INFEKSI CACING HATI PADA SAPI TERNAK

Produksi daging sapi meskipun menduduki ranking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan. Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk di dalamnya manajemen kesehatan.

Berkaitan dengan masalah pemeliharaan, masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat diteken serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena seragam yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan seragam parasit kebanyakan bersifat subklinik.

Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliannya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, memnurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah.

Hasil survei di beberapa pasar hewan dan rumah pemotongan hewan di Indonesisa menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat terjadi infeksi cacingan, seperti cacing hati. Menurut Suweta (1985), pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakita cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 -7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat ditematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuatitas dan kualitas produk peternakan. Siklus hidup dari cacing parasit ini adalah : 


CARA MENDETEKSI CACING HATI PADA TERNAK SAPI


Alat-alat yang digunakan adalah gunting, baki, object glass, tissue dan mikroskop. Bahan-bahan yang digunakan adalah usus ayam kampung, hati sapi dan air kran..

  1. Usus ayam dibelah menggunakan gunting kemudian di cari cacing parasitnya.
  2. Pemeriksaan hati sapi dengan cara mencari cacing pada lokasi hati yamg memiliki lubang-Lubang-lubang puih.
  3. Cacing yang ditemukan di taruh dalam NaCI fisiologi supaya cacing tidak mati.
  4. Letakkan cacing pada object glass lalu amati di bawah mikroskop.

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonomi dikatakan sangat besar, sehingga penyakit parasit cacing disebut sebagai penyakit  ekonomi. Kerugian kerugian akibat penyakit cacing, antara lain : penurunan berat badan, penurunanan kualitas daging, kulit, dan jerohan, penurunan produktivitas ternak sebagai tenaga kerja pada ternak potong dan kerja, penurunan produksi suatu pada perah dan bahaya penuluran pada manusia.

Fasciolosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing fasciola sp. Pada umumnya yang banyak ditemukan di Indonesia adalah fasciola gigantica. Fasciolosis pada kerbau dan sapi biasanya bersifat kronik, sedangkan pada domba dan kambing dapat bersifat akut. Kerugian akibat fasciolosis ditaksir 20 Milyard rupiah /tahun yang berupa : penurunan berat badan serta tertahannya pertumbuhan badan, hati yang terbuang dan kematian, Disamping itu kerugian berupa berupa penurunan tenaga kerja dan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit lain yang tidak terhitung.

Faciolola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah. elur fasciola masuk ke dalam duodecumbersama empedu dan keluar bersama tinja hospes definitif. Di luar tubuh ternak telur berkembang menjadi mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ke tubuh siput muda, yang biasanya genus Lymnaea rubiginosa. Di dalam tubuh siput mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan bisa berenang. Pada tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metasarkia yang berbentuk kista. Ternak akan terinfeksi apabila minum air atau makan tanaman yang mengandung kista (Mpoame dan Agbede, 1995).

Ternak yang rentan terhadap fasciolosis adalah sapi, kerbau, kambing dan ruminansia lain. Ternak berumur mudah lebih rentan daripada ternak dewasa (Soulsby, 1982). Pada sapi penderita akan mengalami gangguan pencernaan berupa kontipasi atau sulit defekasi dengan tinja yang kering. Pada keadaan infeksi yang berat sering kali terjadi mencret, ternak terhambat pertumbuhannya dan terjadi penurunan produktivitas. Pada domba dan kambing, infeksi bersifat akut, menyebabkan kematian mendadak dengan keluar dari hidung dan anus seperti pada penyakit anthrax. Pada infeksi yang bersifat kronis, gejala yang terlihat anatara lain ternak malas, tidak gesit, napsu makan menurun, selaput , selaput lendir pucat, terjadi busung (edema) di anatara rahang bawah yang di sebut “bottle jaw” , bulu kering dan rontok, perut membesar dan terasa sakit serta ternak kurus dan lemah (Kusumamihardja, 1992). Tinadakan pencegahan yang bisa dilakuan adalah jangan mengembalakan ternak terlalu pagi, pemotongan secara teratur dan mengirangi pencernaan tinja terhadap
pakan dan air minum.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !