Hidup itu kok Lucu? Yah?

Hidup itu kok Lucu? Yah? – Pagi Senin 8 Februari suasana begitu cerah, setengah 6 pintuku digedor-gedor Ibuku yang biasa aku panggil “mamake”, “sudah siang, bangun! sholat subuh!” begitu teriakan meriah mamake, semeriah perayaan tahun baru imlek 2567 hari itu. Itulah kelucuan pertama dihari itu, apanya yang lucu? Enggak tahu, pokoknya lucu aja!

Entah mengapa aku yang dulunya (merasa) diri ini serius, perfeksionis, teoritis, akhir-akhir ini kok merasa hidup ini kok hanya lucu-lucuan. Suatu hari ketika akan berangkat ke kampus untuk bertemu dosen yang lucu, aku dihadang oleh hujan deras yang datang tiba-tiba. Waduh sial! (jangan ditiru!) begitu kira-kira gerutuku.

Aku dan teman yang baruku (yang kudapatkan hanya dengan berbalas senyum) buru-buru menghentikan motor dan mengambil jas hujan. Melepas sepatu dan memasukannya kedalam keresek. Lalu jalan..

Selang 3 menit kami menggeber kuda hitam masing-masing, cuaca berubah berbalik. Yang tadinya hujan deras eh malah kini panas terik, kami berduapun berhenti dan melepas jas hujan.

“Sudah repot-repot pakai mantel, buka sepatu, eh malah terang! Sial!” omel temenku
Akupun membalas, “Sudah.. Gusti Allah itu maha segalanya, bukan cuma maha suci dan maha pengasih, Allah juga maha guyon, beginilah buktinya, jadi ketika Gusti Allah lagi guyon, balaslah dengan guyon”

Hidup itu kok Lucu? Yah?

Lucu melihat “ulama”

Ya memang hak asasi dan mencari nafkah sih, tapi melihat ulama-ulama yang mengiklankan produk dengan kata-katanya, serta masuk infotaiment dengan mengucap kalimat tayibah diakhir setiap kalimatnya itu kok aku merasa geli! Lucu!

Apalagi melihat perkumpulan para ulama disana yang sering mengeluarkan fatwa, “ini Jilbab halal” , “itu haram”,tapi kok banyak yang masih kontra? dengan nalarku aku kok aku merasa lucu.

Pemimpin (dan yang sedang nafsu jadi pemimpin) lucu?

“Kerja-kerja-kerja!” begitu terikan yang kudengar dari atas sana. Wong tanpa disuruh begitupun setiap hari ada orang bergerombol didepan papan lowongan kerja. Setiap haripun banyak orang yang masih ngetik di google “lowongan kerja”. Aku juga setiap hari memikirkan mau kerja apa besok Pak..

Lagian mau kerja bagaimana? Teman-temanku diperusahaan-perusahaan sana banyak yang di PHK, entah itu karena kondisi ekonomi global, atau harga minyak yang anjlok.
Lagian mau kerja bagaimana? Bapak malah membuat kebijakan yang membuat si mata kecil itu berduyun-duyun gawe di bumi Nuswantoro ini. Mereka itu pintar dan dilindungi, jelas kami kalah bersaing. Entah itu karena salah satunya karena MEA atau kerjasama bilateral atau kerjasama yang lain.

Apalagi melihat yang satu ini, si CEO media, setiap aku melihat dia melontarkan kata-kata bahwa dia yang akan menjdi “malaikat penolong bagi negri ini”, itu adalah visualisasi paling lucu melebihi komedi apapun, gokil pokoknya.

Dia itu kan mau jadi pemimpin? Mau mencerdaskan bangsa? Kok malah medianya membuat acara-acara yang lebih banyak mudaratnya bagi kecerdasan bangsa yah? Sineton yang mengajarkan pacaran,anak muda balapan, perselingkuhan, kejahatan, itu masih nyambung dengan kata-kata “Indonesia harus menjadi Negara maju” gak? Itu lucu tauuu, sangat lucu..

Menurutku, aku juga lucu

Bukan lucu humoris maksudnya, bukan orang yang dengan banyolannya bisa membuat tertawa terbahak orang lain. Aku kok merasa aku ini lucu, setiap hari upacara, harus akting senyum dengan orang aku tak ingin senyumi, harus kelihatan sedih setiap orang lain ada musibah, aku lucu. Kenapa aku sholat, kenapa sholat jamaah itu durasinya lebih lama dari shalat munfarid, kenapa gajiku kecil sekali, kenapa aku rapi ketika akan bertemu cewekku, kenapa aku pacaran, pokoknya banyak deh, lucu pokoknya.

Membuat dan membaca tulisan inipun aku merasa ini lucu. Entahlah, aku yang ingin terlihat guyon dalam keseriusan, atau terlihat serius padahal aku sadar ini kelucuan.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !