Artikel, Ilmiah

Fakta Seputar Laba-Laba Predator

Fakta Seputar Laba-Laba Predator – Laba-laba termasuk hewan dari filum Arthropoda, kelas Arachnida dan ordo Araneae yang tidak mempunyai antena, tetapi memiliki 8 mata sederhana. Hewan ini menggunakan paru-paru, trakea, atau keduanya sebagai alat respirasi, tetapi ada juga yang tidak memiliki alat pernapasan. Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina. Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng ( Buthus after).

Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan ini adalah laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata). Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).

Laba-laba bukan termasuk serangga karena semua serangga mempunyai 6 kaki, sedangkan laba-laba berkaki 8. Laba-laba tidak mengalami metamorfosa. Setelah telur menetas, keluarlah laba-laba kecil dan berganti kulit beberapa kali. Laba-laba kecil bentuknya sama dengan laba-laba dewasa. Laba-laba betina biasanya jauh lebih besar daripada laba-laba jantan. Laba-laba jantan harus mendekati betina dengan hati-hati karena berbahaya. Kadang-kadang laba-laba jantan tidak jadi kawin, tetapi dimakan oleh laba-laba betina. Sering pula terjadi bahwa laba-laba betina memakan jantan setelah selesai kawin.

Fakta Seputar Laba-Laba Predator

Ciri yang lain dari laba-laba adalah badan terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, thorax dan abdomen. Namun bagian kepala dan thorax menyatu menjadi satu sehingga sering disebut dengan cephalothorax. Bagian cephalothorax biasanya dilindungi oleh bagian yang keras yang disebut carapace. Alat mulut dilengkapi dengan chelicera dan pedipalpus. Chelicera berbentuk capit yang berguna untuk merobek badan mangsanya sehingga kelompok ini kadang disebut chelicerata. Pedipalpus berbentuk capit namun lebih panjang dan berguna untuk menangkap mangsa. Karena tidak berantena, sepasang kaki paling depan di beberapa kelompok berubah fungsi menjadi indra yang berfungsi seperti antena.

Ciri khas yang lain adalah Arachnida mempunyai empat pasang kaki di bagian cephalothorax, sehingga jumlah kaki menjadi delapan dan sering disebut decapoda. Bagian abdomen biasanya tidak mempunyai anggota badan (appendages), jika ada biasanya kecil dan berfungsi sebagai alat reproduksi, pemintal jaring dan tidak pernah digunakan untuk pergerakan. Hampir semua ordo anggota Arachnida dapat hidup di dalam gua dan banyak terdapat di gua-gua Indonesia. Kontribusi Arachnida dalam komunitas Arthropoda gua cukup besar dan mempunyai peran yang bervariasi dari pemangsa sampai perombak atau scavenger.

Laba-laba terdapat di seluruh dunia dan menempati seluruh lingkungan ekologi kecuali di udara dan laut terbuka. Kebanyakan laba-laba berukuran kecil (panjang tubuh 2-10 mm), beberapa di antaranya berukuran cukup besar seperti Tarantula (panjang tubuh 80-90 mm). Laba-laba jantan selalu lebih kecil dari pada laba-laba betina dan mempunyai siklus hidup yang lebih pendek. Semua laba-laba bersifat karnifora, banyak di  antaranya membuat jaring dan ada pula yang memburu mangsanya di tanah. Serangga merupakan mangsa utamanya, di samping Arthropoda lain. Secara umum, dikenal ada dua kelompok laba-laba, yaitu laba-laba non jaring dan pembuat jaring. Laba-laba non jaring umumnya hidup di tanah dan pepohonan serta mendapatkan mangsanya dengan cara berburu, sedangkan laba-laba pembuat jaring membuat perangkap dari serat di antara ranting-ranting pohon untuk menjebak mangsa.

Jaring Laba-Laba Adalah Rumah Sekaligus Perangkap

Ada tiga komponen yang membentuk sarang laba-laba, yaitu benang jenis kuat dan tegang yang mengarah ke luar (radial threads) yang berpotongan pada titik pusat sebagai porosnya (hub), benang yang menjadi kerangka bagian luar sarang (frame threads), dan benang jenis kendur dan lengket berbentuk spiral yang mampu menjebak mangsa (capture radial). Beberapa jenis laba-laba, misalnya orb-weaver, membuat perangkap jaring yang terbuat dari benang sutra halus. Sutra itu dihasilkan oleh kalenjar pada bagian belakang abdomen lalu keluar dari saluran yang disebut spineret. Sutra halus kemudian mengeras menjadi benang yang kuat. Benang tersebut ditempelkan pada pohon terdekat atau penyangga lainnya untuk membuat struktur jaring. Laba-laba kemudian menambahkan bentuk spiral pada jaring menggunakan jenis sutra berbeda yang lengket untuk menangkap mangsa.

Fakta Seputar Laba-Laba Predator

Setelah membuat jaring, laba-laba akan menunggu di bagian tengah jaring atau bersembunyi didekatnya. Tahap-tahap predasi laba-laba meliputi menemukan, melumpuhkan dan menangani mangsa. Sehelai benang penanda akan membuat laba-laba merasakan getaran akibat mangsa yang terperangkap dalam jaring. Laba-laba akan segera menghampiri dan menggigit mangsa. Jika mangsa masih hidup, laba-laba akan menggigit bagian kepala atau lehenya untuk melumpuhkan mangsa, sedangkan jika mangsanya sudah mati laba-laba akan menggigit bagian ekornya. Selanjutnya laba-laba akan membungkusnya dengan lilitan benang sutra untuk mencegahnya melarikan dirinya. Ini diperlukan jika mangsa memiliki alat pertahanan yang berbahaya, seperti lebah. Cara membungkus ini juga dilakukan laba-laba untuk menyimpan mangsanya sambil menuggu waktu yang tepat untuk makan. Dengan demikian mangsanya dapat dimakan kapan saja.

Saat Laba-Laba Memakan Mangsa

Dari pengamatan, dapat diketahui bahwa setelah capung yang masih hidup dilemparkan ke arah jaring, laba-laba langsung mendekati capung dalam waktu 4 detik, kemudian langsung melumpuhkan capung dengan cara menggigit bagian kepala atau lehernya dalam waktu 8 menit 16 detik. Tahap selanjutnya adalah menangani capung dengan cara membalut capung dengan benang-benang sutra yang dihasilkan oleh laba-laba dalam waktu 1 menit 30 detik.

Ada mangsa yang terperangkap dalam jaring, secara cepat laba-laba tersebut akan mendekati mangsa dan melakukan tahap predasi. Tahap-tahap predasi laba-laba meliputi menemukan, melumpuhkan dan menangani mangsa

Cara Kerja Racun Laba-Laba

Cara kerja racun laba-laba yaitu melemahkan (efek primer) kemudian mematikan (efek sekunder). Racun laba-laba bersifat neurotoksin dan nekrotoksin. Neurotoksin  menggangu penjalaran impuls saraf pada saluran ion (ion channels) dan sinaps, sedangkan nekrotoksin bekerja pada reaksi yang sistematik misalnya pada ginjal dan darah.

Racun laba-laba yang bersifat neurotoksin lebih banyak dibandingkan nekrotoksin. Diduga bahwa racun laba-laba mengandung penghambat neuron, penghambat tersebut berisi glutamat sebagai transmitor dan menimbulkan efek paralisis pada serangga, yakni kondisi tidak dapat bergerak (lumpuh) akibat terganggunya sistem saraf serangga.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !