Formalin Tidak Boleh Sebagai Pengawet Makanan, Ini Penjelasannya !

Pengawet makanan formalin – Formalin adalah senyawa formaldehida dalam air dengan konsentrasi rata-rata 37% dan metanol 15% dan sisanya adalah air.

Menurut Kepala Pusat Penelitian  Kimia  LIPI,  Dr.  Leonardus Broto Kardono,  formalin pada  mulanya  berbentuk  padat dengan sebutan formaldehida atau istilah asingnya ditulis formaldehyde. Zat  yang  sebetulnya  banyak  memiliki  nama  lain  berdasarkan senyawa  campurannya  ini  memiliki  senyawa  CH2OH  yang reaktif  dan  mudah  mengikat  air.  Bila  zat  ini  sudah  bercampur dengan  air  dia  disebut  formalin  yang  memiliki  rumus  kimia CH2O.

Formalin merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Memang orang yang mengkonsumsi bahan pangan (makanan) seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan bahkan permen, yang berformalin dalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi efek dari bahan pangan (makanan) berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian. Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Di dalam tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di hati dan sel darah merah. Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah.

Baca juga : Boraks bukan pengawet makanan

International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan formaldehida ke dalam kelompok 1 (carcinogenic to humans) (IARC, 2006). Karena saat formalin masuk kedalam tubuh manusia, akan bersifat  mutagenik  dan  karsiogenik  yang  dapat  memicu tumbuhnya  sel  kanker  dan  cacatnya  gen  pada  tubuh.

Menurut  IPCS  (International  Programme  on  Chemical Safety),  lembaga  khusus  dari  tiga  organisasi  di  PBB,  yaitu ILO, UNEP,  serta  WHO,  yang  mengkhususkan  pada  keselamatan penggunaan  bahan  kimiawi,  secara  umum  disebutkan  bahwa batas  toleransi  formaldehida  yang  dapat  diterima  tubuh  dalam bentuk  air  minum  adalah  0,1 mg/liter  (1  ppm  setara  1  mg/liter) atau  dalam  satu  hari  asupan  yang  dibolehkan  adalah  0.2  mg. Sementara  formalin  yang  boleh  masuk  ke  tubuh  dalam  bentuk makanan  untuk  orang  dewasa  adalah  1,5  mg  hingga  14  mg  per hari.  National  Institute  for  Occupational  Safety  and  Health (NIOSH)  menyatakan  formaldehida  berbahaya  bagi  kesehatan pada kadar 20 ppm. Sedangkan dalam Material Safety Data Sheet (MSDS), formaldehida dicurigai bersifat kanker.

Bahan Tambahan Pangan yang dilarang

Karena banyaknya bahaya yang mungkin terjadi akibat konsumsi formalin dalam makanan, formalin difolongkan sebagai bahan tambahan pangan yang dilarang untuk digunakan. Larangan penggunaan formalin sebagai bahan tambahan makanan telah tercantum dalam Permenkes RI No.033 tahun 2012, tentang Bahan Tambahan Pangan. Berikut daftar Bahan Tambahan Pangan yang dilarang digunakan sebagai BTP.

  1. Asam Borat dan senyawanya
  2. Asam salisilat dan garamnya
  3. Dietilpirokarbonat
  4. Dulsin
  5. Formalin
  6. Kalium bromat
  7. Kalium klorat
  8. Kloramfenikol
  9. Minyak nabati yang dibrominasi
  10. Nitrofurazon
  11. Dulkamara
  12. Kokain
  13. Nitrobenzen
  14. Sinamil antranilat
  15. Dihidrosafrol
  16. Biji tonka
  17. Minyak kalamus
  18. Minyak tansi
  19. Minyak sasafras

Formalin  biasanya digunakan  sebagai  pengawet  mayat dan  organ-organ  makhluk  hidup, pembunuh  hama,  bahan  desinfektan dalam industri plastik dan busa, serta untuk  sterilisasi  ruang.  Formalin  sebenarnya  sangat  umum digunakan  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Di  sektor industri, formalin sangat banyak manfaatnya, misalnya sebagai anti bakteri atau pembunuh kuman, sehingga formalin  sering  dimanfaatkan  sebagai  pembersih lantai,  kapal,  gudang,  pakaian  bahkan  juga  dapat dipergunakan  sebagai  pembunuh  lalat  dan  berbagai serangga lain. Dalam konsentrasi yang sangat kecil (< 1%),  formalin  digunakan  sebagai  pengawet  untuk berbagai bahan non pangan seperti pembersih rumah tangga,  cairan  pencuci  piring,  pelembut,  shampo mobil, lilin dan karpet.

Kenapa akhirnya formalin digunakan

Penggunaan formalin dimaksudkan untuk memperpanjang umur penyimpanan, karena formalin adalah senyawa antimikroba serbaguna yang dapat membunuh bakteri, jamur bahkan virus. Selain itu interaksi antara formaldehid dengan protein dalam pangan menghasilkan tekstur yang tidak rapuh dalam waktu yang lama dan untuk beberapa produk pangan seperti tahu, mie basah, ikan segar, memang dikehendaki oleh konsumen.

Formalin bukan pengawet makanan tetapi banyak digunakan oleh industri kecil untuk mengawetkan produk makanan karena harganya yang murah sehingga dapat menekan biaya produksi, dapat membuat kenyal, utuh, tidak rusak, praktis dan efektif mengawetkan makanan.

Baca juga : Cara mengatasi anak susah makan

Penggunaan formalin biasanya karena kurangnya informasi mengenai bahaya formalin dan kesulitan membedakan produk yang telah diawetkan dengan formalin mengakibatkan ketidakpedulian masyarakat terhadap bahan pangan yang telah diawetkan dengan formalin.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !