Fungi Trichoderma dan kadar BOD dan COD

Nilai
persentase penurunan BOD dan COD limbah cair tahu diduga dipengaruhi oleh nilai
penambahan bobot basah miselium. Menurut Seyis dan Subasioglu (2008) semakin
bertambahnya pertumbuhan fungi maka akan
semakin meningkatkan produksi enzim yang dihasilkan oleh fungi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat fungi yang digunakan mampu memanfaatkan senyawa organik
yang terkandung dalam limbah sebagai sumber nutrien untuk pertumbuhan. Hal ini
dibuktikan dengan kemampuan fungi tersebut
dalam menghasilkan rata-rata bobot basah miselium yang terlihat pada Lampiran 2. Hal ini sesuai dengan De la
Cruz et al., (1993), De Marco et al., (2003), Simkovic et al., (2008), Bayozen et al., (2009) yang mengatakan bahwa Trichoderma spp. mampu menghasilkan
enzim-enzim ekstraseluler seperti protease, amilase, lipase, kitinase, selulase
dan enzim lainya yang berguna dalam proses perombakan bahan-bahan organik.

            Kemampuan fungi dalam memanfaatkan kandungan organik limbah diketahui dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
adalah kondisi
lingkungan tempat hidup. Penelitian ini menggunakan 4 isolat Trichoderma spp. yang diisolasi dari
tanah perakaran tanaman yang berbeda, yaitu Trichoderma
isolat bawang, Trichoderma isolat
nanas, Trichoderma isolat jahe dan Trichoderma isolat pisang. Hasil
penelitian BOD menunjukkan bahwa dari ke empat isolat tersebut
tiga diantaranya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap perlakuan yang lain, namun Trichoderma isolat pisang berbeda nyata dari isolat lainnya. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh tempat hidup fungi yang sama-sama tanah perakaran tanaman namun mempunyai kandungan bahan organik yang
berbeda beda. Tanah
perakaran tanaman merupakan lokasi ideal bagi pertumbuhan fungi tersebut karena mengandung nutrisi yang dibutuhkan
untuk pertumbuhannya. Menurut Rao (1992) Trichoderma tumbuh sangat baik dan berlimpah di tanah di
sekitar perakaran tanaman.
            Bertambahnya jumlah miselium fungi
ditandai dengan penambahan bobot miselium. Penambahan jumlah miselium akan
meningkatkan produksi enzim-enzim yang mampu memecah senyawa organik komplek
menjadi senyawa organik yang lebih sederhana dalam limbah. Semakin bayak
senyawa organik yang dimanfaatkan oleh Trichoderma
maka semakin berkurang kandungan organik limbah. Berkurangnya kandungan organik
limbah cair tahu akan mengurangi kadar BOD dan COD limbah. Hal ini sesuai
dengan Suryanti et al. (2003) yang menyatakan Trichoderma spp. mampu mendekomposisi bahan-bahan organik pada media yang ditumbuhi, sehingga kandungan organik
yang ada dalam media yang ditumbuhi akan semakin berkurang.
Reaksi
enzimatis merupakan kunci terselenggaranya proses transformasi bertahap dalam
pengelolaan air limbah dari substrat yang umumnya berupa bahan-bahan organik
dengan susunan molekul kompleks, menjadi unsur-unsur yang sederhana. Enzim-enzim yang dihasilkan akan membantu proses peruraian kandungan organik dalam limbah. Proses pemecahan bahan organik oleh Trichoderma
spp. terjadi secara aerob, yaitu proses yang melibatkan adanya O2 bebas,
dengan hasil akhir utama berupa H2O, CO2, unsur hara serta energi. Mardisiswoyo, et al., 1993 mengatakan bahan-bahan organik yang terdapat dalam limbah dapat
dipecah oleh mikroorganisme aerob menjadi bahan yang tidak mencemari, dimana
pemecahan ini berlangsung dalam suasana aerob (ada Oksigen). Bahan Organik + O2
+ sel-sel mikroorganisme          CO2
+ H2O + energi. Mekanisme penurunan kadar BOD dan COD limbah terjadi
karena senyawa organik dalam limbah dimanfaatkan oleh Trichoderma spp. sebagai sumber nutrisi. Hal ini sesuai dengan Benson (1994) yang mengatakan senyawa organik komplek pada limbah
akan dipecah menjadi senyawa lebih sederhana dengan bantuan enzim sehingga zat
organik dapat dimanfaatkan mikroba untuk pertumbuhan.

Aktifitas Trichoderma
spp. dalam memanfaatkan
kandungan organik menyebabkan terjadinya perubahan
derajat keasaman (pH) limbah cair tahu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kenaikan pH limbah setelah perlakuan, nilai pH awal limbah
cair tahu adalah 2,5 sedangkan nilai pH
akhir setelah perlakuan adalah berkisar antara 3,9 – 7,4
hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran
7. Diduga enzim ekstraseluler yang diproduksi oleh Trichoderma akan mempercepat pemecahan senyawa organik komplek
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa yang lebih sederhana lebih
bersifat asam dan akan menurunkan pH, namun senyawa-senyawa organik yang telah
dipecah tersebut akan segera dimanfaatkan oleh mikroorganisme dalam hal ini Trichoderma sebagai sumber nutrisi untuk
pertumbuhan, sehingga akan menaikan pH limbah karena kandungan organik limbah
akan semakin berkurang. Hal ini sesuai dengan Eckenfelder (2002) bahwa pH akan turun seiring
pemecahan bahan organik menjadi asam organik oleh mikroba, asam organik dimanfaatkan
oleh mikroba sebagai nutrisi sehingga pH akan menuju netral.

Proses pemanfaatan kandungan organik limbah cair tahu
oleh Trichoderma  mempengaruhi suhu secara nyata. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa suhu awal limbah cair tahu adalah sebesar 31˚C, dan setelah
perlakuan menjadi berkisar antara
27 – 29˚C, hasil selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran 8. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan Trichoderma spp. pada limbah mempengaruhi
suhu limbah cair tahu. Hal ini diduga
karena proses yang terjadi merupakan reaksi aerob yang membutuhkan oksigen. Menurut
Sani (2006) pengolahan limbah secara aerob tidak akan menaikan suhu, serta
optimal pada kisaran suhu ± 28,60C.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !