAKAN BAKTERI

B. Haemagglutination Inhibition (HI) Test

Uji ini telah digunakan luas dan keberadaannya menjadi wajib di tiap laboratorium. Meski kurang sensitif dibanding RPAT namun uji ini lebih spesifik daripada RPAT. Kelebihan lain adalah ekonomis dan tidak perlu peralatan khusus berharga mahal. Prinsip dasar HI Test adalah hambatan reaksi agglutinasi sel darah merah oleh mikroba dan virus akibat terikatnya mikroba dan virus tersebut oleh antibodi spesifik. Oleh karena itu, uji ini hanya dapat dilakukan untuk mikroba yang mengagglutinasi sel darah merah. Secara singkat, metode kerja uji HI adalah pengenceran bertingkat serum sampel hingga pengenceran terbesar yang masih sanggup menghambat agglutinasi sel darah merah. Hasil positif jika tidak terjadi agglutinasi dan hasil negatif jika terjadi agglutinasi.
Hasil yang didapat diformulasikan sehingga diketahui titer antibodinya sehingga dapat dibandingkan dengan standar titer protektif. Titer protektif adalah batas minimal jumlah antibodi dalam tubuh yang masih mampu melindungi terhadap mikroba tertentu. Standar titer protektif antibodi tergantung dari jenis mikroba spesifik. Sebagai contoh, titer protektif ND untuk ayam layer adalah 64, berarti jika di bawah nilai tersebut, maka antibodi di dalam tubuh ayam tidak dapat melindungi ayam dari virus, begitu juga sebaliknya. Selain titer tersebut, kita juga perlu memperhatikan persentase kebal dan keseragamannya.

C. Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA)

ELISA (singkatan bahasa Inggris: Enzyme-linked immunosorbent assay) atau penetapan kadar imunosorben tautan enzim merupakan uji serologis yang umum digunakan di berbagai laboratorium imunologi. Uji ini memiliki beberapa keunggulan seperti teknik pengerjaan yang relatif sederhana, ekonomis, dan memiliki sensitivitas yang cukup tinggi. ELISA diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall untuk menganalisis adanya interaksi antigen dengan antibodi di dalam suatu sampel dengan menggunakan enzim sebagai pelapor.
Penggunaan ELISA sudah sangat luas karena lebih memiliki beberapa keunggulan yaitu cepat, dapat menguji sampel dalam jumlah banyak, akurat, mampu menghitung titer (kuantitatif) dan lebih fleksibel. Bahkan uji ini juga dapat digunakan di penelitian-penelitian bidang tanaman serta industri makanan dalam mendeteksi alergi makanan serta efek toksik dari obat-obatan.
ELISA sering digunakan dalam deteksi antibodi terhadap Salmonella sp. dan Pasteurella multocida. Meski begitu, ELISA juga punya kekurangan yaitu harga peralatan yang mahal misalnya ELISA reader, washer dan komputer. Selain itu, ELISA kit tidak bisa dibuat sendiri.
DIAGNOSA PENYAKIT MENGGUNAKAN BAKTERI

D. RADIOLOGI

(ü) Radiologi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang menggunakan energy pengion dan bentuk-bentuk energy lainnya (non pengion) dalam bidang diagnostic dan terapi, yang meliputi energy pengion yang dihasilkan oleh generator dan bahan radioaktif seperti sinar X, sinar gamma, pancaran partikel pengion (electron, neutron dan proton). Energy bukan pengionseperti gelombang ultra sonic, gelombang infra red, gelombang magnetic dan gelombang mikro.
ü Salah satu teknik radiologi yang sering digunakan saat ini adalah dengan menggunakan sinar X.
ü Sinar X adalah suatu gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari suatu tabung Rontgen.
ü Sinar X ditemukan pada tanggal 8 November 1895 secara kebetulan oleh Wilhelm Conrad Rontgen, seorang ahli fisika di universitas Wuzburg, Jerman. Percobaanya menggunakan tabung hampa udara (Crooke tube) dilengkapi dua macam elektroda yaitu katoda dan anoda.
ü Kesimpulan percobaan tersebut yaitu sinar tersebut mempunyai sifat yang berbeda dengan sinar lain, tidak dapat dibelokan oleh medan magnet, dapat menghitamkan film dan mempunyai daya tembus yang besar dan panjang gelombangnya pendek. Hasil temuannya tersebut mendapat pengakuan dunia dan setelah wafat sinar X dinamakan sinar Roentgen.
ü Sinar X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada jaringan. Efekbiologi ini yang dipergunakan dalam pengobatan radioterapi.

E. TUBERKULIN

ü Uji Tuberkulin (tes Mantoux) hanya menunjukkan apakah seseorang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis atau tidak, dan sama sekali bukan untuk menegakkan diagnosa atas penyakit TB. Sebab, tidak semua orang yang terinfeksi kuman TB lalu menjadi sakit TB.
ü Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB, kira-kira 2-8 minggu setelah terinfeksi. Pada kurun waktu inilah tes Mantoux mulai bereaksi. Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut sangat baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam tubuh. Namun pada orang lain, yang terjadi adalah bakteri tidak aktif tetapi bertahan lama di dalam tubuh dan sama sekali tidak menimbulkan gejala. Atau pada orang lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang tersebut menjadi sakit TB.
ü Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.
ü Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml) kuman TBC, yang telah dimatikan dan dimurnikan, ke dalam lapisan atas (lapisan dermis) kulit pada lengan bawah. Lalu, 48 sampai 72 jam kemudian, tenaga medis harus melihat hasilnya untuk diukur. Yang diukur adalah indurasi (tonjolan keras tapi tidak sakit) yang terbentuk, bukan warna kemerahannya (erythema). Ukuran dinyatakan dalam milimeter, bukan centimeter. Bahkan bila ternyata tidak ada indurasi, hasil tetap harus ditulis sebagai 0 mm. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit).
ü Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila diameter indurasi berukuran sama dengan atau lebih dari 10 mm. Namun, untuk bayi dan anak sampai usia 2 tahun yang tanpa faktor resiko TB, dikatakan positif bila indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih. Hal ini dikarenakan pengaruh vaksin BCG yang diperolehnya ketika baru lahir, masih kuat. Pengecualian lainnya adalah, untuk anak dengan gizi buruk atau anak dengan HIV, sudah dianggap positif bila diameter indurasinya 5 mm atau lebih.
ü Namun tes Mantoux ini dapat memberikan hasil yang negatif palsu (anergi), artinya hasil negatif padahal sesungguhnya terinfeksi kuman TB. Anergi dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk (gizi kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun tubuhnya sedang sangat menurun akibat mengkonsumsi obat-obat tertentu, baru saja divaksinasi dengan virus hidup, sedang terkena infeksi virus, baru saja terinfeksi bakteri TB, tata laksana tes Mantoux yang kurang benar. Apabila dicurigai terjadi anergi, maka tes harus diulang.

F. Uji Bakteriologi

Uji bakteriologi merupakan uji yang paling sederhana. Uji ini umumnya digunakan untuk mengetahui ciri atau karakter dari bakteri yang di isolasi dari berbagai sumber. Berikut beberapa cara uji bakteriologi:
ü Pewarnaan sederhana (Pewarnaan positif)
Bakteri hasil ulasan diatas objek glass difiksasi. Setelah difiksasi kemudian ditetesi Methylene blue, Safranin atau Crystal violet. Cuci dengan akuades kemudian keringkan dengan tissue. Sel-sel bakteri akan terwarnai ketika diamati dengan mikroskop.
ü Pewarnaan negatif 
Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa. Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif. Zat warna tidak akan mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel tampak transparan dengan latar belakang. Zat warna yang sering digunakan yaitu nigrosin atau tinta cina.
ü Pewarnaan gram
Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram negatif dan gram positif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel yang tipis. Sedangkan bakteri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel.
ü Pewarnaan endospora 
Pewarnaan endospora bertujuan untuk membedakan endospora dengan sel vegetatifnya. Endospora tetap dapat terlihat dengan mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan dan sangat refraktil. Namun jika dengan pewarnaan sederhana, endospora sulit dibedakan dengan badan inklusi (kedua-duanya transparan, sel vegetatif berwarna), sehingga diperlukan teknik pewarnaan endospora. Teknik yang umum digunakan adalah dengan teknik Schaeffer-Fulton. Dengan teknik ini, sel vegetatif akan terlihat berwarna merah sedangkan endosporanya berwarna hijau.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri sangatlah banyak. Berikut dijelaskan dua penyakit yang umum ditemukan di masyarakat

1. Tuberkulosis (TBC)

Penyakit TBC atau yang biasa dikenal dengan tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronis / menahun dan menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang pada siapa saja tanpa memandang usia dan jenis kelamin namun sesuai fakta yang ada bahwa penderita penyakit TBC lebih banyak menyerang pada usia produktif yang berkisar antara usia 15 tahun – 35 tahun.
Udara merupakan media penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam penularan penyakit TBC , biasanya bakteri Mycobacterium tuberculosis terbawa pada saat penderita TBC batuk atau mengeluarkan dahak dan meludahkannya ke sembarang tempat. Jika bakteri ini sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru maka perkembang biakan bakteri ini akan semakin cepat terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, setelah terjadi infeksi maka akan dengan mudah menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
Tanda-tanda TBC antara lain batuk lebih dari 4 minggu, batuk menahun dan berlendir atau berdahak, terutama waktu bangun tidur, panas ringan, berkeringat pada malam hari, terdapat rasa sakit pada dada atau punggung atas, berat badan turun dan badan semakin lemah dalam beberapa tahun berurutan. Selain itu, pada anak-anak dapat diraba ditepi kanan atau kiri tubuhnya terdapat benjolan akibat dari pembengkakan kelenjar.
Pemeriksaan atau diagnosa dapat dilakukan dengan cara uji tuberkulin seperti penjelasan diatas, uji radiologi terhadap organ paru-paru dan dapat juga dengan uji bakteriologi. Pemeriksaan bakteriologi penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positip adalah sekurang-kurangnya ditemukan 1-9 BTA/100 lapang pandang.

2. Anthrax

Penyakit anthrax merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang pada kulit, kadang-kadang dapat menyerang pada intestinal. Kelainan pada kulit berupa gatal-gatal dengan luka berbentuk papular serta vesikel dan dalam beberapa hari terdapat lekukan berwarna hitam yang dikelilingi oleh edema. Konfirmasi labarotorium diketemukan bakteri pada darah, lesi dan cairan yang dikeluarkan oleh luka. Pada manusia penyakit anthrax akan menimbulkan semacam bisul berwarna hitam kemerahan. Apabila pecah akan menimbulkan luka.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Spora B. anthracis resisten terhadap desinfeksi dan dapat bertahan sampai beberapa tahun dalam tanah yang terkontaminasi. Penularan terjadi bila luka bersentuhan dengan tubuh binatang ternak seperti sapi, domba, kambing, babi dan lainnya atau melalui produk hasil perternakan dan tanah yang terkontaminasi dengan kotoran ternak.
Diagnosa penyakit ini dapat dilakukan dengan banyak cara. Pemeriksaan mikroskopis sediaan ulas darah perifer adalah cara yang sederhana dan tepat, bilamana hewan masih dalam keadaan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan. Kumannya berbentuk batang besar, Gram positif, biasanya tersusun tunggal, berpasangan atau berantai pendek. Selain itu, dapat pula didiagnosa melalui metode ELISA.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !