Hubungan Hidup Kita Dan Kehidupan Orang Lain

Hubungan Hidup Kita Dan Kehidupan Orang Lain – Manusia adalah makhluk sosial, dimana setiap aspek kehidupannya pasti akan berhubungan dengan orang lain. Dalam aspek ekonomi, manusia selalu membutuhkan orang lain dalam mitra bisnis dengan laku simbiosis mutualisme. Dalam aspek pendidikan, kita selalu membutuhkan guru,tutor ataupun pelatih dalam bidang keahlian kita yang akan ditekuni. Dalam urusan religi, Tuhan memerintahkan kita untuk menjaga hubungan baik, saling menghormati, saling memberi, saling nasehat menasehati, dan lain-lain dalam bingkai habluminannas.

Sepintar-pintar, sekaya-kayanya ataupun segagah-gagahnya kita, tetap ada rasa kerinduan terhadap cinta dan perhatian dari orang disekeliling kita, keluarga, tetangga, teman ataupun yang lainnya. Sepintar-pintarnya kita, kita tidak akan lebih merasa bahagia daripada kita membagikannya ke orang lain. Sekaya-kaya kita tetap kita akan merasa kurang, tetap tidak akan merasa cukup sebelum kita membaginya. Segagah-gagahnya kita, tetap kita takan terlihat gagah apabila kita tak melakukan yang orang lain butuhkan.

Untu apa pintar sendiri? Bukankan yang menentuakan kepintaran kita adalah orang lain? Bukankah kepintaran kita suatu saat nanti akan berubah jadi kepikunan?

Untuk apa gagah? Bukankah suatu saat nanti kita akan keriput juga? Bukankah nanti kita juga tidak akan berdaya?

Untu apa kaya? Sudah banyak kisah orang yang terazab karena kekayaannya.

Disadari atau tidak, dalam setiap laku orang lain, baik itu positif ataupun negatife, adalah rasa cinta mereka terhadap kehidupan kita. Itulah air yang mereka pancarkan dalam gersangnya hidup kita, itulah oase dalam keringnya hidup kita. Itulah energi terbarukan yang akan meregenerasi setiap sel hidup kita yang semakin menua. Sanjungan, pujian, cacian, makian, kemarahan, rasa benci mereka adalah perwujudan cinta mereka, wujud kasih mesra mereka, meskipun cara menyatakannya berbeda.

Seberapa hidup kehidupan kita adalah tergantung bagaimana kehidupan orang lain disekeliling kita. Seberapa hidup kehidupan kita adalah seberapa besar manfaat yang dapat orang lain nikmati dari kita.

Jangan makan sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Itu adalah ungkapan sederhana yang bermakna spiritual yang dalam.

Lapar bermakna kebutuhan, kebutuhan orang lain yang dapat kita penuhi, kebutuhan orang lain yang sangat-sangat kompleks dan mencakup semua rentang usia. Makan bisa dimakna sebagai belajar, belajar untuk mendapatkan ilmu. Ilmu yang nantinya dapat kita terapkan dan manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain.

Lalu makna “berhentilah makan sebelum kenyang”?. Ungkapan itu mengajak kita merenung, merenungi ilmu-ilmu yang telah kita makan. Kita jangan hanya sibuk “makan” tapi tak memberi manfaat orang lain. Percuma segudang teori yang sudah kita kumpulkan dari tumpukan buku-buku koleksi kita tanpa kita implementasikan ke orang lain. Tidak usah menumpuk terlalu banyak teori jika pada akhirnya itu hanya menjadi sebuah tumpukan dan hanya sebuah teori. Terapkanlah teorimu, jangan hanya berteori.

Kadang kala kita terlalu egois. Kita terlalu sibuk menumpuk teori, terlalu sibuk mempercantik diri, terlalu sibuk menimbun materi. Hingga misalnya jika ada tetangga yang membutuhkan, kita mungkin sudah terlalu capek. Bukankah itu tak ada bedanya kita seperti sudah mati? Kita seperti mayat yang tak lagi dibutuhkan, tak lagi bisa dimintai tolong, tak bisa memberi senyuman, atau mugkin malah kita hanya menjadi kerepotan orang lain, menjadi orang yang harus selalu diurus orang lain. Apakah kita mayat? Jawabannya ada pada hati terdalam diri kita sendiri.

Seberapa Hidup Kita…
Hidup kita, hidup orang lain juga

Hidup kita bukanlah hidup milik kita, itu dipunyai juga orang lain. Kehidupan kita sangat berkaitan dengan hajat hidup orang lain. Seberapa hidup kita adalah seberapa hidup orang lain karena kita.

Baca juga : Hal yang harus di lakukan ketika muda 

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !