Identifikasi dan Determinasi Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Identifikasi dan Determinasi Hewan Avertebrata dan Vertebrata – Identifikasi penting artinya bila ditinjau dari segi ilmiahnya, sebab seluruh urutan pekerjaan berikutnya sangat tergantung kepada hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti. Dalam melakukan identifikasi, peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan (Darbohoesodo, 1976). Identifikasi makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu makhluk hidup. Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling populer yakni dengan membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui dengan gambar didalam buku atau antara tumbuhan dengan material herbarium yang sudah diketahui identitasnya (Suhardi, 1983).

Identifikasi dan pengenalan kelompok dan jenis hewan merupakan bagian yang sangat penting dalam taksonomi. Salah satu alat bantu identifikasi adalah kunci (identifikasi) yang dipakai untuk menentukan kedudukan hewan dalam sistematika hayati. Ada kunci untuk menentukan Filum (Phylum), Kelas (Class), Bangsa (Ordo), Suku (Family), Marga (Genus) dan Jenis (Species) hewan (Saanin, 1986).

Ada berbagai cara untuk menyusun sebuah kunci. Susunan yang paling praktis adalah kunci dengan deskripsi umum dan singkat yang disusun secara berpasangan (dikotom). Kunci ini dapat digunakan untuk memilih satu diantara dua kemungkinan yang ada. Jika spesimennya sangat unik, biasanya salah satu diantara dua pilihan deskripsi yang diberikan kunci akan cocok. Kunci merupakan alat bantu yang sangat penting dalam taksonomi. Kunci juga dapat bersifat membatasi upaya identifikasi. Sebuah spesimen yang unik atau menyimpang dari karakteristik umum akan mustahil teridentifikasi oleh kunci yang bersifat umum (Jasin, 1989).

Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya, yaitu yang berhubungan dengan kontiguitas (kontak), kemiripan atau keduanya. Klasifikasi dapat berdasarkan hubungan evolusi, habitat dan cara hidupnya. Klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri yang dimiliki) (Darbohoesosdo, 1976).

Hewan avertebrata pertama kali dikelompokan berdasarkan banyaknya sel penyusun tubuh (uniseluler atau multiseluler). Hewan uniseluler atau protozoa dibedakan atas cara dan lokomosinya yaitu menggunakan silia, flagella atau pseudopodia. Pembedaan hewan yang lainnya dilakukan berdasarkan kesimetrian tubuhnya, yaitu simetri radial atau bilateral, berdasarkan bentuk tubuh (bulat, memanjang dan elips), ada tidaknya insang, segmen, cangkang, antenna dan ciri-ciri pembeda lainnya. Hewan vertebrata meliputi kelompok craniata (hewan yang sudah memiliki tulang tengkorak atau cranial), sudah memiliki tulang penyokong tubuh yang disebut columna vertebralis serta pembagian tubuhnya sudah lengkap dan jelas (Darbohoesodo, 1976).

 

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah:

  1. Mengenali ciri-ciri hewan avertebrata dan vertebrata yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu.
  2. Melakukan identifikasi dan determinasi hewan avertebrata dan vertebrata.
  3. Mendeskripsikan hewan yang telah diidentifikasi dan dideterminasi.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu paku, baut, skrup, buku gambar dan alat tulis.

B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

  1. Paku, baut dan skrup disusun berdasarkan kemiripan yang dimilikinya.
  2. Paku, baut dan skrup tersebut digambar dan dibuat pohon filogenik.
  3. Kunci determinasi dari paku-pakuan dibuat berdasarkan pohon fiogenik.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Pohon Filogeni

IDENTIFIKASI DAN DETERMINASI HEWAN (AVERTTEBRATA DAN VERTEBRATA)

Kunci Determinasi
1.a. Paku berujung runcing
…………………………………………………………(2)
  b. Paku
berujung tumpul ………………………………………………………….(6)
2.a. Paku yang berkepala corong………………………………..(Paku corong
berulir)
   b. Paku
yang berkepala bulat………………………………………………………(3)
3.a. Paku dengan berkepala bertanda…………………………………………….(Skrup
runcing)
   b. Paku dengan berkepala tidak
tanda……………………………………………………………(4)
4.a. Paku yang berulir………………………………………………………………………(Paku
asbes)
   b. Paku yang tidak
berulir……………………………………………………………………………(5)
5.a. Paku yang berkepala payung………………………………………………………..(Paku
seng)
   b. Paku yang tidak berkepala
payung……………………………………………….(Paku kayu)
6.a. Paku dengan kepala yang tidak bersegi enam……………………………………………..(7)
   b. Paku dengan kepala segi
enam………………………………………………………………….(8)
7.a. Paku yang bertanda (+)……………………………………………………………………..(Skrup)
   b. Paku yang bertanda
(-)…………………………………………………………..(Skrup tumpul)
8.a. Paku yang berwarna perak………………………………………………….(Segi
enam perak)
   b. Paku yang berwarna
emas………………………………………………………………………..(9)
9.a. Paku besar……………………………………………………………………………….(Emas
besar)
   b. Paku
kecil………………………………………………………………………………..(Emas
kecil)

B. Pembahasan

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beranekaragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi berbeda sekali dengan pengertian klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki). Peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan dalam melakukan identifikasi. Determinasi merupakan cara untuk mengidentifikasi suatu makhluk hidup dengan mencocokkan dengan buku panduan kunci determinasi (Mayr, 1969).

Klasifikasi merupakan salah satu cara penyederhanaan terhadap objek (dalam hal ini, makhluk hidup) yang berjumlah besar dan beragam.. Secara umum, klasifikasi dapat diartikan sebagai suatu proses mengelompokkan sesuatu berdasarkan aturan-aturan tertentu. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi terhadap makhluk hidup yaitu pencandraan sifat-sifat makhluk hidup, pengelompokan berdasarkan ciri-ciri, dan pemberian nama kelompok, dalam pencandaraan (identification), setiap ciri baik secara morfologi, anatomi, fisiologi, biokimia, maupun genetika spesies yang tengah diteliti harus diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (main data). Langkah selanjutnya yaitu pengelompokkan (classification). Data utama yang telah diperoleh dibandingkan dengan data acuan yang telah ada, ketika ditemukan suatu pola kemiripan, maka masukkan spesies tersebut pada kelompok acuan. Misal, objek utama : merpati, objek acuan : bebek dan ayam. Merpati dapat dikelompokkan dengan bebek dan ayam berdasarkan bentuk tubuh (adanya paruh, sayap, dan merupakan hewan ovipar). Terakhir, setelah dikelompokkan, maka kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik umum spesies-spesies yang ada di dalamnya (Widiyadi, 2009).

Sampai saat ini ada dua pendekatan untuk merekonstruksi hubungan evolusi dari sebuah kelompok organisme biologi, yaitu fenetik dan filogenik. Pendekatan pertama menaksir hubungan evolusi berdasarkan kepemilikan karakter atau ciri yang sama (overall similarity) dari anggota-anggota suatu kelompok. Pendekatan kedua mendasari sebuah hubungan pada perjalanan evolusi karakter atau ciri dari setiap anggota suatu kelompok yang sedang dipelajari. Di dalam pendekatan filogenetika, sebuah kelompok organisme dimana anggota-anggotanya memiliki banyak kesamaan karakter atau ciri dianggap memiliki hubungan yang sangat dekat dan diperkirakan diturunkan dari satu nenek moyang. Nenek moyang dan semua turunannya akan membentuk sebuah kelompok monofiletik. Dalam analisis filogenetika kelompok outgroup sangat dibutuhkan dan menyebabkan polarisasi karakter atau ciri, yaitu karakter apomorfik dan plesiomorfik. Karakter apomorfik adalah karakter yang berubah dan diturunkan dan terdapat pada ingroup, sedangkan karakter plesiomorfik merupakan karakter primitive yang terdapat pada outgroup. Karakter sinapomorfik adalah karakter yang diturunkan dan terdapat pada kelompok monofiletik (Jasin, 1989).

Berdasarkan hasil praktikum terdapat berbagai paku , baut dan skrup dengan jenis yang sama dan berbeda dari hal tersebut dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu paku berujung runcing dan paku berujung tumpul dari kedua paku tersebut dapat diketahui nama macam-macam paku berdasarkan pengelompokannya. Pengelompokannya meliputi paku dengan kepala corong, paku dengan kepala bulat lalu paku dengan kepala bertanda, paku dengan kepala tidak bertanda setelah itu paku yang berulir dan paku yang tidak berulir kemudian paku yang berkepala payung, paku yang tidak berkepala payung lalu paku yang berkepala segi enam , paku yang tidak berkepala segi enam, paku yang bertanda (+), paku yang bertanda (-), paku yang berwarna perak, paku yang berwarna emas, paku besar dan kecil. Berdasarkan hal tersebut dapat dibuat kunci determinasinya, penggunaan kunci identifikasi dalam identifikasi telah lama digunakan. Kunci identifikasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Lamarck telah menggunakan kunci modern untuk tujuan identifikasi lebih dahulu. kunci analisis merupakan salah satu kunci identifikasi yang digunakan, yaitu menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan kuplet, terdiri dari dua bait atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri yang saling berlawanan, sehingga disebut kunci dikotomis. Jika salah satu ada yang sesuai atau cocok, maka alternatif lainnya akan gugur (Saanin, 1968).

Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi yaitu pencandraan sifat-sifat, pengelompokan berdasarkan ciri-ciri dan pemberian nama kelompok. Pencandaraan (identification), setiap ciri, yang tengah diteliti harus diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (main data). Langkah selanjutnya yaitu pengelompokkan (classification). Data utama yang telah diperoleh dibandingkan dengan data acuan yang telah ada. Masukkan spesies tersebut pada kelompok acuan ketika ditemukan suatu pola kemiripan. Langkah terakhir setelah dikelompokkan, kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik umum spesies-spesies yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, sapi, kucing, dan anjing dapat dikelompokkan dalam mammalia (memamah biak). (Widiyadi, 2009).

Filogenetik hubungannya di antara 20 spesies nominal kakap lutjanine tropis (Lutjanidae) dari barat Atlantik, satu dari Pasifik timur dan tujuh dari Indo-Pasifik yang disimpulkan berdasarkan 2206 dari tiga gen penyandi protein mitokondria. Juga termasuk dalam analisis adalah sekuens DNA dari dua individu, yang diidentifikasi awalnya sebagai Lutjanus apodus, yang diambil contohnya di lepas pantai Bahia Negara di Brasil (barat Atlantik) dan dari tiga orang dicap sebagai ‘kakap merah’ dipasar ikan di Puerto Armuelles, Panama (timur Pasifik). Bayesian posterior probabilitas dan maximum like lihood persentase bootstrap sangat didukung monophyly dari semua lutjanines sampel dan hipotesis bahwa barat Atlantik lutjanines berasal dari garis keturunan lutjanine Indo-Pasifik (John et al., 2011).

Determinasi adalah membandingkan suatu hewan yang sudah diketahui atau diidentifikasi sebelumnya berdasarkan karakter morfologi yang dimiliki kemudian mengetahui nama dari spesies tersebut. Penggunaan pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya (Gunarto, 2004) juga pernah menggunakan kunci modern untuk identifikasi. Salah satu kunci identifikasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomis.

Cara menggunakan kunci determinasi antara lain sebagai berikut :
  1. Bacalah dengan teliti kunci determinasi mulai dari permulaan, yaitu nomor.
  2. Cocokkan ciri-ciri tersebut pada kunci determinasi dengan ciri yang terdapat pada makhluk hidup yang diamati.
  3. Jika ciri-ciri pada kunci tidak sesuai dengan ciri makhluk hidup yang diamati, harus beralih pada pernyataan yang ada di bawahnya dengan nomor yang sesuai.
  4. Jika ciri-ciri yang terdapat pada kunci determinasi sesuai dengan ciri yang dimiliki organisme yang diamati, catatlah nomornya. Lanjutkan pembacaan kunci pada nomor yang sesuai dengan nomor yang tertulis di belakang setiap pernyataan pada kunci.
  5. Jika salah satu pernyataan ada yang cocok atau sesuai dengan makhluk hidup yang diamati, alternatif lainnya akan gugur. Sebagai contoh, kunci determinasi memuat pilihan: (a) paku kayu, atau (b) paku seng.
  6. Begitu seterusnya hingga diperoleh nama famili, ordo, kelas dan divisio atau filum dari makhluk hidup yang diamati.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya.
  2. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson.

B. Saran

Sebaiknya pada saat praktikum praktikan harus lebih paham tentang kunci determinasi, supaya tidak bingung dalam proses melakukan klasifikasi.

Baca juga : Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

DAFTAR REFERENSI

Darbohoesodo, R.B. 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi Avertebrata. Fakultas Biologi Universitas Jenderel Soedirman, Purwokerto.

Gunarto. 2004. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian. 23 (1).

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya.

John R. Goldi, G. V. 2011. Phylogenetic relationships of tropical western Atlantic. Biological Journal of the Linnean Society , 1-15.

Mayr, E. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. Tata McGraw-Hill Publishing Company, New Delhi.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta, Jakarta.

Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI-Press, Jakarta.

Widiyadi, E. 2009. Penerapan Tree dalam Klasifikasi dan Determinasi Makhluk Hidup. Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi, Bandung.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !