IDENTIFIKASI MIKROALGA

Alga merupakan organisme yang dianggap sebagai nenek moyang tumbuhan saat ini. Alga memiliki beberapa karakteristik yang juga dimiliki oleh tumbuhan saat ini seperti pigmen klorofil. Alga secara morfologi dapat terbagi menjadi dua golongan yaitu mikroalga (alga dengan ukuran mikroskopis) dan makroalga (alga yang berukuran makro). Namun, secara spesifik bentuk tubuh beserta ukurannya tidak akan sama persis dengan tumbuhan dan ukuran tubuhnya sekalipun dalam bentuk makro tidak mudah dilihat dengan mata telanjang.

Mikroalga merupakan tumbuhan thalus yang berklorofi dan mempunyai pigmen tumbuhan yang dapat menyerap cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Hidup di air tawar, payau, laut dan hidup secara terestrial, epifit, dan epizoic.

Potensi pengembangan mikroalga lebih tinggi dibandingkan dengan tumbuhan tingkat tinggi, sebab :

  1. Ukuran lebih kecil dengan luas permukaan untuk masa yang sama lebih tinggi, sehingga kemampuan berfotosintesis lebih baik dikarenakan kerapatan klorofil lebih tinggi yang berpengaruh kepada laju fotosintesis.
  2. Dapat dikultur dalam dimensi volume sehingga pemanfaatan luas lahan sama hasil akan lebih efisien dan lebih besar.
  3. Daur hidup yang pendek mampu berkembang dengan cepat dalam waktu yang singkat (3 – 7 hari setelah inkubasi).
  4. Kandungan nutrisi, kandungan proksimat mikroalga lebih lengkap dan nilai nutrisi dapat dimanipulasi dengan cara manipulasi genetik.

Keberadaan mikroalga atau kelimpahan mikroalga di lingkungan sangat bervariasi terutama di areal yang lembap. Kelimpahan mikroalga di alam yang begitu luas belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh manusia. Hal ini dikarenakan kurangnya identifikasi dari mikroalga.

Mikroalga adalah mikroorganisme fotosintetik dengan morfologi sel yang bervariasi, baik uni-selular maupun multiselular (membentuk koloni kecil).  Sebagian besar mikroalga tumbuh secara fototrofik, meskipun tidak sedikit jenis yang mampu tumbuh secara heterotrofik.  Ganggang hijau-biru prokariotik (cyanobacteria) juga termasuk dalam kelompok mikroalga.  Dalam Bergey’s Manual of Systematic Bacteria, kelompok mikroorganisme ini ditempatkan bersama-sama dengan klas Oxyphotobacteria, dalam divisi Gracilicutes (Kurniawan dan Gunarto, 1999).

Sampai saat ini kurang lebih 20.000 jenis mikroalga telah teridentifikasi dan hanya sedikit yang telah dapat diisolasi dan dikultur. Beberapa mikroalga tidak dikultur karena belum ada yang mencoba untuk mendapatkannya. Beberapa juga belum dapat dikultur karena perkembangan metode isolasi dan kultur mikroalga belum begitu baik. Berbagai jenis mikroalga merupakan organisme fotosintetik, kebanyakan uniseluler, dan struktur reproduksinya kurang berkembang baik (Labeda, 1990).
Pertumbuhan suatu jenis mikroalga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan zat hara makro, zat hara mikro dan kondisi lingkungan pertumbuhan. Faktor lingkungan yang berpengaruh meliputi cahaya, suhu, pH, medium dan aerasi. Selain faktor tersebut, pertumbuhan mikroalga juga dipengaruhi oleh faktor internal berupa sifat genetik (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
Beberapa phytoplankton yang dapat dikultur untuk pakan alami ikan adalah Chlorella, Tetraselmis chuii, Dunaliella salina, Artemia dan spirullina. Spirullina merupakan alga hijau yang dapat tumbuh di air tawar dan air laut. Bentuk selnya tunggal (uniseluler), namun kadang-kadang dijumpai bergerombol, berbentuk spiral. Diameter berkisar antara 2-8 mikron, berwarna hijau karena mengandung klorofil yang merupakan pigmen dominan, dinding selnya keras karena mengandung selulosa dan pektin. Spirullina bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh dimana-mana,kecuali pada tempat yang sangat kritis bagi kehidupan. Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt, dengan slinitas optimum 10-20 ppt. Alga ini dapat bertahan hidup pada suhu 400 C, dengan suhu tumbuh optimum 25-300 C (Song, 1980).
Mikroalga terkadang hidup dengan bersimbiosis dengan organisme lain seperti fungi. Simbiosis antar keduanya dapat membentuk lichen. Mikroalga mendapatkan perlindungan sedangkan jamur mendapatkan nutrisi dari mikroalga.

Spirogyra sp, Microspora sp, Ulothrix sp dan Mougeotia sp. Susunan klasifikasi pada Spirogyra sp adalah bebagai berikut:

Divisi : Chlorophyta
Clasis : Chlorophyceae
Ordo : Zygnematales
Famili : Zygnemataceae
Genus : Spirogyra
Spesies : Spirogyra sp.
Ditemukan di kolam air tawar yang jernih dalam massa yang sangat besar, biasanya hidup melayang di permukaan air (planktofit). Talus pada Spirogyra merupakan filamen tidak bercabang. Koloni Spirogyra sp berbentuk benang. Panjang sel sampai beberapa kali lebarnya. Dinding lateral sel terdiri dari tiga lapis. Lapisan terluar dari pektose, dan dua lapisan dalam dari selulose. Pada beberapa spesies, lapisan pektose tipis, tapi kebanyakan tebal, yaitu antara 10-15 mikron. Dinding transversal tersusun dari 3 lapis: yang tengah merupakan lamela dari pektose, dan dua lapisan di kiri dan kanan lamela tersusun dari selulose. Setiap sel Spirogyra mengandung sebutir kloroplas yang umumnya berukuran besar dan terikat dalam sitoplasma tepat di dalam dinding sel. Plastid ini memiliki bentuk menyerupai pita, berpilin dari pangkal sampai ke ujung sel (spiral) (Prasetyo, 1987)
Klasifikasi Microspora sp sebagai berikut :
Divisio : Chlorophyta
Clasis : Chlorophyceae
Ordo : Ulotrichales
Famili : Microsporaceae
Genus : Microspora
Spesies : Microspora sp.
Karakteristik Filamen koloni tidak bercabang, pada waktu muda sesil (tertanam pada substrat).Microspora banyak ditemukan di kolam air tawar, filamen koloni tidak bercabang. Dinding selnya berebentuk seperti huruf H sehingga protoplasama berada dalam sambungan “huruf H”. Dinding sel ini dari selulose, tapi lapisan terluar di filamen tersusun dari pektin. Pada pembelahan sel terjadi pembentukan lapisan selulose tipis menyelubungi protoplasma anak yang disusul dengan penambahan tangan-tangan huruf-huruf H yang juga dari selulose. Sel berinti tunggal seringkali di dalam sel terlalu banyak tepung untuk cadangan makanan sehingga sulit untuk menentukan bentuk kloroplasnya. Pada sel muda, bentuk kloroplas merupakan penjuluran-penjuluran yang tidak teratur seperti anyaman. Kloroplas tidak memiliki pirenoid (Prasetyo, 1987).
Klasifikasi Ulothrix sp sebagai berikut :
Devisi : Chlorophyta
Clasis : Chlorophyceae
Ordo : Chlorophyales
Familia: Ulothorichaceae
Genus  : Ulothrix
Spesies : Ulothrix Sp
Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal, pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut (Sulisetijono, 2009). Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas. Kloroplas pada Ulotrix letaknya mengikuti bentuk dinding sel (parietal) dan bentuk kloroplasnya berbentuk sabuk. Susunan tubuhnya filamen tidak bercabang (Sulisetijono, 2009).
Klasifikasi Mougeotia sp sebagai berikut :
Divisio : Chlorophyta
Clasis : Chlorophyceae
Ordo : Zygnematales
Family : Zygnemataceae
Genus : Mougeotia
Species: Mougeotia sp.
Spesies Mougeotia merupkan ganggang hijau berfilamen yang tidak bercabang. Dinding selnya lurus dan sejajar sisi (bandingkan dengan Oedogonium, Microspora atau Stigeoclonium, yang terkadang memiliki sel bulat). Mougeotia sp memiliki kloroplas tunggal dalam pelat sebuah aksial atau pita yang biasanya hampir memenuhi panjang dari sel. Kloroplasnya dapat dilihat berbaring datar (horisontal) ketika dilihat melalui mikroskop, atau dapat memutar dan kadang-kadang dapat dilihat sebagai jalur sempit hingga tengah sel (Kamil, 2011).
Reproduksi Chlorophyta dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir dengan dua sampai empat bulu cambuk, mempunyai vakuola kontraktil dan kebanyakan memiliki satu stigma. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan konjugasi (Aziz, 2008). Mikroalga memiliki beragam habitat di alam. Hal ini dikarenakan perkembangan struktur dan morfologi organel yang berbeda – beda sehingga mengakibatkan spesies mikroalga tertentu bisa hidup dalam habitat tertentu pula. Menurut Insan (2011) Berdasarkan cara hidup di alam mikroalga dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Fitoplankton
Hidup bebas mengambang/ melayang di air. Cara bergerak terbawa bebas mengikuti arus air (pasif). Ada yang aktif disebut neuston.
2. Fitobentos
Hidup melekat pada substrat/ sesuatu di dasar perairan. Berdasarkan ukuran dibedakan menjadi makroalga bentos dan mikroalga bentos. Tergantung tipe substrat, rerumputan/ tumbuhan air dan arus air. Tipe substrat: stabil misalnya batu dan tidak stabil misalnya pasir.
3. Alga simbiotik
Hidup bersama dan saling berasosiasi dengan organisme lain. Keuntungan adanya  simbion adalah inang mendapat makanan sedangkan  alga mendapat perlindungan/ lingkungan tetap dan zat-zat makanan. Kerugiannya daerah penyerapan hara/ sinar untuk inang berkurang/ sempit.
a. Lichen  Alga (phycobion)
Chlorophyta : Trebouxia, Pseudotrebouxia
Cyanobacteria :  Nostoc, Chroococcus
b. Binatang  di atas rambut-rambut mati, cangkang siput, dan di dalam kerangka serangga/ laba-laba. Contoh: zoochlorella pada cangkang siput,  Cladophora pada sel kura-kura laut
4. Aerial algae
a. Tumbuh di  permukaan tanah yang lembab dan cukup sinar matahari untuk fotosintesis. Contoh:  alga hijau di tanah asam, Cyanobacteria di tanah netral.
b. Permukaan batu, di antara batu dan banyak (endolitic), bentuk coccoid. Contoh:  Cyanobacteria
c.Kulit pohon dan daun. Contoh uniseluler : Aponococcus, Protococcus, Filamen: Trentepohlia
d. Salju. Permukaan salju terlihat berwarna merah atau hijau. Contoh: Chlamydomonas nivalis.
Mikroalga dapat berfotosintesis karena memiliki pigmen-pigmen fotosintesis seperti pigmen fotosintetik hijau (klorofil), biru kehijauan (fikobilin), coklat (fikosantin), dan merah (fikoeritrin) sehingga pada perairan, alga menjadi produsen primer yang menyediakan nutrisi bagi organisme lainnya (Graham, 2000). Alga uniseluler (mikroskopik) dapat betul-betul berupa sel tunggal, atau tumbuh dalam bentuk rantaian atau filament. Ukuran alga sangat bervariasi, dari beberapa mikrometer hingga mencapai  beberapa meter panjangnya. Namun banyak alga yang ditemukan, ukurannya adalah mikroskopis yang dikenal dengan sebutan mikroalga, jamaknya adalah mikroalgae (Pelczar 1958).
Sel mikroalga dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi alga merupakan bentuk uniseluler. Dari delapan divisi algae, enam divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Empat karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikro algae yaitu ; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesis, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni / filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing group. Beberapa grup yangtermasuk kedalam alga mikroskopis antara lain: Cyanobacteria Atau Alga Biru Hijau, Alga Hijau (Chlorophyta) Diatom, Chrysophyta, Rhodophyta, Euglenophyta, Cryptophyta, dan Phyrrophyta (Larasati, 2008).

Aziz, Abdul. 2008. Dan Alampun Bertasbih. Jakarta: Balai Pustaka.

Brotowidjoyo, M. D., D. Triwibowono dan E. Mulbyantoro.  1995.  Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty, Yogyakarta.

Cherian, K. J. 2010. Rhizosphere Algae of Paddy in Vidarbha Region of Maharashtra State. Department of Botany, Hislop College, Nagpur (M.S.). Volume I Number 1 2010 [59 – 65].

Song, P. 1980. Production and development of chlorella and spirulina in Taiwan. In algae biomass. G. Sheief and C. J. Soeder (Eds.) Elsevier. Holand. 98-113

Graham, L.W. Wilcox. 2000. Algae. Prentice Hall, Inc., New Jersey.

Isnansetyo, A dan Kurniastuty.  1995.  Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton.  Kanisius.  Yogyakarta.

Kamil, Ithar Al Mayali. 2011. Use of filamentous alga Mougeotia sp. to Remove Lead Ions from Contaminated Water under Laboratory Conditions. International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol: 11 No: 06.

Labeda, D. P. 1990. Isolation of Biotechnological Organism from Nature. McGraw-Hill Publishing Company, New York.

Larasati, Puspa. 2011.  Pertumbuhan Mikroalgae pada Beberapa Media. www.puspa.larasati08.student.ipb.ac.id . Diakses pada 8 April 2012.

Lobban, C.S and P.J Harisson. 1994. Seaweed Ecology and Physiology. Cambridge University Press. USA.

Pelczar, Michelle. 1958. Mikrobiologi dasar. UI press, Jakarta.

Prasetyo, Triastomo Imam. 1987. Beberapa genus alga air tawar :sistematika dan diskripsi (menurut Gilbert M. Smith. FPMIPA IKIP Malang Jurusan Pendidikan Biologi. Malang.

Sulisetijono, 2009. Bahan Serahan Alga. Malang: UIN Press.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !