Cerpen

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu)

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu) – Akhir-akhir ini Kinan kelihatan sangat murung, seakan ada yang ditutup-tutupi dari dirinya, sebagai seorang sahabat aku merasa kasihan kepadanya.

Dengan sedikit canggung akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan, “Nan.. sepertinya kamu sedang ada masalah ya? Beberapa hari ini kamu kelihatan berbeda tidak secerewet biasanya”.

“Gak lah gak ada apa-apa cuma akhir-akhir ini aku merasa cape”. Hemm gak usah bohong kita berteman sudah lama, aku sedikit banyak tahu lah, kalau kamu sedang ada masalah.

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu)
ilustrasi hujan

Seketika Kinan berdiri dan menarik tanganku untuk masuk ke ruang kelas, seakan mengalihkan pembicaraan tadi, dengan sikap Kinan yang seperti itu aku semakin yakin bila ada sesuatu yang disembunyikan.

Jam sekolah pun usai waktunya pulang sekolah, rumahku dan Kinan searah sehingga hampir setiap hari kita pulang bersama mengayuh sepeda kita masing-masing, namun hari ini, sudah lama aku menunggu dia di gerbang keluar sekolah, namun tak kelihatan juga batang hidungnya.

Ohh mungkin Kinan sedang ikut ekstrakulikuler pikirku, sehingga langsung saja aku memutuskan pulang tanpa lagi menunggu Kinan

Sesampainya di rumah aku masih terpikir tentang apa yang sedang dialami Kinan, jelas dia sedang dirundung masalah gumamku.

Hari berganti pagi tidak seperti biasanya aku bangun sedikit lebih awal, setelah selesai menunaikan salat dan mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk hari ini, aku bergegas menuju ruang dapur, disana sudah ada ayah dan ibu yang sudah menungguku untuk sarapan pagi.

“Ini sarapanya sudah siap” kata Ibu sambil memberikan piring untukku, dengan sedikit tergesa-gesa sarapan pagiku aku cepat habiskan.

“Makannya pelan-pelan nak”, “iya pah”, pagi ini aku akan kerumah Kinan dulu untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Iya tapi makannya jangan terlalu cepat “dikunyah” dulu nasinya itu loh. “Iya pah iyah” kataku sambil mengahiskan sedikit makanan yang tersisa.

Ya udah aku berangkat kesekolah dulu yah bu, yah, setelah berpamitan aku segera bergegas ke rumah Kinan, rumah Kinan tidak jauh hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku.

Setelah menganyun sepeda dengan agak cepat akhirnya aku sampai juga di rumah Kinan, dia merasa “agak” kaget dengan kehadiranku dirumahnya sepagi ini.

Tumben ada apa? Tanya Kinan kepadaku, pagi-pagi seperti ini sudah kerumahku pasti ada maunya nih? Gak kok gak, pasti kamu mau melihat tugas laporan bahasa Indonesia ya?

Enak aja aku sudah mengerjakan tau, Cuma pagi ini aku ingin aku ingin mengajakmu berangkat bersama kesekolah, kemarin soalnya aku tidak melihatmu pulang?

Ohh iya kemarin aku ada ekstra nari, Ya sudah yu berangkat nanti malah terlambat.

Di dalam perjalanan di atas sepeda kami bercerita-cerita tentang teman-teman kami di sekolah, namun tidak ada cerita yang bisa menjawab pertanyaanku selama ini. Bahwa Kinan akhir-akhir murung karena apa?

Jam 6.30 pagi kami sudah sampai di sekolah disambut dengan senyuman guru-guru kami yang sudah dari tadi berdiri dan mengajak berjabat tangan dengan kami.

Merasa masih ada yang ditutup-tutupi dari Kinan aku mengajaknya untuk pulang bersama lagi setelah jam pelajaran usai nanti.

“Nan” nanti pulang sekolah, pulang bareng lagi ya”? Aduh maaf tidak bisa jawab Kinan dengan sedikit gelagat tidak enak, Aku harus mampir dulu kerumah bu de, ada titipan dari ayah.

Ya sudah kalau begitu, bel tanda masuk pun tidak lama berselang bunyi menandakan kita harus masuk ke kelas masing-masing.

Di kelas sambil menunggu guru masuk, aku bersama teman-teman berbincang-bincang topiknya masih sama soal Kinan, ternyata tidak hanya aku saja teman yang lain pun merasakan hal yang sama bahwa Kinan akhir-akhir ini terlihat sering murung.

Tak terasa jam pelajaran sebentar lagi usai dan kita akan segera pulang, namun cuaca hari ini sangat mendung, menandakan akan turun hujan. “Hem untuk aku bawa jas hujan, kalau tidak bakalan basah inih buku-buku”.

Seperti yang sudah diperkirakan hujan turun begitu lebat setelah bel tanda pulang sekolah terdengar. Teman-temanku masih banyak yang berada di sekolah sambil menunggu hujan reda.

Aku mencari Kinan di kelasnya berharap dia masih berada di kelas, setelah sampai di kelas aku mendapati kelas sudah kosong dan teman-teman yang lain tidak tahu bahwa Kinan sedang berada dimana?

Bergegas aku masuk ke kantin siapa tau Kinan sedang makan? Dalam perjalanan aku betanya kesalah-satu teman kelasnya dia mengatakan bahwa Kinan sudah pulang, berjalan kaki dengan menggunakan paying.

Seketika itu juga aku bergegas untuk mengayuhkan sepeda keluar sekolah berharap bisa melihat Kinan. Dan benar saja Kinan sedang berjalan kesuatu tempat.

Aku memutuskan untuk mengikuti dia saja, saking penasaranya Kinan mau kemana, padahal jalan yang dia tempu bukan jalan menuju kerumahnya.

Setelah agak lama mengikuti Kinan berbelok ke suatu tempat, “itu kan arah ke kuburan desa, mau apa Kinan hujan-hujan seperti ini ke kuburan.

Merasa agak aneh dengan apa yang akan dilakukan Kinan, akhirnya aku memberanikan diri untuk memanggilnya, Kinan mau apa kau ke kuburan itu? Teriakku kencang?

Kinan merasa kaget karena teriakkanku tadi, Hani, sedang apa kamu disini, aku sengaja mengikuti kamu dari belakang, namun aku heran kamu berjalan kearah kuburuan akhirnya aku memanggilmu.

“Sudah tidak usah berpura-pura tidak ada apa-apa lagi, hujan-hujan seperti ini, tidak mungkin kamu kesini kalau tida ada sesuatu”.

Tanpa banyak kata Kinan segera memelukku dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan suarah terbata-bata dia menjawab “aku rindu ibuku” seketika aku pun larut terbawa suasana melihat air mata Kinan keluar dari kelopak matanya.

Kinan memang sudah ditinggalkan Ibunya semenjak dari kecil, ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkan Kinan.

Kinan iri kepada teman-temannya, melihat mereka diantar ke sekolah oleh Ibunya, diantarkan bekal makan siang ke sekolah. Kinan iri kepada mereka, karena Kinan tidak tau rasanya punya ibu itu seperti apa.

Yang bisa Kinan lakukan ketika rasa itu mengeruak adalah Kinan selalu mengunjungi makan Ibunya menceritakan tentang apa yang dia alami selama di sekolah.

Dan akhir-akhir ini Kinan begitu sangat rindu tentang sosok seorang Ibu.

“Sudah, sudah aku berusaha menenangkan Kinan”, seraya mengatakan padanya, lain kali kalau kamu kesini aku ikut. Biar kamu tidak merasa sendiri.

Kinan yang aku kenal selama ini merupakan sosok yang kuat, tiada berdaya ketika merindukan sosok seorang Ibu.

Dia seolah-oleh ingin meluapkan kerinduannya sore itu, menangis begitu kencang, sementara hujan masih tak juga mau meredakan.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !