Sastra

Duhai Senja, Datanglah Esok Lagi

Duhai Senja, Datanglah Esok Lagi – Sebaris burung camar seperti tak biasa-nya. Ia mematuk ikan kesana kemari. Sambil melawan ombak, mereka terus mematuk. Ada yang mematuk sekali dapat, ada yang tidak. Lain hal-nya dengan kepiting pantai yang seakan ingin menunjukkan capit-nya yang besar. Ia bisa mencapit siapa saja, sesuka-nya dan kapan saja. Deburan ombak seperti kemarin. Mengalun-alun desir tak terkalahkan. Dan terus menabrakan diri ke karang yang keras. Pertanda bahwa ada yang berganti.

Hari sebentar lagi menutup diri. Dan akan berganti dengan Gelap. Sejak Hari menampakkan diri ke dunia, ia tak nampak lelah sedikit pun. Ia menjaga dengan ritme kehangatan, kecerahan, dan cahaya tak bias. Hari terus menjaga dan akan menjaga terus. Ia akan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Hari tak mencumburui Gelap. Karena Ia tahu bahwa Ia tak bisa menjadi seperti-nya. Gelap pun demikian. Ia tak bisa berperan seperti Hari. Tak pernah bisa.

Suasana mulai berbeda. Ombak masih saja menabrakan diri di karang. Tetapi burung camar sudah tak lagi beterbangan kesana-kemari. Hari dan Gelap mulai merekonsiliasi diri. Mereka mulai bosan dengan peran masing-masing. Mulailah mereka saling membantu satu sama lain. Hari menyerahkan kecerahan-nya. Gelap memberi gulita-nya. Jadi-lah sesuatu yang tak sesederhana yang dikira.

Itulah anak Hari dan Gelap. Mereka beri nama Senja. Lahir di antara kepasrahan diri atas segala kekuasaan pencipta. Lahir dari Hari dan Gelap yang tak lagi mencemburui satu sama lain. Disaat kelahiran-nya, senja masih malu-malu kuning langsat. Disaat kelahiran-nya pula, semua berhenti berdetak, ingin sekali saja menatap. Sekali lagi, Senja masih malu-malu dipandangi kalau baru lahir.

Senggama antara Hari dan Gelap yang tak disangka itu, terlihat begitu mempesona. Sebenar-nya, kelahiran-nya itu tak diharapkan. Karena Senja adalah bentuk dari semesta yang memang dinanti. Maka dari itu, kelahiran-nya berubah menjadi sebuah keajaiban. Keajaiban bagi yang mamandang-nya, apalagi memiliki-nya.

Senja mulai tumbuh besar. Kulit-nya merona kemerahan. Ia semakin mempesona kala duduk di Horizon dan juga Cakrawala mulai menempatkan Senja di sisi-nya. Oh senja, semakin tumbuh semakin memerah merona. Tak lama kemudian, Senja mulai menemukan teman-nya. Kadang, dihimpit oleh Awan, kadang ditunggangi oleh Langit, lebih sering melayang di atas Bumi. Tetapi, paling sering adalah Senja duduk di Horizon. Karena Ia tahu kalau di Horizon adalah tempat-nya berkeluh kesah.

senja

Merekah dan ditunjukkan-lah Senja yang cantik-secantik diri-nya itu bersama deburan ombak, suara camar yang mulai surut, dan kepiting yang gagah berani dengan capit-nya itu. Kecantikan yang tiada tara. Kecantikan-nya itu akan pudar sebentar lagi. Sebelum pudar, Senja memberikan klimaks yang puncak. Membiarkan diri-nya telanjang dilihat bersama teman-nya Horizon, di Cakrawala itu. Senja adalah perpaduan yang luar biasa antara Hari dan Gelap. Setelah beberapa saat, ada kejadian yang tidak diinginkan oleh Senja.

Ya, semakin lama, Hari mulai tidak tahan dengan keadaan yang sebenar-nya. Ia mulai merasa bahwa bantuan-nya kepada Gelap sudah tak berarti. Kemudian… Dus, Gelap mulai menunjukkan kekuasaan-nya. Ia ambil semua apa yang dimiliki Hari, ya kehangatan, ya kecerahan, ya cahaya tak bias-nya, semua-nya mulai pudar. Gelap mengangkangi-nya. Semua diganti dengan dingin, gulita, dan cahaya bias. Senja pun demikian. Direnggutlah Ia. Namun, Gelap tetap bersifat jujur. Ia berjanji akan mengembalikan Senja pada esok. Tunggu saja esok, pasti kembali. Begitu janji Gelap.

Dan suasana benar-benar sudah berubah. Burung camar sudah tidak lagi bersuara. Kepiting-pun sudah tiarap di bawah pasir. Ombak mulai tenang dan tak lagi menabrakan diri-nya di karang. Semua itu pertanda bahwa Gelap memang sudah mengangkangi Hari. Senja oh Senja, kemana engkau pergi. Kemari-lah, Aku ingin melihatmu sekali ini saja. Dan berjanji-lah, untuk datang esok lagi.

Baca juga : Bukit Angker di belakang desa

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !