Ilusi Pengetahuan : Mengetahui Tapi Tak Melakukan

Ilusi Pengetahuan : Mengetahui Tapi Tak Melakukan – Hari ini dengan begitu “terpaksa” aku langkahkan kakiku ke kampus untuk menemui dosen pembimbing skripsiku, satu jam, dua jam, tiga jam belum juga tanda-tanda “dosen sibuk” itu muncul. Bosan aku menunggu, dengan langkah ala selebritis dan muka cool, aku jalan menuju  satu-satunya tempat yang aku sukai di kampus ini, kantin. Yah dikantin aku merasakan kebebasan, bisa makan, merok*k, bahkan bisa merenungi tentang pertanyaan hati “Dosen, itu manusia apa?” Hahahah…

Sambil kutulis list tentang dosa-dosa dosen ke mahasiswanya, tiba-tiba munculah temanku, Udin namanya. Aku lihat wajahnya begitu sumringah, begitu ceria, sangat bersamangat. Tidak seperti biasanya Udin sesemangat ini. Ternyata dia merasa begitu semangat karena tadi malam menonton acara motivasi di salah satu stasiun tv swasta yang diisi oleh motivator terkenal Mario Teguh.

Ilusi Pengetahuan : Mengetahui Tapi Tak Melakukan
Ilusi

Setelah menonton acara tersebut motivasi Udin katanya meningkat drastis, begitu bersemangat dalam menjalani hidup, akan menggunakan waktunya untuk hal-hal yang berguna saja, serta rajin membaca, sampai-sampai dia menunjukan 3 buku yang baru saja dipinjam dari perpustakaan.

Tak tahan dengan cerita si Udin, akupun akhirnya tertawa “Hahahahaha….”.

Dengan keheranan Udin pun bertanya kepadaku mengapa aku menertawainya “Koe gemblung yah? Ra seneng nek batirmu sumringah? Ra seneng nek batirmu dadi bener? (Kamu gila yah? Tidak suka lihat teman semangat? Tidak suka temanmu berubah?)”

Lalu aku katakan kepadanya “Koe kue korban Ilusi…(kamu itu korban ilusi…)”

“Korban ilusi piye maksudmu?! (Korban ilusi apa maksudmu?!) Tanya dia keheranan.

Dengan muka ganteng (kata mamah)  dan seriusku, akupun menjelaskan padanya :

Banyak diantara kita yang sudah merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Dengan mengetahui, seseorang akan merasa hebat, berwawasan luas, kita merasa sudah berada di atas orang lain, dengan mengetahui kita bahkan sudah merasa berubah menjadi lebih baik. Itulah yang disebut Ilusi Pengetahuan. Stephen Hawking, seorang ahli fisika, ahli kosmologi dan penulis pernah berkata “Musuh terbesar pengetahuan bukanlah kebodohan, melainkan ilusi pengetahuan itu sendiri”

Kita selama ini terjebak dalam kubangan ilusi pengetahuan. Kita membaca banyak buku, menonton berbagai macam acara motivasi, mengikuti berbagai macam diskusi, mengoleksi kata-kata bijak di gadget kita, bahkan menggantungkan cita-cita kita 5 cm didepan kepala kita. Namun perilaku kita masih sama, tidak berubah, kita tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkannya, kita masih saja melakukan “kebiasaan-kebiasan sampah” yang sudah lama kita pelihara, kebiasaan yang tidak efektif. Kita lupa, dengan hanya mengetahui, itu tidak akan membawa perubahan nasib. Yang akan membawa perubahan nasib adalah MELAKUKAN, BUKAN MENGETAHUI!

Baca juga : Manusia atau manusiawi

Apakah sekarang kamu sudah mengetahui? Ya kamu mengetahui tapi saya tidak yakin kamu akan melakukannya.

Merasa tahu memang akan membuat kita tak perlu melakukan. Orang tak melakukan apa yang mereka ketahui karena mereka tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Bukankah ketika kita merasa pintar kita tidak punya alasan yang kuat untuk belajar?  Bukankah ketika kita merasa sehat kita tidak punya alasan yang kuat untuk berolah raga? Bukankah ketika kita merasa mendapatkan nikmat yang banyak kita seringkali lupa untuk mendekatkan diri dengan Tuhan?

Kita sering kali menunggu untuk melakukan ketika “diharuskan” oleh situasi, keadaan, dan kondisi. Padahal melakukan sebaiknya adalah “mengharuskan’’ kepada diri sendiri karena demi perubahan, bukan karena tekanan.

Kebanyakan orang juga tidak mau melakukan apa yang diketahuinya karena tidak mau pergi dari zona nyaman. Menerapkan sesuatu yang baru memang akan menciptakan peperangan didalam diri kita. Kita tidak ingin meninggalkan gaji 5 juta hanya demi usaha yang belum tentu menghasilkan, padahal bisa jadi usaha itu akan membawa keuntungan 15 juta. Dalam hal hal lain, kitapun serupa dengan itu. Keluar dari zona nyaman memang berat, dia akan berlawanan dengan kebiasaan-kebiasaan lama yang mempunyai pengaruh kekuatan lebih besar.

Lalu Udin-pun memanggut-manggutkan kepalanya dan cekikikan menertawai dirinya sendiri.

Kita memang selama ini sudah merasa cukup hanya dengan membaca dan mengetahui, bukannya melakukan. Dalam belajar dan memperoleh pengetahuan, kita tidak cukup hanya sekedar membaca berbagai buku dan kitab, kita tidak cukup hanya menulis apa yang kita ketahui untuk diingat-ingat. Sekali lagi, kita harus melakukan, bukan cukup hanya dengan membaca, menulis, dan mengetahui. Itulah hikmah mengapa Rasulullah SAW itu Ummiy.

Baca juga : Berfikir positif untuk hidup lebih baik 

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !