Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan) – Melihat kesuksesan beberapa teman saat masih di bangku sekolah dulu dengan segala prestasi yang sudah didapat, rasa senang ikut mengembang dalam sebuah senyuman saat kita bisa berkumpul beberapa hari yang lalu.

Biasa, saat ketemu teman sekolah dulu hal pertama yang selalu kita bicarakan adalah mengingat-ingat masa sekolah dulu, dimulai dari kenakalan hingga percintaan yang tak pernah ada ujung.

Sebagai seorang yang biasa-biasa saja waktu sekolah dulu, yang tak pernah aktif dikegiatan sekolah baik OSIS maupun Pramuka dan kegiatan-kegiatan yang lain. Aku pun berteman dengan anak-anak yang biasa-biasa pula.

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Bukan anak yang penting di sekolah seperti pengurus OSIS atau punggawa-punggawa yang lain dalam bidang tertentu yang bisa mengharumkan nama baik sekolah.

Tak banyak cerita mengenai kegiatan di sekolah, yang banyak justru dari perjalanan cinta dan kenakalan remaja pada saat itu.

Terlahir dari keluarga biasa dengan tampang yang biasa juga, aku tak mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkan termasuk soal cinta. Heemm

Berbicara soal cinta jangan salah bro, meski dengan segala keterbatasan yang ada, aku termasuk pejuang cinta yang hebat. Entah hebat atau gak tau malu juga sih sebenarnya., Soalnya bolak-balik di tolak cewe tetep aja maju. Haha

Cerita dikit boleh ya. Waktu dulu zaman SMP aku suka dengan seseorang cewe sebut saja namanya “Upil” dia anak yang pintar, aktif di organisasi, cantik, putih, aduhai dan segala kata yang menggambarkan dia sebagai sosok perempuan yang nyaris sempurna.

Melihat gadis seperti itu naluri aku sebagai laki-laki memuncak (bukan horny), aku mulai mendekati gadis itu secara serampangan, dimulai dari memaksa mengajak berkenalan, sok-sokan mengirimkan bunga (plastik). Sampai mengajak berkelahi pacarnya. Haha

Hampir setiap jam istirahat aku ke kelas si do’i dengan harapan bisa bertatap muka dengannya. Ehh harapan hanya tinggal harapan, jangankan mau bertatap muka, ketika si do’i lihat aku saja langsung kabur.

Mungkin si do’i takut kali melihat aku yang bermuka hitam (areng) dengan tubuh kecil rambut dan baju kucel, bagai melihat penampakan di pojok sekolah yang konon dulu ada.

Perjuangan belum berakhir bro, tidak bisa ketemu di jam istirahat tidak masalah, masih ada waktu yang lebih senggang yaitu saat pulang sekolah. Saat mendengar bel pulang sekolah saat itu pula sebuah kebahagiaan bagi saya.

Dengan cepat aku bergegas ketempat sepeda, menyiapkan sepeda si do’i agar tidak terhalang oleh sepeda lain. Jika sepeda si do’i sudah dipastikan terparkir dengan baik dan siap untuk digunakan maka aku hanya tinggal menunggu si do’i untuk (berharap) mau pulang bersama.

Hemm… aku pikir si do’i senang, eh malah nyuruh orang untuk mengambilkan sepedanya. Karena do’i sudah tau melihat dari kejauhan, bahwa aku sedang berada di dekat sepedanya.

Aduh malang bener nasibku ini, tak masalah. Aku kan bisa membuntuti dia dari belakang pikirku, dengan sepeda tua yang rantainya mudah copot, aku mengikuti do’i dari belakang, dalam perjalanan aku sapa dia, dengan harapan ada obrolan yang tercipta.

Lagi-lagi aku dibuat kecewa, hingga bersepeda sampai ke rumahnya tidak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya. Rasa jengkel, marah, sebel mengeruak. Dari situ siapapun yang berani mendakati si do’i akan saya hajar termasuk pacarnya. Haha

Dulu memang aku termasuk jagoan di sekolah, meski dengan tubuh yang relatif mungil banyak anak yang segan denganku, meski lebih banyak juga yang berani sih. Haha

Proses mendekati si do’i hampir setiap hari, kurang lebih berjalan hingga 1 tahun. Hingga waktu juga yang tak bisa diajak berkompromi, karena kita sudah dinyatakan sama-sama lulus di sekolah tersebut. Selepas lulus. Hampir tiga tahun jarang sekali berkomunikasi, dia berada di sekolah negeri favorit sedangkan aku di sekolah swasta biasa.

Hingga waktu juga yang akhirnya menemukan kita kembali. Tanpa disangka-sangka akhirnya kita kuliah di kampus yang sama. Rasa yang dulu juga masih sama dengan perilaku yang berbeda tentunya.

Memasuki bangku kuliah sudah banyak perubahan dihidupku. Aku termasuk anak yang aktif, banyak kegiatan yang aku ikuti yang akhirnya membentuk diri menjadi lebih baik (menurutku). Dari organisasi kampus seperti BEM dan organisasi luar kampus pun tak luput dari lahan prosesku.

Bertemu dengan orang yang dulu pernah menghiasi pikiranku (meski dia tak pernah mememikirkanku) rasanya sungguh menyenangkan, ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cieh

Melihat berubah dan berkembangnya aku nampaknya si do’i lumayan kaget, dulu dimata dia aku hanya seorang anak hitam yang nakal dan hobi berkelahi.

Tapi sekarang coba lihat (sambil ngaca) berubah menjadi remaja yang gagah rupawan jadi Dewan Mahasiswa pula. Hahaha

Pernah suatu hari kita juga dipertemukan saat lomba karya tulis ilmiah di kampus, aku harus mempresentasikan hasil penelitian dihadapan dewan juri melawan kelompok yang salah-satu anggonya adalah si do’i.

Dalam hati aku berkata (dengan pandangan sinis) “heem inilah saatnya aku buktikan pada dia bahwa aku sudah berubah”. Tak disangka-sangka ternyata hasilnya diluar dugaan. Kelompokku yang menang dan berhak mewakili kampus dalam tingkatan lomba yang lebih tinggi.

Tapi itu tidak cukup membuat hati si do’i luluh, dia tetap saja pada pendirian yang sama seperti 8 tahun yang lalu dia kembali menolakku.

Sekarang apa hubunganya kisah di atas dengan kalimat “hidup ini milik para pejuang”. Jadi begini bro “bahwa hidup itu perjuangan”, kita perlu memperjuangkan atas apa yang kita inginkan (termasuk cita-cita).

Kisah di atas mengambarkan kalau aku tidak ketemu si doi, aku mungkin tidak pernah tahu makna perjuangan itu seperti apa? Yang kita tahu mungkin hanya sekedar kata-kata pemanis benner saja, dalam praktik kita bingung.

Segala sesuatu di dunia ini tidak gratis bro, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk dapat memperoleh hasil yang pantas, jangan hanya duduk manis di rumah saja. Mari keluar rumah. Perjuangkan apa yang menjadi keyakinan kita.

Bersyukur dulu aku dipertemukan dengan si do’i, karena dengan bertemu dia, aku bisa menjadi pejuang, mengajarkan hal yang jauh lebih besar melampaui sekedar kata cinta.

Menjadi pejuang itu perlu latihan, siapa yang terlatih dia yang akan mendapat ganti yaitu kemudahan. Lagi-lagi aku harus katakan terimakasih pada si do’i karena berkat dia, aku terlatih untuk berjuang sedari kecil.

Sekarang kita sudah sama-sama tumbuh menjadi dewasa, kau sudah ada pasangan dan aku. Hemm,, masih sendiri. Namun ada hal yang jauh lebih penting, yaitu soal makna perjuangan. Minimal berjuang untuk bisa bertahan hidup.

Semoga bermanfaat, biarkan semua mengalir apa-adanya kita hanya tinggal menjalankan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !