GOLONGAN ORANG – ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

GOLONGAN ORANG – ORANG
YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT
A. PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi Akhiruzzaman yaitu Nabi sebagai penutup bagi nabi-nabi yang lain. Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin yang dibawa dengan penuh dengan kesempurnaan serta dilengkapi dengan syariat – syariat yang dijadikan sebagai landasan kaumnya untuk menjalankan aktifitas di dunia agar senantiasa mendapat ridlo Allah SWT.
Syariat yang diajarkan oleh Islam tidak lepas dengan rukun yang berada didalamnya. Rukun Islam yang berisi 5 hal, yaitu Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji,  itulah yang mengikat dan menjadikan kaum yang memeluknya untuk senantiasa melaksanakan ke-lima hal tersebut. Karena apabila kita tidak menjalankan salah satu dari kelima hal itu maka Islam kita menjadi tidak sempurna. 
Dalam hal ini, jika kita lihat dan kita pahami kelima rukun Islam tersebut adalah beberapa aspek yang menyatakan bentuk ibadah kita, dimana disana terdapat beberapa aspek yang memperlihatkan bentuk ibadah kita kepada  Allah dan bentuk ibadah kita dengan sesama manusia. Sebenarnya semua ibadah tujuannya adalah mendapatkan ridlo Allah, namun jalannya ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Salah satu ibadah yang tidak langsung itu adalah Zakat. Sebagai rukun Islam yang ke-tiga. 
Setiap umat muslim wajib menunaikan ibadah zakat. Namun, dalam pelaksanaannya, tentu harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berdasar pada syariat Islam, sehingga ibadah itu bisa diterima oleh Allah SWT. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang akan dibahas. 
Pada kesempatan kali ini, sebagai pemakalah saya akan memberikan batasan pada penyampaian materi terkait dengan ibadah zakat, yaitu tentang golongan orang – orang yang berhak menerima zakat. 
B. KELOMPOK  YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT
1. Pengertian Zakat
a. Secara Etimologi
Kata zakat ( atau zakah ) mengandung banayk arti, antara lain, keberkahan, kesuburan kesucian dan kebaikan. Berasal dari zaka (kata kerja untuk masa lalu) dan yazku ( kata kerja sekarang dan    mendatang ), yang berarti bertambahnya jumlah sesuatu atau tumbuhnya tanaman dengan subur. Adapun kata zaqiy digunakan untuk menyebut seseorang yang banyak berbuat kebajikan, atau yang dipujikan sebagai orang yang baik hati, terpercaya, dan sebagainya.  
b. Secara Terminoligi
Menurut istilah syara’ ialah mengeluarkan sebagian dari harta benda atas perintah Allah SWT, sebagai shadaqah wajib kepada mereka yang telah ditetapkan menurut syarat – syarat yang telah ditentukan oleh hukum Islam. 
Sedangan menurut istilah dalam syariat, zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan dari milim seseorang, untuk kepentingan kaum fakir miskin serta anggota masyarakat lainnya yang memerlukan bantuan dan berhak menerima.  
2. Hukum Mengeluarkan Zakat
Mengeluarkan zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mempunyai harta benda menurut ketentuan dan kaidah yang telah ditetapkan oleh hukum Islam. Bahkan orang yang mengingkari wajibnya ibadah atau kewajiban zakat itu dihukm kafir.  
Allah SWT berfirman dalam alqur’an Q.S. Al Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Yang artinya:
“Dan tiada diperintahkan mereka melainkan menyembah Allah SWT, sambil mengikhlaskan ‘ibadat dan ta’at kepada-Nya serta berlaku cenderung (tertarik) kepada ‘ibadat itu, dan mendirikan shalat dan memberikan zakat. Itulah agama yang betul.”
3. Kaum yang Berhak Menerima Zakat
Dalam pelaksanaan ibadah zakat tentunya ada beberapa pelaku atau pihak yang melaksanakan dan pihak yang menerima. Kaitannya dengan hal tersebut perlu diketahui bahwa, pertama adalah siapakah yang wajib memberi atau mengeluarkan zakat? Kedua adalah siapa saja yang berhak menerima zakat?
Pertama, orang yang wajib mengeluarkan zakat adalah: 
a. Setiap Muslim yang memiliki harta mencapai nisbah (jumlah minimal tertentu yang ditetapkan atas setiap jenis harta) diwajibkan mengeluarkan zakatnya.
b. Anak yang belum baligh atau orang yang tidak waras akalnya, apabila memiliki harta sejumlah nisbah, maka walinya wajib mengeluarkan zakat atas nama mereka.
c. Orang yang meninggal dunia, dan diketahui belum sempat mengeluarkan zakat atas hartanya, maka wajib atas para ahli warisnya membayarkan zakatnya sebelum harta tersebut dibagi – bagi untuk mereka. 
Kedua, orang yang berhak menerima zakat adalah:
Orang yang berhak menerima zakat dalam fiqh disebut Mustahiq, terdiri dari delapan asnaf yang tercakup dalam firman Allah SWT :
۞ إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ
Yang artinya:
“Sesungguhnya sedekah – sedekah (zakat- zakat) itu hanyalah untuk orang – orang kafir, orang – orang miskin, paa ‘amil, (yakni pengurus zakat), para muallaf ( orang – orang yang dijinakkan hatinya), serta demi upaya pembebasan para budak, (menolong) orang – orang yang dihimpit hutang, dalam perjuangan fi sabilillah (dijalan Allah), dan untuk para Ibnu Sabil (atau mereka yang memerlukan pertolongan ketika sedang dalam perjalanan). Demikianlah sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan sungguh Allah adalah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Baik.” (Q.S. At-Taubah [9] : 60) 
a. Fakir – Miskin
Para fuqaha telah membedakan definisi antara kaum fakir dan miskin. Kaum fakir itu lebih sengsara kehidupannya dari kaum miskin, artinya ia tidak mempunyai penghasilan tetap untuk memenuhi kehidupan sehari – hari. Tetapi orang miskin itu, masih mempunyai penghasilan tetap tetapi tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari – hari. Jadi kedudukan fakir itu lebih sengasara dari pada miskin. 
Menurut Imam Syafi’i dan Hambali menyetakan bahwa orang yang mempunyai separuh dari kebutuannya, ia tidak digolongkan kedalam golongan orang faqir, dan dia tidak boleh menerima zakat. Sedangkan Imam Hanafi mengemukakan pendapatnya bahwa orang gaqir adalah orang yang mempunyai harta kurang dari nishab, sekalipundia sehat dan mempunyai pekerjaan. Adapun orang yang yang mempunyai harta sampai nishab apa pun bentuknya yang dapat memenuhi kebutuhan pirmer, berupa tempat tinggal, alat – alat rumah, dan pakaian maka orang yang memiliki harta seperti ini atau lebih, tidak noleh diberikan zakat. Alasannya bahwa orang yang mempunyai harta sampai nishab maka ia wajib zakat. Orang yang wajib zakat berarti ia tidak berhak menerima zakat.  
Terdapat perbedaan yang signifikan dari beberapa Imam Mazhab terkait dengan definisi fakir dan miskin. Dengan jelas Imam Hanafi dan Maliki menyebutkan bahwa orang miskin adalah golongan orang – orang yang keadaan ekonominya lebih buruk dari orang – orang kafir. Sedangkan Imam Hambali dan Syafi’i mengutarakan bahwa orang fakir adalah kelompok orang – orang yang mempunyai keadaan ekonomi lebih buruk dari orang miskin, karena yang dinamakan fakir adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu atau orang yang tidak mempunyai separuh dari kebutuhannya. 
b. ‘Amil (Pengurus Zakat)
Yaitu panitia zakat yang dapat dipercayakan untuk mengumpulkan, dan membagi – bagikan zakat kepada orang – orang yang berhak menerima zakat sesuai dengan ketentuan Hukum Islam. 
Sedangkan menurut Muhammad Bagir Al Habsyi dalam bukunya yang berjudul Fiqh Praktis (2002), beliau mengemukakan definisi dari ‘amil, yaitu mereka yang ditunjuk oleh pemerintah muslim setempat untuk  menjadi petugas pengumpul dan penyalur zakat dari para Muzakki (pembayar zakat), termasuk pula para pencatat, penjaga keamnan, dan petugas penyalur kepada para mustahiq.  
c. Muallaf
Yang dimaksud dengan kaum muallaf adalah ornag – orang yang perlu dijinakkan atau dilunakkan hatinya dengan memberi mereka sebagian dari harta zakat agar tertarik kapada agama Islam, atau demi memantapkan keimannya, atau membeli kesetiannya terhadap masyarakat Muslim. Mereka ini terdiri dari dua kelompok Muslim dan non muslim. 
Adapun yang termasuk muallaf dari kelompok muslim adalah;
  1. Orang – orang yang baru masuk agama Islam, atau yang masih perlu dimantapkan hatinya agar tetap dalam keimanannya. 
  2. Kaum muslim yang menghuni daerah – daerah perbatasan atau yang berada dibawah kekuasaann orang – orang kafir, dan dikhawatirkan akan terpengaruh oleh iming – iming harta atau jabatan, sehingga keluar dari agama Islam atau menjadi alat kaum kafir untuk menunjukkan gangguan terhadap masyarakat Muslim. 
  3. Para pemimpin kelompok mesyarakat atau pemuka suku, yang diharapkan dapat mempengaruhi para pengikutnya agar masuk Islam, atau mencegah terjadinya kejahatan yang mungkin dapat ditimbulkan oleh golongan orang – orang kafir terhadap kaum Muslim. 

Sedangkan kaum muallaf dari kelompok non-muslim adalah ;
  1. Mereka yang diharapkan memeluk agama Islam namun masih perlu dijinakkan hatinya dengan pemberian – pemberian. Terutama apabila mereka adalah pemimpin kaumnya, sehingga diharapkan pula dapat menarik kaum mereka untuk memeluk agama Islam bersama mereka. 
  2.  Mereka yang dikhawatirkan akan melakukan kajahatan terhadap agama Islam, lalu diberi zakat guna mencegah terjadinya kejahatan itu. 

Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum para muallaf, apakah masih tetap berlaku atau sudah mansukh. Imam Hanafi menyebutkan bahwa hukum ini berlaku ketika permulaan penyebaran Islam, karena lemahnya kaum muslimin. Kalau dalam situasi saat ini dimana islam sudah kuat, maka hilanglah hukum itu karena sebab – sebabnya sudah tidak ada.  
d. Riqab (Orang yang Memerdekakan Kaum Tertindas)
Ruqab adalah orang yang membeli budak dari harta zakatnya untuk memerdekakannya. Dalam hal ini, banyak dalil yang cukup dan sangat jelas bahwa Islam telah menempuh berbagai jalan dalam rangka menghapus perbudakan. Hukum ini sekarang sudah tidak berlaku dengan alasan bahwa sekarang perbudakan sudah tidak ada. 
e. Al-Gharimin (Orang – orang yang Terhimpit Hutang)
Orang – orang yang berhutang (gharim) adalah orang yang berhutang karena sesuatu kebutuhan pokok, seperti untuk memenuhi kebutuhan, makan, pakaian, mencari ilmu, dan sebagainya. Bukan karena tujuan untuk berfoya – foya atau bangga – banggaan. Mereka para gharim tersebut diatas bisa diberi zakat untuk membayar hutang. 
Sedangkan Muhammad Jawal Mughniyah dalam buku Fiqih Lima Mazhab (2006), menyatakan bahwa Al-Gharimun adalah oarang – oarang yang mempunyai hutang yang dipergunakan untuk perbuatan yang bukan termasuk perbuatan maksiat. Dan zakat dapat diberikan kepada mereka dengan tujuan agar mereka dapat membayar hutangnya. 
f. Fi Sabilillah ( di jalan allah)
Pada dasarnya, bagian ini dari zakat adalah untuk para sukarelawan yang berjuang dalam peperangan membela agama dan negara sebuah tentara asing. Mereka ini berhak untuk menerima zakat (dari bagian fi-sabilillah atau dijalan Allah SWT), baik mereka dalam keadaan miskin ataupun kaya. Demikian pula untuk persiapan – persiapan pertahanan negara, termasuk pabrik – pabrik senjata, rumah sakit tentara dan sebagainya. 
g. Ibnu Sabil
Secara harfiah arti Ibnu Sabil adalah “anak jalanan” yang tidak mempunyai rumah untuk ditinggali, atau orang yang terpaksa lebih sering dalam perjalanan, jauh dari kota tempat tinggalnya, demi memenuhi nafkah hidupnya. Termasuk dalam kategori ini yaitu musafir yang kebetulan kehabisan ongkos ditengah perjalanannya, sehingga memerlukan bantuan keuangan. Menurut sebagian pembesar ulama, orang seperti itu boleh diberi uang zakat, walalupun di negerinya sendiri ia termasuk berkecukupan. Syaratnya, tidak ada orang lain yang bersedia meminjamkan uang kepadanya, untuk biaya kepulangannya. 
Selain dari pada utu, persyaratan lain agar dalam hal ini seseorang boleh diberi zakat, ialah bahwa perjalanannya itu untuk tujuan kebaikan, bukan untuk melakukan maksiat ataupun perbuatan kejahatan. Maka yang lebih diutamakan adalah para penuntut ilmu yang berada jauh dari keluarganya. Atau memberi beasiswa bagi para pelajar di luar negeri yang sedang mempelajari ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Muslim secara umum. 
C. GOLONGAN KAUM YANG TIDAK BERHAK MENERIMA ZAKAT
Sebagai penambah wawasan kita tentang bab “Asnafus Zakat”, dalam hal ini akan disampaikan juga terkait dengan golongan orang – orang yang tidak termasuk dalam Asnafus Zakat, yaitu orang – orang yang tidak berhak meneima zakat. 
Ada beberapa orang yang tidak berhak menerima zakat, yaitu:
1. Anak dan Ayah
Zakat seseorang tidak boleh diberikan kepada anggota keluarga sendiri dalam garis keturunan ke atas, yakni ayah, ibu, kakek, nenek, dan seterusnya. Begitu pula dalam garis keturunan kebawah, yakni anak, cucu, dan seterusnya. Orang – orang ini tidak berhak menerima zakat, karena – sepanjang mereka tidak mampu mencari sendiri nafkah hidupnya disebabkan usia lanjutnya, atau belum mencapai dewasa, atau menderita penyakit yang menghalangi dari bekerja, atau karena cacat fisik atau mental dan sebagainya, bukan karena kemalasan atau kefasikan, maka mereka itu termasuk dalam kelompok orang – orang yang wajib dinafkahi oleh si pembayar zakat.  
2. Isteri
Diketahui bahwa seorang suami tidak dibenarkan memberikan zakatnya kepada istrinya sendiri, karena ia termasuk yang wajib dinafkah. Sama seperti anak, ayah, ibu, dan seterusnya. 
3. Ahlul Bait (Keluarga atau Kerabat Rasulullah SAW)
Ahlul – Bait  atau keluarga Rasulullah SAW yang dimaksud adalah suku Bani Hasyim dan keturunan mereka (menurut sebagian ulama, termasuk pula keturunan Bani Muththalib). Mereka tidak dibolehkan menerima zakat, karena kedudukan mulia mereka. 
4. Orang – orang kafir atau Murtad
Orang – orang kafir atau yang murtad ( keluar dari agama Islam secara terang – terangan ) tidak berhak menerima zakat. Kecuali yang tergolong Muallaf  ( orang yang dijinakkan hatinya ) seperti telah disebutkan, dalam keterangan tentang siapa saja yang berhak menerima zakat. 
DAFTAR PUSTAKA
Ahnan , Mahtuf dan Maria Ulfa. – . Risalah Fiqh Wanita. Surabaya: Terbit Terang.
Al Habsyi, Muhammad Bagir. 2002. Fiqh Praktis. Bandung: Anggota IKAPI.
Rifa’i, Moh.1978. Fiqh Islam Lengkap. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2006. Fiqih Lima Mazhab. Jakarta: Lentera. 

Tinggalkan komentar