Hubungan Manusia, Malaikat dan Asu

Hubungan Manusia, Malaikat dan Asu

Sebelum saya menjelaskan lebih, saya akan mendeskripsikan ketiga kata yang menjadi judul di atas,

  1. Manusia : Manusia adalah makhluk yang paling mulia, manusia adalah makhluk yang berfikir, dan manusia adalah makhluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusi dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.(Omar Mohammad A –Toumy Al-Syaibany)
  2. Asu  : a.k.a anj*ng, mamalia karnivora yang telah mengalami demostikasi dari serigala sejak 15.000 tahun lalu, atau mungkin sejak 100.000 tahun lalu berdasarkan bukti fosil dan penelitian DNA. KBBI : binatang menyusui yang biasanya dipelihara untuk menjaga rumah, berburu dsb; Canis Familiaris; ditepuki menjungkit ekor, pb orang hina (bodoh, miskin, dsb) kalau mendapat kebesaran menjadi sombong. (digunakan sebagai ungkapan untuk menyatakan kekurangajaran pada diri seseorang).
  3.  Malaikat : adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah. Makhluk yang mempunyai sifat mulia.

     ada apa dengan ketiga kata diatas? Apakah saling berkaitan? Saya jawab “Ya..”, ketiga kata diatas tentu saja saling berhubungan, berkaitan, bermanfaat dan memanfaati.

Allah maha pencipta, ciptaanNya absolut, mencakup bermilyar-milyar benda langit dan bumi, tentu saja benda-benda tersebut saling berkaitan (hanya saja manusia baru menemukan sedikit kaitan diantaranya, yang selanjutnya disebut ilmu pengetahuan).

Dalam kaitan antara manusia, asu, dan malaikat, saya akan memihatnya dari sudut pandang “manusia”. Ya..manusia seringkali berubah menjadi malaikat, dan sewaktu-waktu juga bisa menjadi asu.

Kadang-kadang (dibaca :seringkali) manusia itu bisa berubah menjadi malaikat, lho? Maksudnya adalah manusia kadang merasa menjadi makluk yang mulia, merasa termulia, merasa dirinya tanpa noktah dosa, merasa dirinya paling dekat dengan Allah, merasa paling suci. Itu berbahaya, ketika orang merasa suci, ketika orang merasa termulia, ketika orang merasa malaikat maka yang lain hanyalah sampah, yang lain hanya kotor, dan yang lain hanya asu.

Pertengkaran, percekcokan, permusuhan terjadi karena kita merasa benar sendiri, hampir disemua kalangan. Dikalangan politik, kita tak heran lagi melihat para anggota dewan yang katanya mewakili rakyat saling adu jotos. Dikalangan para pemuka agama, beberapa waktu lalu saya melihat video di youtube ada seorang (yang katanya) habib, hobby bersolawat, mempunyai jamaah banyak, malah dengan lantangnya dia mengkafir-kafirkan ulama lain, dan itu dilakukan di depan ribuan jamaahnya. Kita boleh mempertahankan dan memperjuangkan keyakinan kita, tapi janganlah kita menghakimi, menyalah-nyalahkan, bahkan mengkafir-kafirkan orang lain. Hanya Dia dzat yang maha kuasa yang berhak akan itu. Bertingkah lakulah seperti malaikat, tapi merasa-lah kita seperti asu.

Dalam hubungannya dengan asu, manusia harus mempunyai sudut pandang yang lain, perspektif terhadap asu hendaknya bukan hanya melihat kehinaannya, kenajisannya. Manusia harus belajar tentang kesetiaan dan intelijensianya.   Manusia harus menjadi asu untuk soal itu.

Saat kita merasa menjadi asu, kita merasa bahwa kita itu ternyata masih hina, sebaik-baik diri sendiri masih lebih baik orang lain. Tercipta rasa memuliakan orang lain, dan tentunya itulah yang diperintahkan Allah. Merasa hina adalah kunci untuk membangkitkan rasa dahaga kita terhadap kemuliaan-kemulian-Nya.

Hubungan Manusia, Malaikat dan Asu

Maka mari kita bersama-sama berlaku seperti malaikat namun posisikan diri seperti asu, merasalah seperti asu. Bila perlu buatlah orang lain menganggap kita asu, namun diam-diam kita justru seperti malaikat, itu yang akan menambah totalitas hubungan kita terhadap pemilik malikat dan pemilik asu. Ketika semua manusia merasa dirinya adalah asu, pasti tidak akan ada saling klaim meng-klaim, idul fitri setiap hari, damai. Sebaliknya jika semua mersa seperti malaikat, justru yang terjadi adalah semua menjadi asu.

Ber-malaikat-lah, ber-asu-lah.

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !