INDONESIA MENCARI DEMOKRASI SEJATI

INDONESIA MENCARI DEMOKRASI SEJATI – Seperti biasa, saat waktu memanjakan, ku habiskan dengan menulis. Menulis apa yang ingin ku tulis. Dan masih tidak perduli dengan gaya bahasa. Langit dari pagi mendung. Sesekali matahari tampak mengintip lalu kembali malu dan redup . Dari pagi di televisi, dikoran, diinternet, bahkan di pinggir-pinggir jalan orang-orang berdebat tentang hidup. Ada yang menangis, tertawa, diam, marah. Bahkan Di televisi, di internet diceritakan tentang agresi israel ke gaza. Sudah lebih dari 40 warga meninggal, 12 diantaranya anak-anak. Konflik israel-palestin kembali membara. Sementara di dalam negeri banyak terjadi kerusuhan politik dan kemanusiaan. papua bergolak, poso bergolak, belum konflik-konflik rasis yang terjadi diberbagai  kolong nusantara, bahkan konflik birokrasi ikut menghias hampir setiap saluran TV. Debat kepengurusan sepak bola nasional yang carut marut menjadi  bumbu penyedap …inilah Indonesia kitasaat ini kawan.

Saya masih berkutat dalam kamar kos kawan, kamar berukuran 3x3m, bercat putih, berlantai keramik dan kipas made in Cina yang terus berputar sepanjang hari mendinginkan udara tropis. Sembari  menyaksikan, mengamati kejadian-kejadian dari TV 14 in dari pagi sampai malam. Akh…apakah ini bumi reformasi yang dicita-citakan umat bumi. Sibuk dengan masalah-masalah lingkungan, sosial yang ditumpangi kepentingan yang entah kapan terselesaikan.

Bahkan sudah menjadi produksi menarik dalam industri media. Kenapa tidak kita mulai dengan membenahi diri kawan. Diri kita sendiri dulu. Semua masalah sederhana, mereka bertarung kepentingan, membela kepentingan, menonjolkan perbedaan.  Membunuh dan dibunuh, memaki dan dimakai, tidak ada bedanya dengan hukum rimba lengkap dengan macan dan rusanya kawan.

INDONESIA MENCARI DEMOKRASI SEJATI

Bumi demokrasi mencari arti, inilah wajah saat ini. Mereformasikan diri untuk menjadi demokrasi sejati, namun lupa apa itu demokrasi yang hakiki, atau jangan-jangan mereka tidak tahu tentang demokrasi sama seperti ku kawan. Konflik idealisme makin menjadi. Kontras dengan prinsip demokrasi yang katanya pluralis. Perbedaan adalah wajah demokrasi sejati. Tapi perbedaan juga pemicu konflik sampai mati.

Demokrasi saat ini lebih menekankan perbedaan untuk perdebatan, bukan perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang, kedewasaan, kebijaksanaan dan rasa moral masih menjadi mimpi. Demokrasi, demokrasi dan demokrasi. Entah sampai kapan kawan. Entah kapan bumi menemukan kedamaiannya. Entah kapan Bumi mewujudkan mimpinya. Entah kapan manusia mengerti kekholifahannya. Dalam agamapun yang katanya menjadi dasar moral, kesopanan, dan segala sumber kebaikan dari Tuhan, masih terpecah, masih berdebat mempertanyakan fahamnya. Apalagi kita orang awam yang hanya tahu dipermukaan kawan. Tidak banyak yang Kemudian menjadi fanatik dan tidak tahu hakekatnya. Yang NU fanatik dengan Nu’nya, yang muhamadiah fanatik dengan mohamadiahnya, yang protestan, yang kristen, yang hindu, yang buda dan lain-lain juga fanatik dengan perbedaan-perbedaanya. Yang jelas Ajaran Tuhan hakul yakin benar,,namun manusianya yang kadang tidak benar. Kenapa tidak kita cari persamaanya hai Nusantara? kenapa?… Bukan persamaan dalam hal faham, bukan.. tapi persamaan tentang hakekat kebenaran dan kearifan  yang diajarkan nenek moyang, tentang  bagaimana menyikapi perbedaan, tentang menghormati dan dihormati, tentang etika, tentang kita sebagai manusia yang rindu perdamaian.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !