Drama Singkat “ Etika Dalam Sains”

Drama Singkat “ Etika Dalam Sains”

Daftar Tokoh:

  1. Andi
  2. Andini (Adik perempuan Andi)
  3. Bu Astuti (Bos di perusahaan Andi)
  4. Dokter
  5. Syamsul (Ahli Bioetik)

Opening, kameramen ngerekam pemandangan gedung, taman atau apa gitu

Adegan 1: 

Andi datang ke ruangan bosnya, membawa map, memakai kemeja resmi, mengetuk pintu.

Bos         : Ya, silakan masuk!

Andi       : (masuk)

Bos         : (sambil main laptop, lalu mendongak) Eh, Pak Andi, silakan duduk. (nunggu Andi duduk) Ada perlu apa ya?

Andi       : Begini Bu, sepertinya, untuk satu minggu ke depan ini saya minta cuti, boleh kan Bu?

Bos         : (maju dikit, liat muka Andi lebih jelas) Pak Andi sakit? Mukanya kok pucat?

Andi       : Iya Bu, jujur saja saya agak kurang enak badan (ngelus leher sendiri)

Bos         : Ya sudah, Pak Andi boleh ambil cuti. Tapi jangan lama-lama ya Pak, ingat lho tugas Pak Andi menumpuk nanti

Andi       : Iya Bu, terima kasih banyak ya Bu, saya pamit dulu

Bos         : Iya, silakan (pas Andi pergi, si bos ini geleng2)

Adegan 2: 

Andi dan adik perempuannya datang ke rumah sakit untuk periksa kesehatan. Andi berbaring di ranjang, diperiksa dokter, lalu duduk di depan meja dokter untuk konsultasi hasil.

Andi       : Gimana keadaan saya dok?

Dokter    : Mohon maaf Pak Andi, hasil pemeriksaan saya menunjukkan bahwa Pak Andi terjangkit AIDS, dan itu sudah mencapai stadium akhir (Gaya bicara pelan, sabar)

Andini    : (tiba2 merengut) Apa? Kakak saya terjangkit AIDS? Anda bercanda kan Dok?

Dokter    : Maaf, ini di luar kuasa saya, tapi hasil pemeriksaan memang menunjukkan sepeti itu. Saya sarankan, saudara Andi harus ke luar negeri untuk mendapat perawatan intensif.

Andini    : Apa Dokter bilang? Maksud Dokter apa? Anda menolak merawat kakak saya, begitu??

Dokter : maaf, kami tidak bisa membantu, silahkan kalian bisa keluar dari ruangan saya karena masih banyak pasien lain yang menunggu..

Andi : iya Dok terimakasih, permisi (sambil mengajak adiknya yang masih kesal sama dokternya).

Drama (Etika dalam Sains)

Adegan 3. Perbincangan saat di jalan 

Andini : dokter itu pasti salah deh Kak, masa kakak sehat kaya gini dibilang sakit, kalaupun kakak sakit kenapa dokter tadi nggak mau ngobatin kakak coba?

Andi : dari beberapa rumah sakit yang sudah kita datangi kan juga mengatakan hal yang sama kaya doker itu, jadi nggak mungkin kalau dokter itu salah. Mungkin di Indonesia belum punya sarana dan prasarana yang memadai, makanya mereka menyarankan kakak berobat ke luar negeri.

Andini : pokoknya aku masih belum percaya, besok kita coba priksa lagi ke rumah sakit lain ya Kak?

Andi : udah lah andin, kaka udah cape.. mungkin ini memang udah takdir Tuhan, kakak udah terima dan siap ko dengan apa yang bakalan terjadi sama Kakak nanti (muka sedih dan pasrah)

Andini : Kakak jangan bilang begitu, Kakak harus semangat jangan menyerah begitu aja, Kakak pasti bisa sembuh ko, pokoknya Kakak besok harus priksa lagi ya, sekali lagi aja Kak, ya Kak, demi Andin?? (berusaha membujuk kakaknya dengan nada merengek)

Andi : hem,, (sambil tarik napas) yaudah besok Kakak priksa lagi tapi besok terakhir ya, Andin mau nemenin Kakak lagi??

Andini : pastinya donk  Kak, gitu donk Kak semangat. Itu baru kakaknya Andini.. (sambil ketawa untuk menghibur kakaknya)

Merekapun berjalan pulang….

Adegan 4. Keesokan harinya di rumah sakit…. 

Andi       : Gimana hasil pemeriksaan saya dok?

Dokter    : Mohon maaf Pak Andi, hasil pemeriksaan saya menunjukkan bahwa Pak Andi terjangkit penyakit AIDS, tapi masih stadium awal (Gaya bicara pelan, sabar).

Andi : apa bener Dok? Hasil pemeriksaan Dokter tidak salah? (kaget dan penasaran, andini juga memasang muka kaget)

Dokter : insyaAllah tidak Pak, ini Anda bisa lihat sendiri hasilnya.(sambil menyerahkan kertas hasil pemeriksaan)

Andi dan Andini melihat hasil  pemeriksaan,kemudian

Andi : terus bagaimana Dok, saya masih sembuh kan?

Dokter : iya kemungkinan untuk sembuh sih masih ada, tapi sangat kecil kemungkinannya.. oleh karena itu, saya sarankan Pak Andi berobat ke luar negeri saja, supaya Anda mendapat penanganan dan perawatan yang tepat.

Andini    : Maksud Dokter apa? Anda menolak merawat kakak saya? Sudah beberapa rumah sakit kami datangi dan mereka mereka menolak merawat kakak saya. Anda khawatir penyakitnya menjangkiti yang lain atau Anda khawatir kita tidak mampu bayar? (nada emosi)

Andi : (berusaha menenangkan adiknya) tenang dulu ndin, sabar..

Dokter    : (muka sabar, tarik napas) Bukan begitu, maaf, bukannya kami tidak mau menerima Pak Andi sebagai pasien, tapi peralatan dan obat-obatan di rumah sakit ini terbatas. Kami tidak menjamin kesembuhan Pak Andi jika dirawat di sini.

Andi       : Tolonglah Dok, sembuhkan penyakit saya. Saya ingin sembuh Dok, saya ingin kembali bekerja seperti biasa,,

Dokter    : (merem dulu, mikir) Baiklah, akan saya usahakan. Tapi Pak Andi jangan berharap banyak pada kami, Selain usaha Pak Andi juga lupa rajin berdoa karena yang berkuasa menyembuhkan segala penyakit hanya Tuhan. Jika Tuhan berkehendak, penyakit apapun yang diderita Pak Andi Insya Allah bisa disembuhkan.

Andi       : iya Dok, Terima kasih banyak. Kalau begitu kami permisi dulu..

Andini : terimaksih Dok,

Dokter    : iya Sama-sama silahkan.

Andi dan Andini akhirnya pulang.

Adegan 3: 

Andi datang ke kantor bosnya, berjalan terburu-buru, mengetuk pintu.

Bos         : Silakan masuk.

Andi       : Anda memanggil saya?

Bos         : Ya, ada yang ingin saya bicarakan. Oh ya, bagaimana cutimu?

Andi       : Alhamdulillah saya sudah agak baikan.

Bos         : (cari-cari tumpukan surat) Sebenarnya ada yang ingin saya katakan, penting sekali. Nah, ini dia. (ngulurin surat) Dengan berat hati, saya keluarkan surat ini untuk Pak Andi.

Andi       : (baca suratnya, kaget) Lho, apa maksudnya ini? Anda memecat saya?

Bos         : (tenang-tenang aja, pura-pura simpati) Saya sangat menyesal atas keputusan ini, tapi semua karyawan mendesak saya agar meminta Anda mundur dari perusahaan.

Andi       : Saya tidak terima. Anda tidak bisa memecat saya begitu saja!

Bos         : Saya tahu, tapi saya tidak melihat pilihan lain. Ini sudah keputusan bersama.

Andi       : Lho, memangnya apa alasan Anda memecat saya?

Bos         : Saya dengar dari salah seorang karyawan yang bisa dipercaya, bahwa Pak Andi terkena… maaf… AIDS. Nah, saya tidak bisa membiarkan perusahaan ini dalam bahaya, jadi dengan sangat terpaksa saya harus mengeluarkan Anda.

Andi       : Lho, tidak bisa begitu! Tidak adil! Apa salah saya? Memangnya siapa orang yang menyebar fitnah itu, Bu? Biar saya labrak dia!

Andi berdiri, mau keluar. Saat itu Ahli bioetik, Prof. Syamsul masuk ke ruangan.

Bos         : Oh Prof Syamsul, silakan duduk Pak. (ngenalin ke Andi) Perkenalkan, ini Profesor Syamsul, rekan saya yang ahli di bidang bioetika.

Prof        : Mohon maaf, tadi saya mendengar ada yang teriak-teriak. Saya mendengar sebagian percakapan kalian. Dengan Pak Andi bukan? (ngomong ke Andi) Saya dengar rekan saya ini meminta Anda mundur dari perusahaan, betul begitu?

Andi       : Benar Pak.

Prof        : Boleh saya memberi masukan? Menurut saya sebaiknya begini… AIDS memang menular, tapi tidak sepatutnya penderita AIDS diperlakukan semena-mena, dikucilkan dan dikarantina. Bagaimanapun, mereka tetaplah manusia yang punya hati nurani. Anda tidak bisa memperlakukan mereka seenaknya. Begini, menurut teori etik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu… (jelasin teori etik)

Bos         : (muka mikir) baiklah, saya berubah pikiran. Pak Andi boleh bekerja di sini, tapi Pak Andi harus mau jika saya meminta Pak Andi berobat di luar negeri. Biaya pengobatan biar ditanggung perusahaan. (senyum) Bagaimana, Pak Andi?

Andi       : Eh, benarkah itu Bu? Saya tidak dipecat? Oh, terima kasih Bu, ibu baik sekali.

Bos         : Iya, iya, sama-sama. Jika karyawan senang, maka saya pun ikut senang.

Adegan 4: 

Di luar hujan. Andi jalan ke luar gedung, di depan pintu ada adiknya nungguin bawa payung.

Andi       : Eh, Andini? Tumben, ngapain kamu di sini?

Andini    : Ya nungguin Kak Andi dong, emangnya siapa lagi. Gimana Kak kerjaan kantornya?

Andi       : Alhamdulillah, tadinya Kakak mau dipecat, tapi nggak jadi. Terus, Bos kakak, Bu Astuti malah menawari Kakak berobat ke luar negeri, dan biayanya beliau yang menanggung.

Andini    : Eh, yang benar? Syukur deh kalau begitu. Bosnya Kakak baik ya?

Mereka berjalan agak jauh, lalu Andini tiba-tiba limbung, duduk lemes di lantai.

Andi       : Eh, kamu kenapa? (ikut membungkuk)

Andini    : Nggak tahu Kak, badan kok rasanya lemes ya.

Andi       : Nggak mungkin, jangan-jangan kamu ketularan Kakak.

Andini    : (Tiba-tiba loncat) Yee, ketipu! Andini baik-baik aja kok.

Andi       : Yee kirain beneran sakit. Udah yuk, pulang, keburu deras hujannya.

Ending dicorot pake kamera jalan bareng, (payungnya satu orang satu aja, jangan sepayung berdua, wkwkwkwk)

By : Badrun

2 thoughts on “Drama Singkat “ Etika Dalam Sains”

  1. Djangkaru Bumi

    Kalau ada yang perduli semacam itu pasti sang penderita akan senang apalagi ditanggung berobat dan masih tetap bisa bekerja. Tapi kenyataan realita dikehidupan nyata gimana ? sungguh terbalik.

    Reply
    1. Tohir Post author

      Betul sekali mas djangkaru,,,kehidupan nyata memang tidak selalu sesuai dengan bayangan ideal kita…

      Reply

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !