Artikel

Efek Hormonal Pada Ovulasi dan Pemijahan Ikan

Pemijahan merupakan peristiwa bertemunya ikan jantan dan ikan betina dengan tujuan dapat terbuahinya sel telur ikan betina oleh spermatozoa ikan jantan. Pembuahan pada ikan umumnya terjadi di luar tubuh. Pemijahan buatan (inducet breeding) yaitu perangsangan ikan untuk kawin. Cara ini dikenal dengan teknik hipofisasi melalui pemberian suntikan hormon pada tubuh ikan. Hipofisasi merupakan suatu cara merangsang ikan untuk memijah atau terjadinya pengeluaran telur ikan dengan suntikan kelenjar hipofisa. Teknik hipofisasi telah memberikan manfaat yang besar terhadap pembenihan, tetapi masih belum lepas dari berbagai masalah yang dihadapi seperti dosis dan sumber kelenjar hipofisa. Teknik ini dapat mengontrol fase kritis dalam pembenihan ikan. Fase kritis yaitu fase telur sampai penetasan. Hal penting untuk pemijahan ikan adalah kematangan induk.

Metode hipofisasi adalah usaha untuk memproduksi benih dari induk yang tidak mau memijah secara alami tetapi memiliki nilai jual tinggi dengan kelenjar hipofisasi dari ikan donor yang menghasilkan hormon yang merangsang pemijahan seperti gonadotropin Kelenjar hipofisa akan menghasilkan hormon yang berperan dalam kegiatan seksual dan gonadotropin. Terdapat tiga macam hormon thyropin yang berfungsi mengatur kerja thyroid dan gonadotropin yang dihasilkan oleh sel chianophil yang terletak pars distalis, dan berperan dalam pematangan gonad dan mengawasi sekresi hormon-hormon yang dihasilkan oleh gonad, dimana hormon tersebut berperan dalam proses pemijahan.

Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah spuit injeksi, bantalan gabus yang dilapisi lap, ember plastik, homogeniser, centrifuge, dan pisau. Bahan yang digunakan adalah Ikan mas matang kelamin sebagai donor, ikan nilem sebagai resipien, dan akuabides.

Metode

  1. Bak penampungan dan bak pemijahan diisi dengan air bersih
  2. Kepala ikan mas (donor) dengan menggunakan pisau besar hingga putus
  3. Potongan kedua dilakukan di bagian belakang kepala dimulai dari lubang hidung di atas otak sampai putus sehingga tengkorak terbuka.
  4. Berkas saraf yang berwarna putih dipotong, kemudian otak diangkat hingga terlihat kelenjar hipofisis tepat di bawah otak.
  5. Kelenjar dimasukkan ke homogeniser, dicuci dengan akaubidest, akuabidest dibunag, ditambahkan 1 cc akuabidest, kemudian kelenjar hipofisis digerus hingga lumat
  6. Akuabidest ditambahkan sesuai kebutuhan
  7. Ekstrak kelenjar hipofisis diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
  8. Tabung reaksi dimasukkan ke dalam centrifuge, dan diputar selama 10 menit dengan kecepatan 3500 rpm.
  9. Ekstrak kelenjar hipofisis disuntikkan sebanyak 0.3 cc untuk ikan jantan dan 0.5 cc untuk ikan betina. Diamati keesokan harinya apakah ikan memijah atau tidak dilihat dari kekeruhan air dan bau yang timbul.

Pembahasan

Percobaan kali ini menggunakan ikan Mas (Cyprinus carpio) sebagai ikan donor dan ikan Nilem (Osteochillus hasselti) sebagai ikan resipien. Kelenjar hipofisis ikan Mas diambil kemudian dibuat ekstrak dan disentrifuse. Kemudian hasilnya diencerkan dan disuntikan ke ikan resipien sebanyak 0,3 cc untuk ikan Nilem jantan dan 0,5 cc untuk ikan Nilem betina. Hasil percobaan yang dilakukan menyatakan bahwa pada ikan resipien yang dilakukan penyuntikan, melakukan pemijahan setelah diamati 11 jam kemudian.
Penyuntikan kelenjar hipofisa akan memberikan respon dan menyebabkan ikan memijah antara 7-11 jam. Hormon yang berperan adalah gonadotropin yaitu Leuteinizing Hormone (LH) dan Folicle Stimulating Hormone (FSH). Hormon gonadotropin tersebut dihasilkan oleh kelenjar adenohipofisa yang akan merangsang proses pemasakan ovulasi yang pada akhirnya merangsang induk betina untuk memijah.
Kelenjar hipofisa ikan terdapat di bawah otak sebelah depan. Kelenjar ini menempel pada infundibulum dengan satu tangkai yang pendek, agak panjang atau pipih tergantung pada jenis ikannya. Suatu lekukan tulang pada lantai otak yang disebut cella turcica melindungi kelenjar ini. Pengambilan kelenjar ini yaitu dengan membuka tulang tengkorak dan otak diangkat, biasanya butir kelenjar hipofisa akan tertinggal di dalam cella turcica.
FSH menyebabkan berkembang dan membesarnya folikel di dalam ovari dengan elaborasi simultan estrogen folikel. Peningkatan kadar estrogen yang beredar menyebabkan produksi FSH dihambat seperti halnya mekanisme umpan balik lainnya. Menurunnya produksi FSH menyebabkan produksi LH meningkat, sehingga folikel menjadi masak dan terjadilah ovulasi. FSH juga merangsang proses gametogenesis dalam tubulus seminiverus di testis pada hewan jantan melalui perkembangan spermatosit sekunder, tetapi testosteron dibutuhkan dalam melengkapi perkembangan spermatozoa bersama dengan sekresi pituitary dari ICSH (LH) yang bekerja dengan testosteron.
Mekanisme hipofisasi dimulai ketika rangsangan dari syaraf pusat diantarkan ke hipotalamus, setelah lebih dahulu diolah oleh reseptor seperti mata dan sirip. Hipotalamus akan mengeluarkan GrNh yang akan merangsang gonad untuk menghasilkan hormon gonadotropin yang dibutuhkan dalam proses pemijahan. Hormon-hormon tersebut akan segera mempengaruhi kerja dari alat-alat kelamin pada ikan yaitu testis dan ovarium. Testis akan menghasilkan androgen steroid dan ovarium akan menghasilkan estrogen. Mekanisme hormon kelamin adalah hormon steroid seperti estrogen, kortisol, aldosteron dan lain-lain, masuk ke dalam sasaran kemudian merangsang aktivitas gen maka ikan akan segera memijah.
Umumnya ikan akan terus menerus memijah setelah pertama kali matang gonad, namun bergantung kepada daur pemijahannya, ada yang satu tahun sekali, beberapa kali dalam satu tahun, dan sebagainya. Beberapa faktor yang mempengaruhi dan menentukan daur reproduksi antara lain adalah suhu, oksigen terlarut dalam perairan dan hormon yang berperan dalam reproduksi yang dapat memacu organ-organ reproduksi untuk berfungsi. Umur pada awal reproduksi bervariasi terhadap jenis kelamin. Bagi ikan jantanmaupun betina, umur pertama kali memijah bergantung kepada kondisi lingkungan yang sesuai. Saat lingkungan yang tidak sesuai untuk tumbuh dan mempertahankan sintasan, ikan-ikan cenderung akan menangguhkan pemijahan, karena akan menurunkan tingkat pertumbuhan dan sintasan, sehingga reproduksi cenderung akan berlangsung pada umur lebih muda.
Pituitari (hiposis) anterior dari ikan teleostei berisi bermacam-macam sel endokrin dibawah kendali hipotalamus, hormon release trophic dan memainkan peranan utama dalam reproduksi ikan, tingkah laku sosial ikan dan pertumbuhan ikan. Kumpulan hormon hipothalamic ke membran reseptor di sel pituitari menunjukkan aksi potensial, berupa kenaikan zat kapur dalam cytosolic dan eksositosis.
Hormon lain yaitu ICSH (Intestill Cell Stimulating Hormone) yang dapat mengontrol sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testoteron dalam testis. Testosteron dibutuhkan dalam alam melengkapi proses spermatosit bersama dengan sekresi pituitary dari ICSH. Peranan-peranan hormon LHRH adalah untuk kematangan gonad ikan.
Ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba, serta dari lubang genital keluar cairan jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk, warna tubuh kelabu kekuningan dan lubang kelamin berbentuk bulat telur dan agak melebar serta agak membengkak. Ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin antara lain mudah mengeluarkan milt jika perutnya diurut, naluri gerakan lincah, postur tubuh dan perut ramping, warna tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang kelamin agak menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras.
Teknik hipofisasi memerlukan ikan donor dan ikan resipien yang telah memenuhi syarat. Ikan donor merupakan ikan yang akan diambil kelenjar hipofisanya dapat untuk memijahkan ikan resipien, sedangkan ikan resipien merupakan ikan yang diinduksi dengan ekstrak kelenjar hipofisa yang berasal dari ikan donor. Adapun persyaratan dari ikan resipien antara lain ikan harus benar-benar masak kelamin, sehat dan memiliki berat tubuh ideal yaitu antara 150 gram/ekor – 200 gr/ ekor. Ikan donor harus sudah matang kelamin dan benar-benar sehat.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan yaitu suhu, lingkungan, teknik penyuntikan, keadaan fisiologis ikan, cahaya dan arus air serta sifat fisik dan kimia. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemijahan diantaranya adalah kematangan gonad, tingkat stress, dosis kelenjar hipofisa dan makanan. Ikan yang akan digunakan haruslah yang telah benar-benar matang kelamin. Jika yang digunakan belum matang kelamin maka ikan tersebut tidak dapat memijah ataupun volume kelenjar hipofisanya masih sedikit. Stress yng dialami oleh ikan dapat disebabkan karena adanya sisik yang terkelupas, lamanya waktu penyuntikan, kualitas airnya tidak sesuai dengan habitat ikan. Pemberian dosis yang kurang tepat dapat mempengaruhi kecepatan ikan dalam memijah, hal ini berarti agar ikan tersebut memijah dalam waktu yang relatif cepat diperlukan dosis yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Makanan yang diberikan pada ikan haruslah yang mencukupi dalam hal kebutuhan nutrisinya, hal ini karena ikan yang memijah memerlukan pasokan nutrisi yang cukup banyak untuk mensuplai telurnya.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa :
  1. Teknik hipofisasi dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa pada ikan resipien dapat merangsang ikan untuk melakukan ovulasi dan pemijahan.
  2. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan yaitu suhu, lingkungan, kematangan gonad, teknik penyuntikan, keadaan fisiologis ikan, cahaya dan arus air serta sifat fisik dan kimia.
Saran
Praktikum kali ini akan lebih baik jika cara pengekstraksian kelenjar hipofisis hingga mendapatkan dosis yang sesuai dapat dipraktekkan langsung apabila waktu mencukupi.
Bacaan lebih lanjut  :
Bagnara, T. 1988. Endokrinologi Umum. Airlangga University Press, Surabaya.
Gordon, M. S. 1982. Animal Physiology Princile. Mc Millan Publishing Company, New York.
Hardjamulia. 1980. Pembenihan dan Teknik Hipofisasi. BBAT, Sukabumi.
I’tishom, R. 2008. Pengaruh sGnRHa + Domperidion dengan Dosis Pemberian yang Berbeda Terhadap Ovulasi Ikan Mas Strain (Cyprinus carpio L.) Punten. Berkala Ilmiah Perikanan Vol. 3 No. 1, April 2008.
More, P. R., Bhandare, R. Y., Shinde, S. E., Pathan, T. S., and Sonawane, D. L. 2010. Comparative Study of Synthetic Hormones Ovaprim and Carp Pituitary Extract Used in Induced Breeding of Indian Major Carps. Libyan Agriculture Research Center Journal Internation 1 (5): 288-295.
Muhammad, H. Sunusi dan I. Ambas. 2003. Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar Hipofisa terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch). J. Sains dan Teknologi. Vol. 3. N0. 3 Hal: 87-94.
Pickford, A. 1957. General Zoology Calude. The Mac Millan Publishing Company, New York.
Soekamsipoetro, S. 1987. Budidaya Ikan Nilem. Dinas Perikanan UNBAD, Purwokerto.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Budaya, Bogor.
Susanto, H. 1996. Budidaya Kodok Unggul. Swadaya, Jakarta.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !