Artikel

Hidup ini hanya apalah-apalah

Hidup ini hanya apalah-apalah – Ahhh malam ini apalah-apalah banget! Kaya martabaknya anak presiden yang sedang tren sekarang, penuh rasa. Pernah merasakan bahwa hidup ini seakan sendiri, pernah merasakan bahwa hidup ini seakan tak adil? Yah seperti itulah luapan yang bisa dilakukan manusia, menurut saya wajar saja, toh yang hebat juga nyatanya berpura-pura, berpura-pura untuk tenang. ahay

Pada suatu hari ada seorang sahabat yang menemui saya dengan wajah yang penuh optimis, sebut saja namanya Sito (bukan nama sebenarnya), saya masih ingat betul di perpus malam itu dia mengatakan pada saya untuk aktif menulis, dulu memang kita bertiga, satu lagi namanya Rian dan saya sendiri tentunya pernah berujar atau mungkin pernah bermimpi, mimpi yang begitu sering kita sombongkan, bahwa dari web ini kelak kita akan bisa menikmati hidup, kita besarkan web ini sekelas detik atau media sejenis yang penghasilannya tak lagi bisa diukur dengan hitungan jari tangan manusia. hoho

Tidak hanya profit keuntungan beberapa obrolan kita pada malam menjelang pagi juga sering berbicara tentang kehidupan, menambah suasana malam semakin angker saja, tentang bermanfaat dengan orang lain, tentang dunia fana, tentang cinta dengan kegaloan si Rian (kelak akan jadi sufistik sekelas Madjun),haha. Namun ternyata dibalik obrolan suci tersebut ternyata kita lupa, bahwa kita sendiri belum selesai dengan diri kita masing-masing, kita sama-sama masih bingung jangankan alamat, arah saja kita tak tahu.

Baca juga : Jangan Paksa Aku Menulis

Mana mungkin orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri bisa bermanfaat untuk orang lain, mari segeralah kita menyelesaikan diri kita masing-masing setelah itu mari kita berlari, bukan berlari untuk saling meninggalkan tapi berlari untuk saling member rizki, bukan hanya rizki untuk perut kita masing-masing tapi perut untuk orang-orang yang jarang sekali terisi

Bahwa kita sering lupa suksesnya orang karena dia mensukseskan orang juga, pegang prinsip itu, meski saya sendiri masih jauh dari kata itu, namun dari beberapa kesempatan saya orang yang cukup beruntung bisa menikmati hidup

Ada kalimat yang sama-sama kita yakini “sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Sedih rasanya ketika harus menulis kalimat ini mengingat saya sendiri belum banyak bermanfaat untuk orang lain.

Tak usah membantah bahwa kita memang egos, semaunya sendiri, begitu mudah menasehati orang lain sementara untuk menasehati diri sendiri begitu susah, bagai berkaca walaupun kita bisa berbicara dengan diri sendiri namun itu secara kasap mata secara lahiriah, sama sekali belum.

Okeh kita memang sama-sama perlu uang untuk bertahan hidup, tetapi alangkah lucu mau meninggalkan ini begitu saja, eh iya kan katanya kita memang belum profesional lah yah, jadi masih bebas lakuin apa saja. Ayolah sama-sama belajar konsisten dengan ucapan yang sudah kita ucapkan.

Iya hidup memang pilihan, terus mau sampai kapan kita harus memilih? Apakah akan selama hidup kita akan terus memilih, atau memang sudah setua ini kita juga belum menemukan apa yang disebut dengan jati diri.

Sudah pulanglah ke rumah, kembali belajar hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dunia luar memang seperti itu mengantarkan manusia pada imaji astral yang sulit dihadirkan secara nyata. Ah malah tulisan ini jadi seakan mendikte seseorang, sama sekali tidak ini hanya sandiwara. Toh memang hidup ini hanya sebuah sandiwara yang tak berputus.

Saya kira tidak ada manfaatnya maka saya akhiri dengan ucapan sekian dan menikahlah.

Baca Juga : Mari Ngomongin Orang Dulu

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !